Reasons Of Love

Reasons Of Love
ROL ~ Termasuk Takdir?



Keyla termenung. Dan terus memikirkan siapa perempuan yang memeluk Aldo dengan begitu lancangnya, sialnya, Aldo memancarkan sorot matanya dengan bahagia.


Pikirannya terpecah kemana-mana sedangkan tugas kantornya masih ada yang belum selesai. Keyla meraup wajah nya lalu bangkit dari duduk dan melangkah ke toilet.


Selepas dari toilet untuk berwudhu Keyla menggelar sajadah nya, mengerjakan sholat Isya.


Di sujud terakhir dirinya menuangkan segala keluh kesah nya, mempertanyakan semua pertanyaan yang ada dikepalanya biarlah biar waktu yang menjawab, sebagai manusia kita hanya harus berserah diri.


Selang beberapa waktu, Keyla sudah selesai dengan kewajibannya.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


“Iya?”


“Key, ada tamu buat kamu dibawah.” itu suara Fara. Sekarang perempuan itu ikut tinggal di rumah Alexandria mengikuti langkah Andra sebagai suaminya.


“Iya, suruh tunggu sebentar.”


Keyla duduk didepan meja rias, dirinya menghapus sisa make up nya lalu mengikat rambutnya ala pony tail dan memberi sedikit lip balm di bibirnya agar terlihat lebih segar.


Dirinya langsung melangkah keluar kamar menuju ruang tamu. Derap langkahnya diperlambat, degupan jantungnya beritme lebih cepat.


“Aldo?”


💫


Aldo menarik pelan pergelangan tangan wanita nya hingga bertumpu diatas telapak tangan nya. Ia tersenyum tulus.


“Aku yakin pasti kamu lihat aku tadi siang pelukan sama perempuan lain.”


Keyla tertawa renyah. “Lah malah gue baru tau sekarang. Tadi maa ga usah bilang biar gue gatau sekalian, bodoh banget jadi laki-laki.”


Aldo menarik nafasnya dalam-dalam, menghembuskannya dengan kasar. Emosi. Tapi sebagai laki-laki dia harus sabar. Karena dia tahu, sekali laki-laki emosi akan hilang apa yang dia punya. Aldo tak mau itu.


“Kamu salah paham, sayang. Aku tau tadi kamu liat aku lagi pelukan sama perempuan lain, iya kan? Se-bodoh itu sampe aku lupa kalau kamu masih ada di kantorku sendiri?”


“Terus gue peduli gitu?”


Keyla kalau sudah marah atau kecewa dengan Aldo sifat lamanya kembali keluar, dengan nada ketus dan aura dinginnya.


“Dia Risya. Mantan aku.”


“Dan dia Alex. Mantan gue.” kata Keyla sambil menarik tangannya yang sedaritadi digenggam Aldo.


“Jadi, lo juga ga berhak buat cemburu dan segala macam. Mata lo, Al. Mata lo. Mata lo kasih sorot bahagia pas kalian pelukan. Ini udah lebih dari cukup, lo kelewat batas. Terserah lo bilang gue anak kecil atau apa, karena kita baru pertama kali nemuin problem rumit kayak gini yang di sebabin sama diri lo sendiri.” lanjutnya dengan sorot mata yang menajam.


“Setelah bertahun-tahun kita ngejalanin hubungan ini baru pertama kali gue lihat lo sebegitu tulusnya pelukan sama perempuan. Bahkan, selama kita pacaran pelukan pun jarang, bisa kehitung jari. Gue juga ga terlalu suka si kontak fisik gitu sama cowok tapi ya yaudahlah.”


Aldo tersenyum. Wanitanya benar-benar cemburu, itu menandakan sebesar itu pula cinta nya terhadap dirinya. Ah, sweet.


“Kamu cemburu banget, ya?”


Aldo mendekatkan tubuhnya ke tubuh Keyla. Keyla pura-pura tak tahu tapi sebenarnya dia benar-benar sport jantung.


Aldo menarik tubuh Keyla kedalam dekapannya. Yang ia tahu kalau perempuan sedang cemburu itu hanya satu, peluk dan bisikan kata-kata yang menenangkan.


“Aku sayang banget sama kamu. Sumpah deh ga bohong.”


Keyla memukul dada bidang Aldo. Mau semarah apapun perempuan jika sudah diperlakukan manis seperti ini pasti akan luluh juga. Keyla tertawa pelan sambil mengusap airmata nya lalu membalas pelukan Aldo.


“Ekhem!”


“Belum halal tuh. Udah peluk-peluk aja.” itu suara Andra.


Andra dan Fara duduk dihadapan Aldo dan Keyla sambil terus tertawa. Sedangkan Aldo dan Keyla sedang malu-malu nya karena tertangkap basah oleh Andra.


“Iya gue tau yang udah halal maa beda.”


“Wah pasti lah,”


Andra dan Fara saling menatap lalu tersenyum jahil.


“Oh iya, kalian jadi ke Berlin?” tanya Aldo.


“Jadi. Udah packing kok, besok pagi berangkat.”


Fara mengangguk. “Udah ayo, Andra. Kita kan mau beli sisa keperluan yang harus dibawa. Jangan ganggu orang pacaran.”


Keyla mendengus. “Apaansi. Santai aja kek disate.”


Andra dan Fara tertawa. “Udah yaa gue mau belanja dulu nemenin istri! Aldo, cepet-cepet deh nikahin ade gue biar double date yang halal.” kata Andra.


Aldo mendengus sebal. “Gausah ngeledek. Ntar tiba-tiba ade lo gue nikahin sekarang, nyaho lo!”


“Ih, udah udah! Katanya lo mau pergi bang sanaaaaaa!” Keyla melerai.


Fara tertawa melihat tingkah mereka. “Udah ayo, Andraa!”


💫


“Jadi, kamu maafin aku ga?” tanya Aldo sembari merapatkan tubuhnya kesamping Keyla.


Keyla memilin ujung bajunya. Menimbang-nimbang, sebenarnya Keyla sudah memaafkan Aldo bahkan ia tak tega sudah mencaci maki kekasihnya itu.


“Kalau aku maafin kamu, kamu bakal apa?”


“I will obey all your requests.” kata Aldo sembari mengedipkan sebelah matanya.


“Everything, right?”


“Iya, sunshine.”


“Aku mau ice cream!”


“Boleh dong! Yuk, kita ke kedai ice cream yang deket taman.” Aldo mengenggam jemari Keyla lalu mengajaknya berdiri.


“Sebentar dulu, aku mau ambil hoodie. Masa aku pake baju kek gini.”


“Udah, gapapa! Ayo keburu malem, di mobil aku ada hoodie navy punya aku.”


Keyla mengangguk dan mengikuti langkah kekasihnya itu. Setelah menempuh jarak yang tidak terlalu jauh akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


“Kamu tunggu sini ya, atau mau ikut?” tanya Aldo.


“Aku ikut!”


Aldo mengangguk lalu keluar dan melangkah ke pintu mobil bagian Keyla dan membukakannya bak seorang putri.


“Apaan sih, lebay banget!” Keyla tertawa melihat tingkah kekasihnya itu.


“Yuk, princess!”


Keyla tersenyum manis lalu mengikuti langkah Aldo ke kedai ice cream di pinggir jalan tersebut.


“Kang Satria! Ice cream rasa vanila sama coklat satu, ya.”


Aldo dan Keyla memang sudah kenal lama dengan penjual ice cream didekat taman ini. Bahkan penjualnya pun sudah sangat hafal pesanan mereka berdua.


“Wah den Aldo sama non Keyla udah pulang ke Jakarta? Kapan pulang atuh?” tanya penjual ice cream.


“Udah dari tiga bulan lalu, bang.” sahut Keyla.


Penjual ice cream tersebut mengangguk, “Kabar sehat kan, ya?”


Aldo dan Keyla mengangguk sambil tersenyum.


“Ini ice cream spesial buat kalian!”


Keyla menerima ice cream tersebut begitupula Aldo. Aldo mengeluarkan satu lembar seratus ribu dan memberikan kepada penjual tersebut.


“Ambil aja kembaliannya, kang.”


“Makasih ya, den, non!”


Aldo dan Keyla mengangguk lalu pergi ke kursi taman dan duduk disana. Keadaan tidak terlalu ramai banyak anak kecil yang main disana bersama orang tuanya.


“Key, lucu ya mereka. Nanti kita bakal kayak gitu, main disini sama anak-anak.” kata Aldo sambil menunjuk anak kecil yang tengah bermain bersama orang tuanya.


Keyla tersenyum miris. “Iya dong pasti.”


“Nanti kita mau punya anak berapa?”


Hati Keyla mencelus, itu pertanyaan yang tidak bisa ia jawab dengan keadaannya yang tidak tentu seperti ini.


“Key? Kok melamun?”


“Hah, eh? Eum... Sedikasih nya aja. Lagian kamu udah omongin kayak gini, nikah aja belum.” Keyla tertawa.


“Kamu milik aku, sayang. Ngga ada yang bisa menghalangi kita untuk ngejalanin niat baik itu.”


“Termasuk takdir?”


💫


TBC.