
Keyla melangkah cepat dilorong rumah sakit Alexandria. Derai air mata nya kembali mengalir tanpa henti, walaupun tadi ia sempat tersulut emosi oleh sang ayah namun mau bagaimanapun kalau yang terjadi seperti ini setiap anak juga akan khawatir.
Sesampainya di ruang ICU, Keyla langsung memghambur pelukan ke Tante nya, Raina. Sosok kedua perempuan tersebut sangat terlihat rapuh.
Disana ada Andra, Fara, Aldo, Wisnu dan Aqilla. Tak ada yang berani mendekat ke sisi Keyla, begitupun Aldo, walaupun ia ingin memeluk wanitanya disaat-saat nya seperti ini.
“Assalamualaikum!” itu suara Geraldy, adik Gerald.
“Wa’alaikumussalam.”
“Rai, gimana keadaan abang sama kak Viona?” tanya Geraldy kepada adik perempuannya.
Raina menggeleng, mereka menyalurkan kekuatan lewat tatapan mata dengan tangan Geraldy yang mencakup wajah Raina.
“Bang, Rai takut.” Raina kembali menangis sedu.
Geraldy menggeleng, ia menenangkan adiknya itu. Memang sedari kecil Raina sangat dekat dengan Gerald ketibang dirinya, karena saat itu Geraldy ingin sekolah ditempat yang berbeda dengan abang dan juga adiknya.
“Sabar, sayang, sabar. Abang yakin bang Rald sama kak Viona gapapa, kamu harus banyak berdo’a.”
Geraldy duduk diantara Raina dan Keyla. Ia memberikan rasa ketenangan kepada kedua wanita lemah tersebut.
“Arrgghh!” Andra meninju dinding rumah sakit dengan kencang.
“Andra!” Fara menenangkan suaminya. Mereka semua merasa terpuruk dengan kabar seperti ini.
Andra meraup wajahnya dengan kasar, emosinya saat ini tak bisa terkendali. Darah segar juga terus mengalir dari jemari kanan Andra.
“Sabar, Andra. Bukan kamu doang yang khawatir. Kita semua khawatir, tapi kita yakin kalau nanti ada kabar baik dari dalam ruangan sana.” kata Fara, derai air mata dari mata indah wanita itu juga tak henti-hentinya mengalir.
Sedangkan Keyla, seperti mengering air matanya tak lagi ada yang mengalir. Kini ia melamun.
“Key,”
“Iya, om?”
“Yang sabar ya, nak. Om yakin semua udah ada jalannya.”
💫
Pintu ruangan ICU terbuka beriringan dengan dokter juga suster yang keluar. Dokter yang bername tag Arya Verlando itu mengulas senyum ketirnya.
“Permisi, Pak Aldy?” Dokter itu memanggil Geraldy. Mereka memang saling kenal karena kepemilikan rumah sakit Alexandria yang diatur oleh dirinya.
“Gimana, dok? Gimana keadaan abang dan kakak ipar saya?” semua orang disana berdiri, menantikan kabar baik yang keluar dari mulut dokter Arya.
Dokter Arya menggeleng sambil tersenyum.
“Ada dua kabar yang harus saya sampaikan secara personal. Pak Aldy, Bu Raina dan Andra boleh ikut ke ruangan saya.”
“Keyla boleh ikut ya, dok?” tanya Keyla.
“Dokter Keyla sebaiknya disini dulu, biar nanti dijelaskan sama Pak Aldy.”
“Udah, Key. Lo disini aja, ada gue sama Fara.” kata Aqilla seraya duduk disamping Keyla.
“Iya deh.”
Dokter Arya mengangguk. Dokter Arya mempersilakan untuk Geraldy, Raina dan Andra jalan lebih dulu ke ruangannya. Sesampainya diruangan tersebut, mereka bertiga dipersilakan duduk.
“Jadi gimana, dok?”
Dokter Arya tersenyum. “Alhamdulillah untuk keadaan bu Viona semakin membaik, beliau tidak ada luka parah disekujur tubuhnya hanya saja beliau memperlukan waktu banyak untuk pemulihannya.”
Geraldy, Raina dan Andra menghembuskan nafasnya lega.
“Alhamdulillah. Kalau daddy saya gimana, dok?” tanya Andra.
“Sedangkan, Pak Gerald tidak memberikan reaksi apapun selama penanganan tadi, beliau kritis, namun ini bukan kritis yang berkepanjangan. Sebelum beliau benar-benar kritis, beliau meminta tolong sama suster untuk menuliskan sebuah surat, walaupun bukan Pak Gerald sendiri yang menulisnya, tapi itu benar-benar keluar dari mulut beliau.”
Dokter Arya memberikan secarik kertas yang sedari tadi ia pegang. Ia menyerahkan kertas yang dilipat dua tersebut ke Geraldy.
“Beliau pesan, tolong sampaikan surat ini ke anak perempuannya, dokter Keyla. Jangan ada seorang pun yang boleh membacanya kecuali dokter Keyla.”
Geraldy mengangguk. “Tapi, abang saya bisa sembuh kan, dok?”
“Saya hanya seorang dokter, Pak. Seberusaha mungkin saya melakukan yang terbaik untuk pasien-pasien saya, selebihnya hanya Tuhan yang berkehendak. Perbanyaklah berdo’a.”
“Iya sama-sama. Untuk bu Viona sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat.”
Geraldy dan Dokter Arya berjabat tangan lalu saling mengulas senyum. Mereka bertiga izin untuk kembali ke ruangan ICU.
“Om, tante,” panggil Andra kepada Geraldy dan Raina.
“Iya ada apa, Andra?”
“Sebenarnya..”
“Ada apa, Andra?” potong Raina.
“Tunggu dulu, Rai. Biar Andra bicara.”
“Sebenarnya, tadi itu sebelum daddy kecelakaan ada kenyataan pahit yang harus Keyla dapatkan.”
“Maksud kamu?” tanya Raina.
“Hari ini, hari ulang tahun Aldo, di hari ini juga Aldo ngelamar Keyla didepan kita semua. Om dan tante pasti tau apa jawaban Keyla saat dilamar Aldo, tapi berbeda dengan daddy,”
“Aldo melamar Keyla? Terus kenapa, apa yang dipermasalahkan bukan itu niat baik?” tanya Geraldy.
Andra memejamkan matanya untuk menyegarkan pikirannya. “Daddy nolak permintaan restu dari Aldo, tanpa alasannya yang jelas. Setelah itu daddy dan mommy pulang duluan, dan Keyla terlanjur kecewa dia kabur gitu aja.”
“Astaghfirullah! Keyla bener-bener lagi terpuruk keadaannya. Raina, tolong buat kamu selalu dekat sama dia.” Geraldy mengacak rambutnya frustasi.
“Pasti, bang! Tanpa diminta sekalipun.”
“Ayo, kita kesana.”
Mereka bertiga melanjutkan langkahnya, sesampainya disana kebetulan pula Viona yang terbaring lemah diatas brangkar sedang dikeluarkan dan dipindahkan ke kamar rawat.
“Kita langsung ke kamar rawat aja.”
💫
“Untuk bu Viona masih ada pengaruh obat bius, jadi mungkin beliau sadarnya nanti.” kata Suster wanita yang tengah menyuntikkan cairan ke infusan Viona.
“Iya, terima kasih ya, sus.”
“Sama-sama, dok. Saya pamit keluar, kalau ada apa-apa kalian bisa panggil saya.”
Mereka semua mengangguk.
“Assalamualaikum,” Geraldy, Raina dan Andra datang.
“Wa’alaikumussalam. Om, tante? Gimana keadaan daddy sama mommy?”
Geraldy mendekat kesamping Keyla. Betapa tegarnya wanita dihadapannya ini, wanita yang semasa kecil nya sangat periang dan manja terhadap sekitar kini menampung begitu banyak masalah yang menurutnya sangat berat buat dipikul sendiri diumur nya saat ini.
“Sayang, kamu yang sabar ya.” Geraldy mengacak surai Keyla.
“Ada apa, om? Apa yang dokter Arya bilang?”
“Seperti yang kamu liat, mommy kamu keadaannya semakin membaik.” Geraldy tersenyum tulus.
Keyla mengangguk. “Daddy? Daddy gimana keadaannya? Kenapa daddy ga ikut ke ruang rawat? Kenapa, om?”
Keyla kembali menangis. Geraldy merengkuh tubuh mungil Keyla kedalam dekapannya, mencium surai keponakan tersayangnya berulang kali.
“Kamu harus tenang. Keyla ga boleh kayak gini.”
Keyla menengadahlan wajahnya menatap Geraldy. “Om bilang sama aku ada apa?”
Geraldy diam, ia benar-benar tak tega jika harus menyampaikan apa yang dikatakan Dokter Arya tadi.
“Tante, bilang sama aku kalau semuanya baik-baik aja, kan?!” Keyla mengalihkan tatapannya kearah Raina yang samanya tak kuasa menahan tangis yang tengah didekap didada bidang Andra.
“Abang! Bilang sama Key kalau daddy baik-baik aja!”
💫
TBC.