
Keyla memindahkan mangkuk yang berisi bubur ayam dari atas brangkar nya jadi keatas nakas. Dia menatap kesal kearah Fara.
“Ngga mau makan bubur. Bosen.”
“Masa gitu? Kata nya mau cepet sembuh, makan aja males-malesan. Kalau Abang lo tau, udah di pecak!”
Keyla semakin kesal. “Ngga mau! Gue ngga mau, Ay, ngga mau bubur. Mau nya nasi Padang.”
“Hah?! Gila lo, ya?” Fara ikut kesal. Wanita itu kembali mengambil mangkuk yang berisi bubur ayam itu lalu mengaduknya.
“Masa lagi sakit makannya yang santan-santan. Nggak, nggak!”
“Ih, iyaudah, gue ngga mau makan.”
Fara berdecak. “Kapan sembuhnya kalau gitu?”
“Kapan-kapan.”
“Yaudah nikahnya kapan-kapan,”
Keyla meringis ngeri. “Eh, lah! Oke, oke. Gue mau makan.”
Fara tersenyum lebar. Dia menyodorkan sesendok bubur ayam ke bibir adik ipar nya itu.
Akhirnya, bubur ayam tersebut habis tak tersisa. Fara memberikan air mineral ke Keyla.
“Nah, gitu ‘kan cakep!”
“Emang cakep, wleee.” Keyla menjulurkan lidahnya.
“Iya lah,”
Keyla menarik lengan Fara untuk duduk dihadapannya. Fara menurut.
“Lo lagi hamil. Hamil muda itu ngga boleh capek. Vitamin yang waktu itu gue kasih masih ada atau udah habis?”
Fara tersenyum. “Udah, Key. Vitamin nya tinggal dikit lagi,”
“Susu ibu hamil nya?” Keyla menaikkan sebelah alisnya. “Masih sering diminum, kan?”
Fara mengangguk. “Masih, sayangggggg!”
“Oh ya, perut lo yang habis dioperasi masih nyeri ngga?” tanya Fara.
Keyla menggeleng. “Ngga, kok,”
“Gue takut sendiri jadinya,” Fara bergidik seram. “Pasti rasanya kayak operasi sesar nanti. Gue mau normal aja lahirannya, ngga mau sesar.”
Keyla tertawa geli. “Pinggang lo ramping, emang kuat?”
“Kuat lah!”
“Nanti kalau lo lahiran, gue yang bantuin lo. Gue yang jadi bidannya.”
Fara berbinar senang. “Ah, serius? Makasihhhh! Beruntung banget anak gue nanti, pas pertama kali keluar ngelihat dokter cantik sekaligus tante nya.”
“Wah iya dong harus!”
“Di jaga, ya, gue ngga mau lo kenapa-napa, Far.”
“Iya, aunty!”
💫
“Key kapan pulang, sih, ini? Udah ngga betah banget.”
“Sabar. Dua hari lagi juga lo boleh pulang,” kata Andra. “Tapi, selama dua bulan kedepan lo harus masih tetap check up routine buat pantau keadaan lo.”
“Iya, iya.”
“Jangan iya-iya aja, dilakuin! Males ‘kan lo mah,” sahut Aqilla.
“Ngga males, cuma mager aja harus ke rumah sakit terus-terusan.”
Aqilla berdecak. “Katanya mau cepet-cepet nikah,”
“Oh ya juga, mau deh mau,”
Aqilla tertawa.
“Terus kalian kapan nikah?” tanya Keyla.
Aqilla menatap Wisnu. Wisnu terkekeh pelan setelah dulu mengacak surai Aqilla.
“Akhir tahun kita nikah.”
Aqilla terdiam. “Nikah?”
“Iya, nikah, sayang? Kamu mau ‘kan?” tanya Wisnu kepada kekasihnya.
“Lah, emang belum dilamar sama Wisnu, La?” tanya Fara.
Aqilla meringis. Wisnu memang sudah sering kali melamarnya, tetapi Aqilla terus-terusan tidak memberi jawaban yang pasti untuk kejelasan hubungannya.
“Sering. Tapi, Aqilla nya ngga pernah jawab.” Wisnu tersenyum tipis.
Wisnu mengangguk.
Sedangkan Aqilla tersenyum tipis. Dia bukan tidak ingin memberi jawaban pasti kepada Wisnu. Hanya saja dia masih belum merasa pantas kalau Wisnu benar-benar mau menikahi nya nanti.
“Udah lah, terima aja, Aqilla. Nanti Wisnu nya di comot orang baru tau rasa,” sahut Keyla.
Aqilla terkekeh pelan. “Udah santai aja, Wisnu udah gue pelet!”
“Pantesan aku ngga pernah bisa ngelirik cewek lain selain kamu! Stuck banget, tapi ternyata udah di pelet. Licik, ya, mainnya.” Wisnu tertawa.
Aqilla berdecak. “Apaan, waktu di butik aku aja kamu godain pelanggan aku.”
Andra, Fara dan Keyla tertawa mendengar perkataan Aqilla. Sedangkan Wisnu, laki-laki itu meringis malu.
“Wah! Emang gitu, ngga udah-udah lo, ya! Sahabat gue di nistain mulu!” kata Fara.
“Buaya darat.”
“Heh sialan!”
“Untung Wisnu gantengnya masih diatas rata-rata, jadi Aqilla masih terima, katanya,”
Mereka semua tertawa mendengar penuturan dari Fara. Disela tawa mereka, pintu kamar inap Keyla terbuka, menampilkan laki-laki tampan yang terngah tersenyum tipis. Dia Aldo.
“Dari mana aja lo, Al?” tanya Wisnu.
“Tumben ngga pake Kutub’?” sahut Aqilla.
Wisnu terkekeh. “Oh iya, lupa.”
“Ulang.” Wisnu menjedanya sebentar, “Dari mana aja lo, Tub?”
“Sialan lo!” Aldo berdecak.
Mereka semua terkekeh. Aldo menghampiri Keyla yang sedang duduk diatas brangkarnya. Aldo melayangkan satu kecupan dipelipis Keyla.
“Heh! Belum halal,”
“Sebentar lagi halal.” Andra berdecak mendengarnya.
“Gimana keadaan kamu, Sayang?”
“Jauh lebih sehat, apalagi pas kamu dateng.” Keyla terkekeh.
“Bucin.” kata Wisnu.
“Ngga apa-apa, wleeeee!”
“Maaf. Aku ngga bisa jagain kamu dari kemarin. Tugas kantor ku lagi numpuk, belum lagi hasil tani yang udah panen mau dikirim ke Tokyo.”
Keyla mengangguk lalu tersenyum. “Ngga apa-apa, aku ngerti, kok,”
“Oh ya, Key, caffe lo gimana kabarnya?” tanya Fara.
Keyla mengedikkan bahunya. “Gue belum tanya lagi sama Renata. Tapi, terakhir gue tanya semua cabang aman-aman aja, kok,”
“Butik lo?” tanya Aqilla.
“Aman. Cuma butik gue yang di Palembang harus ditutup, karena ngga ada yang urus.”
“Kerjaan lo dikantor?” tanya Wisnu.
“Nah, itu ngga aman. Sebulan belakangan ini ‘kan gue sibuk ngurus mommy sama daddy yang kemarin kecelakaan. Terus sama operasi ini,”
“Pusing. Habis ini pasti disibukkin sama tugas kantor yang numpuk,” keluhnya.
Aldo mengacak surai Keyla. “Udah, kamu ngga usah kerja lagi.”
“Kalau ngga kerja, gue ngga bisa makan.”
“Buset! Keluarga terkaya masa iya gabisa makan? Lo gila aja, Key! Semua keluarga lo kalau ngga kerja sekalipun, ngga bakal miskin.” kata Wisnu sambil berdecak kesal.
“Heh! Lo kira kita diajarin seenak jidat makan uang orang tua? Kita diajarin juga buat mandiri. Gue sama Keyla setelah lulus kuliah, bener-bener ngga dikasih uang jajan dan uang bulanan sama orang tua kita. Kata mereka biar mandiri.” jawab Andra.
“Jadi, selama ini kalian bener-bener hidup pakai uang sendiri?” tanya Aqilla.
“Yaiyalah,” Keyla berdecak. “Lagian, semua uang mommy sama daddy bener-bener diatur ketat sama asisten mereka.”
“Salut gue sama kalian! Udah kenal lama, tapi gue baru tau sekarang,” sahut Wisnu.
“Berarti, setelah kita nikah nanti, kamu berhenti kerja, ya? Aku sanggup, kok, kasih nafkah ke kamu.” Aldo berbisik pelan. Agar sahabat mereka tidak mendengarnya. Karena jarak dari brangkar ke sofa juga lumayan berjarak.
Keyla terkekeh pelan. “Aku tetep mau kerja. Maksudnya, iya aku tetep dirumah. Tapi butik, dan caffe tetep aku terusin. Aku juga masih ada sumpah jabatan di bidan.”
“Kamu juga nggak lupa ‘kan? Kalau aku suka tas dan sepatu branded?” lanjutnya.
Aldo tertawa. “Iya, sayang. Asal kamu tahu, Insyaallah uang aku ngga akan pernah habis kalau buat bikin calon istri aku seneng, dan istri aku setelah nikah nanti.”
💫
Siapa yang ngga sabar ngelihat mereka setelah menikah? Atau kehidupan mereka setelah punya anak?
TBC.