
Lampu ruang operasi belum mati. Bertanda operasi itu masih berjalan, dan membutuhkan waktu lama.
Aldo, lelaki itu tak henti-hentinya menoleh kearah lampu yang berada diatas pintu ruang operasi tersebut. Dia khawatir.
“Al, jagain putri daddy, ya. Tolong terima dia apa ada nya setelah ini. Daddy ngga menuntut apapun untuk kamu menikahi putri saya. Jangan pernah berkhianat. Cukup perlakukan dia sebaik mungkin. Tolong. Dia putri kecil saya yang rapuh.”
“Dan, kamu hanya satu-satunya tumpuan terbesar yang dia punya.”
Gerald berujar. Dia berkata seperti itu seolah-olah Aldo adalah orang yang jahat, yang mau menyakiti putri nya.
Aldo duduk disamping Gerald. Dia tersenyum hangat. Lalu mengangguk.
“Asal Om tau, Keyla itu wanita terakhir yang Aldo cintai selain Bunda dan Adik perempuan Aldo. Keyla pelabuhan terakhir Aldo. Aldo sangat amat mencintai putri, Om. Melebihi apapun.”
Gerald bernafas lega. Akhirnya, ia benar-benar ikhlas jika putri nya akan menikah dengan lelaki se-sempurna Aldo.
“Menikahlah. Saya merestui kalian.”
Semua orang disana tersenyum mendengar kalimat sederhana yang baru saja seorang Ayah yang begitu mencintai putrinya itu katakan.
“Terima kasih, Om. Saya ngga aka pernah mengkhianati putri, Om.”
Gerald menepuk bahu pelan lelaki dihadapannya sembari tersenyum tulus. Semoga kebahagiaan Keyla ada ditangan Aldo, semoga..
💫
Akhirnya, setelah beberapa jam menunggu lampu ruang operasi tersebut mati, bertanda operasi telah usai. Namun, tetap, rasa khawatir dibenak mereka masih ada sebelum dokter mengatakan operasi berjalan dengan lancar.
Semoga.
Dokter Evans keluar dari ruangan tersebut dengan baju sterilisasi rumah sakit yang berwarna biru. Raut wajah nya menampikkan senyum bahagia.
“Alhamdulillah. Operasi berjalan dengan lancar.”
Semua orang disana bernafas dengan lega. Tidak ada lagi kekhawatiran yang mereka rasakan saat ini.
“Tapi..”
Raut wajah lega tadi tidak berlangsung lama saat Dokter Evans mengatakan kata tapi’. Mereka kembali khawatir. Takut.
“Reaksi pasien belum menunjukan apapun. Mungkin juga karena masih pengaruh obat bius. Tetapi, setelah dua jam operasi pasien masih tidak menunjukan reaksi walaupun sudah sadar,”
“Saya akan melakukan CT-scan untuk memeriksa apakah kista di ovarium pasien sudah benar lenyap atau tidak.”
“Tapi, CT-Scan tidak bisa langsung dilakukan. Karena kondisi pasien juga yang belum stabil. Jadi, andai tidak ada reaksi nanti, saya akan melakukan CT-Scan untuk hari lusa.”
“Berdo’a saja. Semoga reaksi nya bagus, dan tidak terjadi apa-apa.”
Geraldy mendekat kearah dokter Evans lalu ia bertanya.
“Apa Keyla udah boleh dijenguk?”
“Buat dua jam ini jangan dulu. Keyla nya juga masih butuh istirahat.”
“Keyla tau kalau dia habis ngejalanin operasi?” tanya Andra.
Dokter Evans tersenyum lalu mengangguk.
“Tadi 15 menit sebelum operasi dia sempet bangun karena efek bius dari jahitannya habis, terus saya kasih tau semuanya kalau keluarganya udah tau tentang penyakitnya, Keyla langsung nangis ketakutan. Dia sempet berontak, cuma saya sama suster nya bisa nenangin. Dan, akhirnya Keyla mau buat ngejalanin operasi ini.”
“Tapi, anak saya bakal baik-baik aja, kan, Dok?” tanya Viona.
“Do’a kan yang terbaik ya, Bu.”
Dokter Evans mengulas senyum nya lalu berpamitan untuk kembali ke ruangan operasi.
💫
“Bang, setahu Ayah wanita yang punya penyakit kista itu ngga bisa mengandung?”
Aldo menoleh cepat. Dia sedikit tersinggung dengan ucapan sang Ayah.
“Keyla bisa hamil.”
Dirgo membuang pandangannya ke arah lain.
“Kamu ini keras kepala atau gimana, sih, Bang?”
“Ayah ngomong kayak gitu, kayak suruh Aldo buat ngebatalin semuanya.” jawabnya sedikit ketus.
“Ngga. Ayah hanya memastikan, Bang. Keturunan kita gimana kalau Keyla ngga bisa hamil?”
“Ayah!”
“Aldo bilang kalau Keyla itu bisa hamil.”
“Kista yang dimiliki Keyla itu ada nya dipermukaan ovarium. Jadi, itu ngga sama sekali ganggu kesuburan Keyla.” lanjutnya.
Dirgo bernafas dengan lega. “Syukurlah. Ayah mau kalian menikah secepat nya, ya.”
Aldo mengulas senyum nya. Emosinya meredam saat sang Ayah mengatakan kalimat itu.
“Biar Keyla sehat dulu, dan bisa menerima semuanya. Aldo baru mau menikahi Keyla.”
“Keyla itu ada kayak putri Ayah sendiri. Waktu itu bukan maksud Ayah buat kamu ngekhianati Keyla, itu cuma gertakan buat kamu yang diam terus sebagai seorang lelaki. Ayah sebenernya juga ngga mau kamu kenal wanita lain selain Keyla. Ayah udah sayang sama Keyla. Dia menantu yang sempurna buat mendampingimu kelak.”
“Jaga dia. Seperti kamu menjaga Bunda dan Cella.”
Aldo berdiri lalu mendekat kearah Dirgo dan mencium punggung tangan lelaki itu. Aldo mengulas senyumnya lalu mengangguk.
“Pasti, Ayah. Pasti.”
💫
“Pasien harus istirahat di rumah sakit selama 6 hari, untuk masa pemulihan dan supaya kami bisa lebih leluasa memeriksa perkembangan pasien.”
“Iya, Dok.”
“Ini udah lewat dari dua jam, Dok, bahkan udah pagi. Apa hasil dari operasi tadi?” tanya Geraldy.
Dokter Evans tersenyum. “Alhamdulillah, reaksi nya sangat bagus. Kista yang ada di permukaan ovarium pasien sudah bersih. Tapi, selama 2 bulan kedepan pasien harus rajin check up 2 minggu sekali selama 2 bulan.”
“Syukurlah. Apa Keyla sudah boleh dijenguk?”
“Oh, silakan-silakan. Sebentar lagi Keyla dipindahkan keruang rawat, kok.”
Semua orang disana mengangguk mengerti. Tak lama kemudian, Keyla keluar dengan dirinya yang terbaring lemah di brangkar dari ruang operasi.
Dia segera dipindahkan keruang rawat. Keluarga dan kerabat mengikuti nya dari belakang. Sesampainya di ruang rawat, Keyla diberi obat dan infus.
💫
“Jadi, selama ini kamu simpen semuanya sendirian, Key?” Gerald mengusap kening putrinya.
Keadaannya yang baru membaik juga jadi terganggu dengan Keyla yang tiba-tiba seperti ini. Gerald kembali menurun keadaannya, bibirnya pucat, tapi beliau tidak mau dirawat lagi, ia bilang mau menemani putri nya sehabis operasi.
Keyla tersenyum tipis. “Ngga, Dad. Keyla juga ngga apa-apa.”
Andra berdecak mendengar perkataan Keyla. “Ngga apa-apa gimana?! Lo punya kista yang udah ganas, Key! Udah besar ukurannya. Dan, lo bilang ini ngga apa-apa?”
Andra tersulut emosinya. Fara menenangkan dengan cara mengusap bahu suaminya.
“Ya udah, kan, Keyla juga udah ngga apa-apa.” jawabnya.
Keyla mengedarkan pandangannya. Dia mencari Aldo. Sedari tadi di ruang operasi setelah pengaruh bius nya habis, Keyla terus memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Aldo, setelah laki-laki itu mengetahuinya.
Sebenarnya, Keyla juga tidak mengetahui kista jenis apa yang tumbuh didalam dirinya. Yang ia tahu, ia tidak bisa mengandung. Padahal, nyatanya itu tidak sama sekali benar adanya.
Dan, yang dia pikirkan sekarang, apakah nanti Aldo meninggalkannya atau tetap menikah bersamanya?
“Aldo dimana?”
💫
TBC.