Reasons Of Love

Reasons Of Love
ROL ~ Takdir



“Jadi, gimana?”


“Lakukan operasi pengangkatan kista yang dimiliki Keyla.” ujar Geraldy.


Andra dan Aldo menoleh secara bersamaan. Pasalnya, lelaki itu mengambil keputusan sangat cepat. Memang, sih, itu jalan terbaik. Namun, mereka belum mengetahui baik-buruk nya nanti.


“Secepat ini, Pak?” tanya dokter Evans.


Geraldy mengangguk. “Iya. Saya tidak mau terjadi apa-apa dengan keponakan saya. Lakukan yang terbaik dan sungguh-sungguh.”


“Baik. Tidak dirundingkan dulu dengan keluarga kalian yang lain? Atau dengan pasien?”


Geraldy menggeleng. “Lebih cepat lebih baik.”


Dokter Evans mangut-mangut mengerti. “Saya akan mempersiapkan semua, operasi dimulai jam 8 malam nanti. Saya harap keluarga mau diajak kerja sama untuk membantu kami, yaitu do’a kan pasien dengan tulus.”


“Pasti.”


💫


“Bun, Keyla masuk rumah sakit lagi. Kali ini bener-bener kabar buruk buat Ayah dan Bunda.”


“Kok bisa? Calon menantu Bunda kenapa, Bang? Ada apa? Rumah sakit mana?”


Aldo menghembuskan nafasnya. “Tadi pas beres-beres buat acara lamaran, Keyla kepeleset dan kena tumpukan piring yang akhirnya pecah.”


“Astaghfirullah aladzim. Kenapa kamu bisa lalai?!”


“Dengerin Aldo dulu, Bunda.”


Sang Ibunda diam.


“Jadi, setelah kejadian itu, Keyla langsung dibawa ke rumah sakit. Dia kekurangan darah karena luka nya ngeluarin darah banyak. Dan, tiba-tiba Keyla mengalami pendarahan yang banyak. Dokter yang nanganin Keyla berpikir untuk melakukan ront-gen dan saat diliat ternyata di ovarium Keyla terdapat kista.”


“Aldo kamu jangan bercanda, Bang. Ini masalah serius jangan kamu jadi bahan candaan. Bunda ngga suka.”


“Abang ngga bercanda, Bun. Abang serius.”


“Ya Allah, Abang! Tunggu Bunda disana. Ayah dan Bunda segera kesana.”


“Iya, Bunda. Rumah sakit Alexandria, ya.”


“Iya, jagain calon menantu Bunda dan Ayah, jangan sampe kenapa-kenapa.”


Bip!


Sambungan telepon antara anak dan Ibu itu terputus sepihak. Aldo kembali memasukan handphone nya ke dalam saku. Sekarang mereka semua tengah menunggu persiapan operasi, sedangkan Keyla masih ditempatkan diruang UGD karena masih butuh banyak darah dan cairan yang melewati selang infus.


Keadaan disana benar-benar dingin. Tidak ada yang berani berbicara. Orang tua Keyla sempat histeris mendengar kabar ini, terutama Viona. Namun, Andra berusaha menenangkan keduanya untuk menyakinkan kalau Keyla akan baik-baik saja setelah ini.


“Keyla ngga akan kenapa-napa, kan, Ndra?” Fara mengeluarkan suara nya.


“Aku yakin dia ngga akan kenapa-napa. Dia wanita kuat. Kita cuma harus do’a in dia, supaya operasi nya berjalan lancar. Kamu yang tenang, ya. Jangan khawatir. Semua akan baik-baik aja.” ujar Andra.


Sebenarnya lelaki itu sama halnya terpuruk seperti mereka. Namun, Andra tetap harus terlihat kuat untuk memberi kekuatan kepada keluarga nya dan meyakinkan semua akan baik-baik saja.


Andra tidak habis pikir. Mengapa adiknya itu sanggup menyimpan rahasia sebesar ini dari orang-orang terdekatnya? Andra tahu, kalau Keyla adalah sosok wanita yang tidak mau merepotka orang lain, sekalipun orang terdekatnya.


Namun, kalau kejadiannya seperti ini, mana ada yang sanggup menahannya sendiri? Waktu enam bulan bukan waktu yang sebentar.


Enam bulan terhitung sejak kepulangannya dari Sumatra Barat. Apakah Keyla menyimpan semua ini dari masih ia tinggal di kota Jam Gadang tersebut?


“Enam bulan..” gumamnya.


Fara menoleh ke arah suaminya, dia mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya ada apa?’


Tidak ada tanggapan dari Andra, akhirnya Fara menyentuh tangan lelaki itu lalu mengusapnya.


“Ada apa?”


“Enam bulan. Enam bulan lamanya Keyla simpen ini semua sendirian. Jadi, selama ini dibalik tawa bahagia itu ada kesakitan yang dia tutupi supaya kita ngga mengetahui apapun?”


Andra menatap lurus lorong rumah sakit. Dia masih belum percaya kalau ini harus menimpa sang Adik. Takdir memang tidak bisa ditentang.


Fara mengusap pelan punggung tangan lelaki yang ia cintai tersebut. Dia berusaha menenangkan lelaki itu seperti dia menenangi dirinya tadi.


“Keyla wanita kuat. Dia bisa simpen ini sendirian selama enam bulan itu bukan hal mudah. Aku bangga sama dia. Aku kenal dia dari masih jaman SMP, dia sama sekali ngga pernah nunjukin kesedihannya ke temen-temennya. Dia ngga akan mau cerita apapun, kecuali cerita bahagia nya. Aku beruntung bisa ketemu wanita sekuat Keyla.”


Andra menoleh, dia merengkuh tubuh Fara kedalam pelukannya. Fara merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan.


“Kita do’a in yang terbaik. Dia wanita kuat.”


Viona. Wanita paruh baya itu tidak henti-hentinya menangis pilu. Ia merasa gagal menjadi seorang Ibu. Keyla, anak perempuan satu-satunya, harus menerima takdir yang tak pernah ia duga selama ini.


Gerald pun merasakan hal yang sama. Walau lelaki itu masih dalam masa pemulihan, tetapi ia harus kembali dipikirkan oleh kabar berat seperti ini.


Gerald menyayangi putri nya melebihi apapun. Dia menjamin semua kehidupan Keyla, dia tidak mau jika Keyla harus hidup dalam kesusahan. Apapun ia korbankan buat putri kecilnya.


Keyla adalah anak perempuan mereka satu-satunya, putri kecil yang mereka anggap tak akan menjadi dewasa. Gerald begitu menyayangi Keyla, begitu mencintai nya.


“Saya Ayah yang gagal.”


“Saya Ayah yang ngga pernah bisa ngejaga putri kecil nya.”


“Saya Ayah terburuk yang pernah ada.”


💫


TBC.