Reasons Of Love

Reasons Of Love
ROL ~ “Menikahlah..”



“Kalau belum bahagia, berarti belum ending nya. Kita berjuang sama-sama, ya.”


-Rifaldo Giordano Cath-


💫


“Jadi, hubungan lo sama Aldo sampai ini masih bisa dibilang aman?” tanya Fara.


Keyla mengangguk. “Emang ngga ada apa-apa.”


“Terus nasib nya Liora gimana?”


“Ngga tau. Tadi malem sih Aldo bener marah banget sama Papa nya. Lo denger sendiri, kan? Dia bakal bawa masalah ini ke hukum.”


“Emang harus gitu. Gue salut sama dia.” sahut Andra.


“Yeu! Kemarin aja sering banget julid,” Fara mencubit pinggang Andra dengan pelan.


“Gini deh, mana ada Abang yang tega negeliat adik nya sakit hati sama cowok yang Abang nya sendiri kenal? Kan gue udah bilang, mau sedewasa apapun Keyla kalau ada yang berani bikin dia kecewa atau gimana itu orang bakal mati ditangan gue. Dan semua orang yang gue sayang juga akan gue gituin.”


Keyla terkekeh. Sifat Abangnya yang sudah menikah masih sama saja seperti sebelum menikah. Tidak ada yang berubah, Andra selalu saja menunjukan sifat posesif dan protektif nya jika menyangkut hal ini.


“Keyla digituin, aku nggak? Kan ngga lucu juga aku cemburu sama adik ipar yang notabene nya sahabat aku sendiri.” Fara mencebikkan bibirnya kesal.


Andra terkekeh pelan. Akhirnya, dia merangkul istrinya lalu mengecup pelipis Fara.


“Kamu, Keyla, Mommy dan Grandma itu perempuan yang paling aku cintai, dan aku jaga. Cinta aku cuma bener-bener berakhir di kamu, dan anak-anak kita nanti. Berani ada yang melukai hati kalian, bakal berurusan sama aku lebih dulu dan aku cari orang itu sampai ke ujung dunia sekalipun.”


Keyla dan Fara tersenyum. Andra memang sosok penyayang, namun dia salah satu tipe orang yang cukup kasar dalam hal menyayangi karena sifat posesif nya itu.


“Iya, deh, iya.”


“Oh, ya, sayang? Kamu udah kasih tau ke Keyla?”


Keyla mengernyitkan dahinya, “Apa?”


Andra terkekeh. “Lo belum tau?”


Keyla menggeleng.


“Kakak ipar lo ini, dia sekarang lagi hamil.”


Raut wajah Keyla berubah senang. Dia langsung berdiri dan mendekatkan diri ke Fara lalu memeluk wanita itu.


“Ah, Ayuuu! Selamat ya, Sayang! Sumpah ih belum percaya,”


Fara terkekeh. “Iya, sama-sama.”


“Udah, mulai sekarang lo harus dirumah ngga boleh kemana-mana! Lo ini hamil muda banget, resiko nya pasti banyak. Dan, gue ngga mau calon keponakan gue kenapa-napa! Lo harus jaga dia! Kalau dia kenapa-napa kita musuhan.”


“Iya, aunty sayang!” Fara berbicara layaknya anak kecil.


“Ah, lucu banget pasti! Udah ngebayangin,”


“Yaiyalah Papa nya kan ganteng, Mama nya cantik.” sahut Andra.


Keyla mencibir. “Kalau Mama nya emang cantik, tapi gue ngga yakin kalau Papa nya ganteng. Gue juga masih heran, kenapa Ayu Fara mau sama lo, Bang. Mungkin lo pelet kali, ya.”


“Heh! Seenak jidat kalau ngomong, Fara kali yang ngejar ngejar gue, lo lupa waktu sebelum gue deket banget sama Fara kalau dia udah suka duluan sama gue?”


Fara membelalakan mata nya. “Key, lo bilang?!”


“Tuh kan bener. Emang Fara nih beruntung banget bisa dapetin gue,”


“Najis!” umpat Keyla.


“Kandungan lo udah berapa minggu, Ay?”


“Jalan 4 minggu.”


“Udah periksa?” Fara mengangguk.


“Gimana kalau anak-anak kita nanti, namanya itu berhubungan sama benda langit? Lucu gitu ga sii?” kata Keyla.


Fara mengangguk antusias. “Boleh tuh, kayaknya lucu pasti!”


“Apasi apasi! Nama anak gue nanti udah gue siapin sendiri!”


“Yaudah yaudah terserah kamu aja.” Andra merangkul Fara dengan erat.


💫


“Al, ini hubungan kita udah benar tunangan?”


Aldo menoleh lalu mengangguk.


“Iya, kita juga udah dapat restu kedua orang tua kita, kan?”


Keyla mengangguk.


“Kamu kenapa, sih? Kok kayak ngga yakin gitu?”


Keyla merenung. Semuanya sudah ia bisa lewati, sekarang pintu kebahagiaan juga sudah didepan mata. Namun, Keyla terus bertolak belakang dengan penyakit nya. Dia takut kalau Aldo akan meninggalkannya.


“Al, kamu ngga akan ninggalin aku, kan?”


“Kamu bakal terima aku apa adanya, kan?”


“Kamu ngga pernah nyesel ngemilikin aku, kan?”


Aldo mengernyitkan dahinya. Sudah jelas bukan kalau dia akan menerima itu semua?


“Kamu kenapa tanya gitu?”


Keyla menggeleng. “Aku takut aja, takut kamu pergi kayak di mimpi aku waktu itu.”


“Ngga akan, sayang.”


“Kalau belum bahagia, berarti belum ending nya. Kita berjuang sama-sama, ya.” ujar Aldo seraya tersenyum.


Keyla menghela nafasnya. Dia tidak yakin jika itu jawaban Aldo setelah mengetahui penyakitnya.


“Iya. Aku sayang kamu, jangan pernah tinggalin aku, ya?”


Aldo mengangguk.


“Oh ya, sayang? Aku boleh tanya?”


“Tanya apa, Al?”


“Aku heran, kenapa kalau kamu sakit dan dirawat itu dokter nya harus Dokter Evans? Yang aku tau beliau itu dokter spesialis penyakit dalam atau perut juga rahim.”


“Ada yang kamu sembunyiin dari aku, ya?”


💫


Keyla menatap luar jendela. Diluar sana hujan sedang turun dengan deras. Seperti mengerti keadaannya sekarang, langit pun ikut menangis.


Pikirannya terus berputar dengan pertanyaan Aldo tadi sore. Untung saja setelah Aldo selesai mengatakan itu, dia mendapa telepon dari kantor untuk segera kembali kesana.


“Key, ada yang dipikirin?”


Keyla menoleh kearah Viona.


“Nggak, mom.”


Viona mangut-mangut mengerti. “Mommy dan daddy lusa sore sudah boleh pulang, cuma kita tetep harus kontrol setiap minggunya.”


“Mommy mau di hari sabtu nanti kamu dan Aldo ngadain acara lamaran.” lanjutnya.


Keyla menghembuskan nafasnya. “Tapi, mom?”


“Lebih cepat lebih baik, sayang.”


“Harus dihari itu? Keyla rasa itu cepet banget. Mommy lupa? Key kan masih banyak tanggung jawab di kantor juga rumah sakit. Apalagi hampir tiga minggu ini Keyla sama sekali ngga ngurusin keduanya.”


“Itu bukan alasan, sayang. Mommy mau kamu segera menikah, mengingat mommy dan daddy yang semakin tua. Aldo udah lebih dari istimewa untuk kamu, sayang. Kami sebagai orang tua udah rela ngelepas anak perempuan kami satu-satunya. Dengan ikhlas.”


“Menikahlah dengan lelaki pilihanmu, sayang.”


💫


TBC.