
Andra menatap Keyla dengan intens. Ia menelisik manik mata adiknya dengan tajam. Andra terus menerka apa yang adiknya alami selama di Padang.
“Semenjak kamu pulang dari Padang, kamu banyak berubah. Ada apa? Cerita sama abang.”
Keyla memejamkan matanya, Andra selalu saja menjadi orang pertama disaat ia susah seperti ini. Apalagi, Keyla sudah kepalang pasrah mengambil langkah hidup, apakah takdir sekejam itu sampai bisa mempermainkan Keyla?
“KEYLA!”
Keyla menghapus air mata nya yang menggenang dibawah mata. Pendirian Keyla runtuh seketika hanya berhadapan dengan Andra yang seperti ini.
“Nggak, bang. I’m fine.”
“Bohong!”
Keyla menghela napasnya panjang. “Keyla cuma kecapean karena banyak laporan kerja yang menumpuk dan belum sempet Keyla selesaikan. Dan, Caffe aku yang di Pariaman ngalamin kebangkrutan karena ada salah satu karyawan aku korupsi.” itu hanya alibi yang memang tidak ada bohongnya, ya setidaknya ia bisa membuat Andra percaya, walaupun hanya sementara waktu.
Andra terhenyak. Apa benar seperti itu nyatanya? Andra rasa tidak. Andra merasakan keraguan saat Keyla berbicara. Ia menelisik manik mata sang adik, memang tidak ada kebohongan disana, tetapi Andra melihat ada satu celah kesedihan yang mendalam disana.
“Oke. Tapi, abang harap kamu nyeritain semua dengan jujur.”
Keyla mengangguk. “Kalau ada apa-apa, bakal Key ceritain, abang tenang aja.”
Bohong kalau Keyla tidak sedih karena harus menyembunyikan semua apa yang ia rasa dan alami.
Andra merengkuh tubuh adik manisnya. Sampai kapanpun, Keyla-lah satu-satu nya wanita yang tetap terpatri namanya dalam hati Andra, selain sang ibu. Ia benar-benar menyayangi dan mencintai adiknya lebih dari diri sendiri. Ibu dan adiknya adalah perempuan yang harus dijaga dan dikasihi, belum nanti Fara, calon istrinya.
Andra selalu bersyukur atas anugerah yang Allah berikan dalam hidupnya yang tak terkira indahnya.
💫
Aldo duduk di singgah sananya. Sekarang, secara resmi Aldo sudah menduduki tahta di perusahaan sang Ayah, walaupun masih memegang kendali CEO, dan sepenuhnya masih ditangan Dirgo--Ayahnya Aldo.
“Perkenalkan, Pak. Nama saya Anita, sekretaris Pak Aldo.”
“Iya. Saya mau mengenal semua karyawan Cath Company,” ujar Aldo.
Anita menyerahkan beberapa map tebal ke meja Aldo. “Ini, pak. Ini semua data dari karyawan Cath Company.”
“Bukan, bukan. Bukan itu yang saya mau, saya menginginkan kita mengadakan acara pertemuan langsung.”
“Mengadakan rapat dalam hal perkenalan maksudnya pak?”
Aldo menggeleng. “Siapkan beberapa proposal undangan untuk beberapa CEO cabang Cath Company. Dan, undang semua karyawan disini untuk makan siang bersama dengan para CEO termasuk saya, adakan di ruang aula di kantor hari Jum’at nanti.”
“Baik, pak. Proposalnya beserta biaya atau tidak, pak?”
“Jangan. Biarkan saya yang menanggung semua biayanya, uang pribadi saya.”
Anita tertegun. “Ba-baik, pak.”
“Kamu boleh keluar. Saya mau kerumah Om Gerald, bilang ke Ayah saya kalau beliau kesini.” Anita mengangguk.
Aldo meninggalkan Anita yang tengah membereskan map yang ia beri tadi. Tanpa dugaan Anita tersenyum.
“Duu, kalau tiap hari dikasih asupan gini sii, gue betah kerja disini. Apalagi CEO nya ganteng banget tajir pula.” kata Anita sambil mengulas senyumnya.
💫
Andra mengulas senyumnya sekilas, lalu meninggalkan Aldo dan Keyla di Gazebo belakang rumah. Andra baru mendapat kabar dari Rumah Sakit Alexandria, karena ada meeting dadakan untuk dokter spesialis bedah dari berbagai negara.
Aldo menggenggam tangan Keyla. Kekasihnya ini hanya merespons dengan tersenyum, Aldo menghela nafasnya panjang.
“Are you okay, Sunshine?”
Keyla mengangguk. “I’m fine, Kutub!”
Aldo terkekeh pelan. “Jalan yuk? Kita udah lama lho gak jalan bareng.”
“Ayo! Aku juga agak suntuk dirumah, nyejukkin pikiran.”
Aldo mengeluarkan ponselnya, mendial salah satu nomer didalam ponselnya.
“Kamu cari informasi sampai akarnya, kalau ada sedikitpun yang mencurigakan tolong secepatnya kasih tahu saya. Kamu mengerti?” ucap Aldo didalam telepon.
“Baik, Aden. Secepatnya saya akan beri tahu informasi terbaru mengenai Nona.”
“Good job. Aku akan membayar kamu lebih besar dari apa yang saya janjikan kalau hasil yang saya inginkan cepat dapat.”
“Iya, den.”
Aldo mematikan sambungan teleponnya sepihak lalu berjalan meninggalkan Gazebo menuju ruang tamu, menunggu Keyla yang tengah berganti pakaian.
Hingga selang beberapa menit akhirnya, Keyla keluar dari kamarnya dengan Dress up yang panjangnya hinggi betis berwarna hitam tanpa lengan dengan sedikit robek dibagian paha dan ikatan rambutnya ala pony tail juga anting gantung bulu-bulu. Sangat cantik.
Aldo terkesima saat melihat Keyla turun dari anak tangga. Suara derap langkah H-heels setinggi 3 cm itu membuat Aldo tak berkedip sama sekali.
“Aldo?”
“Aldo?”
Aldo masih tak bergeming, ia dari tadi tidak sama sekali mengerjapkan matanya. Keyla sangat mempesona.
“Aldo!”
“Aldo mengerjapkan matanya kaget, “E-eh? Udah, Key?”
“Dari tadi! Yaudah ayo cepet, nanti keburu sore.” kata Keyla dengan mengapit lengan Aldo.
Sampai dipelataran rumah Gerald, Aldo langsung mengemudikan mobilnya. Ia mengajak Keyla ke Mall Grand Indonesia.
💫
Aldo mengeratkan tangannya di pinggang langsing milik sang kekasih. Sebagai tanda kepemilikkan, karena dari tadi banyak cowok berhidung belang menatap Keyla dengan minat. Aldo tak suka itu.
Padahal dari tadi awal masuk Mall pun yang paling sering dipuji itu ialah Aldo. Mungkin karena kadar ketampanan Aldo yang bertambah karena masih memakai setelan kantor yaitu kemeja putih yang dibalut jas hitam serta celana panjang di kaki jenjangnya.
Aldo dan Keyla sangat serasi dengan setelan hitam mereka. Bahkan, keduanya sekarang menjadi pusat perhatian karena kecantikkan dan ketampanan mereka yang tiada tara.
“Key! Jangan bales senyum-senyum mereka! Aku ga suka.”
Keyla terkekeh pelan. “Lho? Memang kenapa, Kutub sayang? Mereka kan ibu-ibu yang ramah.”
“Tuhkan, malesnya tuu gini, masa kamu ga peka si? Dia itu lagi senyumin aku bukan kamu! Jangan diladenin, nanti malah semakin menjadi.”
Memang dasarnya tingkat kepedean Aldo tinggi malah semakin meninggi semenjak ia berjauhan dengan Keyla kemarin. Ldr, contohnya.
“Dih ge’er banget! Udah ayukk, aku laper banget ni,” keluh Keyla sambil memegangi perutnya seraya tertawa.
Aldo mengangguk. “Kamu mau makan apa?”
“Yang simple aja, deh. Males yang ribet, nanti lama.”
Aldo tersenyum lalu mengacak surai hitam Keyla, lalu mengajak gadisnya ke salah satu Restoran siap saji yang berada disana. Intinya, hari ini mereka menghabiskan waktu bersama setelah sekian lama tidak bersua.
“Kamu memang udah seceria biasanya, tapi sorot mata kamu yang nggak akan pernah bisa bohongin aku, Keyla. Ada apa sebenarnya?”
💫
Holaaaaa!
Gimana di chapter dua ini? Udah menerka-nerka apa yang Keyla alamin selama beberapa hari terakhir di Padang?
Penasaran? Ikutin cerita Reasons Of Love terus ya🙌
Jangan lupa vommentnya. Thx ❤