
Keyla menatap secarik kertas yang ia genggam, setelah mendengarkan keadaan daddy nya yang semakin memburuk membuat Keyla enggan membuka dan membaca isi surat tersebut. Namun, Geraldy berpesan untuk segera dibaca.
Keyla perlahan membuka kertas tersebut. Walaupun bukan tulisan tangan langsung dari sang ayah tapi Keyla percaya itu kata-kata tulus dari daddy nya yang belum sempat beliau katakan.
“Mungkin saat kamu baca tulisan ini daddy lagi tertidur pulas, sampai nyamuk pun tak kuasa untuk menganggu daddy.
Sayang, anak perempuan daddy satu-satunya, Keyla Arletta Alexandria. Kamu adalah berlian daddy, harta paling berharga yang pernah daddy miliki. Usia mu yang semakin beranjak dewasa membuat daddy semakin ingin memeluk mu lebih dalam, hingga tak ada siapapun yang berani menyakiti dan mengambilmu dari pelukan daddy. Namun, daddy sadar ini semua hanya egoistis daddy. Selama ini daddy selalu berdo’a dan meminta kepada Allah untuk memberikan jodoh terbaik dan yang bisa menuntunmu kejalan yang lebih baik lagi untuk anak perempuan kesayangan daddy. Daddy amat menyayangimu sampai rasa sayang itu melebihi rasa sayang daddy kepada diri sendiri. Sayang, berbahagia lah, daddy selalu merestui apapun keputusanmu dan selalu mendo’akan disetiap langkahmu.
Memang hal paling berat bagi seorang ayah ialah melepas anak perempuannya untuk suaminya nanti. InsyaAllah, daddy merestui kalian dan memberi kalian do’a terbaik. Bersatulah sayang dengan Aldo. I love you more than.”
Keyla tak kuasa menahan tangis seusai membaca isi tulisan tersebut. Keyla langsung melangkah cepat keluar dari kamar rawat Viona, semua orang disana berseru memanggil Keyla namun ditahan oleh Geraldy.
“Biarkan. Mungkin Keyla ingin menenangkan pikirannya.”
💫
Setelah memakai Gaun Protektif dan mencuci tangan lebih dulu, Keyla segera melangkah ke brangkar sang ayah. Bahkan selang ventilator melekat di hidung, mulut menghiasi wajah tampan yang sudah terlihat garis halus disana.
“Dad, how’s the situation? Dad, you hear me talking, right? I’ve read a letter from father. Dad already gruesome I married Aldo. Dad is the greatest father that Keyla has ever thought of hating dad. Get well soon, father. so I can see Keyla happy.”
Keyla berusaha untuk tidak menangis didepan sang ayah. Terlihat sangat lemah ayahnya yang biasanya terlihat gagah. Waktu begitu cepat untuk membuat makhluknya berubah-ubah.
Air mata mengalir dari mata Gerald. Keyla tersenyum, sebagai seorang dokter walaupun tidak terjun langsung ke dunia dokter spesialis seperti ini, Keyla tahu kalau itu respon yang sangat baik untuk pasien kritis seperti ayah nya ini.
“Dad, daddy responnya bagus banget. Do’a terbaik aku selalu terarah buat, daddy. Get will soon!”
Keyla mengecup kening Gerald dan mengusap rambut halus milik Gerald. Keyla kembali menangis tersedu-sedu, tak tahan melihat sang ayah yang terkujur lemah seperti ini.
“Permisi, dokter. Dokter Keyla maaf, pak Gerald mau diperiksa lagi peningkatannya.”
Keyla menoleh lalu menghapus sisa air matanya. “Iya, sus. Maaf ya.”
Keyla melangkah keluar ruangan ICU, ia memutuskan untuk kembali ke ruangan mommy nya.
Disela langkahnya tiba-tiba jalannya dihadang oleh dokter Evans. Dokter Evans tersenyum hingga menampilkan lesung pipi nya.
“Heii bu Dokter cantik! How are you?”
“Evans.. Evans.. Ada-ada aja. Seperti yang kamu lihat.” Keyla tersenyum ketir.
“Mata kamu sembab? Kamu habis nangis?”
Keyla meraup wajahnya pelan. “Eum, nggak, gapapa.”
“Yakin? Jangan dipikirin, Key. Inget sama penyakit kamu.”
Keyla mengangguk. “Iya, Evans.”
“Sebenarnya aku disini karena daddy dan mommy ku kecelakaan.”
Evans terkejut. “Astaghfirullah! Gimana keadaannya?”
“Kalau mommy alhamdulillah sekarang kondisinya udah stabil. Tapi nggak dengan daddy, justru daddy keadaannya semakin menurun.”
“Yang sabar ya, aku yakin kamu lebih dari wanita kuat yang aku bayangkan.”
Keyla tersenyum. “Makasih ya, Van.”
“Iya, sama-sama. Cepet sembuh buat orang tua kamu, ya! Maaf banget aku belum ada waktu buat jenguk, nanti habis jam makan siang aku ada pertemuan Dokter spesialis se-Indonesia.”
“Iya, aamiin. Gapapa, Van! Good luck, ya.” Keyla tersenyum.
“Kalau gitu aku duluan ya mau ke kamar mommy.” Evans mengangguk.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap dan mendengarkannya dengan jelas juga kepalan tangan yang tertahan.
💫
“Mommy..”
“Mom..”
Raina mengusap bahu keponakannya, menguatkan mental Keyla yang tengah terpuruk.
“Tapi lam-“
“Eungghhh..”
Keyla dan Raina langsung menoleh ke arah Viona. Viona membuka matanya perlahan, menyamakan sinar cahaya dari lampu dalam ruangan itu.
“Mommy!”
Viona tersenyum. “Haus.”
Keyla segera memberikan segelas air putih dan membantu Viona dengan sangat hati-hati.
“Kak, ada yang sakit ngga?” tanya Raina.
Viona tersenyum tipis lalu menggeleng. “Nggak, Rai.”
Viona sedikit menggerakan tubuhnya untuk duduk, dengan sigap Keyla dan Raina membantu pergerakkan Viona.
“Sayang, dimana daddy?”
Keyla menatap Raina dengan tatapan lesu.
“Sayang?”
“Ah, iya, mom. Daddy ada, kok.”
Viona mengedarkan pandangannya melihat setiap penjuru ruangan yang cukup luas ini dikarenakan kamar rawat Viona VVIP.
“Dimana?”
Raina menatap Viona sembari tersenyum.
“Bang Rald ada kok, di ruangannya.”
“Kenapa harus dipisah? Kan kamarnya luas ga mungkin kalau nggak cukup.” jawab Viona.
Keyla menggeleng. “Bukan soal itu, mom.”
“Terus?”
“Bang Rald masih di ruangan ICU, kak.”
Viona terkejut, air mata nya menggenang dipelupuk mata.
“Rald kenapa, Rai?!” Viona berpekik.
“Awh..” Viona memegangi kepalanya yang terasa nyeri.
Keyla langsung memencet bel untuk memanggil dokter, tak lama kemudian Dokter Arya datang dengan dua suster dibelakangnya.
“Bu Viona sudah siuman?” dokter Arya tersenyum.
“Suami saya gimana, dok?”
“Tenang dulu ya, bu. Suami ibu insyaallah baik-baik aja.”
Dokter Arya memeriksa Viona dengan telaten.
“Bu Viona jangan banyak gerak dulu ya. Banyakkin istirahat dulu untuk pemulihan.”
“Dokter! Dokter!”
Seorang suster datang dengan wajah paniknya yang masih berdiri pula diambang pintu.
“Ada apa, sus?”
“Pak Gerald muntah darah, dok!”
💫
TBC.