
Seketika tautan jemari Aldo dan Keyla terlepas saat Gerald berkata seperti itu. Hening. Keadaan mendadak hening, semua orang tiba-tiba membisukan bibirnya tanpa berucap sepatah kata pun.
“Rald?” Viona menaruh telapak tangannya diatas bahu Gerald.
Gerald diam tak ada respon sama sekali darinya.
“Viona, ayo kita pulang.” Gerald menggenggam jemari Viona lalu berpamitan.
“Dirgo, Risa, aku pulang, ya. Assalamualaikum.”
Keyla menangis, tertunduk dalam. Memang nampaknya semesta benar-benar tidak pernah bersahabat dengannya, baru saja ia ingin bahagia ada saja masalah baru yang menghalangi.
Aldo diam, belum bisa mencerna semua kejadian yang baru saja terjadi. Rasanya perih jika ucapan Gerald tadi diingat dan sialnya terputar sangat jelas diotaknya.
“Al?”
Keyla menengadahkan kepalanya lalu tersenyum miris, ia langsung melangkah cepat keluar rumah Aldo untuk ke lapangan yang ada didekat rumah Aldo, kebetulan ia membawa mobil namun tidak diparkir didekat rumah kekasihnya.
“Key! Keylaaaaa!” Aldo mengejar kekasihnya. Namun ia kalah cepat dengan Keyla, wanitanya sudah melesat jauh dari jangkauannya.
Keyla menangis disepanjang jalan yang ia sendiri tak tahu akan mau kemana perginya. Tangisannya terdengar sangat sedu, hati dan pikirannya saat ini benar-benar kacau.
“ARRRGGGHHHHH!”
Keyla membanting stirnya, setelah menepi ke bahu jalan. Ia menunduk dalam, rasanya masih tak percaya kalau kata-kata itu yang akan keluar dari mulut sang ayah.
“Sebegitu jahatnya takdir sampai niat baik pun dipermainkan?” gumamnya.
“Aku cuma pengen bahagia, apa itu salah? Sesulit itu buat ngerasain bahagia?”
Perlahan tangisannya tak terdengar, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, meraupnya dengan sedikit kasar.
Akhirnya, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya untuk ke suatu tempat, yang ia rasa cocok untuk mendengarkan keluh kesahnya saat ini.
💫
Kacamata hitam dan pashmina hitam tanpa kaitan itu melekat sempurna diwajahnya. Keyla melangkah pelan menyusuri jalan yang ditumbuhi rumput disekitarnya.
“Assalamualaikum, Grandpa.”
Pijakannya terhenti disamping pusara hitam yang diatasnya terdapat kitab suci Al-Qur'an dan papan nama dengan atas nama ‘Gelano Alexandria’ kakek dari Keyla, suaminya Aliena.
“Grandpa, maafin, Key, ya udah lama ga nengokin. Keyla kangen banget sama grandpa. Semoga grandpa tenang di alam sana ya.”
Keyla mengusap pusara tersebut. “Grandpa, kenapa takdir jahat sama Key? Takdir selalu permainin hidup aku, Key rasa ini semua ga adil, tapi seberusaha mungkin Key selalu menerima.”
“Baru aja aku ngerasain rasa bahagia yang susah dikatakan, tapi segitu mudahnya takdir kembali mematahkan. Grandpa, Keyla capek jalanin hidup ini.”
“Keyla takut. Takdir begitu kejam.”
“Ga perlu ada yang ditakutin.”
Keyla langsung menoleh kesumber suara. Disana ada wanita cantik dengan kacamata hitamnya yang bertengger manis dimatanya.
“Kamu siapa?”
Wanita cantik tersebut tersenyum. “Jangan mempermainkan takdir, kalau kamu gamau dipermainkan juga dengan takdir.”
“Maksud kamu apa?”
“Eumm... Gapapa. Oh ya, maaf ya udah lancang. Kenalin, aku Tari.”
Wanita itu mengulurkan tangannya, Keyla menerima jabat tangan tersebut.
“Keyla.”
“Nama yang cantik, persis seperti orangnya. Jangan nangis lagi, ya. Kamu masih punya Allah untuk berdo’a.”
“Makasih. Kalau boleh tau, kamu disini mau apa?”
Keyla sedikit tenang karena ucapan Tari. Sejenak ia melupakan sedikit masalahnya, seperti terhipnotis dengan kecantikkan wanita dihadapannya, Keyla ikut tersenyum saat ia tersenyum.
“Aku habis dari makam Mama ku.”
“Kita sama, lho. Aku kalau lagi sedih selalu ke makam Mama dan cerita semuanya sama Alm. Mama ku walaupun aku tau kalau Mama gabisa jawab tapi aku yakin Mama denger semua cerita aku.” lanjutnya.
“Aku baru kali ini ke makam kakek ku setelah delapan tahun lamanya ga kesini.”
Tari terkejut. “Cukup lama, aku yakin kamu pasti kangen banget sama kakek kamu, aku juga gitu.”
Keyla mengangguk lalu menunduk dalam.
“Aduh, maaf ya aku lancang banget, baru kenal udah tanya-tanya soal pribadi.”
Keyla tersenyum tipis, “Gapapa, aku malah seneng.”
“Kamu mau cerita?”
Keyla terhenyak. “Kamu mau mendengarkan?”
Tari mengangguk sambil tersenyum. “Pasti, Keyla! Aku pasti mau.”
“Tapi jangan disini, ke rumah aku aja yuk kebetulan deket dari sini.”
💫
Sesampainya mereka di rumah minimalist namun terlihat luas. Tari mengajak masuk Keyla kedalam rumahnya. Sepi. Tidak terlihat orang disana.
“Assalamualaikum.” ucapnya bersamaan.
“Emang gini, rumah aku selalu sepi.” Tari tersenyum.
Keyla mengangguk. “Kamu punya saudara, Tari?”
“Punya. Aku kembar. Tapi, kembaran aku ga di Indonesia.”
Keyla mengernyit heran. “Terus dimana?”
“Di Aussie, lagi jalanin pengobatan. Dia kecelakaan pesawat delapan tahun lalu, dan koma sampai sekarang.”
Keyla terkejut. “Selama itu?”
Tari tersenyum lalu mengangguk.
“Aku jadi malu. Ada orang yang punya masalah hidup lebih berat tapi ga mengeluh, sedangkan aku, sering banget ngeluh.” Keyla menunduk dalam.
“Gapapa, itu hal wajar kok. Kamu cuma harus lebih sabar aja ngejalanin semuanya, aku yakin kamu wanita yang kuat, jadi Allah kasih kamu cobaan yang cukup berat.”
Keyla tersenyum manis menatap Tari. Wanita itu memiliki paras yang amat cantik nan manis, ia memiliki wajah yang susah untuk dilupakan oleh lawan bicaranya.
“Makasih ya, Tari. Kita baru kenal, tapi aku belajar banyak dari kamu.”
“Iya, sama-sama. Aku seneng kenal sama kamu.”
Keyla tersenyum. “Aku juga seneng.”
“Oh ya, kamu mau minum apa?” tanya Tari.
“Eumm.. Ga usah deh, Tari.”
“Yakin?” Keyla mengangguk.
“Kamu mau cerita apa?” tanya Tari sembari tersenyum.
Saat hendak ingin membuka mulut, pergerakan Keyla terhenti karena ada telepon masuk dari handphone nya. Ada 36 panggilan tak terjawab dari Aldo, 14 panggilan tak terjawab dari Andra dan 9 panggilan tak terjawab dari Fara. Juga 100++ unread message dari Aldo.
“Sebentar ya, Tari.” Tari mengangguk.
Tetapi matanya tertuju pada panggilang tak terjawab dari tantenya, Raina. Ada apa wanita itu mendial dirinya? Tak biasanya.
Keyla coba mendial kembali nomer Raina. Tak butuh beberapa menit, panggilan itu terjawab, terdengar isak tangis dari sana.
“Assalamualaikum, Keyla?”
“Wa’alaikumussalan, Tan, ada apa?”
“Bang Rald sama kak Viona, Key,”
Degup jantung Keyla beritme lebih cepat, perasaannya sangat amat tidak enak.
“Daddy sama mommy kenapa, Tan?”
Raina hanya menangis.
“Tante, jawab!”
“Bang Rald dan kak Viona masuk rumah sakit karena kecelakaan.”
💫
TBC.