
“Aldo!”
Aldo menghentikan langkahnya lalu kembali menutup pintu mobilnya dan membalikkan badan. Suara itu? Suara yang amat jelas dan pernah ia rindukan. Dia Risya.
Perempuan yang bernama Risya itu menghampiri Aldo, Risya langsung menghambur pelukan ke dada bidang Aldo. Aldo sama sekali tak berkutik, dia diam.
“Aku kangen. Kangen banget sama kamu, Al.” ucapnya seraya menatap netra Aldo dengan lekat.
“Ri-Risya? Mau apa kamu disini?” tanya Aldo dengan suara terbata.
“Aku kembali, Al. Aku kembali. Aku kembali buat kamu.” jawabnya antusias.
Aldo kembali tersadar, ini masih area kantor dan Aldo takut ada seseorang yang melihat mereka. Aldo melepas pelukan yang tak terbalas itu. Aldo tersenyum tipis, tanpa mereka ketahui ada seseorang perempuan dengan wajah pias nya menatap keduanya dengan tatapan kecewa.
“Hai? How are you?” tanya Aldo basa-basi sembari mengalihkan pembicaraan Risya tadi.
“Seperti yang kamu lihat. Gimana kabar kamu? Tante Risa dan Om Dirgo gimana kabarnya? Cella dan Cello? Aku kangen mereka!”
“Alhamdulillah mereka baik semua.”
“Ayo, Al! Antar aku ketemu mereka.”
Aldo menggeleng. “Aku ada urusan, Sya. Maaf ga bisa anterin kamu.”
Risya menghela nafasnya. “Al, kamu masih sayang aku, kan? Masih cinta aku, kan? Maafin kesalahan aku waktu itu yang ninggalin kamu gitu aja, tapi dibalik itu aku ngerasain sakitnya sendirian, maafin aku yang ga pernah ada kabar. Aldo, kamu mau kan kita wujudin mimpi kita waktu itu dan kembali bersama-sama?”
Aldo tersenyum tipis. Sosok didepannya masih sama seperti mereka terakhir bertemu, hanya saja wajahnya yang terlihat lebih dewasa.
“Maaf, Sya. Ga bisa. Aku udah nemuin pengganti kamu, dan aku rasa dia akan jadi wanita terakhir untuk aku hidup di dunia. Dia ga jauh berbeda dari kamu, suka bikin aku salah tingkah sendirian. Tapi, Sya, asal kamu tahu, dada aku juga berdebar saat lihat kamu tadi, aku memang kangen sama kamu tapi dalam artian adik. Jangan berharap lagi sama aku, Sya. Kamu harus cari laki-laki yang lebih baik dari aku.” kata Aldo seperti biasa dengan nada dinginnya.
Hati Risya mencelus begitu saja. Harapan nya untuk bisa kembali bersama dengan sosok yang selama ini ia dambakan sudah pupus.
“Ah, maaf ya. Aku ga tau kalau kamu udah punya kekasih baru, Al.” Risya tersenyum ketir.
“Udah, ya. Aku duluan, see you next time. Jaga diri baik-baik. Kalau mau ketemu keluargaku bilang aja, ini kartu namaku. Dah..” Aldo memberikan kartu nama nya lalu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Risya yang tengah menangis menatap kartu nama digenggamannya.
Aldo teringat pertemuan dirinya dengan gadis itu. Gejolak didadanya kembali meletup kecil, bohong kalau Aldo tidak merindukan gadis itu. Aldo menggeleng mengenyahkan pikirian apa yang tak harus ia pikirkan.
Aldo membuka laci lemari pakaiannya, sebuah kotak berwarna hitam legam serta pita gold bertenger manis menghiasi kotak itu, kotak yang masih ia simpan bertahun-tahun lamanya.
Aldo membuka kotak itu, disana ada lukisan diatas kanvas berlukis wajahnya dan puisi manis. Aldo tersenyum tipis. Hadiah itu pemberian dari Risya sekaligus hadiah perpisahan yang tak terduga.
Senyuman tipismu seperti mentari pagi yang bersinar untuk menyemangati hariku. Kamu memang tidak semanis laki-laki lain, tapi percayalah, dengan kamu yang seperti ini sudah membuatku jatuh hati sedalam-dalamnya sampai aku tak memiliki celah untuk mencintai orang lain. Tetap disini untuk tinggal.
Selamat hari jadi dua tahun, Aldo.
Tarisya Kinanthi.
“Sekarang udah jadi kenangan, Sya. Kamu tetap ada ruang dihatiku tersendiri. Kamu memang cinta pertamaku, tetapi bukan berarti kamu cinta terakhirku. Hatiku sudah berlabuh dengan wanita yang selalu memenuhi ruang hati dan pikiranku, dia wanita terakhir yang aku cintai setelah Bunda dan adik perempuanku.”
Aldo menutup kembali kotak itu, lalu ia keluar kamar, menemui Bunda nya yang tengah berbincang hangat dengan Sang Ayah. Ia ikut duduk di dekat mereka.
“Yah, bun.”
“Iyya, bun. Hari ini jadwal aku ga terlalu padat.”
“Ohya, bun, yah. Tadi Aldo ketemu Risya. Dia bilang pengen ketemu bunda sama ayah.”
Raut terkejut menghiasi wajah kedua orang tua tersebut, “Risya, mantan kamu bang?” tanya Risa.
Aldo mengangguk.
“Keyla tau kalau kamu pernah punya hubungan sama Risya?”
Aldo menggeleng.
“Sebaiknya kamu temuin Keyla sebelum dia tau dari orang lain lebih baik dari kamu sendiri , bukan?”
Dirgo tertawa pelan. “Udah biarin aja, bun. Anakmu udah gede ini, ga usah dituntun dijalan itu, sejatinya laki-laki itu yang berani jujur dihadapan wanita yang ia cintai itu jarang ada.”
Dirgo memang jarang terlihat akrab dengan Aldo. Namun, sikap seperti itu yang sering kali dijadikan dorongan darinya untuk Aldo. Aldo pun menjadikan kalimat-kalimat yang Dirgo ucapan sebagai panutan atau motivasinya.
Aldo bangkit dari duduk nya lalu menarik punggung tangan bunda dan ayah nya untuk diciumnya lalu melangkah cepat ke pintu utama.
“Bang kamu mau kemana?!”
“MAU KETEMU CALON MANTU BUNDA! MAU BUKTIIN KE AYAH KALAU ALDO LAKI-LAKI SEJATI!”
Dirgo dan Risa tertawa melihat kelakuan anak tertuanya itu. Dulu bukan itu jawabannya jika Aldo keluar rumah, dan sekarang dengan lancangnya anak itu berani mengatakannya, Aldo yang pemalu dan dingin sekarang sudah ramah dan bijaksana.
“Anak kamu, Dir.”
“Kamu, Risa.”
“Kamu lah!”
“Anak kita. Risa, gimana kalau kita buat adik baru untuk Cella dan Cello? Siapa tahu kembar lagi kan jadi ramai.”
“INGET UMUR, DIR! BIKIN SANA SAMA ANAK KUCING.”
💫
TBC.
****
Bonus Visual
• Tarisya Kinanthi.
Si alumni hati nya abang kutub🙈 do’a in aja semoga ga reuni an ya 😂 cantik banget kan gimana ga bingung Aldo milihnya, ahahahahaha.