
Note : Aku bakal next up kalau vote nya sampai 415 vote ya 🙈
Dokter Arya segera berlari meninggalkan ruangan Viona menuju ruangan ICU yang diikuti Raina dan Keyla. Sedangkan Viona harus menunggu kursi roda yang tengah diambil oleh suster.
“Maaf ya, dok, bu. Kalian tunggu didepan dulu,”
Keyla mengangguk.
Ia duduk disamping tante nya, kembali menangis sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan, menutupi kesedihannya.
“Key, telepon Om Aldy sama Andra, kabarin kalau daddy kamu keadaannya menurun.”
Keyla menengadahkan kepalanya seraya menghapus sisa air matanya. “Handphone Key ada di kamar mommy, tan.”
Raina memeriksa tas nya, dan untungnya ia membawa handphone. Saat Raina sedang mendial nomer Andra, Viona datang dengan kursi rodanya.
“Sayang, gimana daddy?”
Viona menangis menatap ruang ICU.
Keyla menggeleng seraya memeluk sang mama. “Daddy bisa sembuh, kan, mom?”
Viona mengusap surai Keyla, mencium dan menghirupnya dalam-dalam.
“Do’ain yang terbaik, sayang. Percaya kalau daddy bisa sembuh, dan bisa kumpul bareng-bareng lagi sama kita.”
“Aamiin. Oh ya, mommy tau? Kemarin sebelum daddy kritis daddy bikin surat buat Key, suster nya yang tulis tapi daddy yang ngarahin.”
“Seriously? Daddy bilang apa, sayang?”
Keyla menengadakan kepalanya menatap sang mama, lalu tersenyum membuat mata indahnya menyipit karena terus menangis tak henti-henti.
“Daddy bilang kalau daddy ngerestuin aku sama Aldo.”
Viona terkejut, lalu menempelkan jemarinya di dagu Keyla. “Sayang, sebenarnya daddy itu ngerestuin kalian dari lama, cuma daddy terlalu sayang sama kamu jadi seperti itu. Maafkan daddy kamu, ya.”
“Keyla ga pernah marah sama daddy, mom. Keyla sayang banget sama kalian.”
Viona tersenyum lalu mengangguk.
“Assalamualaikum! Bang Rald gimana, Rai, keadaannya?” Geraldy datang bersama dengan Nayla, Andra juga Fara.
Fara dan Nayla mencium tangan Viona dan Raina lalu duduk disamping Keyla.
“Wa’alaikumussalam, dokter belum keluar, bang.”
“Tapi daddy gapapa, kan, Tan?” tanya Fara.
Raina mengulas senyum manisnya. “InsyaAllah, do’ain yang terbaik, ya. Tadi suster bilang daddy kamu muntah darah.”
“Astaghfirullah!” seru Geraldy, Andra, Fara dan Nayla secara bersamaan.
“Andra, daddy, Ndra..” Fara kembali menangis terisak dibahu Andra.
“Iya, sayang. Aku juga ngerti, kita sama-sama berdo’a aja.”
Tak lama kemudian, Dokter Arya keluar dengan suster dibelakangnya.
“Gimana, dok? Daddy gimana?”
Dokter Arya tersenyum. “Tetap do’a in yang terbaik, kita kekurangan darah, karena pak Gerald muntah darah cukup banyak dan untungnya segera ditangani.”
“Tapi, sayang..”
Dokter Arya menghela nafasnya sebentar, “Golongan darah pak Gerald kebetulan sedang habis stock-nya di rumah sakit dan Palang Merah Indonesia.”
“Kekurangan darah?” tanya Andra.
Dokter Arya mengangguk.
“Golongan darah daddy apa, mom?” tanya Andra.
“B negatif.” jawabnya
“Kalau B negatif bisa cocok sama golongan darah apalagi, dok?”
Dokter Arya menggeleng. “B negatif tidak bisa menerima darah lain selain B negatif.”
Andra meraup wajahnya kasar.
“Mommy! Iya, mommy, mommy golongan darah nya B negatif!” seru Raina.
“Tapi, kan, grandma lagi di Jepang, tan.”
Raut wajah Raina kembali murung. “Terus siapa?”
“Golongan darah aku B negatif, ambil aja, dok!”
“Tari?!”
💫
“Iya, Keyla.” Tari tersenyum.
Keyla menghambur pelukan ke Tari dengan senyum mengembang dari bibirnya.
“Makasih, ya, Tari.”
“Iya, sama-sama, Key.”
“Oh ya, kok kamu bisa disini?” tanya Keyla.
“Iya, tadi aku abis jengukin temen aku yang sakit, terus aku ga sengaja lewat ruang ICU dan ngeliat kamu lagi nangis dan denger kalian ngomongan golongan darah B negatif,”
“Makasih banget ya, Tari. Aku baru kenal kamu kemarin tapi rasanya udah kenal lama.”
Tari tersenyum. “Iya, Keyla.”
Seorang suster datang dengan peralatan nya untuk mengambil darah pasien. Suster itu tersenyum lalu berkata,
“Maaf, dokter Keyla, saya mau ambil darah pasien sekarang.”
Keyla mengangguk.
“Tari, aku tunggu diluar, ya.” Tari mengangguk seraya membaringkan tubuhnya diatas brangkar.
Keyla keluar dari ruangan tersebut, kebetulan pengambilan darah nya dilakukan disebelah ruang ICU jadi tidak jauh dari tempat.
“Tari tuu siapa, Key?” tanya Fara.
“Iya, dia siapa, Key? Abang baru liat muka nya.”
“Iya, dia temen aku, baru kenal kemarin ketemu di kuburan Grandpa, dia orang yang baik banget.”
Raina terkejut. “Kamu habis ke kuburan grandpa, sayang?”
“Iya, tante.”
Tak lama kemudian, suster yang tadi bersama dengan Tari untuk mengambil darahnya keluar dari ruangan tersebut.
“Tari gimana keadaannya, sus?” tanya Keyla seraya bangkit dari duduknya.
Suster tersebut tersenyum. “Bu Tari gapapa, sekarang dia sedang istirahat.”
“Saya mau ke Dokter Arya dulu untuk menyerahkan darah ini.”
Suster itu kembali meneruskan langkahnya ke ruangan ICU, sedangkan Keyla segera ke ruang rawat Tari untuk melihat keadaan wanita itu.
“Tari, kamu gapapa, kan?”
“Ada yang sakit, gak?”
“Eum.. Kamu mau aku ambilin apa gitu?”
Tari mengulas senyumnya. “Tanya nya satu-satu dong, Key.”
“Aku khawatir. Takut kenapa-kenapa.”
“Aku gapapa, udah sana kamu tungguin daddy kamu, aku mau istirahat, lemes banget.” kata Tari.
“Kamu yakin gapapa?”
“Iya, gapapa.”
“Yaudah, deh, aku keluar ya.”
💫
Dirgo mengangkat kaki kanan nya dan bertumpu diatas kaki kiri. Ia menatap Aldo dengan tatapan intens.
“Gimana kelanjutan hubungan kalian?”
Aldo menghela nafasnya. “Gatau, Yah. Aldo belum tega kalau buat tanya soal itu, sedangkan Keyla keadaannya lagi down banget.”
“Rencana nya nanti malam Ayah akan jenguk Gerald, ada yang mau Ayah bicarain sama beliau.”
Aldo mengernyit heran. “Tapi, daddy nya Keyla kan belum sadar, Yah.”
“Masih kritis?”
Aldo mengangguk.
“Ayah bakalan jodohin kamu sama temen bisnis Ayah, kalau Gerald ngga ada keputusannya atas hubungan kalian.
“Nggak!”
💫
TBC.