
Setelah melewati beberapa hari, akhirnya, resepsi Andra dan Fara digelar tepat hari ini, semua keluarga dan kerabat jauh serta rekan kerja sudah berkumpul di atas kapal pesiar. Andra dan Fara tengah bersiap-siap diri.
Sedangkan Keyla, perempuan itu terus diam sejak empat hari lalu. Semenjak ucapan Aldo saat itu, Keyla menjadi diam dan cuek. Hubungan nya dengan Aldo sedikit merenggang, Aldo yang kembali cuek dan Keyla yang tak perduli.
“Key!”
Keyla menoleh kearah Fara yang tengah memakai gaunnya. “Ada apa?”
“Tolong resleting-in gaun gue dong. Susah, nih. Andra lagi dikamar mandi.”
Keyla mengangguk lalu berdiri dan melakukan apa yang disuruh Fara. Setelah selesai, Keyla mengambil h-heels untuknya dan juga Fara.
Keyla hari ini memakai gaun yang senada warna nya dengan Fara, untuk kerabat dan sahabat dekat memang dikhususkan dress code nya agar sama dengan kedua mempelai.
“Gue duluan ya, Ay?”
“Iyya. Gue nungguin Andra dulu. Lo duluan aja.”
Keyla mengangguk lalu meninggalkan kamar Andra dan Fara. Ia berlalu ke aula, didepan hotel lebih tepatnya pantai yang ada dermaganya dan kapal pesiar yang luas sudah dipenuhi banyak orang.
Perkiraannya mereka akan berlayar sekitar 15 menit saja dan kembali berlabuh lalu membebaskan waktu untuk segala perihal.
Saat jalan menuju aula, Keyla tak sengaja berpapasan dengan Aldo, kekasihnya. Keyla akui, dirinya sangat rindu akan kehangatan Aldo, tapi apa boleh buat?
“Key.”
“Kita ga bisa kayak gini terus. Kita udah sama-sama dewasa.”
Keyla menghentikan langkahnya lalu berbalik menoleh ke arah Aldo. “Ya, terus?”
“Ikut aku.”
Aldo menarik pergelangan tangan Keyla lalu melangkahkan kakinya yang diikuti sang kekasih. Aldo membawa Keyla ke sebuah balkon yang menatap Pantai Bali dengan indah dihiasi dengan langit senja yang mulai tenggelam.
“Aku ga mau terus-terusan kayak gini. Jelasin semua yang harus dijelasin.”
Keyla menundukkan kepalanya. “Apa yang harus aku jelasin, Al?”
Aldo berdecih pelan. “Kamu tau kalau aku paling ga suka dibohongin, Keyla.”
“Aku lagi ga bohong, Aldo.”
“Dan, nyatanya? Kamu berbohong!”
“Apa? Kamu tau apa tentang aku, Al?! Bukan karena kita pacaran kamu harus tau apa yang aku alamin! Ga semua hal, Aldo! Ada ruang tersendiri buat aku tanpa adanya kamu!” suara Keyla meninggi diiringi tangisan.
“Jadi, kamu udah ga butuh aku lagi, bener begitu?”
Keyla menggeleng. “Bukan. Bukan itu maksud aku.”
“Terus? Aku kasih kamu waktu dalam seminggu ini buat kamu bisa jujur sama aku. Aku ngerti kalau kamu butuh privasi tapi kalau ada nya ‘kita’ di antara kamu dan aku, apa guna nya? Bukan karna ‘kita’ ada untuk saling melengkapi?”
“Aku ga butuh ucapan apapun lagi. Aku rasa waktu seminggu itu cukup buat kamu jujur.” lanjutnya.
Aldo bangkit dari duduknya lalu menghapus jejak airmata dipipi Keyla dan menautkan jemari mereka. Aldo merengkuh tubuh gadisnya kedalam pelukannya, Aldo mencium kening Keyla.
“Jangan nangis. Don't leave me, I love you.”
Keyla mendongak lalu tersenyum tipis. “I love you too.”
“Ayo. Cukup empat hari aja kita diem-dieman, seterusnya ga akan.”
💫
Langit senja mulai menenggelamkan matahari. Setelah menyelesaikan ibadah sholat maghrib, semua orang berlalu ke atas kapal pesiar. Sebentar lagi kapal akan jalan, walau hanya mengelilingi pulau kecil dan kembali lagi ke hotel yang sudah ada tempat pemberhentian kapal yang khusus untuk pengunjung berekreasi.
Andra dan Fara pula sudah menduduki singgah sana sebagai tokoh paling utama di acara tersebut. Sahabat dan kerabat serta keluarga juga ditempatkan ditempat yang khusus.
“Cek.. Cek.. Cek.. Oke siap! ASSALAMUALAIKUM, HALLO SEMUANYA, GIMANA-GIMANA? KABARNYA BAIK SEMUA 'KAN? OKE, OKE. PERTAMA-PERTAMA DARI KELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH BUAT YANG SUDAH MENYANGGUPI UNTUK HADIR DISINI ATAS ACARA RESEPSI DARI ANDRA DAN FARA.”
Ucapan seorang MC laki-laki memecah keheningan dan menarik perhatian. Semua orang mengulas senyum tak terkecuali kedua mempelai.
“UDAH SIAP BUAT BERLAYAR SEBENTAR SAMA PANGGERAN DAN PUTRI BAK KERAJAAN INI?! SIAP DONG, PASTI!”
Kapal pesiar mulai bergerak meninggalkan tempat semula. Semua orang sibuk berfoto-foto dan mengobrol. Hingga sampai tiba akhir dipengujung acara, kapal kembali merapat ke dekat hotel.
Semua yang hadir dipersilakan untuk menikmati hidangan dan bersalam-salaman dengan mempelai.
💫
Wanita muda itu mensejajarkan tubuh nya disamping seorang pria muda disebelahnya, sekarang mereka berada ditepi pantai. Seulas senyum cantik tak pernah lepas dari bibir ranum itu.
“Hmm?”
“Nanti kamu mau nya kalau kita nikah resepsi nya kayak Andra dan Fara atau kayak gimana?”
Keyla tertawa. “Aduuu, Al. Aku nurut aja.”
“Kita bikin yang mainstream, gitu. Biar bisa diceritain ke anak-anak kita nanti.”
“Iya, iya! Terserah kamu aja, tapi aku kepengen yang simpel aja. Di gedung tapi dengan ruangan terbuka gitu.”
“Boleh, boleh. Nanti kita nikah di Singapura, atau Thailand?”
Keyla membelalakkan matanya. “Ga usah jauh-jauh! Di Indonesia aja. Malah lebih bagus di Jakarta, kalau kayak pernikahan Abang sama Ayu’ terlalu ribet. Nanti keburu capek malah iya.”
“Oh, jadi kamu pengen yang langsung dan ngerasain cepet-cepet first night gitu?”
“Astagfirullah, nggak lah, Al!”
“Hahaha, tapi aku malah seneng. Aku yakin kalau udah nyangkut itu semua cowok didunia yang awalnya capek pasti langsung semangat. Tapi khusus cowok normal, ya.”
Keyla tertawa. “Gila! Mesum banget, ih! Jangan-jangan kamu udah pernah ngelakuin itu sama cewek lain, ya?!”
“Eh?! Nggak lah nggak! Semua milik aku cuma punya kamu seorang, sayang.”
Keyla mencibir. “Hilih, ngegembel mulu.”
Aldo mendengus sebal. Tiba-tiba sekelebat ide muncul dalam pikiran Aldo. Aldo bangkit dari duduknya lalu melangkah pergi.
Keyla mengernyit, Aldo marah?
“Aldo!” Keyla ikut berdiri dan mengikuti langkah Aldo yang cepat.
“ALDOOOO!”
“ALDOOO!”
Perut nya terasa perih padahal hanya jalan seperti biasa, mungkin ini akibat tadi dirinya tak meminum obat lebih dulu.
“ALDOOO! awh..”
Aldo langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan lalu menghampiri Keyla yang merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.
“Sayang?
“Kamu kenapa?”
Keyla menengadahkan kepalanya. “Kamu mau pergi?”
Aldo menggeleng.
“Jangan pergi. Kamu tahu aku gabisa hidup tanpa kamu, Al.”
“Lagi kesakitan gini masih sempet-sempetnya ngomong manis?” Aldo tertawa pelan.
“Gapapa. Asal manisnya ke kamu.”
“Harus. Ayo kita balik ke hotel. Kamu bisa jalan sendiri atau aku gendong?”
Keyla terkekeh, seperti nostalgia ke masa SMA, dimana waktu pertama kali bertemu Aldo kata itu lah yang pernah ia ucap saat itu, dan hal itu tidak pernah lepas dari ingatan Keyla. First impresion yang manis.
“Hey? Kok kamu bengong?” Aldo mengibaskan telapak tangannya dihadapan wajah Keyla.
“Ah, nggak. Aku jadi inget waktu pertama kali kita ketemu yang waktu itu aku masih nyamar jadi fake nerd. Manis.”
Aldo tertawa lalu mengacak surai perempuan yang dihadapannya itu. “Iya. Aku juga masih inget, ayo kita ke hotel, mau jalan sendiri atau digendong?”
“Aku mau egois, ah. Mau digendong!”
Aldo mengangguk lalu berlutut ditanah, detik selanjutnya Keyla sudah berada diatas punggung laki-laki itu. Rasa nyeri diperutnya hilang begitu saja karena hal manis seperti ini. Ah, Tuhan perlambat waktu.
💫
HAIIII!
GIMANA PART KALI INI? KITA NOSTALGIA DULU HEHE.
JANGAN LUPA VOMMENTNYA, Thx. ❤