
Levia yang mendengar kabar akan hukuman yang diterima Syna pun tersenyum tipis. Pagi hari tadi keluarga kerajaan Ourta telah berangkat untuk kembali ke kerajaannya, Sekarang Levia berada dikediamannya bersama dengan Adelyna dan Yonre.
"Kakak apakah kamu tidak belajar seperti kakak pertama?" Tanya Levia pada Yonre yang terlihat asik dengan sendirinya.
"Hem... tidak, belajar itu sangat membosankan." Ucapnya memandangi Levia. Levia mengalihkan pandangannya kepada kertas yang ada didepan Yonre.
"Kakak sedang menulis apa?" Tanya Levia lagi.
"Aku sedang menggambar Via, bukan menulis!" Ucap Yonre tanpa mengalihkan pandangannya terhadap kertas yang dicoret dengan tinta yang menempel dikuas.
"Oh, jadi kakak menggambar apa?" Tanya Levia bingung saat melihat hasil coretan yang ada dikertas.
"Aku sedang menggambar adikku yang sangat jelek ini!" Ucapnya tersenyum kearah Levia, Levia yang mengerti siapa yang dimaksud pun cemberut.
"Yonre, jangan berbicara seperti itu!" Tegur Adelyna kepada Yonre.
"Kakak!! Aku ini bukan jelek, tapi cantik!!" Ujar Levia dengan wajah cemberutnya kearah Yonre yang gemas pada Levia.
"Iya - iya, adikku ini adalah orang yang paling cantik sedunia!!!" Ujarnya menghibur Levia dengan mencubit pipi tembemnya Levia.
"Aduh kak!!! Sakit!!!" Teriak Levia menggosok - gosok pipinya yang memerah karena cubitan yang dilakukan Yonre.
___________
Seminggu telah berlalu, hari - hari itu dijalani Levia tanpa ada yang mengganggu dirinya, kesehariannya itu ia lakukan bersama dengan Yonre yang asik mengajak Levia bermain, sementara Adelyna hanya diam melihat Levia dan Yonre yang bermain, terkadang juga saat melihat pangeran pertama atau Jimkew lewat Yonre pasti akan memaksanya untuk ikut bermain hingga lama kelamaan Levia pun ikut memaksa agar Jimkew ikut bermain.
"Kak, kakak Jim ayolah ikut bermain dengan kami!!" Paksa Levia saat bertemu dengan Jimkew yang berniat keperpustakaan untuk belajar.
"Iya kak, ayolah!!!" Yonre ikut mendesak Jimkew dengan menarik - narik tangannya untuk mengikutinya bermain bersama.
"Bunda, tolong katakan pada mereka kalau aku sedang sibuk ingin belajar sekarang."ujar Jimkew meminta pertolongan pada Adelyna yang tersenyum dan hanya melihat dengan duduk santainya.
"Tidak apa - apalah Jim, sesekali beristirahatlah dan ikuti perkataan mereka pasti kamu akan merasa senang nantinya." Balas Adelyna terkekeh melihat ketidak berdayaan anak pertamanya itu.
"Huh... baiklah." Ucap Jimkew pasrah akan keadaannya.
"Ah Yey...!" Teriak Levia dengan senyum cerahnya, Jimkew pun ikut bermain dengan Levia dan Yonre.
___________
"Kakak, kakak pertama. Aku mempunyai sesuatu untuk kak!" Ucap Levia saat berada diaula makan dengan antusiasnya. Karena makanan belum terhidangkan semua yang ada disana bisa memulai pembicaraan.
"Oh, apa itu?" Tanya Jimkew penasaran, Jimkew yang dulunya selalu acuh kini telah melunak karena keterlibatannya dengan adik - adiknya yang selalu ceria.
"Hehe, pasti kakak akan menyukainya!" Balas Levia yang hanya tersenyum dengan tawa jahilnya membuat Jimkew tambah penasaran. Semua orang hanya diam menyaksikan pembicaraan antara kakaka beradik itu.
"Hei, gadis jelek. Apakah kamu tidak memiliki hadiah untuk kakakmu ini?" Tanya Yonre yang disertai ejekan untuk Levia.
"Tidak! Kakak harus berhenti memanggilku jelek terlebih dahulu, baru aku akan memberikan hadiah untuk kakak!" Tegas Levia kesal saat Yonre memanggilnya 'jelek'.
Beberapa saat kemudian datanglah para pelayan dapur menyiapkan makanan untuk disantap, semuanyapun menjadi diam dan segers memakan makanan yang ada dimeja. Makan malam telah selesai, Jimkew pun menanyakan persoalan hadiah yang akan diberikan padanya dari Levia.
"Via, kapan kamu akan memberikanku hadiahmu?" Tanya Jimkew saat sudah menyelesaikan makanannya.
"Em... oh hadiahnya ya..., pelayan!" Ujar Levia memerintahkan pelayan untuk mengambilkan hadiah yang dimaksud Levia. Pelayan itu pun segera pergi mengambil hadiah yang akan diberikan pada Jimkew hingga pelayan tersebut kembali lagi dengan membawa suatu makanan, pelayan itu meletakkannya dimeja lalu pergi kembali ketempat ia berada sebelumnya.
"Nah kak, ini adalah puding, suatu hidangan atau makanan penutup yang prosesnya direbus ataupun dipanggang." Ucap Levia sedikit menjelaskan.
(Yah kayak gitulah yah, author tidak terlalu mengerti tentang puding jadi penjelasannya cuma sedikit)
"Ayo dicoba kak." Ucap Levia lagi yang tersenyum. Semua orang yang ada disana hanya diam merasa asing akan makanan yang dihidangkan oleh Levia. Jimkew pun segera memakannya tanpa ragu sedikit pun.
"Em... enak!!! Ini enak sekali!! Rasanya manis." Ucap Jimkew sesudah makan sesuap. Ia pun segera menghabiskannya sendirian. Semua orang terlihat sangat penasaran akan rasa makanan yang dimakan Jimkew begitu pula dengan Yonre.
"Via, apakah kamu hanya membuat satu saja untuk Jimkew?" Tanya Adelyna pada Levia, terlihat jelas kalau Adelyna sangat penasaran akan rasa dari puding.
"Ah bunda, aku hanya membuat satu dengan tanganku yang kecil ini, tapi jika bunda mau, bunda bisa meminta koki yang ada didapur, resepnya sudah kuberikan padanya." Balas Levia.
"Em baiklah, kalau begitu kembali lah kekediamanmu." Ucap Adelyna lagi dengan senyum yang lembut. Levia hanya mematuhinya tanpa satu kata yang keluar dari mulutnya. Melihat Levia sudah tidak terlihat lagi, Clyfro pun bertanya.
"Apakah benar makanan yang kamu makan itu enak, Jimkew?" Tanya Clyfro kepada Jimkew.
"Enak sekali ayahanda, makanan ini belum pernah kulihat sebelumnya mungkin memang Levia yang membuatnya." Ucap Jimkew tersenyum.
______________
"Kak Nay." Panggil Levia.
"Ada apa tuan putri?" Tanya Nay menanggapi panggilan Levia.
"Ah, tidak ada apa - apa." Ucap Levia lagi. Beberapa saat kemudian mereka telah sampai dikediaman Levia.
"Kak Nay, tidak apa - apa kalau kakak ingin istirahat lebih awal." Ucap Levia memandangi Nay.
"Hem... aku merasakan firasat yang tidak mengenakan." Gumam Levia sendirian.
"Sistem, tolong tampilkan misi - misi untuk saat ini!" Ucap Levia sendirian, layar biru transparan mulai terlihat didepan Levia.
[Misi : > membunuh hewan monster tingkat 1 sebanyak 100.000 mendapatkan poin 2.500.000 (0/100.000).
>membunuh hewan monster tingkat 2 sebanyak 1.000.000. Mendapatkan 50.000.000 poin (0/1.000.000)
>membunuh hewan monster tingkat 3 sebanyak 30.000.000 mendapatkan 2.350.000.000 poin (0/30.000.000)
>membunuh hewan monster tingkat 4 sebanyak 45.000.000 mendapatkan 4.499.999.900 poin (1/45.000.000)
.....]
"Baiklah, sekarang waktunya berburu." Ucap Levia dengan seringai annya.
"Mengaktifkan sihir pengganti : mengganti pakaian!" Ucap Levia. Gaun yang sebelumnya dipakai oleh Levia mulai berubah menjadi pakaian serba hitam. Levia melangkahkan kakinya mendekat kearah gudang senjata yang dijaga oleh 2 orang penjaga. Levia menyelinap dengan ahlinya tanpa sepengetahuan para penjaga. Didalam Levia melihat banyak sekali jenis - jenis senjata. Levia mengambil beberapa pedang, panah, anak panah, dan pisau yang langsung dimasukkannya dipenyimpanan sistem, kemudian pergi meninggalkan gudang senjata tanpa ada yang tahu sekalipun.
♤DIHUTAN ~~~
Sesampainya dihutan (bukan hutan terlarang) Levia berjalan masuk tanpa ada ekspresi apa pun. Tangannya yang menggenggam pisau bersiap akan segala macam serangan hingga sebuah rusa jantan keluar dari semak - semak, hewan itu terlihat 2 kali lebih besar dari rusa yang sebenarnya dengan warna tubuhnya yang berwarna biru dan putih keabu - abu. Levia bersembunyi bersiap menyerang dengan panahnya yang mengarah kerusa yang sedang memakan tumbuhan herbal biasa.
"Sistem, pindai target sesuai informasi yang akurat!" Ucap Levia pelan.
[Memindai target.....]
[Target selesai dipindai...]
[Rusa : tingkat level : tingkat 1
: tulang : tingkat kayu 7
: kulit : tingkat benang 5
: tipe : petir.]
"Hem elemen petir ya... sistem apakah elemennya nanti bisa kuserap untuk menambah elemenku?" Tanya Levia yang masih dalam posisi bersiap.
[Bisa tuan, tetapi tata caranya haruslah benar untuk memberikan elemennya kepada elemenmu tuan.]
"Jadi apakah sistem mempunyai cara yang paling tepat?" Tanya Levia lagi.
[Ada tuan]
"Baiklah.... aktifkan sihir pemotong!" Ucap Levia mengganti senjatanya menjadi pedangnya kemudian melesat kearah rusa tingkat 1 yang mulai berlari melarikan dirinya.
"Terlambat!" Ucap Levia dengan seringainya lalu mempercepat langkahnya untuk mengejar rusa itu, hingga
SREET
Sekali tebasan kepala rusa tersebut terpisah dari tubuhnya, Levia mendekat dengan langkah yang pelan.
CLING!!!
[Tuan telah membunuh 1 hewan monster tingkat 1, anda mendapatkan 25 poin!]
"Huh, tanganku sedikit kebas!" Ucap Levia kesal dan menggoyang - goyangkan tangannya dan memyimpan pedangnya kembali kepenyimpanan.
"Sistem, apakah nanti elemennya akan menghilang kalau jangka waktunya sudah lama?" Tanya Levia memandangi rusa yang sudah tidak bernyawa itu.
[Elemennya akan hilang dalam jangka waktu satu hari tuan.] Balasnya
"Jadi cara apa yang paling tepat untuk mengambil elemennya?" Tanya Levia lagi beralih memandanv kearah semak - semak yang ada didekatnya.
[Tuan hanya perlu membeli jurus pengambil elemen. Tuan memerlukan 150 poin untuk membelinya.]
"Hm..." tiba - tiba Levia melaju dengan langkah cepatnya kearah semak - semak hingga ia melihat seekor serigala dengan bulu birunya yang lebat.
"Ah, serigala yang lucu?!" Teriak Levia senang akan terkejutannya, Levia pun berhenti tepat didepan serigala berbulu biru.
"Eww, serigala yang lucu kemarilah!" Ucap Levia dengan senyumnya.
"Grrrr, gadis kecil apa yang kamu lakukan?" Tanya serigala biru itu sedikit kesal saat Levia menghalangi langkahnya.
"Oh, kamu bisa berbicara?" Tanya Levia senang dengan senyum yang melebar.
"Grrr, gadis kecil aku baru saja berada ditingkat hewan mortal tingkat 8 sedangkan hewan yang bisa berbicara itu ditingkat hewan suci, bagaimana mungkin aku bisa berbicara!!" Serigala itu semakin waspada akan keberadaan Levia.
"Waaah, kamu beneran bisa berbicara....!" Ujar Levia semakin senang terhadap serigala biru itu, Levia yang larut akan kesenangannya pun berlari mendekat dengan tangan yang direntangkan. Serigala itu sudah berada diposisi bersiap untuk menyerang Levia.
_____________chp 9 end_____________