Princess Levia

Princess Levia
Princess Levia :Chapter 17 : Pergi kehutan



Levia melanjutkan kelilingnya kesisi sebelah kiri yang mana sangat dekat dengan hutan, sama dengan yang sebelumnya. Seperti dibelakang kediaman, disisi kiri juga hanya terdapat tanah kosong yang mulai ditumbuhi oleh rumput liar tanpa ada tanaman jenis lainnya.


Levia mulai berfikir, hal seperti apa yang akan ia ubah pada tanah kosong itu, hingga sebuah ide tiba - tiba melintas dibenak Levia. Jika Levia ingin bertambah kuat agar bisa membalaskan dendam semua orang yang ada didesanya dulu, maka ia harus giat berlatih untuk bisa menemukan dalang dari penyerangan itu. Memang sebelumnya Levia sempat melupakan kejadian yang ada didesa tempat ia berasal, tapi sesaat sebelumnya. Ia tiba - tiba saja mengingat penyergapan itu, dimana ia pertama kali menapakkan kakinya didunia yang sekarang ia pijaki.


Dan untuk pertama kalinya juga ia berhasil membunuh seseorang, didunia sebelumnya Levia memang pernah menjadi incaran semua orang sehingga membuatnya harus senantiasa membawa pistol kesayangannya. Terkadang Levia juga pernah menembakkan pelurunya pada orang lain, tapi ia tak pernah yang namanya membunuh tapi ia hanya menyakitinya agar tidak menyerang dirinya lagi.


Sehingga saat ia pertama kali sampai didunia ini, ia sangat terkejut karena bisa - bisanya ia membunuh orang tak dikenalnya tanpa kesadaran yang sepenuhnya berada pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia yang baru saja menampakkan kakinya didunia ini langsung membunuh orang? Apalagi dengan kesadarannya yang tidak terkendali!!!


Levia berfikir jika sisi kiri kediaman akan ia buat menjadi tempat latihan, tapi ia merasa itu kurang bagus, maka ia pun memutuskan untuk membuat tempat latihan dihalaman belakang dan halaman disisi kiri akan ia tanam beberapa tanaman yang berkhasiat seperti tanaman herbal ataupun tanaman ajaib.


"Baiklah, sudah kuputuskan! Disisi kanan akan kubuat menjadi taman, sisi kiri menjadi kebun herbal dan dihalaman belakang untuk tempat latihan beserta lainnya!!" Ucap Levia yang mengangguk - anggukkan kepalanya.


"Ah, dan juga beberapa array untuk perlindungan, dinding pembatas serta sihir ilusi, dan pintu keluar dihalaman belakang!" Ujar Levia yang berfikir akan beberapa hal yang ia perlukan untuk perlindungan pada kediamannya.


Array perlindung dan dinding pembatas untuk menjaga tanaman herbal disisi kiri agar tidak ada yang memasukinya tanpa ijin dari Levia. Sihir ilusi serta semak - semak mawar sebagai penghalang agar tidak ada yang bisa melihat taman bunga milik Levia disisi kanan kediaman, tentu saja taman itu bisa terlihat jika Levia memberi perintah ataupun ijin. Dinding pembatas serta pintu keluar untuk halaman belakang yang tidak lainnya adalah tempat latihan, dinding pembatas sebagai perlindungan jika ada hewan buas atau pun hewan monster yang akan menyerang, jika Levia ingin pergi kehutan ia bisa saja pergi melalui pintu keluar ditempat latihan ataupun pintu disisi kiri yang mana akan berisikan bermacam jenis herbal.


Levia mulai memasuki kediaman miliknya dan langsung disambut oleh beberapa pelayan didepan pintu utama.


"SELAMAT DATANG KEMBALI, NONA PERTAMA!!!" Teriak mereka serempak sembari membungkuk untuk memberi salam, hal itu tentu saja membuat pelipis Levia berkedut.


'Seperti para prajurit dan tentara yang siap bertempur...' Levia hanya tersenyum malas menanggapi mereka.


"Kalian tidak perlu memanggilku seperti itu, kalian bisa bersikap biasa saja terhadap diriku!" Ucap Levia yang sedikit tidak enak dengan panggilan yang para pelayan berikan. Kepala para pelayan itu terangkat menampilkan raut wajahnya yang terkejut saat mendengar perkataan Levia.


"Ah, nona pertama kami tidak akan melakukan hal yang selancang itu, mohon maafkan kami nona pertama!" Ucap kepala pelayan laki - laki yang mewakili semua pelayan yang ada disana. Para pelayan hanya mengangguk menanggapi ucapan ketua mereka. Levia yang melihat itu pun menghela nafasnya pasrah, ia tentu bisa melihat mata mereka yang memancarkan rasa keyakinan membuat Levia yakin kalau mereka tidak akan mau menuruti perkataan Levia sehingga Levia hanya bisa pasrah akan hal itu.


"Ah, baiklah - baiklah! Kalau begitu setidaknya kalian memanggilku dengan sebutan nona saja, tidak perlu memanggilku 'nona pertama' ataupun 'putri pertama' !! Itu membuatku sedikit risih!" Ucap Levia pada akhirnya, para pelayan memandang satu sama lain untuk meminta pendapat hingga semua para pelayan menganggukkan kepala mereka tanda mereka setuju. Levia yang mendapat persetujuan pun tersenyum tipis seketika, tapi hal itu tak berlangsung lama. Tentu saja mereka yang ada disana dapat melihat nona muda mereka sedikit tersenyum tidak seperti biasanya.


Levia mengangguk puas, lalu kembali melangkahkan kakinya memasuki kediaman barunya itu. Yang pertama Levia lihat ialah ruangan yang dihiasi dengan emas dan beberapa berlian kecil yang berwarna - warni, didepan kini terlihat seperti sebuah ruangan kecil yang tidak terlalu besar dan dikedua sisi ruangan itu terdapat 2 buah tangga yang menuju ke lantai 2. Levia berjalan lurus kedepan menuju kearah ruangan itu yang tak lainnya adalah dapur.


Ruang itu terdapat beberapa barang yang biasa dilihat didapur pada umumnya, Levia melirik kekanan dan kekiri seakan mencari sesuatu. Nyatanya Levia kini sedang mencari para pelayan dapur yang biasanya akan memasak jika sudah waktunya makan, tapi jika diaula makan diadakan makan bersama para pelayan dapur disetiap kediaman pasti tidak akan memasak makanan berat melainkan hanya memasang makanan ringan seperti cemilan.


Levia berbalik dan pergi begitu saja setelah melihat dapur sesaat, Levia menaikki tangga disebalah kanan untuk kelantai 2. Levia melangkahkan kakinya kearah kanan dimana lorong yang akan mengarahkannya pada beberapa ruangan.


•••


Waktu berlalu begitu saja tanpa disadari, kini Levia telah selesai berkeliling dari dalam kediaman miliknya sendiri. Ruang yang ada dikediaman Levia bukanlah jumlah yang sedikit tapi juga tidak banyak, sehingga membuat kediaman Levia seperti labirin yang akan menyesatkan orang - orang tanpa pemandu jalan.


Kalian pasti penasaran kan, kenapa saat Levia pergi dari kamarnya menuju keluar kediaman ia bisa tau dengan jelas jalannya, itu karena saat pertama kali ia datang kesana yang tak lain bersama Zirun untuk mengantar Levia kekamarnya, pada saat itu juga Levia mencoba untuk mengingat semua jalur yang ia lewati bersama Zirun sehingga ia bisa dengan lancarnya keluar dari sana.


Levia berjalan menuju kamarnya, ia masih saja merasa ngeri saat membayangkan kamarnya yang penuh dengan nuansa merah muda dan beberapa boneka, jika saja saat ia sampai menemukan boneka dikamarnya, dapat dipastikan Levia pasti akan segera membakar boneka itu tanpa tersisa sedikit pun.


Dengan tangan Levia yang hampir mencapai tuas pintu secara perlahan tangan Levia mulai mendekat hingga sebuah suara yang tiba - tiba muncul dikepalanya membuat pergerakannya terhenti seketika.


"Bersiaplah, jam pelajaran akan dimulai besok!"


Levia sangat mengenal suara yang tiba - tiba saja muncul dikepalanya itu, siapa lagi jika bukan Zirun si pengganggu. Levia yang terdiam mulai tersadar dari lamunannya, tangannya yang sempat terhenti itu mulai bergerak lagi, mendekati tuas pintu kamar milik Levia.


Kreet


Pintu terbuka menampilkan ruangan yang penuh dengan warna putih. Levia terdiam sesaat hingga ia melangkahkan kakinya menuju meja dan kursi kerja yang ada didekatnya, jari - jari lentik Levia menyentuh meja itu dengan perlahan dan lanjut menuju lemari pakaian.


Levia membuka lemari itu dengan pelan hingga terbuka sempurna menampilkan beberapa gaun yang sangat bergelombang dengan warna cerah dan corak - corak yang berbeda - beda. Wajah Levia menggelap, tidak suka akan gaun yang ada didepannya itu, dengan sekali jentikan jari semua gaun itu terbakar tanpa tersisa membuat lemari itu terlihat kosong.


Dan dengan sekali jentikan lagi lemari itu kini dipenuhi oleh beberapa jenis pakaian yang berbeda - beda. Levia tersenyum tipis lalu menutup kembali pintu lemari itu dan lanjut menuju meja rias dengan cermin dan barang lainnya.


***


"Hm, aku ingin sekali pergi kehutan itu." Ucap Levia menatap jendela kamarnya yang ada dilantai 2. Levia tersenyum tipis sekali lagi dan mengucapkan suatu kata yang mengubah penampilannya.


"Ganti!" Gaun tidur yang dikenakan oleh Levia mulai berubah, menjadi kemeja putih untuk bagian atasan dan celana pendek berwarna hitam dibagian bawah.


Levia mengikat rambut hitamnya dengan gaya kuncir kuda agar mempermudah dirinya untuk bergerak. Levia mengangguk puas dan langsung berjalan menuju jendela kamarnya. Levia mengintip dari balik jendela untuk melihat apakah ada penjaga disekitar sana. Setelah memastikan hal itu Levia meloncat dari dalam jendela, ia berlari menuju kearah hutan dengan langkah kakinya yang bisa terbilang cepat tanpa ada suara sama sekali.


Setelah memasuki hutan tersebut Levia segera menampakkan kakinya diatas tanah dan memeriksa sekitar. 'Array ilusi tingkat 2' itulah yang Levia lihat disekitar Levia berada sekarang, atau lebih tepatnya disebelah kanan Levia berdiri saat ini.


"Sistem, berapa poin yang diperlukan untuk menguasai array ilusi sampai ketingkat 5?" Tanya Levia melalui pikirannya dan dijawab sebuah suara layaknya robot.


[Diperlukan poin 1.500 untuk mempelajari array ilusi tingkat 5. Tuan memiliki poin sebanyak 800 poin.]


"Astaga sistem!!! Mahal sekali harganya!!! Apa tidak bisa harganya diturunkan?!" Keluh Levia yang tak memiliki jumlah nominal poin yang disebutkan sistem.


[Tidak bisa tuan, itu sudah menjadi harga yang ditetapkan]


Levia mendengus kesal saat mendengar jawaban yang tidak ingin ia dengar. Hembusan nafas kasar mulai kabur dari mulut mungil Levia karena sudah tak berdaya ia pun memutuskan untuk menguasai array ilusi tingkat 2.


[Selamat!! Tuan telah membeli teknik array ilusi tingkat 2 !! Poin tuan akan dikurangi sampai 600 poin. Tuan memiliki jumlah poin sebanyak 200 poin.]


'Terlalu mahal!!!'


'Oke - oke, aku tidak akan protes lagi! Kalau bukan karena 'seer of all' aku tidak mungkin bisa menemukan array ilusi itu dan dapat dipastikan kalau aku akan ikut terjebak!' pikir Levia.


"Hm, baiklah! DESTROY!!!!" ucap Levia sembari mengarahkan tangannya kearah array ilusi itu. Sebuah cahaya putih yang terang muncul menyinari array tersebut, hingga cahaya itu mulai meredup dan hilang menyertakan array ilusi tadi.


"Lumayan. Tapi apakah perlu mengucapkan kata - kata yang seperti mantra it-" ucapan Levia terhenti tak kala ia mendengar suara pertempuran yang tak jauh dari ia berada. Levia menoleh menatap keasal suara atau lebih tepatnya berada ditempat array ilusi tadi berada.


"Hm..." Levia mulai mendekat, hingga ia melihat 2 orang yang bertarung dengan sengitnya dari kejauhan, bibir Levia terangkat menampilkan seringaiannya. Levia melompat kedahan pohon yang ada didekatnya dan beralih lagi kedahan pohon yang lain hingga ia bisa melihat dengan jelas sosok yang sedang bertarung itu.


Gadis dengan rambut ungu cerah dan gelap yang berpotongan serta aksesoris pita diatas kepala. Gaya rambut twintail serta sisa rambutnya yang digerai dengan ujung rambutnya yang bergelombang, gaun berwarna ungu gelap dengan pita kupu - kupu didepan dada dan belakang pinggang membuat tubuh mungil dan seksinya terlihat jelas dan beberapa bintang - bintang kecil terlukis digaunnya yang bergelombang serta perhiasan emas dengan bentuk bulan dan bintang.



Sesosok anak laki - laki yang belum memasuki usia dewasa itu masih dengan sengitnya melawan gadis berambut ungu yang selalu melontarkan mantra layaknya penyihir.


Laki - laki itu memiliki rambut berwarna ungu cerah serta warna matanya yang sedikit gelap dan hoodie warna hitam serta ungu gelap yang sama seperti baju yang dipakai olehnya.



Mereka yang belum menyadari keberadaan Levia pun masih bertarung tanpa memalingkan padangan mereka dari musuhnya sendiri. Keberadaannya yang tak diketahui oleh mereka membuat Levia terkekeh kecil sembari memperhatikan setiap langkah yang mereka gunakan untuk menyerang.


Tak berselang lama kemudian kedua orang berbeda gender itu berhenti menyerang untuk mengatur nafas mereka yang mulai kacau. Gadis berambut ungu itu menatap tajam si laki - laki yang ada dihadapannya. Melihat musuhnya yang begitu tenang membuat dahinya berkerut, heran kenapa dia masih begitu tenang.


'Apakah dia memiliki bantuan disekitar sini?!' Pikirnya yang mulai cemas, ia yang tidak ingin celaka pun mulai menyebarkan sihir deteksi disekitar ia berada. Levia yang menyadari hal itu pun hanya diam, rasanya ia ingin ikut bermain bersama mereka yang terlihat jauh lebih tua dari dirinya.


"Hm, sangat waspada akan musuh. Bagus!" Gumam Levia pelan dengan senyum tipisnya, Levia mulai beranjak dari tempat ia bersembunyi. Ia melompat dengan hati - hati tak ingin ketahuan sebelum waktu yang ia perkirakan tiba. Segera saja Levia bersembunyi dibalik semak - semak yang cocok sebagai tempat persembunyian anak seusia dirinya.


Kini wajah gadis berambut ungu itu menggelap saat menyadari keberadaan Levia. Gadis itu mengira Levia adalah bantuan atau rekan dari anak laki - laki yang menjadi musuhnya saat ini.


"Heh!! Aku sudah tau kalau kau memiliki bantuan dibalik semak - semak itu! Kenapa tidak kau keluarkan saja sekarang hah?!" Ucapnya dengan senyum mengejek berusaha untuk menutupi ekspresi kegugupannya sembari menunjuk kearah semak - semak yang menjadi tempat persembunyian Levia.


Mendengar perkataan musuhnya itu membuat lelaki yang mengenakan hoodie terheran dan bingung hingga ia menatap semak - semak yang ditunjuk oleh gadis berambut ungu itu. Lelaki berhoodie menjadi waspada, 'apakah gadis itu ingin mengelabuhiku?!' Pikir lelaki itu yang semakin meningkatkan kewaspadaannya terhadap sekitar tak terkecuali pada musuhnya.


"KELUAR KAU!!" Teriaknya yang ditunjukkan pada semak - semak atau lebih tepatnya pada Levia. Levia yang mendengar hal itu tersenyum puas dan langsung menuruti perkataan lelaki berhoodie.


•••


Sang rembulan yang bersinar dimalam hari kini mulai tergantikan dengan sang surya yang perlahan muncul dari ufuk timur, disela - sela tirai jendala sinar cahaya matahari mulai menerobos masuk membuat sesosok gadis kecil yang tertidur merasa terganggu.


Levia mengedipkan matanya berulang kali untuk menormalkan penglihatannya, Levia mencoba mendudukkan tubuhnya yang masih lelah ingin tidur hingga sebuah suara ketukkan pintu membuat badan Levia terduduk.


Tok tok tok


"Masuk." Balas Levia dengan malas. Pintu kamar mulai terbuka menampilkan 2 orang pelayan wanita. Sesampai nya didepan Levia mereka berdua menunduk memberi salam pada nona muda mereka, sedangkan Levia hanya diam malas. Kedua pelayan itu mengangkat kepala mereka kembali seraya menatap Levia dan tersenyum cerah.


"Nona, waktunya anda mandi." Ucap salah seorang dari mereka berdua. Levia memandangnya sekilas dengan tatapan malas lalu beralih lagi memandang selimutnya.


"Ya, kau siapkan dulu airnya ... hoam!!" Ucap Levia yang menguap sembari menutup mulutnya dengan tangan.


"Airnya sudah siap nona." Jawab pelayan lainnya dengan langsung membuat wajah Levia sedikit kesal.


"Apa tidak bisa sedikit lebih lama lagi?! Aku sekarang sangat malas!!!" Gumam Levia yang dapat didengar oleh kedua pelayan itu yang kemudian terkekeh pelan.


-----------------------chp 17 end-------------------------------



bonus nih. maaf karena Ruka upnya telat. \=^\=


hehe Ruka ada banyak kendala sih, jadinya klo mau up pasti terhenti.


suka? Like donk.


coment.


and vote.


see u later~~~