
Levia menatap mereka polos layaknya anak seusianya. Levia membungkukkan badannya memberi salam.
"Apakah ada yang bisa saya bantu Ratu Adelyna dan pangeran Yonre?" Ujar Levia menatap mereka heran.
"Ah, Levia tidak usah terlalu formal, panggil saja bunda Adelyna. Sebenarnya aku kemari hanya untuk melihat-" belum selesai perkataan Adelyna yang terpotong dengan serangan anak panah yang mengenai bagian perut Adelyna. Sontak Levia dan Yonre terkejut, Yonre berteriak terkejut akan keadaan ibundanya.
"BUNDA!!!" Teriaknya hingga terdengar sampai keluar ruangan membuat para penjaga mendatangi kamar Levia, Yonre langsung saja menyuruh para penjaga membawa Adelyna ke kediamannya dan memanggil tabib. Yonre yang melihat Levia diam mematung terkejut pun mengelus kepala Levia lembut.
"Tenang saja, tidak perlu takut." Ucapnya berlenggang pergi meninggalkan Levia sendiri didalam kamarnya.
"Huh, merepotkan. Whiti kejar pemanah itu!" Ujar Levia dengan tatapan dingin, seketika singa putih kesayangannya keluar dari dimensi kehidupan yang berlenggang pergi mengejar pemanah yang menyerang ratu Adelyna.
"Cih" Levia berdecih pertanda ia sedang kesal. Beberapa saat kemudian Whiti kembali dengan menggigit seseorang pria berbaju hitam. Levia langsung membawa pria tersebut ke sebuah kursi dengan tali yang akan ia ikatkan kepada pria pemanah tersebut.
"Jadi sekarang, siapa yang memerintahkanmu?" Tanya Levia dengan pandangan dingin terarah pada pria pemanah. Pria tersebut sebenarnya menggigil ketakutan karena tatapan Levia tapi ia mencoba untuk setenang mungkin.
"Oh, tidak mau bicara ya?" Ujar Levia yang mulai menutup mulut pria tersebut dengan kain yang tebal agar tidak ada yang bisa mendengar suara yang akan keluar dari mulut pria itu, Levia bisa saja menggunakan sihir tapi ia belum memahami beberapa sihir dengan sempurna.
Levia mengambil pisau yang ada didekat buah - buahan, ia mengarahkan pisau tersebut kearah pria yang sedang ketakutan itu, Levia mulai memggores beberapa kali dikulit pria tersebut dengan pelan sehingga membiarkannya merasakan pisau yang melukai kulitnya. Levia berhenti melakukan aksinya untuk mulai mengorek informasi dari pria itu, kain yang menutup mulut pria berbaju hitam mulai terlepas membuat Levia melihat dengan sempurna wajahnya yang ketakutan.
"Jadi, siapa yang memerintahkanmu? Dan tugas apa yang kamu terima?" Ujarnya Levia.
"N- nama saya chin putri, saya diperintahkan selir pertama pimxi untuk mencelakai Ratu Adelyna yang berkunjung di kediamannya putri Levia." Ucap pria tersebut ketakutan yang ternyata bernama Chin.
"Hem... jadi apakah nanti kamu akan melapor pada selir pertama?" Tanya Levia dengan mata yang menyelidiki.
"Benar putri." Ucap Chin yang mulai tenang. Levia melepaskan tali yang mengikat tubuh Chin dengan kursi.
"Baiklah, sekarang kamu awasi selir pertama setelah selesai dengan laporanmu! Awas saja kalau kamu berani kabur." Ucap Levia mengancam Chin dengan pandangan dingin.
"Baik putri." Ucapnya yang berlenggang pergi.
"Hem..." Levia memandang kearah perginya Chin dengan lama yang kemudian beralih dengan beberapa noda darah yang ada didekat kursi yang mengikat Chin tadi.
"Whiti kamu masuklah kedalam dimensi kehidupan." Ucap Levia tanpa mengalihkan pandangannya, Whiti pun masuk kedalam dimensi kehidupan setelah mengeluskan kepalanya diLevia, setelah memastikan Whiti masuk. Levia mulai memberaihkan noda - noda darah itu sampai bersih. Tiba - tiba suara kaki yang berlarian muali terdengar dari kejauhan.
BRAKKK
Pintu terbuka dengan kasarnya yang menimbulkan suara keras, pelaku yang mendobrak pintu tersebut adalah Nay, pelayan Levia.
"Putri apakah anda baik - baik saja? Saya dengar tadi terjadi penyerangan!" Ujarnya dengan raut wajah cemas yang memandangi Levia.
"Ah, kak Nay... tadi aku takut sekali!!" Ucap Levia yang mulai berekting dan berlari kedalam pelukan Nay.
"Apakah anda baik - baik saja putri?" Tanyanya lagi.
"Em, Via baik - baik saja kak Nay." Ujar Levia yang membuat Nay kembali tenang. Nay pun membelai kepala Levia dengan lembut dan berniat menemani Levia hingga tertidur. Nay yang melihat Levia tertidup pulas pun melenggang pergi.
"Hm..." mata Levia terbuka menampilkan manik matanya yang berwarna ungu kehitaman nan cantik. Levia kembali menutup matanya berniat untuk tidur.
Sementara dikediaman Ratu Aselyna terlihat Clyfro, para selir dan putra - putrinya yang melihat Ratu Adelyna terbaring dengan wajah pucatnya.
____________////////
Raja Clyfro pada akhirnya menghukum Levia untuk tidak keluar dari kediamannya selama 3 bulan karena rayuan para selir.
"Sendirian begini lebih baik pergi jalan - jalan, tapi kemana? Kan aku lagi dihukum, apa pergi diam - diam kepasar ya?" Tanya Levia pada dirinya sendiri. Hingga ia memutuskan untuk pergi kepasar sambil membeli barang yang dibutuhkannya.
"Hem...kenapa tidak ada pakaian untuk menyamar sama sekali?!" Ujar Levia kesal saat membuka lemarinya untuk memilih baju yang akan ia kenakan.
"Hem... kalau begitu, kuubah saja gaun ini jadi seperti pakaian biasa." Ujar Levia yang mengambil gaun berwarna putih polos tanpa uraian apapun. Levia mulai mengubah bentuk gaunnya menjadi pakaian yang biasa dipakai oleh laki - laki. Levia juga mengikat rambutnya dengan gaya ekor kuda yang tinggi hingga ia terlihat seperti seorang tuan muda yang merupakan seorang bangsawan dengan rambut panjangnya.
"Hem... ini bagus." Ucapnya tersenyum memperhatikan dirinya sendiri didepan cermin.Levia keluar dari jendela yang ada dibelakang sehingga tidak banyak penjaga yang menjaga tempat itu. Levia mulai melompat ke bangunan yang satu dan kesatunya lagi. Hingga ia melihat sebuah keramaian yang luar biasa ramai seperti pasar pada umumnya. Levia mulai menuruni bangunan yang ia pijaki kearah yang sepi agar tidak ada yang melihatnya turun. Levia berjalan menelusuri pasar sambil melihat - lihat kalau ada benda yang mungkin ia sukai. Hingga Levia melihat seorang pria paruh baya yang menjual apel merah tetapi Levia melihat tidak ada satupun yang membeli apel itu. Levia mulai mendekati pria yang menjual apel merah tersebut.
"Kakek satu apel harganya berapa?" Tanya Levia saat berada didepan dagangan pria paruh baya itu.
"Ah, tuan muda satu apelnya seharga 1 koin perak. Apakah tuan muda ingin membelinya?" Tanyanya dengan raut wajah yang senang.
"Tuan muda, jangan membeli apel itu, harganya terlalu tinggi untuk satu buah apel, bagaimana kalau tuan muda membeli apel saya." Ucap salah satu pedagang yang menjual apel.
"Ah, tidak apa. Kakek aku beli semua apelnya." Ujar Levia kepada kakek penjual apel merah yang ada dihadapannya. Kakek tersebut terkejut dengan jumlah yang Levia beli tapi ia tidak membantah dan langsung mengemasi semua apel yang ada.
"Harganya 50 koin perak tuan muda." Ucapnya menyerahkan sekantung apel yang sudah dibungkus.
"Ini kakek." Ujar Levia memberikan satu koin emas dan mengambil sekantung apel yang dibelinya.
"Ah, tuan muda ini terlalu banyak." Ucap kakek itu terkejut lagi dengan koin yang Levia berikan.
"Tidak apa - apa kek, itu untuk kakek sebagiannya." Ucap Levia yang langsung berlenggang pergi dengan tangan yang membawa sekantung apel. Semua orang yang melihatnya hanya bisa mematung terkejut karena mengangkat sekantung apel dengan mudahnya. Memang biasanya para tuan muda sudah belajar akan bela diri tapi kebanyakan perkembangannya tidak seperti Levia.
Levia pergi ketempat yang sepi dan rindang, ia pun menemukan tempat yang sesuai dengan keinginannya dan langsung pergi kearah bawah pohon yang besar sehingga terhalang oleh sinar matahari. Levia langsung saja duduk dibawah pohon sambil memakan ape yang dibelinya.
Sreek
Terdengar suara diatas pohon, Levia yang sebelumnya fokus akan apel yang dimakannya menjadi tidak mengetahui keberadaan orang yang ada diatasnya. Levia mendongak melihat apa yang ada diatasnya, matanya terbelalak kaget saat melihat seseorang anak kecil yang terjatuh dari atas pohon.
BRUKK
Terlihat anak laki - laki yang terjatuh menindih Levia yang ada dibawahnya. Apel - apel mulai berserak dimana - mana.
"Aduh..duh... sakit.!" Ucapnya sambil memegangi kepalanya yang mungkin terbentur akan sesuatu.
"HEI!! BISAKAH KAMU TURUN DARI TUBUHKU!!" Tetiak Levia yang sudah merasakan sakit disekujur tubuhnya.
"Eh......AHHHHH?!?!?!" teriak anak itu saat menyadari ada Levia dibawah tubuhnya. Ia pun segera bangkit dan berdiri.
"Ah maaf, maafkan aku." Ucapnya meminta maaf dengan tangan yang menggaruk kepalanya. Levia mulai bangun dan membersihkan tubuh dan bajunya dari debu atau kotoran hingga ia memandangi anak kecil yang ada dihadapannya.
"Hem..." Levia mengambil apel - apel yang berserakan disekitarnya dan memasukannya kedalam kantong.
"Eh itu kotor, jangan diambil lagi!" Ucapnya berniat menghentikan Levia.
"Tak apa nanti akan kubersihkan disungai." Ucap Levia dengan wajah tenangnya yang masih melanjutkan mengambil apelnya.
"Aku ikut!" Ucap anak kecil itu lagi.
______________chp 4 end____________