Princess Levia

Princess Levia
Princess Levia :Chapter 25 : Kembali



"Kakak, bisa luangkan waktumu saat ini? Ada yang ingin kubicarakan." Levia menghampiri Kano yang nampak sedang berbincang - bincang dengan temannya. Semua yang mendengar suara Levia pun mengalihkan padangannya kearah suara tersebut berasal.


Kebanyakkan yang tidak mengenal Levia pun hanya diam menanti siapa orang yang disebut kakak oleh gadis cantik yang ada dihadapannya itu. Kano yang mengenali suara adiknya pun langsung membalasnya sembari berbalik.


"Apa yang ingin kau bicarakan adikku?" Balasnya yang kemudian menghampiri Levia. Levia tanpa merasa ragu akan teman Kano pun segera mengatakan apa yang ingin ia katakan.


"Kakak, besok aku akan kembali kerumah. Tadi aku sempat berkunjung kepaviliun paman guru untuk meminta ijin. Tetapi setelah lama kutunggu, dia tidak kunjung keluar." Ucap Levia yang menatap Kano tanpa mengalihkan pandangannya.


"Yah, walau aku bertemu dengan musuh lama dalam perjalanan kesini."


"Musuh? Tunggu, kau bilang. Akan pergi kerumah? Apa yang akan kau lakukan Levia?" Kano bertanya ikut sembari ikut menatap Levia dengan lekatnya.


"Tidak ada. Aku hanya ingin kembali mengenang kenangan yang ada disana." Ucap Levia yang tersenyum ketika ia mengingat kenangan yang ia lalui.


"Levia... aku akan ikut bersamamu kembali kerumah." Sahut Kano yang segera menggambil keputusan, tentu ia juga merindukan rumah yang memiliki banyak kenangannya bersama keluarga. Salah seorang dari teman Kano yang sudah memperhatikan sedari tadi pun bertanya.


"Kano, siapa gadis yang ada dihadapanmu itu?" Tanya salah satu orang yang memiliki wajah cerah. Dengan sekali lihat, Levia dapat menyimpulkan jika dia adalah seseorang dengan sifat periang.


"Ini Levia, dia adalah adikku." Balas Kano yang merangkul pundak Levia sembari ia menatap temannya.


"Oh? Berarti benar kalian berdua yang sedang banyak dibicarakan itu? Jika kalian jalan bersama penatua ke 4." Sahut teman Kano yang lainnya.


"Benar, itu kami berdua. Penatua ke 4 adalah gurunya kak Zirun, dan kak Zirun juga merupakan Guru Levia ketika masih berada dikediaman kami." Jawab Kano yang nampak tak mempermasalahkan hal itu. Kano mempunyai 3 orang teman yang bisa akrab tanpa memperhatikan statusnya yang tinggi.


"Kalau begitu besok kita akan pergi bersama, aku akan menulis surat untuk paman guru nanti." Ucap Levia yang berlenggang pergi tanpa menyempatkan salah seorang untuk berbicara.


°°•••°°


"Niiha tolong sampaikan surat ini kepada paman guru. Aku akan kembali kesini tak lama nanti, jadi jangan merindukanku. Aku tau jika suatu saat nanti kamu pasti akan mempunyai teman selain diriku." Ucap Levia yang memegang kedua tangan teman sekamarnya dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Niiha hanya mengangguk tanda ia mengerti apa yang dikatakan Levia. Niiha adalah murid tahun ke 2 yang mana adalah senior Levia, Niiha selama 2 tahun diakademi belum pernah memiliki teman walau statusnya sebagai putri pedagang terkenal cukup diketahui semua orang.


"Hm! Aku akan menunggumu hingga kembali." Balas Niiha yang disertai senyum tulusnya kepada Levia. Levia adalah teman pertamanya, tak tanggung - tanggung. Sebenarnya Levialah yang pertama kali mendekati Niiha, karena ia ingin mengenal teman sekamarnya bukan karena tujuan lain yang biasa dilakukan orang lain.


"Kamu harus janji, kalau yang pertama kulihat saat kembali haruslah dirimu. Bukan orang lain." Levia memeluk Niiha yang juga adalah teman pertama diakademi. Niiha yang sebenarnya terkejut ikut membalas pelukannya.


"Baiklah, aku pergi dulu." Ucap Levia yang berbalik dan berjalan mendekati Kano sembari tangannya melambai, Niiha yang melihat itu ikut membalasnya.


"Kakak." Levia memanggil Kano yang jaraknya tak jauh dari dirinya. Kano tersenyum sembari menatap Levia dengan matanya yang menghangatkan. Tepat dibelakang Kano terdapat sebuah kereta kuda yang terlihat mewah sekaligus sederhana dengan supirnya yang duduk didepan. Sedangkan disamping kakaknya, Levia melihat ketiga teman kakaknya yang sebelumnya pernah ia lihat.


"Aku telah menyewa kereta kuda sebelumnya. Kau naiklah duluan, kakak ingin berbicara sedikit dengan mereka." Ujar Kano yang mengacak - acak rambut Levia, tentu hal itu membuat Levia kesal. Rambutnya yang sudah rapi malah menjadi berantakan karena Kano.


"Kakak! Rambutku jadi berantakan karenamu!" Levia menatap Kano dengan tatapan kesal, Kano hanya terkekeh melihat tingkah adiknya yang baru ia lihat.


"Aku tidak tau jika kau bisa bersikap seperti itu, masuklah. Aku akan menyusulmu nanti." Kano segera mengalihkan pandangannya setelah melihat Levia menaiki kereta kuda yang telah ia sewa. Kini ia menatap teman - teman yang telah menemaninya dalam keadaan seperti apa pun itu.


"Aku harus kembali kerumah lagi. Aku tidak bisa membiarkan Levia pergi sendiri, aku tak ingin kehilangannya seperti anggota keluargaku yang lain. Jadi aku harap kalian dapat menerima keputusanku ini, walau kita telah lama tidak bertemu sebelumnya." Kano tersenyum dengan wajah lesunya merasa bersalah akan teman yang telah ia anggap sahabatnya. Salah satu temannya menepuk pudak Kano sembari menghiburnya untuk tidak merasa bersalah.


"Tenang saja, walau kami marah sekalipun. Kami tentu saja memahami seberapa khawatirnya dirimu terhadap adik yang kau cintai satu - satunya." Sahut seseorang yang merangkul pundak Kano sembari salah satu tangannya mengacak - acak rambut Kano.


"Iya, jangan khawatirkan soal kami. Kau harus fokus akan adikmu jika tak ingin kehilangannya." Teman terakhir ikut merangkul pundak temannya sambil tertawa riang, tak ingin membuat suasana yang sedih.


"Sudahlah. Sana cepat naik, kau telah membuat adikmu menunggu, tak baik membiarkan seseorang wanita menunggu lama." Ucap teman Kano yang mempunyai wajah paling riang diantara yang lainnya.


"Hm, ya. Kalau begitu, sampai jumpa lagi." Balas Kano yang kemudian menaiki kereta kudanya sembari mengangkat salah satu tangannya untuk salam perpisahan dengan temannya.


"Pak, ayo berangkat!" Kano memberi perintah setelah duduk didepan Levia yang sedang memasang wajah masamnya. Pak sopir yang mendengar perintah langsung menggerakkan kereta kudanya.


"Kakak, kau lama sekali!" Kesal Levia yang menatap Kano masih dengan wajah garangnya, yang membuat Kano merasa ingin menggodanya.


"Kenapa? Apakah kau segitunya tidak ingin berbagi kakakmu kepada teman - temanku?" Kano mengibas - ibaskan tangannya merasa bangga dihadapan Levia, sedangkan Levia yang mendengar itu lantas mendekat dan menarik kedua pipi Kano karena merasa sangat kesal akan nada bicara kakaknya.


"Jangan terlalu berbangga diri, mungkin saja nanti aku akan memilih kakak baru yang lebih tampan darimu Kano." Balas Levia yang memanggil Kano langsung dengan namanya, hal itu membuat Kano cemberut ketika Levia mengatakan ingin mengangkat kakak baru, terlebih lagi yang lebih tampan darinya.


"Hei! Jangan memanggil kakakmu dengan nama langsung, itu tidak sopan!" Kano menjitak kening Levia dengan jarinya. Levia yang mendapat serangan pun melepaskan tangannya dari pipi Kano sembari meringis kesakitan.


"Ugh! Kakak ini sakit tau!!" Levia berteriak merasakan sakit dikeningnya yang mulus. Levia mengelus keningnya berusaha untuk meredakan rasa sakit.


"Rasakan itu! Makanya jangan mengangkat kakak baru tanpa seijinku!" Kano memeringati Levia dengan tatapan matanya yang tajam. Levia menundukkan kepalanya dengan tangannya yang masih mengelus keningnya.


Setelah lamanya mereka terdiam tanpa berbicara, pada akhirnya Kano merasa sedikit bersalah akan apa yang ia perbuat. Dengan menoleh ia berganti menatap Levia setelah cukup lama ia memandangi kearah jendela.


"Apakah keningmu masih sakit?" Tanya nya yang nampak dengan wajah normal tanpa ada jejak kekhawatiran dimukanya. Tentu Levia merasa kesal melihat hal itu, jika masih peduli maka lakukanlah dengan tulus.


"Huh!" Levia mendengus sembari ia menatap pemandangan yang ada dibalik jendela. Dilihatnya banyak orang berlalu lalang tanpa memperdulikan kereta yang ia tumpangi, karena bisa dikota Dufxi sering ada kereta kuda yang lewat disana walau memiliki motif yang cukup sederhana.


"Hm? Ada apa? Apakah kau ingin membeli sesuatu?" Kano memperhatikan setiap gerak gerik Levia yang berada didepannya. Dimulai dari ia berkedip, menguap, dan hal lainnya. Levia beralih menatap Kano tanpa ada mimik wajah lain selain wajah polosnya yang imut.


"Bolehkah?" Levia bertanya dengan matanya yang terlihat begitu berbinar. Levia yang ragu kalau ia mempunyai uang pun mengecek saku nya, tapi walau telah lama ia cari tetap saja Levia belum menemukan sepeser uang pun. Kano yang sedari tadi melihatnya pun terkekeh geli melihat tingkah adiknya.


"Jika masalah uang, kau tidak perlu menghawatirkan hal itu. Aku akan membayar apa yang kau beli." Levia yang mendengar hal itu pun tersenyum senang serta memeluk Kano yang terdiam, butuh waktu untuknya membalas perlakuan Levia yang selalu mendadak.


"Terima kasih kak. Aku menyayangi kakak!" Seru Levia yang memeluk Kano dengan eratnya. Kano hanya bisa menghela nafas sembari tersenyum haru melihat adiknya yang terlihat begitu bahagia hanya dengan hal kecil seperti ini.


"Apakah hanya itu? Tidakkah kau sangat menyayangiku?" Levia mendongakkan kepalanya sambil menatap wajah Kano yang sedang tersenyum.


"Hm! Aku sangat, sangat menyayangi kakak melebihi siapa pun yang aku miliki saat ini!" Levia berkata dengan senyumnya yang sangat lebar.


"Saat ini? Apakah kau hanya akan menyayangiku sekarang sedangkan suatu saat nanti tidak?" Kano menarik kedua pipi Levia dengan senyum nakal diwajahnya.


"Aaaa! Kakak ini sakit!" Levia merontak sembari tangannya mencekram lengan Kano untuk menghentikannya.


"Hahaha, ternyata aku mempunyai adik yang selucu ini." Kano tertawa seraya tangannya melepas cubitannya, Levia yang sudah merasakan panas dipipinya ia pun menggosoknya.


"Ck! Dasar!" Levia mendengus hingga pada akhirnya ia tersenyum diakhir memperlihatkan mukanya yang nampak begitu bahagia dengan keadaannya saat ini.


°°•••°°


Disisi lain yang ada diasrama akademi, lebih tepatnya disebuah kediaman khusus untuk seorang anak bangsawan yang telah disewa. Didalam sebuah ruangan terdapat seorang gadis yang sedang membelakangi 2 orang pria dengan pakaian hitam yang menutupi selueuh tubuhnya kecuali kedua matanya.


"Ingat, kalian harus membunuh gadis itu. Entah siapa sebenarnya, Levia itu." Gadis yang tengah menatap langit melalui jendelanya mulai berbicara yang mengarahkannya kepada kedua sosok yang ada dibelakangnya.


"Tenang saja, akan kami pastikan kalau gadis itu pasti mati. Tetapi nona, ada masalah apa hingga kau ingin melenyapkannya?" Salah seorang dari kedua pria itu berbicara. Ada rasa penasaran dihatinya, ingin tau mengapa orang yang menyuruhnya ingin membunuh seorang gadis yang ia perkirakan seusia dengan nona yang ada didepannya.


"Itu, aku juga tidak tau. Tapi kata ayah, aku harus melenyapkannya sebelum ia mengatakan hal yang tak seharusnya." Balas gadis itu yang berbalik menatap kedua pria yang ada dihadapannya.


"Serahkan saja hal itu pada kami. Nona sejauh yang kuketahui, gadis yang kau incar ini memiliki identitas yang tidak sederhana." Pria itu mengatakan suatu hal yang mungkin perlu diketahui oleh orang yang ada dihadapannya.


"Itu, aku tidak peduli. Yang terpenting tugas dari ayah sudah kuselesaikan." Gadis itu nampak menatap pria yang ada dihadapannya dengan mata malasnya. Membuat keduanya diam, tak tau apakah orang yang memerintahkannya ini bodoh atau bagaimana.


"Baiklah. Karena kita telah menerima uangnya, kerjaan ini akan kuselesaikan nona Nala." Ucap pria yang sedari tadi berbicara dengan gadis itu, dapat disimpulkan jika ia adalah ketuanya.


°°•••°°


Niiha yang harus menyampaikan surat dari Levia pun mulai mencari keberadaan penatua ke 4. Setelah lamanya ia mencari, ia akhirnya menemukan penatua ke 4 yang sedang berjalan bersama seseorang menuju kediaman miliknya.


Tak ingin ketinggalan, Niiha pun berlari mengejarnya sembari berteriak agar penatua menghentikan langkahnya. Sesuai harapan, Aden yang sedang bersama Zirun berhenti dan menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Penatua!!" Niiha yang sudah sampai didepan Aden pun berhenti dengan kepalanya yang menatap tanah serta tangannya yang memegang lutut akibat nafasnya yang tak teratur.


"Ada apa?" Tanya Aden yang membuat Niiha menatapnya. Dengan tangan gemetar akibat kelelahan ia menyerahkan surat yang diberikan oleh Levia.


"Anda mendapatkan surat dari Levia." Aden yang penasaran mengapa Levia tak mengujungi dirinya saja pun bertanya akan keberadaan Levia. Kebetulan Zirun yang memiliki perasaan tak nyaman ikut menanyakan hal yang sama.


"Dimana Levia?" Niiha yang tak mengenal Zirun sekilah hanya menatapnya dan segera menjawab pertanyaan yang diajukan.


"Levia dan kakaknya kembali kerumahnya tadi pagi. Omong - omong anda siapa?" Niiha bertanya sembari menatap orang sedang ia ajukkan pertanyaan. Zirun yang sudah tak karuan dengan firasatnya pun meninggalkan Niiha dan Aden yang sedang terdiam.


"Jika kau menanyakan siapa dia, aku akan menjawabnya." Ucap Aden yang merasa tak enak terhadap Niiha akan perlakuan yang Zirun lakukan. Niiha yang sebelumnya menatap kepergian Zirun mulai beralih menatap Aden yang saat itu juga menatap dirinya.


"Dia itu adalah guru Levia, namanya Zirun. Ia juga adalah muridku sebelumnya." Sambung Aden yang menjawab pertanyaan Niiha akan diri Zirun.


°°•••°°


Zirun yang merasakan rasa gelisah, tak henti - hentinya ia memikirkan Levia dan kano. Karena kedekatannya dengan Levia dan Kano membuat Zirun memiliki ikatan batin. Tak ingin hal buruk terjadi kembali terhadap mereka, Zirun bergegas dengan kecepatan penuh agar mencapai tujuannya lebih cepat dan memastikan jika firasatnya tidaklah benar.


Tetapi, setelah beberapa saat ia dalam perjalanan. Yang ia temukan dirumah adalah kediaman yang sangat sepi tanpa ada yang menghuninya. Tak menemukan tanda - tanda jika Levia dan Kano ada disana semakin membuat pikiran Zirun menjadi kacau. Tak ingin membuang waktu, Zirun pun menelusuri hutan yang ada didekat rumah keluarga Fert.


Ketika ia berada ditengah hutan, ia bisa mendengar sayup - sayup suara teriakkan serta beberapa dentuman. Zirun yang tak ingin ketinggalan langsung saja pergi menuju kearah suara tersebut berasal. Ia yang sudah sampai disana dapat melihat dengan jelas jika Kano tengah bertarung dengan 2 orang dengan mengandalkan kekuatan sihirnya.


Disisi lainnya ia melihat Levia yang tengah bertarung dengan salah satu orang berpakaian hitam hanya dengan sebilah pisau ditangan Levia. Tak jauh dari Levia Zirun melihat seorang pria yang sebelumnya pernah ia lihat yang tak lainnya adalah Chin.


Chin terlihat bertarung dengan 3 orang pria yang identitasnya tak diketahui. Merasa ada sesuatu yang bersembunyi, Zirun memperhatikan sekitar dengan teliti hingga ia menemukan 5 orang tengah sembunyi diatas pohon sembari melihat apa yang terjadi dibawah.


Zirun yang merasa terancam pun memberitahukan Aden jika ia membutuhkan bantuannya melalui telepati miliknya.


'Pak tua cepat kesini, aku membutuhkan bantuanmu. Levia dan Kano sedang bertarung dengan para pembunuh, lokasinya berada ditengah hutan. CEPATLAH DATANG!! '


Aden yang sebelumnya sedang duduk santai menjadi terkejut ketika ia mendengar kabar jika Levia dan Kano sedang diserang, ikut merasa cemas ia pun segera pergi menuju lokasi.


Zirun yang tak mengetahui jika kekuatan Levia menghilang pun memilih untuk menyerang orang yang tengah bersembunyi dengan sihir miliknya.


"TEMBAKKAN API!" Teriak Zirun yang mengarahkan jarinya pada 1 pohon yang dijadikan tempat bersembunyi musuh, beberapa tembakkan seperti pistol muncul dari jarinya dan melesat cepat menuju 1 pohon yang nampak bergoyang karena musuh yang panik.


Musuh yang merasa terancam pun melompat dan mendarat didepan pohon. Pohon yang ada dibelakang mereka terlihat perlahan - lahan mulai terbakar sepenuhnya. Ke 5 orang yang sebelumnya bersembunyi kini menatap Zirun dengan tajamnya. Tak ingin membuang waktu, mereka pun mulai menyerang Zirun secara bersamaan.


Disisi lain, Levia yang hanya mengandalkan sebilah pisau menjadi kesulitan karena tubuhnya yang kecil membuatnya belum terbiasa dengan gerakan yang gesit seperti apa yang sebelumnya ia kuasai. Dengan lawan yang memegang pedang, Levia terpukul mundur akibat serangan yang mengarah pada jantungnya.


"Cih! Aku masih belum terbiasa dengan tubuhku! Andai tubuhku lebih tinggi." Gumam Levia yang nampak menatal lawannya dengan nyalang seperti hewan buas yang menatap mangsanya.


Melihat jika dibelakangnya ada jurang yang dalam semakin membuat keadaannya terdesak. Tak ingin melompat ke jurang, Levia memilih untuk bertarung kembali. Dengan gerakannya yang bisa terbilang cepat, ia mengarahkan pisaunya kelengan musuh, karena musuhnya yang tau pola serangan miliknya pun hanya meninggalkan segores luka yang mengeluarkan darah.


Sebelum hal ini terjadi, Levia dan Kano yang tengah selesai berbelanja berniat untuk menaiki kereta kuda kembali, tetapi menyadari adanya hawa membunuh, Levia dan Kano memilih untuk pergi menuju gerbang tanpa memperdulikan barang yang sudah dibelinya.


Hanya dengan berlari mereka berdua tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh para penjaga gerbang, dengan tujuannya yang mengarah kehutan, Levia dan Kano pada akhirnya terkepung ditengah - tengah hutan. Merasa situasi menjadi darurat, Levia pun mengambil pisau yang ada dipaha atas dengan gaunnya yang menutupi sehingga tak ada yang tau.


Levia yang merasa jika jumlahnya terlalu banyak pun memilih untuk meminta bantuan kepada Chin yang selalu mengawasi dimanapun ia berada.


"Chin! Keluarlah dan bantu aku untuk menghabisi mereka!!" Teriak Levia yang membuatnya menjadi pusat dari mata memandang. Tak lama sebuah bayangan mulai muncul didepan Levia hingga wujudnya perlahan mulai terlihat jelas.


"Apakah saya harus membunuh mereka semua nona?" Tanya Chin terhadap Levia yanga da dibelakangnya, Kano yang terkejut segera mengambil kesimpulan jika Chin adalah pengawal yang diberikan oleh Zirun.


"Terserah padamu." Balas Levia yang membuat Chin menjadi bingung tapi setelah itu ia tak lagi menanyakan hal lain, dan langsung menyerang 3 orang dengan Kano yang ikut menyerang 2 orang.


Karena musuh yang memiliki jumlah 12 orang, ke 5 orang pun memilih untuk menonton diatas pohon dan membiarkan 1 orang untuk mengurus Levia yang dianggap remeh.


Kembali disituasi saat ini, Levia yang tak memiliki tenaga lebih ditubuhnya pun menjadi lemas. Sehingga ia pun berdiri dengan kaki gemetar sembari melangkah mundur disaat musuhnya melangkah mendekat kearahanya dengan pedang ditangan.


Levia yang masih menggegam pisau ditangannya menoleh kebelakang dan melihat jika jurang sudah ada tepat dibelakangnya. Levia kembali menatap musuhnya dan memaksa kakinya untuk berlari sembari tangannya mengarahkan pisau kearah dada, walau serangannya itu akan segera ditangkis Levia tak membatalkan niatnya.


Musuhnya yang melihat jika Levia tak menyerah pun memilih untuk membuat Levia jatuh kejurang, sehingga ia pun menangkis serangan Levia dan menendang perut Levia hingga terpental ditengah - tengah jurang yang nampak hitam.


Levia yang tak menyangkanya pun terlihat ada buliran bening yang keluar dengan wajahnya yang nampak sedih.


"AAAAAAH!!!" Teriakkan Levia saat ditendang terdengar yang membuat Chin, Kano serta Zirun beralih melihat keadaan Levia yang sedang terpental. Hanya dengan melihat saja semua sudah tau jika Levia akan terjatuh tepat ditengah - tengah jurang yang terlihat tak berdasar itu.


Rasa gelisah, dan sedih mulai menyelimuti hati mereka bertiga ketika tau jika Levia akan pergi meninggalkan mereka. Rasa tak ingin kehilangan membuat mereka berteriak memanggil Levia.


"LEVIA!!"


"LEVIA!!"


"NONA!!!"


Levia yang melihat mereka nampak sedih pun hanya pasrah karena kekuatannya yang menghilang membuatnya tak bisa menyelamatkan diri. Levia yang merasakan rasa sedih yang amat mendalam pun hanya bisa menangis dalam diam.


"Aku ... menyayangi kalian semua." Ucap Levia dengan senyum sayunya, walau terdengar sangat pelan, semua orang dapat mengerti melalui gerak mulut Levia yang mengatakan sesuatu.


"Dan selamat tinggal." Levia memejamkan matanya merasa untuk bersiap menerima kematiannya sekali lagi.


Wush~


_________________chp 25 end__________________/


Jika bisa, Ruka berusaha untuk up lebih cepet. Ruka kepikiran buat up 1 seminggu, tpi itu belum tentu tepat waktu atau memang 1 kali seminggu.


Ruka dan temen² berusaha untuk menggali ide supaya ceritanya menarik dengan cara saya yang menceritakan, walau kata² nya masih agak ambigu tpi ini sudah diusahakan supaya lebih baik.


Saya didunia asli adalah seorang yg sulit menjelaskan perihal sesuatu jdi maklum, apalagi nilai bahasa saya jelek:)


jika pikiran saya lancar mungkin up nya bisa dipercepat. dichp ini ceritanya udh gw perpanjang hampir mencapai 3000 kata.


dah segitu aja, sampai jumpa di chp selanjutnya. \=^\=


SALAM DARI RUKA, NEVT, DAN ANEKO~