
Malam hari itu disebuah ruangan yang terlihat gelap terdapat sesosok manusia sedang duduk termenung diatas tempat tidurnya, ia terlihat frustasi, kecewa, sedih, marah dan putus asa. Sesosok tersebut hanyalah seorang wanita cantik berusia 28 tahun yang menyedihkan, wanita tersebut bernama Navee yang dipanggil vee, walau sudah berumur 28 tahun Vee masih terlihat muda, mata hitamnya yang cerah kini hanya terlihat sebuah kekosongan yang mendalam, ia baru saja mengalami sebuah ' penghianatan' oleh teman dan pacarnya atau bisa disebut sebagai calon suaminya, ya teman yang paling dipercaya sekaligus sayangi dengan calon suaminya yang akan menikah di minggu depan telah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan, beserta tangan kanan yang paling ia percaya di perusahaaannya, semua... semua orang yang dekat dengannya mulai menjauh.
Keesokan harinya Vee memutuskan untuk menemui calon suaminya itu, Ron. Tepat didepan apartemen yang ditinggali oleh Ron, Vee langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Braak
Tepat saat pintu terbuka dengan suara yang keras membuat orang yang didalam kaget. Vee bisa melihat Ron yang bersama sahabat atau temannya Lily sedang bermersaan, wajah mereka terlihat jelas kalau mereka tidak mengharapkan kehadiran Vee saat itu.
"RON!! APA MAKSUDMU HAH!!!" bentak Vee pada calon suaminya itu dengan marah sekaligus sedih.
"Kau sudah lihat kan!" Ucap Ron tidak menanggapi teriakan Vee.
"Karena kau sudah disini dan hanya mengetahui setengahnya, lebih baik kau mengetahui segalanya." Ucap Ron dengan senyum mengejek kearah Vee dengan tangan yang masih merangkul pinggang Lily.
"Hah?!" Ucap Vee tersentak dan mengeratkan tangannya yang menggenggam tas kecilnya.
"Vee sungguh kau sangat bodoh! Begitu mudahnya kau dimanfaatkan oleh semua orang, bahkan sahabatmu ini sebenarnya adalah tunanganku dari dulu. Kau tau semua orang yang ada didekatmu hanyalah sebuah pion yang memanfaatkan dirimu yang bodoh itu, kau pasti sudah tahu kan soal tangan kananmu itu, sayangnya dia itu juga ada dipihakku." Ucap Ron panjang lebar dengan senyum sinis yang mengejek kebodohan Vee.
Nafas Vee seakan terhenti mendapati kenyataan itu, ia tahu kalau memang ada yang memanfaatkannya tapi ia tak mengkira bahwa semua orang yang ada didekatnya telah memanfaatkan dirinya yang bodoh.
"Tidak mungkin, tidak mungkin semua orang, kau pasti berbohong!" Teriak Vee tidak percaya akan perkataan Ron.
"Hah? Kalau aku berbohong untungku apa?" Ucapnya menatap Vee dingin.
"Dasar wanita bodoh!" Ejek Lily yang ada dipelukan Ron.
"Kau!!!" Geram Vee menunjuk pada Ron dan Lily, Vee melihat kearah kanan dan kiri seakan mencari benda yang ada diruangan itu hingga ia melihat vas bunga didekatnya, Vee mengambil vas tersebut dan melemparkannya kearah Lily dan langsung pergi dari sana, Lily yang kaget pun tidak sempat menghindar hingga vas tersebut pecah saat mengenai kepala Lily yang langsung berdarah. Ron yang kaget hanya bisa berteriak.
"KAU!! DASAR WANITA S***AN!!!!" teriak Ron yang terdengar sampai keluar ruangan. Vee yang berlari sebenarnya juga mendengar teriakkan Ron tapi tak ditanggapi olehnya.
Sesampainya didepan kamar Vee, Vee membuka pintu dan membanting pintunya penuh amarah, Vee langsung melempar tas yang ada ditangannya. Vee melempar tubuhnya keatas kasur dan menangis dalam diam hingga beberapa saat.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mulai terdengar, Vee pun melangkahkan kakinya dengan malas kearah pintu, tangannya mulai menarik tuas pintu untuk membuka. Terlihat seseorang pria setengah paruh baya berdiri didepan Vee.
"Apa benar dengan nona Vee?" Tanyanya ramah.
"Iya dengan saya sendiri." Ucap Vee bingung.
"Ah, nona Vee anda harus membayar hutang anda atau hutang anda akan berbunga dan menambah hutang anda." Ucapnya yang masih ramah dengan senyum.
"Hutang? Kapan saya berhutang pada anda pak?" Tanya Vee bingung yang sudah mengetahui apa yang terjadi.
"Ah, nona intinya saya sudah memberitahu pada anda, kalau anda harus membayar hutang." Ucapnya yang berlenggang pergi begitu saja.
"Cih, pasti ulah mereka!" Geram Vee yang mengetahui dalangnya. Vee berlari mencari handphone nya berniat menelepon seseorang, hingga ia melihat handphone yang berada diatas meja, ia langsung saja mengambilnya dan segera menelepon dalang dibalik kasus hutangnya.
"TINA!!" Teriak Vee kehandphone.
"PASTI ELU KAN YANG-" perkataan Vee terpotong oleh suara Tina yang ada dihandphonenya.
"Ah, iya iya itu gue, soal hutang kan! Itu emang gue yang lakuin, kenapa? Gak terima?" Ucapnya mengejek.
"Kau!!" Geram Vee.
"Lagi pula, pernikahanmu pasti batalkan? Uang yang gue ambil dari lu juga uang untuk hadiah pernikahannya Ron dengan Lily." Ucapnya lagi.
"Hah?!"
"Ah, lu pasti tidak tahu ya, sebenarnya Ron dan Lily berniat untuk menikah 1 minggu nanti." Ucap Tina lagi yang masih dengan nada sinis.
"Apa!!!" Teriak Vee tak percaya.
Vee mulai menutup teleponnya dengan Tina, ia langsung saja beralih kemedia sosial. Yang ada hanya caci makian terhadap dirinya.
'Apa yang sebenarnya terjadi!!' Pikir Vee frustasi. Vee berniat menelepon temannya yang ia kira tidak akan menghianati dirinya.
"Lena, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Vee.
"Ngapain nanya ke gue, tanya aja sono ke calon suami lu Ron!" Ucapnya.
"Hah? Ini semua karena Ron bodoh! Cari cowok aja kayak gitu, mending mati aja sono!" Ucap Lena kesal.
Vee menutup teleponnya tak kuat menerimanya. Vee mulai menangis tak kuasa menahan tangisnya. Setelah tangis Vee terhenti, perkataan sahabatnya mulai bermunculan dikepalanya 'mati aja sono!' .
Vee mulai memandang kosong kedepan, ia tanpa sadar melangkah keatas gedung perumahannya, ia mulai berjalan ketepian tanpa memikirkan apapun selain 'kebebasan' . Walau penderitaan Vee sebenarnya tak seberat yang orang kira. Vee mulai terjatuh saat mencapai tepi dari gedung yang ia pijaki.
Brukkk
Vee terjatuh dari gedung yang bertingkat, pandangan Vee mulai menggelap disaat banyak orang yang mengerumuninya.
Vee mulai menghembuskan nafas terakhirnya, ia terlihat tak ada penyesalan sama sekali yang ada hanya perasaan terbebani akan hal duniawi, vee berharap cepat bertemu dengan orang tercintanya dialam baka nanti.
_______________
Vee POV
' kegelapan' itulah yang ada dibenakku ketika aku menutup mata. Terlihat disekelilingku hanya ada kegelapan yang terlihat tak berujung, hingga ku coba membuka mataku, terlihatlah banyaknya hamparan bunga didepanku, tiba tiba sebuah suara mengejutkanku dan membuatku penasaran yang pada akhirnya menoleh kearah suara tersebut berasal. Seorang lelaki tampan memandangku dengan senyum tulusnya, yah kuakui dia tampan hingga membuatku sedikit terpana.
" hai Vee." Sapa lelaki tersebut masih dengan senyum manisnya yang kubalas dengan anggukan kepala
"Em.. maaf apakah kita saling mengenal?" Tanyaku sebab aku tak ingat pernah melihat ataupun mengenal lelaki yang ada dihadapanku.
" ah...kita tidak saling mengenal, ini yang pertama kalinya." Jawabnya
" apakah kamu sudah bisa merasakan kebebasan yang selalu kamu inginkan vee?" Tanya nya kembali yang membuatku terkejut, sebab aku tak pernah memberitahukan kepada siapapun akan hal itu karena aku hanya memendamnya sendiri hingga mati.
" kau!...bagaimana kau..." ucapku yang masih terkejut sambil menunjuk lelaki dihadapanku dengan jari telunjuk
" Tidak perlu takut dan dari mana aku mengetahuinya, karena aku adalah dewa kehidupan." Ucapnya yang sedikit terkekeh
" kamu tau vee, kenapa kamu berada disini?" Sambungnya dengan pertanyaan yang tidak masuk akal menurutku.
"Tentu saja aku tidak tau." Ucapku sedikit kesal terhadap lelaki didepanku yang masih bersikukuh dengan senyumnya.
"Aku yang membuatmu berada disini, apakah kamu sudah merasakan kebebasanmu?" Ucapnya diakhiri dengan pertanyaan yang sama dilontarkannya tadi.
"Aku.... aku... tidak tau." Ucapku kebingungan, kulihat tanganku yang bergerak gerak tak nentu.
"Vee, kamu harus melaksanakan hukumanmu karena telah melakukan bunuh diri." Ucapnya yang masih dengan senyum, akan tetapi senyumnya kini sedikit pudar yang berarti dia kecewa terhadapku
"Hukuman..., em baiklah." Jawabku merasa bersalah setelah melihat matanya yang tersirat kekecewaan.
"Baguslah, sebagai hukuman aku akan mengirimmu didunia yang berbeda dan dengan peraturan yang sedikit berbeda." Ucapnya yang kembali tersenyum kepadaku
"Mungkin ini akan sedikit membuatmu menderita, tapi kamu harus bertahan dari semua hal. Aku sudah menyiapkan beberapa yang mungkin kamu butuhkan jadi bertahanlah sampai akhir ." Ucapnya yang tanpa perlu mendengarkan jawabanku dan langsung mendorongku dengan kedua tangannya seketika sebuah lubang besar menganga yang siap melahap habis diriku terlihat dibelakang, aku yang masih terkejut tak bisa berkata apa apa sampai pada akhirnya pandanganku kembali menggelap. Hingga kurasakan sebuah teriakkan yang membuat mataku terbuka, kulihat yang ada didepanku penuh dengan api dan sepasang kekasih hati yang dalam kesulitan.
"VIAA!!!, CEPAT LARIII!!!" teriak seorang wanita yang terlihat cemas akan diriku, aku yang bingung pun hanya diam tak bergeming karena ketakutan.
Sreet
Jleb
Jleb
Sepasang kekasih tersebut terjatuh ketanah yang pada akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya tepat dihadapanku.
" AAAHHHHHHH!!!" teriakku yang jelas terlihat ketakutan dan sedih, aku tak mengerti mengapa diriku merasa sangat sedih saat melihat sepasang kekasih tadi mati, itulah yang ada dipikiranku saat itu.
Tiba - tiba tanpa kusadari tanganku bergerak mengambil pisau yang ada didekatku dan mulai berlari kearah pria yang membunuh sepasang kekasih tadi, karena pria itu kewalahan saat menghadapi pria dan wanita yang merupakan sepasang kekasih menjadi kurang fokus akan sekitar sehingga tak menyadari diriku yang bergerak kearahnya berniat membunuh pria tersebut.
Jleeb
Pisau tersebut tertancap tepat dijantungnya membuat pria tersebut mati.
"Hosh...hosh...hosh." terdengar deru nafasku yang tidak beraturan, hingga beberapa saat aku menyadari sesuatu bahwa diriku telah membunuh manusia.
______________chp 1 end________________