
Serigala berbulu biru itupun bersiap untuk menyerang, tapi hal yang dilakukan Levia membuatnya tercengang sebab ia tidak menduga gadis kecil yang pada umumnya takut pada dirinya, lain halnya dengan Levia, gadis kecil itu ternyata memeluk badan serigala yang berbulu lebat itu dengan erat.
"HEI, HEI!! APA YANG KAU LAKUKAN DASAR GADIS KECIL?!?!" teriak serigala itu (dalam pendengaran Levia) geram akan kelakuan Levia.
"Hei serigala, kamu mau kan jadi peliharaanku?" Tanya Levia antusias kemudian memanggil Whiti singa kesayangannya itu.
"WHITI KEMARI LAH!!" Teriak Levia yang masih memeluk serigala itu dengan erat. Terlihatlah singa putih dengan bulu lebatnya berada dibelakang Levia. Serigala biru yang mengetahui siapa sesosok yang berada dibelakang Levia pun berusaha bersujud tapi terhalang karena tangan Levia yang tidak mau melepaskan tubuhnya. Levia menoleh kebelakang seketika ia melihat seekor singa putih yang berbulu lebat, Levia pun segera melepaskan tangannya dari serigala biru dan beralih kesinga putih.
"Ah, Whiti... aku sangat merindukan bulumu yang lebat dan lembut ini." Ucap Levia yang menggosok - gosokkan wajahnya ketubuh atau bulu lebatnya Whiti. Serigala biru yang melihat interaksi dengan keduanya pun terdiam.
"Ah, Whiti apakah kamu menginginkan teman untuk tinggal bersama didimensi kehidupan?" Ucap Levia beralih memandang kearah serigala biru. Seketika serigala itu tersentak dan bersujud dihadapan Levia beserta Whiti, Levia hanya memiringkan kepalanya pertanda ia kebingungan.
"Groa tuan?" Ujar Whiti memanggil Levia. Levia menoleh melihat singanya.
"Ah Whiti, kamu bisa berbicara?!, dan juga apa yang dia lakukan?" Ujar Levia menatap lekat kesinganya sambil menunjuk kearah serigala yang sedang bersujud.
"Tuan bukankah anda memang mengerti apa yang kuucapkan dari dulu?" Heran Whiti kepada Levia.
"Dan juga dia... dia hanya memberikan salam kepadaku." Sambungnya memperhatikan serigala biru.
"Hm, memang kenapa dia harus memberi salam dengan bersujud? Dan juga Whiti, bukankah kamu hanya hewan yang paling berkuasa dihutan terlarang kemudian menjadi hewan serta temanku yang sangat imut dan lucu ini." Ucap Levia kembali menggosok - gosokkan wajahnya dileher Whiti yang lebat akan bulu.
"Bukankah memang begitu? Dia melakukannya karena dulunya aku adalah hewan yang paling berkuasa dihutan terlarang." Balas Whiti
"Oh, hei serigala biru berdirilah!" Ujar Levia yang sudah mengerti situasinya.
"Grr baik." Ucapnya kemudian berdiri memamdangi Levia dan Whiti.
"Baiklah, sekarang sebaiknya kita segera berburu, kepulanganku nanti akan dicurigai jika kembali saat pagi hari." Ucap Levia kemudian memandangi sekelilingnya, pandangan Levia berakhir pada semak - semak yang tertutup pepohonan hingga Levia melesat mendekat diikuti serigala biru dan Whiti. Levia mengambil lagi pedangnya dari penyimpanan dan langsung menebas leher lawannya saat ia terlihat. Levia berhenti untuk melihat hewan apa yang ia tebas, seekor singa betina berwarna merah dengan elemen api yang berada ditingkat 3.
[Tuan telah membunuh hewan monster tingkat 3 anda mendapatkan 75 poin.]
"Hm elemen api, bagus juga untuk memperkuat elemen apiku." Ucap Levia kemudian menoleh kearah serigala biru dan Whiti yang berada dibelakangnya.
"Hei Whiti apakah... jangan - jangan dia adalah istrimu?" Ucap Levia menggoda singa putihnya yang terlihat memandangi singa betina yang sudah mati dengan kepala terpisah dari tubuhnya lalu menolehkan pandangannya kearah Levia.
"Tuan anda jangan bercanda! Saya masih sendiri sedari dulu!" Balas Whiti yang terlihat sedikit kesal akan godaan tuannya itu.
"Hahahaha... Whiti aku hanya menggodamu!" Ucap Levia tertawa, menertawakan singa putihnya itu.
"Dan juga tuan, saya baru menyadarinya kalau nama yang tuan berikan padaku sepertinya nama untuk perempuan!" Ujarnya menatap tajam kearah Levia yang berhenti tertawa. Levia terlihat sedang berfikir dengan tangan yang menompang dagunya.
"Hem.... benar juga ya... tapi apalah dayaku untuk memberimu nama." Ucap Levia menghela nafas dengan kedua tangan yang terangkat. Whiti hanya diam beserta serigala biru yang hanya melihat kelakuan gadis kecil itu.
"Hm... bagaimana kalau Whiti saja." Ucap Levia disertai dengan senyumnya.
"Huh, terserah tuan saja..." pasrah Whiti.
____
Beberapa saat telah berlalu, kini Levia telah membunuh hewan monster ditingkat 3 sebanyak 5 ekor, hewan ditingkat 2 sebanyak 7 dan hewan monster ditingkat 1 sebanyak 8 ekor.
"Entah kenapa hewan monster yang ditingkat 1 sampai 4 tidak ada yang sulit sama sekali seperti kelinci tingkat 4 dulu." Ucap Levia memandangi hewan yang telah diburunya.
'Sistem aku beli jurus pengambil elemen!' Ucap Levia dalam benaknya.
[Selamat tuan telah membeli jurus pengambil elemen, poin tuan akan dikurangi sebanyak 150 poin menjadi 800 poin tersisa.]
"Baiklah." Ucap Levia yang kemudian berjongkok didepan hewan buruannya dan merentangkan tangannya kedepan tepat diatas tubuh hewan monster berelemen tumbuhan. Mata Levia terpejam, Levia merasakan sesuatu memasuki tubuhnya seperti energi elemen. Energi elemen adalah sebuah energi yang terdapat disetiap elemen, energi elemen bisa didapatkan disekitar tempat yang memiliki keterikatan dengan elemen yang dipunyai.
Levia mengerakkan tangannya kearah salah satu tanah yang masih kosong akan tumbuhan, tiba - tiba sebuah tumbuhan mulai terlihat ditanah yang kosong tersebut sebuah bunga mekar pada tumbuhan yang baru saja terlihat itu.
"Wow, berhasil!!" Ucap Levia senang dengan senyum mengembang diwajahnya. Whiti dan serigala biru hanya diam menyaksikan Levia yang menumbuhkan bunga ditanah yang kosong akan tumbuhan. Beberapa saat kemudian, Levia telah mengambil elemen api, angin, tumbuhan, dan air.
"Hem... apakah kalian ingin memakannya?" Tanya Levia pada serigala biru dan Whiti sambil menunjuk bangkai - bangkai hewan monster ditingkat 1 sampai 3. Whiti mengeleng bersamaan dengan serigala biru.
"Grr gadis kecil, aku akan ikut denganmu." Ucap serigala biru itu saat sampai disamping Levia. Levia menghentikan langkahnya begitu juga dengan serigala biru. Levia menoleh kearahnya dan langsung menepuk kepala serigala biru itu dengan tangannya yang sedikit kasar lalu mengelusnya dengan lembut.
"Namamu sekarang adalah Wlufy." Ujar Levia tersenyum.
"Terima kasih tuan." Ucap Wlufy menunduk sebagai tanda hormat pada tuan barunya.
"Baiklah, kalau begitu masuklah kedalam dimensi kehidupan!" Ucap Levia berhenti mengelus kepala serigala biru.
"Tuan, apakah anda tidak ingin menggunakan janji darah?" Tanya Wlufy bingung kenapa Levia tidak menggunakan janji darah agar dirinya selalu terikat dengan tuannya sampai mati atau tuannya yang berniat memutuskan janji itu.
"Tidak apa - apa, aku hanya tidak ingin mengekangmu untuk selalu bersamaku." Balas Levia tersenyum lembut dan langsung berlari kembali menuju kediamannya, Wlufy yang ditinggal pun menghilang masuk kedalam dimensi kehidupan dan bertemu dengan Whiti. Wlufy tersentak kaget akan dimensi kehidupannya Levia yang dipenuhi dengan tumbuhan herbal yang langka sampai yang biasa - biasa saja.
"Hei Whiti, apakah dia memang seperti itu?" Tanya Wlufy kepada Whiti yang memakan tumbuhan herbal nan langka.
"Em, dia dari dulunya memang begitu." Ucap Whiti menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Wlufy padanya dan lanjut memakan tumbuhan herbal, Wlufy hanya diam dan menyaksikan Levia dari dimensi kehidupan.
__________
Sesampainya dikediaman, Levia langsung mengganti pakaiannya menjadi gaun tidur dan langsung menjatuhkan dirinya diatas tempat tidurnya.
"Sistem, tampilkan beberapa jurus dan sihir yang berguna untukku!" Ucap Levia memandangi langit - langit kamarnya hingga sebuah layar transparan muncul didepan Levia.
"Hm... sihir pengendali pikiran?" Beo Levia saat melihat salah satu daftar sihir.
"Sepertinya sihir pemgendali pikiran itu... sangat keren!!" Ujar Levia dengan mata berbinar.
"Sistem tolong jelaskan tentang sihir pengendali pikiran!" Ucap Levia.
[Sihir pengendali pikiran: sihir yang dapat mengendalikan pikiran orang lain dengan jumlah tertentu. Setiap 1 poin dapat digunakan untuk 1 orang, jumlah maksimal untuk mengendalikan pikiran orang lain adalah 1.000 orang. Jumlah dapat ditambahkan jika sistem sudah diupdate.]
"Baiklah, sihir pengendali pikiran dengan jumlah 500 orang!" Ucap Levia menyentuh layar dengan tulisan 'jumlah'.
[Tuan telah membeli sihir pengendali pikiran dengan jumlah 500 orang, poin tuan akan dikurangi sebanyak 500 poin menjadi tersisa 300 poin.]
"Em, sekarang waktunya tidur." Levia memejamkan matanya untuk segera pergi kealam mimpi hingga ia benar - benar tertidur pulas.
>>>>>>>>>>>>>>>>|
Keesokan harinya, Nay sudah berjalan kekediamannya Levia untuk membangunkan tuan putri tercinta. Sesampainya dikamar Levia, Nay mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar didalam ruangan yang ditempati Levia, karena tidak ada suara apa pun yang menyahuti ketukan pintu, Nay membuka pintu hingga ia melihat seorang gadis kecil dengan rambut hitamnya tertidur dengan pulasnya. Nay yang melihat tuan putrinya yang belum juga bangun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Nay melangkah mendekat berniat membangunkan gadis kecil itu.
"Tuan putri, bangun!" Ucap Nay yang menggoyangkan tubuh Levia.
"Emh..." kelopak mata Levia terlihat bergerak pertanda ia merasa terganggu.
"Putri, bangun!!" Ucap Nay lagi dengan tangan yang semakin kuat menggoyangkan badan Levia. Levia yang merasa sangat terganggu pun membuka matanya dengan susah payah.
"Em... kak Nay?" Ucap Levia mendudukkan badannya yang masih lemas, Levia mengucek matanya.
"Putri air mandi anda telah saya siapkan." Ucap Nay yang berada disamping tempat tidur. Levia menuruni tempat tidurnya untuk menuju tempat pemandian.
Tempat pemandian~
Terlihat Levia yang berendam dengan matanya yang masih mengantuk.
"Sistem, tolong tampilkan biodata tentangku!" Ucap Levia yang terlihat berbicara sendirian. Setelah beberapa saat tidak ada tanggapan Levia pun memanggil lagi tapi tetap tidak ada yang menyahuti.
"Ini sistem rusak atau gimana? EROR?!?!" Greget Levia.
_______________ chp 10 end_______________