
Sesampainya dimarkas, pria itu membawa Levia menuju ruangannya. Ditengah perjalanan ia berpapasan dengan beberapa anggota organisasi darah besi, mereka akan membungkuk terhadap pria yang berada disamping Levia dan menatap Levia sesaat lalu kembali menjalakan aktivitasnya.
"A - ayah, apakah kita akan tinggal disini?" Tanya Levia yang menggenggam tangan ketua darah besi dan menatapnya dari bawah.
"Hm, kita akan tinggal disini selama 3 bulan. Dan dalam 3 bulan kamu harus menjalani pelatihan yang akan anak buahku berikan." Ucapnya yang memandang Levia sesaat lalu beralih kedepan, tempat dimana dirinya tinggal selama ini. Ruangan yang akan ditempati mereka hanyalah ruangan sederhana dengan sebuah kasur yang besar layaknya tempat tidur untuk pemimpin. Lemari baju, meja rias dengan cermin untuk berdandan, biasanya sih untuk menyamar dengan cara berias. Sebuah meja dan kursi kerja, mungkin meja kerjanya ketua darah besi sang pemimpin organisasi
"Ayah, kita akan tinggal bersama kan?" Tanya Levia masih dengan matanya yang memancarkan kekosongan.
"Hmm... iya kita akan tinggal bersama." Balasnya menarik Levia menuju tempat tidurnya yang bisa digunakan untuk 2 orang dewasa.
Pria itu mengangkat tubuh Levia keatas kasur. Kemudian pria itu bersiul entah memanggil siapa. Tak berapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari kejauhan hingga sampai didepan pintu.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu yang dibalas ketua darah besi. "Masuklah!" Ucapnya memandangi pintu yang tertutup. Pintu tersebut terbuka menampilkan beberapa orang pria yang terlihat berusia sekitar 16 - 20 tahun dengan baju yang sama layaknya seragam organisasi sama seperti yang dipakai oleh beberapa anggota yang berpapasan dengan Levia.
Mereka memberi salam, Levia yang masih memandangi ketua darah besi pun menoleh melihat 5 orang orang pria dengan pakaian yang sama. Pakaian layaknya kesatria dengan warna hitam bercorak merah. Mata Levia membesar saat melihat mereka ber 5, tanpa sadar butiran bening mulai terlihat dikelopak matanya. Ketua darah besi yang melihat mata Levia yang mengeluarkan butiran bening pun terheran.
"Apaka- " ucapan pria itu belum selesai tapi terpotong dengan tangisan Levia, ia tersentak saat melihat Levia berlari memeluk salah seorang anak buahnya yang berusia 18 tahun.
"Hiks...kakak...hiks." Levia menangis tersedu - sedu sambil memeluk kaki salah seorang anggota darah besi. Pria itu terkejut, sontak ia tidak tahu harus bagaimana, pria itu pun melirik teman - temannya untuk meminta bantuan akan tetapi teman - teman malah mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Ketua..." ucapnya lirih melirik ketuanya yang hanya memandangi mereka. Ketua darah besi mendekat kearah Levia yang masih memeluk kaki anak buahnya. Ia berjongkok menatap Levia.
"Apakah kau mengenalnya?" Tanyanya kepada Levia, Levia menoleh menatap pria yang memakai topeng dengan mata yang bengkak. Levia mengangguk lalu menjawab.
"Ayah, apakah ayah melupakan kakak? Mereka adalah kakak - kakak Levia." Ucap Levia yang sudah berhenti menangis sambil menunjuk keempat orang yang merupakan anak buah ketua organisasi darah besi. Levia kemudian melirik salah satu anak buah ayahnya yang berada dibarisan paling kanan serta menurutnya tidak dikenalinya terlihat berusia 19 tahun.
"Ayah, siapa dia? Apakah dia teman kakak?" Tanya Levia polos menunjuk orang yang diliriknya.
"Hm... perkenalkan diri kalian!" Ucap ketua darah besi memandang mereka, ia berdiri dan menggendong Levia kedalam pelukannya, lalu memandangi anak buahnya untuk segera mengenalkan diri.
"Nama saya Grhuy, salam kenal nona." Ucap salah seorang yang berusia 17 tahun berada dibarisan paling kiri membungkuk.
"Nama saya Arken, salam nona." Ucap seseorang yang berada dibarisan kedua bagian kiri terlihat berusia sama dengan Grhuy.
"Nama saya Myqel nona, salam kenal." Ucap seseorang yang berada dibagian tengah serta orang yang kakinya dipeluk Levia.
"Nama saya Derny, salam kenal nona." Ucap seseorang yang berada dibarisan keempat dengan usia 19 tahun.
"Nama saya Kart nona." Ucap orang kelima yang tadi dilirik Levia. Levia hanya mengangguk lalu mengenalkan dirinya.
"Levia, 5 tahun." Ujarnya singkat sambil tersenyum cerah. Levia kemudian beralih menatap pria bertopeng yang menggendongnya.
"Ayah, ayah. Nama?" Tanya Levia menarik - narik baju pria bertopeng.
"Herui." Balasnya yang kemudian tersenyum tipis lalu mengelus kepala Levia. Herui menatap mata Levia yang kembali cerah tidak seperti sebelumnya yang hanya terdapat kekosongan.
"Jadi, Via berasal dari mana?" Tanya Herui ramah. Levia menatap mata Herui lalu menjawab.
"Hm, Levia tinggal bersama keluarga Levia, disebuah desa yang sangat indah dan damai. Tapi pada hari itu semuanya dibunuh oleh sekelompok pria berbaju hitam tak terkecuali keluarga Via, Levia selamat karena keluarga Levia -" ucapan Levia terhenti, Herui terlihat kebingungan kenapa Levia berhenti bercerita. 'Apakah dia trauma akan hal itu?' Pikir Herui begitu juga anak buahnya.
Terlihat mata Levia membesar, ia menatap Herui lalu keempat orang yang dianggapnya kakak. Hingga ia mencekram kuat baju Herui, Herui yang merasakan bajunya ditarik pun melirik kearah tangan Levia yang mencekram baju miliknya.
"Kalau semua keluargaku dibunuh lalu kalian...!" Ucap Levia yang terlihat sangat terkejut, Levia menatap kembali semua orang yang ada diruangan itu satu - persatu.
"K- kalian..." lirih Levia saat memandangi mereka semua. Rasanya Levia tidak bisa berkata - kata, Levia menundukkan kepalanya didalam pelukan Herui.
"Turunkan aku!" Ucap Levia pelan mengeratkan tangannya yang menarik baju Herui. Herui yang mendengar ucapan Levia pun menjadi bingung tapi ia tetap menurunkan Levia dari gendongannya. Levia yang telah menginjakkan kakinya ketanah pun melepaskan tangannya dari baju Herui.
"Jangan ada yang mengikutiku!" Ujar Levia yang masih menunduk dengan tangannya yang menggenggam erat gaunnya. Semua orang menjadi bingung tidak tahu apa yang akan Levia lakukan.
Levia menaikkan kepalanya yang menunduk menjadi menatap kedepan. Herui dan anak buahnya terkejut akan tatapan mata Levia yang terlihat mengerikan. Levia melangkahkan kakinya kearah pintu berjalan melewati Herui dan lainnya.
Diluar ruangan Levia berjalan menuju keluar markas dengan kepala menunduk dan tangan yang mengepal, semua orang yang merupakan anggota organisasi darah besi bisa nelihat Levia yang berjalan dengan kepala menunduk. Mulai terdengar suara orang - orang yang sedang membicarakan Levia saat keluar dengan raut wajah yang buruk. Beberapa orang membicarakan Levia secara berbeda - beda, ada yang mencemooh kan Levia, ada yang mengasihani, dan ada yang terlihat khawatir akan kondisi Levia. Levia yang menjadi bahan pembicaraan hanya diam dalam melangkahkan kakinya tanpa menatap ataupun memandang, tiba - tiba sebuah suara yang menghinanya dan orang tuanya membuatnya sangat marah.
"Heh! Kau dengar tadi? Saat dia berjalan dengan ketua, dia memanggil ketua dengan sebutan ayah!" Ucap salah seorang(1)
"Kau benar, aku juga mendengarnya tadi!" Ikut seseorang yang berada didekat orang pertama(2)
"Mungkin saja dia dibuang oleh orang tuanya sehingga ia meminta ketua untuk menjadi ayahnya!" Ucap lagi seseorang yang mendekati kelompok yang mencemoohkan Levia(3).
"Heh! Dia pasti terlalu manja dan suka menhabiskan uang makanya orang tuanya berani membuang dirinya yang tidak berguna itu!" Hina orang yang pertama kali mencemoohkan Levia.
Beberapa perkataan dan tawaan yang keluar dari mulut mereka membuat Levia memuncak semakin marah. Levia yang sudah tidak bisa menahan amarahnya pun tidak segan - segan menyerang mereka.
Levia mengarahkan tangannya kearah sekelompok orang yang menghinanya, dengan cepat sebuah bola api yang besar muncul dari telapak tangan Levia dan melesat kearah sekelompok orang yang mencaci makinya, mereka yang terkejut akan serangan Levia pun tidak sempat menghindar yang pada akhirnya membuat sebuah ledakan yang sangat besar.
BOOM!!!!
Ledakan tersebut membuat sebagian tempat disekitar Levia hancur beserta orang - orang yang terkena ledakan itu menjadi abu hingga hilang diterpa angin, bahkan Herui yang berada diruangannya pun mendengar suara ledakan yang disebabkan Levia begitu juga dengan kelima anak buahnya. Semua orang yang ada dimarkas darah besi segera berlari ketempat ledakan tersebut berasal, mereka mengira musuh telah menyerang markas yang sekarang mereka tempati.
Beberapa orang yang menyaksikan kekuatan Levia pun segera menghampiri seseorang yang mereka sebut sebagai ketua.
"Ketua! Dia - " belum selesai salah seorang berucap, Herui mengangkat tangannya sebagai tanda untuk diam. Semua hening menanti apa yang akan keluar dari mulut ketua mereka.
"Via, apa kau yang melakukan ledakan itu?" Tanya Herui mendekati Levia yang masih dengan amarahnya yang membara. Levia menoleh menatap tajam orang yang bertanya kepadanya.
"Paman! Tidak kukira orang - orangmu adalah seseorang yang menghina orang tua orang lain tanpa bukti!" Kata Levia yang sedikit berteriak. Herui yang memdengarnya pun terkejut dan menghentikan langkahnya secara reflek.
"Via! Apa maksudmu?!" Ucap Herui yang sedikit termakan emosi akan perkataan yang dilontarkan Levia. Levia yang mendengar hal itu mengerutkan dahinya.
"Hm... tanyakan sendiri pada orang - orangmu itu!" Teriak Levia dengan mata melotot, Levia menutup matanya dan menghela nafas dengan beratnya. Ia berbalik berniat pergi meninggalkan tempat dimana organisasi darah besi berada.
Herui yang menanti penjelasan Levia mengerutkan dahinya saat melihat Levia yang berteriak dan berbalik untuk pergi, Herui pun mengejar untuk meminta penjelasan Levia atas serangan terhadap orang - orangnya.
"LEVIA!!! Teriak Herui yang mengejar Levia dengan langkah cepatnya menggunakan elemen angin yang dimilikinya.
Levia menghentikan langkah kakinya dan memutar badannya untuk melihat Herui yang mengejar dirinya.
"Aku meminta penjelasan darimu!! Bukan mereka!!" Bentak Herui saat sampai tepat didepan Levia. Levia mendongakkan kepalanya untuk melihat raut wajah Herui. Terlihat ekspresi Herui yang sangat dingin memandang kearahnya.
"Lalu? Untuk apa mendengar penjelasanku jika kau tidak mempercayai semua yang kukatakan!" Tegas Levia balik memandang Herui dengan tatapan yang sangat dingin.
"..."
Tidak ada satu pun kata - kata yang keluar dari mulut sesosok pria yang bernama Herui. Levia yang melihat reaksi Herui pun hanya menghela nafas dan berbalik berniat melanjutkan langkah kakinya yang terhenti hal itu pun sudah diketahui oleh Herui sehingga ia mencekram tangan Levia dengan sangat kuat. Levia meringis kesakitan, ia menoleh menatap Herui dengan raut wajahnya yang kecewa dan membiarkan wajah bak temboknya terlihat, hal itu pun membuat Herui tersentak.
"Padahal aku tidak ingin melakukan hal ini!" Gumam Levia pelan dengan kepala menunduk yang dapat didengar Herui. Herui mengerutkan dahinya ingin lihat apa yang akan Levia lakukan.
Levia menjentik kan jarinya hingga berbunyi. Tiba - tiba sebuah tanaman merambat melilit tubuh Herui dari balik tanah yang ada dibawahnya. Herui tidak bisa memberontak karena tanaman merambat itu telah melilit seluruh tubuhnya membuat dirinya tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
"APA YANG KAU- " teriak Herui dengan wajah yang penuh akan amarah. Perkataan Herui terpotong akan datangnya gemuruh petir dilangit. Levia menarik tangannya tanpa kesulitan hingga ia menggoyang - goyangkan tangannya untuk menghilangkan rasa sakit yang tertinggal. Melihat Levia yang terlihat biasa saja membuat Herui semakin emosi.
CTAAR
Suara petir menyambar membuat mereka yang ada disana merasa terkejut sebab ketua yang memimpin mereka terlilit tumbuhan merambat yang disebabkan oleh Levia dan tersambar oleh petir saat dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya hal itu terlihat seperti sudah direncanakan atau disengaja. Herui yang tersambar petir terlihat mematung ditempat hingga ia terjatuh ketanah.
Levia hanya menatapnya dengan datar bak tembok. Levia yang merasa urusannya sudah selesai pun berbalik dan berlari dengan kecepatan biasa. Levia merasa ia telah diikuti oleh seseorang sehingga ia yang masih berlari menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang mengikutinya, tapi tidak ia sangka kalau orang yang mengikutinya adalah Herui
Levia yang terkejut mengakibatkan langkahnya melambat hingga membuat Herui semakin cepat untuk menyusul Levia. Kini salah satu tangan Herui telah mencekram leher Levia dengan kuatnya membuat Levia meringis kesakitan.
"Ugh..." Levia memandang Herui dengan raut wajah ketidak percayaan terhadap Herui. Petir yang menyambar Herui tidak lainnya adalah sihir petir yang dikeluarkan Levia tanpa mantra atau ucapan tertentu. Petir tersebut adalah sihir petir terkuat yang Levia miliki saat ini yaitu sihir petir tingkat 1 akhir.
"Pasti kau mengira kesadaranku akan menghilang saat tersambar petir kan? Sebenarnya kau ada benarnya jika saja aku tidak memggunakan pelindung pada tubuhku, pastinya keadaannya akan sesuai dengan keinginan mu!" Ucap Herui yang memandang Levia dingin.
Levia menggigit bibirnya hingga darah segar mengalir dari ujung bibir kecilnya, hal itu membuat Herui mengerutkan dahinya. Levia menggoyang - goyangkan tubuhnya hingga kakinya membuat beban kebelakang untuk menendang perut Herui yang berada didepan kaki Levia.
"Ugh!!!..." suara erangan Herui terdengar saat ia melepaskan tangannya dari leher Levia, tendangan Levia yang tidak terlalu kuat membuat Herui hanys mundur beberapa langkah.
"Cih! Sialan!!!" Ucap Levia sembari mengusap darah yang mengalir dibibirnya. Dikejauhan terlihat beberapa titik kecil yang semakin mendekat, titik - titik kecik itu tidak lainnya adalah anak buahnya Herui yang menyusul.
Levia yang fokus melihat rombongan organisasi darah besi pun lengah hingga membuat celah, Herui yang melihat hal itu pun tidak tinggal diam, ia melaju melesat kearah Levia untuk membalas tendangan yang Levia berikan padanya. Akan tetapi tendangan yang akan Herui kerahkan untuk menyerang Levia sangatlah kuat bagi Levia.
Brukkk
Levia yang tidak bisa mengelak pun melesat mundur hingga terhantam beberapa pohon akibat tendangan yang diberikan Herui membuat tulang belakang Levia patah.
"Uhuk!! Uhuk!!" Levia terbatuk - batuk hingga ia mengeluarkan darah disertai batuknya, Levia yang sedang terduduk ditanah menatap Herui dengan tajam layaknya ingin menerkam mangsanya.
Anak buah Herui yang menyusul sudah sampai didekat Levia hingga mereka membuat Levia terkepung. Levia merasa geram akan situasi yang sedang terjadi padanya, tangan Levia mengepal dengan sangat kuat hingga kuku - kuku kecilnya membuat telapak tangannya lecet yang pada akhirnya berdarah.
Salah satu anak buah Herui maju kedepan berniat memberikan Levia pelajaran karena sudah membunuh teman - temannya yang tidak lain adalah sekelompok orang yang menghina Levia.
"Ketua..." ucapnya yang meminta ijin pada Herui sembari membungkuk kan badannya. Herui diam tak bergeming bahkan ia tidak menjawab. Herui hanya fokus pada Levia yang terduduk didekat pohon - pohon yang sudah tumbang.
"Hm!" Jawab Herui membuat anak buahnya senang.
________________chp 12 end_________________
>>>>Hai hai, saya up lagi nih!! \=^\=
Gimana? kalo suka like ya...
dan kalau ada saran atau ada yang ingin
disampaikan tinggal komentar aja...
bye bye >^< ◇◇◇◇◇