Princess Levia

Princess Levia
Princess Levia :Chapter 19 : Beruang Hitam



"I -INI ... HEWAN MORTAL TINGKAT 3?!" Teriak mereka berdua secara serempak. Fui dan Muye mundur selangkah demi selangkah dengan wajah ketakutannya.


"Sial!! Kita dijebak oleh 'orang itu' !!!" Geram Fui ketika mengetahui siapa dalang dari masalah yang ada didepan mereka saat ini.


'Orang itu?!' Kaget Muye saat mendengar perkataan Fui. Muye menoleh kebelakang dimana Levia berada yang masih dengan muka datarnya, ia benar - benar tidak peduli akan hal itu.


'Andai saja aku bisa menyuruh Whiti untuk membunuhnya, tapi jika seperti itu, aku tidak akan mendapatkan poin donk!!!' Kesal Levia didalam hatinya.


"Gadis kecil cepatlah pergi! Kami akan mengatasi monster itu jadi pergilah secepat yang kau bisa!!!" Teriak Muye yang menghawatirkan Levia.


"Dia benar!! Biar kami yang mengurus hewan kecil itu." Timpal Fui, Levia hanya diam tak bergeming dari tempatnya hingga bibir Levia terangkat untuk mulai bicara.


"Kalian tidak akan bisa mengalahkannya. Walau hanya hewan mortal tingkat 3, dengan energi yang sedikit karena pertarungan tadi, kalian tidak akan bisa melawannya malahan mungkin kalian yang akan mati ditangannya." Ucap Levia dengan tampang tenangnya tanpa merasa khawatir sedikitpun.


Fui dan Muye mengerutkan dahi mereka, merasa heran sekaligus cemas. Mereka heran dari mana Levia tau kalau mereka sedang kelelahan saat ini, dan juga rasa cemas akan tau kalau mereka akan kalah jika melawan.


"Biar aku yang mengurusnya, kalian menyingkirlah." Lanjut Levia yang membuat mereka berdua tersentak kaget.


"Apa maksudmu mengurusnya?! Apa kau bercanda?! Kau tak akan bisa melawannya!!!!" Teriak Fui yang semakin dibuat khawatir.


"Jangan meremehkanku." Ucap Levia menimpali perkataan Fui. Levia melangkah mendekat dengan tenangnya tanpa merasa takut sekalipun begitu juga dengan hewan mortal tingkat 3 itu yang semakin mendekat sembari melangkah dengan muka garangnya. Sedangkan Fui dan Muye sedang bersembunyi karena paksaan Levia yang tak ingin diganggu.


"Heh!!!" Levia menyeringai tepat disaat ia berhenti melangkah. Tapi bukannya menyerang, Levia malah membelai bulu hewan mortal itu. Hewan bersosok beruang itu hanya diam tanpa melawan ataupun merasa senang saat tangan Levia membelainya.


"Tenangkan dirimu. Jangan terbuai dengan sihirnya." Gumam Levia yang menempelkan dahinya dikepala beruang itu.


'Tak kukira ternyata, beruang ini terkena sihir hipnotis yang membuatnya marah.'


Beruang itu kini tampak semakin tenang dari pada sebelumnya saat ia pertama kali memunculkan wujudnya. Semakin tenang beruang itu semakin terasa juga perasaan gelisah yang dirasakannya.


"Grrrr... apa yang terjadi?!" Gelisah beruang itu yang kini sudah sepenuhnya sadar, Levia yang melihat itu pun membelai kepalanya berusaha untuk menenangkannya.


"Kau sudah sadar?" Tanya Levia dengan lembut.


"Manusia?!" Kaget beruang itu saat melihat Levia, raut mukanya berubah menjadi sangat marah serta garang.


"Dimana anakku?!" Teriaknya dengan amarah yang menggebu - gebu.


"Anak? Apakah orang yang menghipnotismu telah menculik anakmu?!" Tanya Levia yang masih begitu tenangnya.


"Menghipnotisku?!"


"Ah!! Dia... manusia itu telah pergi?!" Cemas beruang itu setelah mengingat apa yang sebelumnya telah terjadi.


"Dia ... hei beruang, jika kau ingin menyelamatkan anakmu, aku bisa membantumu." Ucap Levia yang membuat beruang itu memperhatikan dirinya.


"Heh! Manusia sepertimu?! Aku tidak butuh bantuan dari manusia manapun!!!!" Balasnya


"Jika kau pergi menyusul orang itu dengan keadaanmu yang sekarang, kau tidak akan bisa membawa anakmu dengan selamat. Mungkin lebih tepatnya kaulah yang akan membunuhnya." Ucap Levia dengan tampang seriusnya.


"Apa maksudmu?!"


"Kau telah dihipnotis dengan sihir miliknya, dengan begitu kau akan menganggap semua yang kaulihat adalah musuhmu tak terkecuali anakmu sendiri."


"Heh apa kau pikir aku akan percaya dengan perkataanmu?!"


"Percaya atau tidaknya itu hak dirimu, aku tidak akan memaksa. Tapi aku akan tetap membunuhmu." Ucap Levia dengan entengnya.


"Kau berniat membunuhku?!"


"Kalau tidak seperti itu, kau hanya akan membahayakan semua mahkluk yang ada dibawah tingkatanmu."


"Cih!! Baiklah. Kau selamatkan anakku, maka aku akan menyerahkan nyawaku dengan segenap hati!"


"Bagus!!" Gembira Levia yang membuat beruang itu menjadi curiga.


"Kita akan mencarinya sekarang."


"HEI KALIAN BERDUA!!!!!!" Teriak Levia yang memanggil Fui dan Muye.


"Gadis itu masih hidup?!" Ucap Fui yang tidak percaya saat mendengar teriakkan Levia.


"Sebaiknya kita menyusulnya. Bukankah tadi dia berteriak untuk memanggil kita berdua?." Ucap Muye yang membalas perkataan Fui.


"Ayo!" Fui mengangguk dan segera berlari begitu juga dengan Muye yang tak ingin ketinggalan.


"Hei gadis ke- " perkataan Fui terhenti saat ia melihat beruang dengan tingkatan mortal 3 itu masih hidup tanpa adanya luka sekalipun disekujur tubuhnya.


"Ada apa?" Tanya Muye yang menyusul tanpa melirik kearah Levia maupun beruang itu.


"Hewan mortalnya masih hidup?!" Ucap Fui tanpa menyembunyikan wajah ketakutannya.


"Kau bisa melihatnya sendiri kan?" Levia menatap Fui dengan malasnya.


"T- tapi kau bilang -"


"Aku bilang, bahwa `aku akan mengurusnya' bukan membunuhnya sekarang."


"Beruang ini tidak akan menyerang kalian jika kalung ini masih ada padanya." Ucap Levia sembari menunjuk kalung yang baru saja ia beri.



"Apakah dia betina?" Tanya Fui tiba - tiba yang membuatnya menjadi pusat dari semua mata yang memandang.


"Dari mana kau dapat pemikiran seperti itu?" Tanya Muye yang penasaran akan isi dari otak milik Fui.


"Kalungnya itu seperti untuk perempuan, jadi kukira dia beruang betina." Balas Fui yang mengeluarkan pendapatnya.


"..."


"Beruang ini memang betina, oleh karena itu kita akan mencari anaknya." Ucap Levia yang memecah keheningan akibat perkataan Fui.


"Anak?"


"Ya. Apakah kalian masih ingat akan orang yang telah menjebak kalian itu?" Tanya Levia yang yang dibalas anggukan oleh Fui.


"Saat bertemu, apakah kalian melihat bayi beruang bersamanya?" Tanya Levia lagi.


"Bayi beruang? bukankah itu bayi yang ia selamatkan dari harimau yang hendak memakannya?" Bingung Muye.


"Oh? Dia bilang begitu kah?"


"Ya, dia juga menuduhku. Bahwa aku akan mencuri bayi beruang itu, padahal aku hanya ingin mengelusnya saat bertemu dengannya, dan saat itu juga ada seekor lalat penganggu datang mengacau!" Ucap Fui yang tak lupa untuk mengejek seseorang.


Sedangkan orang yang merasa diejek pun hanya bisa mendengus kesal.


"Baiklah, kita akan mendapatkan kembali bayi itu!" Tegas Levia.


"Eh tunggu, kenapa sekarang kau yang menjadi ketuanya gadis kecil?" Bingung Muye yang menyadari hal janggal sedari tadi.


"Memang kenapa?" Tanya Levia yang terdapat sedikit ancaman dari nada bicaranya.


"Tapi bagaimana caranya kita mengetahui dia ada dimana? Bukankah dia sudah pergi saat aku dan orang itu bertarung?!" Ucap Fui sembaru menunjuk Muye tepat disaat ia berkata "orang itu". Sedangkan Muye hanya diam tak ingin berdebat lebih lanjut lagi.


"Kita hanya perlu melacaknya." Balas Levia yang mengarahkan tangannya kebawah atau lebih tepatnya ketanah. Telapak tangannya kini telah bersentuhan dengan tanah yang ia pijaki, dengan menyalurkan energi miliknya ia dapat mengetahui keberadaan seseorang dengan jangkauan tertentu. Semakin luas jangkauannya maka semakin banyak juga energi yang dibutuhkannya. Setelah 2 menit berlalu mata Levia akhirnya terbuka dan segera berdiri merasa waktu yang telah ia habiskan terlalu lama.


"Aku menemukannya, 200 meter tepat dibelakang kita terdapat 1 pohon besar, carilah cahaya api unggun didekatnya." Ucap Levia yang mengetahui letak orang yang mereka cari.


"Api unggun? Apakah orang itu bodoh?" Heran Fui saat mendengar ucapan Levia.


"Kau tidak tau, pohon besar itu memiliki energi disekelilingnya. Kemungkinan besar pohon itu menjadi media untuk dirinya bersembunyi. Dengan api unggun yang ia buat, dia akan memancing musuhnya untuk mendekat dan membunuhnya disaat musuhnya lengah." Ucap Levia yang menjelaskan perihal pohon besar yang ia temukan.


"Kau punya rencana?" Tanya Muye tak jelas siapa orang yang sedang ia tanyai


"Tidak."


"Tidak."


"Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mengambil kembali bayi beruang itu?" Tanya Muye yang dilanda kebingungan.


"Pikirkan sendiri, orang yang akan kesana itu kalian berdua bukan diriku." Ucap Levia yang membuat Fui dan Muye membeku sekaligus menegang.


"Apa maksud- "


"Pergi atau dimakan beruang ini?" Ancam Levia disertai senyum merekah saat menyela perkataan Fui.


"Dan jangan berlama - lama!" Titah Levia kepada Muye dan Fui. Mendengar titah Levia benar - benar membuat Fui mendesah kesal, karena tak bisa melawan mereka berdua pun melaksanakan tugas dari sang gadis kecil yang bijaksana.


Melihat jaraknya dengan pohon besar itu membuat Muye mendapatkan rencana yang bisa dibilang sederhana.


"Aku akan berperan menjadi umpan, saat ia akan menyerangku segeralah serang menggunakan sihir andalanmu!" Jelas Muye yang mengatakan rencana miliknya, sedangkan Fui hanya mengangguk tak ingin berlama - lama seperti yang dikatakan Levia.


◇♡[Princess Levia]♡◇~


"Grr, apakah kau yakin mereka bisa menyelamatkan anakku?!" Tanya beruang dengan tingkat mortal itu kepada gadis yang sedang enak - enaknya memakan apel miliknya.


"Um? Kau tak perlu khawatir. Jika mereka gagal berarti mereka mati. Sebentar lagi mungkin saja mereka datang." Balas Levia sembari membuang apel yang telah ia makan sebelumnya.


"Tapi ini sudah hampir sangat lama." Cemas beruang itu, ia bukannya cemas terhadap 2 bocah berbeda gender itu tapi ia cemas pada anaknya yang tak ia ketahui kabarnya.


Benar yang dikatakan beruang mortal itu, Muye dan Fui belum kembali setelah 30 menit lamanya mereka menunggu. Walau begitu Levia terlihat tak cemas maupun khawatir sama sekali.


"Mereka akan segera datang." Ucap Levia yang duduk dan bersender pohon yang ada dibelakangnya, dengan mata tertutup ia menunggu kedatangan kedua bocah yang sedang berkelahi itu.


Seperti yang dikatakan Levia, tak lama setelah itu Muye dan Fui datang dengan keadaan yang bisa dibilang cukup parah untuk luka - luka yang mereka dapat.


"Grr!!"


"Oh mereka sudah datang?" Tanya Levia masih dengan mata tertutup.


"Bagaimana? Apakah berhasil?"


"Ya." Balas Muye yang langsung duduk ditanah, terlihat dibelakang terdapat Fui dengan beruang kecil ditangannya. Sontak saja ibu beruang itu berlari mendekat dengan kekhawatiran yang sudah memuncak.


"Kalian lama sekali!" Ucap Levia yang terdengar kesal, mungkin karena waktu yang ia pakai untuk saat ini sudah sangat lama. Mata Levia terbuka menampilkan mata berlian ungu miliknya.


"Oh, kalian terluka?" Ucap Levia lagi tanpa ada rasa ingin membantu sedikitpun. Fui menyerahkan bayi beruang yang kini telah tertidur kepada induk sang bayi.


"Tak apa aku bisa menyembuhkannya sendiri." Balas Fui yang menjulurkan tangannya. Hingga terlihatlah 2 butir pil kecil dengan warna hijau terang ditelapak tangan Fui.


"Itu sihir atau hanya mengeluarkan pil dari cincin penyimpananmu?" Ucap Levia yang memperhatikan Fui sedari tadi saat melihat dijari manisnya terdapat cincin.


"Ah? Ini pil dari cincin semesta milikku." Ucap Fui yang langsung menelan kedua pil itu tanpa air.


"Bukankah kau penyihir? Kau bisa menggunakan sihir penyembuh dengan begitu lukanya akan cepat pulih." Ucap Levia yang heran terhadap Fui.


"Aku memang penyihir, tapi energi milikku terkuras terlalu banyak saat bertarung tadi."


"Oh, begitukah. Kukira waktu yang kuberikan tadi sudah cukup bagi kalian." Ucap Levia yang menatap datar Muye serta Fui.


"Tadi?" Beo Fui yang tak mengerti


"Saat aku akan melawan beruang itu, bukankah saat itu aku pergi sedikit lama." Ucap Levia yang membuat Fui mengangguk - anggukkan kepalanya.


"Dia bagaimana?" Tanya Levia menatap Muye yang masih terpejam.


"Dia, kurasa cukup parah. Karena dia bukanlah penyihir jadi ya begitulah." Balas Fui. Levia beralih menatap induk beruang yang kini memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Bayimu sudah kembali dengan selamat, sudah saatnya kau menepati perkataanmu!" Ucap Levia yang menagihkan hal yang diinginkannya sedari tadi. Beruang itu menoleh dan menatap Levia hingga


"Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya akan menyerahkan nyawa saya dengan sepenuh hati." Ucap beruang itu yang hanya dimengerti Levia. Dengan rasa hormat beruang itu menundukkan dirinya sebagai penghormatan dan bersiap untuk menemui ajalnya.


"Tapi, saya bermohon kepada anda. Jika berkenan berilah anak saya nama sebelum saya pergi meninggalkannya."


"Baiklah, jika itu kemauan mu." Balas Levia yang menatap bulu berwarna hitam pekat itu, berbeda dengan sang anak yang berwarna putih dan corak aneh berwarna hitam.


"Apakah dia perempuan?" Tanya Levia yang hendak memberi nama


"Benar, anak saya berkelamin perempuan." Jawab beruang itu yang masih dengan posisi penghormatannya. Mendengar hal itu membuat Levia berfikir nama apa yang cocok dengan beruang kecil itu. Setelah banyaknya nama terdaftar dibenak Levia hanya 1 nama yang ia pilih.


"Itana, namanya Itana. Mulai sekarang nama beruang itu adalah Itana." Ucap Levia yang entah mengapa memilih nama itu. Levia berdiri dari tanah yang ia duduki, cukup sebentar ia menepuk - nepuk bajunya yang kotor agar terlihat bersih dari debu walau hanya sedikit. Dengan langkahnya yang biasa saja ia mendekat menuju beruang berbulu hitam pekat yang dalam posisi penghormatannya.


"Terima kasih. Sekarang saya sudah siap untuk menerima akhir dari hidup saya."


"Apa kau tidak keberatan dengan itu semua?" Tanya Levia yang sedikit heran. Bagi semua ibu pasti tak ingin berpisah dengan sang anak tercinta jikalau itu harus mengorbankan nyawa sekalipun.


"Saya sama sekali tidak keberatan jika anda bisa menjaganya untuk saya." Ucapnya yang terdengar sangat tulus ditelinga Levia. Levia tersenyum seketika saat mendengarnya. Tangan mungilnya yang kecil itu kembali mengelus kepala beruang dengan lembutnya tanpa memperdulikan seseorang yang sedang dilanda kebingungan sedari tadi.


¤○¤ Princess Levia ¤○¤


Fui serasa dilanda kebingungan sedari tadi. Sejak ia memperhatikan sosok gadis kecil yang sempat memperintahkannya itu terlihat sedang berbicara, tapi yang paling Fui tak mengerti adalah. Yang diajak Levia berbicara adalah beruang yang belum mencapai tingkatan yang bisa berbicara dan lagi beruang itu hanya mengeram menjawab beberapa ucapan Levia. Fui benar - benar tak mengerti apalagi beruang itu hanya mengeram yang tak jelas apa artinya.


"Apa kau tak keberatan dengan itu semua?"


`keberatan? Apa yang sebenarnya gadis itu bicarakan?!'


"Grr!!"


`Lagi - lagi itu yang kudengar!!! Sebenarnya kalian tuh lagi membicarakan apa sih?!' Geram Fui yang hanya bisa ngomong tak jelas dalam hati.


"Huh?!" Fui terkesima saat melihat Levia yang tersenyum sembari mengelus kepala beruang mortal tingkat 3 itu dengan lembut.


"Baiklah."


`baiklah? Apa lagi yang akan dia lakukan?!'


Fui semakin dibuat kebingungan dengan apa yang ia lihat serta dengar. Fui yang memperhatikan pun tak menyadari jika kejadian selanjutnya yang akan terjadi tak pernah ia bayangkan dalam benaknya.


Sebuah kejadian yang disebabkan oleh seorang gadis kecil, dengan tangan mungilnya itu juga ia mengambil pisau miliknya dari sistem penyimpanan. Tangannya seolah bergerak tanpa ada jejak keraguan saat ia mengayunkan pisau tajam itu kearah beruang hitam yang masih dengan posisi menghormati.


"Aku Levia akan membuat perkataan yang keluar dari mulutmu itu menjadi terpenuhi. Dengan begitu, semoga kau tenang dan, selamat tinggal."


Mata Fui sontak saja melebar saat melihat gerakan tangan Levia yang memegang pisau, tentu ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi ia benar - benar tak mengira hal itu.


Jleeb!!!


Suara pisau menusuk sesuatu dapat didengar Fui dengan jelas serta pemandangan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Mungkin jika ia menceritakannya kepada orang lain, pasti tidak akan ada yang mau mempercayai ucapannya.


Seorang gadis berusia 5 tahun yang sudah menyelamatkan anaknya( walau tidak secara langsung), kini membunuh sang ibu tanpa ada keraguan dari gerakkannya.


Senyum yang sebelumnya menghiasi wajahnya kini sudah luntur sepenuhnya, hanya wajah datar tanpa emosi yang dilihat Fui.


Tangan Levia yang masih memegang gagang pisau itu sedikit bergerak hingga dengan sekali cabut pisau itu mulai terlepas dari tubuh ibu beruang yang sudah ambruk jatuh ketanah. Levia mengambil kalung yang sebelumnya ia berikan pada beruang hitam, ia menatapnya cukup lama hingga, Levia menjentikkan jarinya dan tiba - tiba saja tubuh beruang hitam itu mulai terbakar sampai mejadi abu yang melayang diudara. Dengan sekali goyangan tangan abu itu menghilang dan berada didalam kalung yang ia pegang.


Fui lagi - lagi dikejutkan dengan terbakarnya mayat beruang hitam tanpa terlihat api apa yang membuatnya terbakar. Walau suasana malam itu terlihat gelap setiap kejadian yang terjadi nampak begitu jelas akibat sinar dari bulan yang menerangi gelapnya hutan.


Merasa waktu yang ia habiskan terlalu lama, Levia menghampiri bayi beruang yang mirip panda itu, Levia yang melihat beruang itu tertidur pun hanya bisa menghela nagasnya lega, tak ingin sang bayi melihat kematian ibunya sendiri.


¤◇¤ princess Levia¤◇¤


Cling!!!


[Tuan telah menyelesaikan misi tersembunyi!! Tuan mendapatkan 15.000 poin.]


Levia menatap pisau yang digenggamnya dengan erat, terdapat bercak darah dipisau yang mengkilat itu. Sesaat kemudian Levia menoleh menatap Fui yang masih dengan wajah terkejut.


"Apa dia tertidur?" Tanya Levia kepada Fui, tak jelas siapa yang sedang dibicarakan Levia. Fui yang ditanya pun menjawab.


"Ya," Fui mengira jika yang sedang dibicarakan oleh Levia itu adalah beruang hitam yang sebelumnya dia bunuh.


"Mungkin untuk selamanya." Lanjutnya.


_________________chp 19 end_______________