Princess Levia

Princess Levia
Princess Levia :Chapter 5 : Mempelajari Sihir sederhana



Diperjalanan mencari sungai sering kali anak kecil itu berbicara.


"Oh ya, namaku Ikey, kamu bisa memanggilku key dan juga umurku 7 tahun." Ucapnya memperkenalkan diri.


"Hem..."


"Setidaknya kenalkan dirimu dong!" Ujarnya yang terlihat sedikit kesal memandangi Levia.


"Levia 5 tahun." Jawab Levia singkat yang masih memandang kedepan. Hingga terlihatlah dari kejauhan sebuah sungai yang jernih.


"Ah sungai, kita sudah sampai!" Ucap Key senang dengan tangan yang menunjuk kedepan, karena ketidak sabarannya yang tinggi Key segera berlari mendekat kearah sungai meninggalkan Levia yang masih terlihat tenang.


"VIA!! KAMU LAMA SEKALI, AYO CEPAT SEDIKIT!!" teriaknya yang sudah sampai didekat sungai dengan tangan yang melambai - lambai.


"Ah bocah itu!!" Gumam Levia yang sedikit kesal pada Key yang terlalu berisik. Levia yang sudah sampai pun segera membersihkan apel yang ia bawa. Sekilas Levia melirik kearah Key yang tiduran dibawah pohon yang dekat dengan sungai. Selesai membersihkan apelnya Levia melangkah mendekat kearah Key sambil membawa sekantung apel yang masih basah.


"Key apel!" Ujar Levia melemparkan apel yang masih basah kearah Key, Key yang merasa terpanggil pun membuka matanya dengan otomatis ia menangkap apel yang terlempar kearahnya. Key langsung memakan apel yang ada ditangannya tanpa ragu.


Levia mengikuti Key memakan apel yang masih basah, ia menggosok apel kebajunya dan langsung memakannya.


"Hei Via, kamu tinggal dimana?" Tanya Key yang masih memakan apelnya dan memandang kearah Levia.


"..." Terlihat Levia memandang keatas melihat langit yang cerah tertutup oleh dedaunan. Key yang melihat reaksi Levia hanya diam lanjut memakan apelnya.


____________


"Lebih baik kita pulang sekarang." Ucap Levia berlenggang pergi meninggalkan Key yang terdiam, Key yang sadar Levia meninggalkannya pun segera berlari mengejar Levia yang menjauh.


"Via!! Tunggu!!!" Teriak Key saat sudah dekat dengan Levia. Key terhenti saat Levia berhenti melangkah. Key mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


"Sebaiknya kau pulang saja." Ucap Levia yang mengetahui niat Key mengikutinya.


"Tapi kan aku ingin tahu kamu tinggal dimana!" Ujarnya bersemangat saat ingin tahu dimana Levia tinggal.


"Nanti kamu akan mengetahuinya sendiri." Ucap Levia berlari dan melompat kepohon satu dan kesatunya lagi meninggalkan Key yang mematung ditempatnya.


"Tidak aku kira dia akan sehebat itu padahal kan dia perempuan." Ujarnya dengan heran sambil memegang dagunya dengan tangan kanan seakan mulai berfikir serius. Tiba - tiba sebuah suara mulai terdengar membuat Key menoleh melihat asal dari suara itu.


"PANGERAN!!" Teriak seseorang yang berlari dibelakang Key.


"Ada apa?" Tanya Key keheranan akan pengawalnya.


"Pangeran seharusnya anda jangan pergi kemana - mana!! Kita harus segera kembali atau nanti kita akan terlambat datang keacaranya!" Ucapnya yang mulai menarik Key dengan paksa tanpa menghiraukan reaksi darinya.


____________


Levia yang sampai dikamarnya pun dikejutkan dengan kedatangan pelayannya Nay yang tergeletak dibawah dan seorang yang mengawasi selir pertama Pimxi yaitu Chin.


"Ada apa ini?" Ucap Levia dengan wajah tenang dan langsung duduk diatas kursi yang ada didekatnya.


"Salam putri, saya ingin melaporkan rencana yang akan selir pertama lakukan pada anda." Ucap Chin yang berlutut memberi salam.


"Owh apa itu?" Ujar Levia dengan seringainya.


Chin menjelaskan rencana selir pertama Pimxi yang dia dengar. Chin mengatakan Selir Pimxi akan mempermalukan Levia disaat tamu kerajaan Nuis datang berkunjung. Tetapi selir Pimxi hanya memendam rencananya sendiri dibenaknya sehingga Chin tidak tau secara detail rencana selir Pimxi.


"Hm, bagus terus awasi selir pertama!" Ucap Levia memandang Chin dengan datar.


"Baik." Balasnya yang masih berlutut.


"Oh dan juga jelaskan apa yang terjadi dengan pelayan Nay!" Ucap Levia sebelum Chin menghilang pergi mengawasi selir Pimxi.


"Ah, itu... saat saya ingin menyampaikan laporan akan rencana selir pertama tiba - tiba datang pelayan itu yang memasuki kamar putri tanpa mengetuk, karena saya tidak mau keberadaan saya diketahui maka saya membuatnya pingsan sebelum melihat saya yang ada dikamar putri." Jelasnya.


"Baiklah, kamu boleh pergi." Ujar Levia yang berdiri dan segera membaringkan tubuhnya ditempat tidurnya saat Chin sudah menghilang dari hadapannya.


"Uh.... aku rasanya ingin mempelajari sihir pengganti agar tidak perlu mengganti pakaian." Ucap Levia mengeluh.


[Tuan bisa mempelajarinya disistem dengan beberapa poin sebagai pertukarannya.]


Tiba - tiba sistem menyahuti perkataan Levia yang membuat Levia sedikit terkejut karena melupakan keberadaan sistemmya kecuali dimensi kehidupan yang ada disistem.


"Ah sistem... memang berapa poin yang diperlukan untuk mempelajari beberapa sihir dengan sempurna?" Tanya Levia yang terlihat berbicara sendiri.


[Tergantung sihir yang ingin tuan pelajari.] Jawabnya.


"Kalau begitu perlihatkan beberapa sihir dasar yang berguna!" Ucap Levia, kemudian terlihat didepan wajah Levia terdapat layar transparan dengan beberapa sihir yang berguna bagi kehidupan sehari - hari.


"◇Sihir pengganti : sihir yang mengganti pakaian yang dipakai berubah menjadi seperti yang diinginkan (pikiran). - pelajari hingga sempurna : 20 poin.


◇sihir pembersih : sihir yang dapat membersihkan apapun yang diinginkan seperti tubuh. - pelajari hingga sempurna : 20 poin." Sihir dasar yabg diinginkan Levia hanya dua, sihir pengganti dan sihir pembersih yang sudah dijelaskan.


"Hem... baiklah pelajari kedua sihir itu hingga sempurna!" Ujar Levia.


[Mempelajari sihir pengganti hingga 0%/100%]


[Mempelajari sihir pengganti hingga 20%/100%]


[Mempelajari sihir pengganti hingga 47%/100%]


...


[Mempelajari sihir pengganti hingga100%/100%]


[### Poin tuan akan dikurangi sebanyak 20 poin.]


[Mempelajari sihir pembersih hingga 45%/100%]


...


[Mempelajari sihir pembersih hingga 100%/100%]


[Poin tuan akan dikurangi sebanyak 20 poin.]


[Tuan telah memahami sihir pengganti dan pembersih dengan sempurna, poin tuan telah dikurangi 40 poin menjadi 70 poin tersisa.]


Suara sistem terus terdengar dikepala Levia, hingga sistem memberitahukan penyelesaian mempelajari sihir yang diminta Levia.


"Em, sistem tampilkan beberapa sihir yang berguna dalam menyerang ataupun bersembunyi!" Ucap Levia setelah memastikan sihir yang telah dipelajarinya. Layar transparan yang ada didepan Levia mulai berubah menampilkan beberapa sihir lainnya.


"Whoah...banyak sekali!" Ujar Levia terkejut akan jumlah sihir yang ada bahkan pengendalian api, air, angin, yang berkaitan dengan semua elemen pun ada. Sihir pengendali elemen tidak memerlukan bakat akan semua elemen.


"Hem... aku ingin sihir api yang memerlukan 25 poin, sihir ilusi dengan 30 poin dan sihir pemotong dengan poin yang tersisa!" Ucap Levia yang memilah 3 sihir yang akan ia pelajari terlebih dahulu meskipun masih belum sempurna.


[Sihir pengendali api, pemahaman 50% dengan 25 poin.]


[Sihir ilusi pemahaman 30% dengan 30 poin.]


[Sihir pemotong, pemahaman 15%, mengurangi poin yang tersisa.]


[Poin tuan telah dikurangi hingga tidak tersisa.]


[Sihir pemotong dengan pemahaman 15%, tuan hanya bisa memotong tulang tingkat 3 batu.]


"Hem... rasanya semua ilmunya masuk kedalam kepalaku. Tidak buruk." Ucap Levia


"Tampilkan biodataku!" Layar transparan yang ada dihadapan Levia lagi - lagi berubah.


◇Nama : Levia Necrivan Whirtay


◇Ras : Manusia


◇Status :??


◇Level : ??


◇Elemen : Api


◇Jurus :??


◇Kualitas fisik : - Tulang tingkat 1 kayu


: - kulit tingkat 1 benang


: - ??


: - ??


"Oh apa itu, biodataku bertambah?" Ucap Levia terkejut.


[Selama tuan terus berlatih apapun itu, data akan diri tuan akan bertambah sesuai dengan kondisi tuan dan ada juga beberapa yang tidak diketahui.] Balas sistem


"Em, sudahlah. Aktifkan sihir pengganti : mengganti pakaian!" Ucap Levia hingga pakaian yang ia kenakan mulai berubah. Levia melangkahkan kakinya kedepan cermin, mata Levia mulai membesar saat ia melihat baju yang ia kenakan.


"Ah, pikiranku mulai melayang kebaju yang ada dizaman modern. Sihir pengganti : mengganti pakaian!" Ucap Levia lagi yang mulai serius memikirkan gaun yang ia pakai sebelumnya sebagai seorang putri. Tiba - tiba terdengar suara erangan dari belakang Levia, tempat pelayan Nay tergeletak. Levia berbalik melihat keadaan Nay yang mulai sadar.


"Tuan putri...?" Ucapnya yang memegangi kepalanya yang sakit.


"Ah, kak Nay!" Ucap Levia sedikit teriak yang memulai aktingnya dan mulai melangkah mendekat.


"Kak Nay apa yang terjadi denganmu?" Ucap Levia yang terlihat khawatir dengan tangan yang membantu tubuh Nay untuk berdiri.


"Saya tidak tahu apa yang terjadi putri." Ucapnya yang masih memegang kepalanya dan mulai berdiri dibantu oleh Levia


"Ah iya putri, saya berniat menyampaikan pesan yang mulia kepada anda." Ucapnya yang sudah berdiri tegak.


"Apa itu?" Tanya Levia.


"Nanti malam yang mulia akan kedatangan tamu dari kerajaan lain, jadi yang mulia memerintahkan semua anggota keluarga untuk ikut datang nanti malam." Ucapnya lagi


"Tamu?" Beo Levia yang mulai teringat akan rencana selir Pimxi.


"Iya putri, ah putri saya lupa menyiapkan makanan untuk putri tadi siang, mohon maafkan pelayanmu ini putri." Ucap Nay yang kemudian berlutut didepan Levia


"..." Levia terdiam dengan pandangan datar pikirannya melayang entah kemana. Hingga ia tersadar kalau pelayannya Nay sedang berlutut meminta ampun akan kecerobohannya. Ia pun segera meminta Nay untuk berdiri.


"Ah, kak Nay tolong berdiri, kakak tidak perlu sampai berlutut!" Ucap Levia yang menggapai tubuh Nay yang masih berlutut.


"Tidak putri! Anda harus menghukum saya!" Ucapnya yang sedikit berteriak.


"Kak Nay kumohon berdirilah, aku tidak bisa menghukum kakak!" Ucap Levia yang terlihat sesugukan menahan tangisnya.


"Pu - putri?!" Nay mendongakkan kepalanya melihat Levia yang mulai menangis.


"Hiks... aku... ti - dak bisa.... hiks...menghukum...hiks...kakak!" Ucap Levia disela tangisannya.


"Putri... mohon jangan menangis." Ucapnya dengan lirih yang terlihat ikut menangis saat melihat majikannya menangis cuma karena dirinya yang hanya seorang pelayan rendahan.


___________chp 5 end__________