Princess Levia

Princess Levia
Princess Levia :Chapter 14 : Tidak Percaya



Levia menoleh dan menatap Zirun sesaat sebelum ia kembali memandangi pistol yang ada ditangannya. Bibir Levia semakin terangkat menampilkan senyum lebarnya saat memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan pistol ini.


"Hm, tidak apa - apa. Pistol ini cukup berguna jika ada musuh yang akan menyerangku." Ucap Levia menjawab pertanyaan Zirun, Zirun yang mendengar hal itu pun menghela nafasnya lega.


"Chin, apakah kau punya peluru cadangan?" Tanya Levia yang masih menatap pistolnya.


"Saya tidak punya nona." Balas Chin masih dengan kepala menunduk. Levia sekilas memandang Chin lalu beralih lagi kesamping tepatnya sebuah pohon yang besar. Levia mengarahkan pistolnya tersebut kemudian memarik pelatuknya.


Dor


Chin dan Zirun terkejut saat mendengar suara tembakan pistol didekat mereka, mereka menoleh keasal suara tersebut. Terlihat Levia dengan tatapan dinginnya sembari tangannya memeggang pistol yang mengarah kesamping, sebuah pohon, ah bukan lebih tepatnya seseorang yang memakai seragam organisasi darah besi. Pria tersebut terjatuh dari pohon dengan kepala yang berlubang disertai darah.


Zirun mengerutkan dahinya hingga membuat beberapa kerutan, Zirun tidak menyangka seorang gadis kecil mampu menembakkan pelurunya tanpa rasa takut terlebih lagi ia bisa mengenai tepat pada sasaran dan juga Zirun yang tidak mengetahui ada sesosok dipepohonan pun sempat terkejut, bagaimana bisa seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun bisa mengetahui ada orang dipepohonan? Sedangkan dirinya tidak mengetahui hal tersebut hanya karena lengah. Begitu halnya dengan Chin, ia tidak menduga kalau nona mudanya sangat mahir dalam menembakkan pistolnya.


"Gadis kecil, bagaimana jika aku menjadi gurumu saja? Kulihat potensimu cukup bagus." Ucap Zirun pada akhirnya.


"Hm? Untuk apa aku menjadikanmu guruku kak Zirun?" Tanya Levia yang menoleh menatap Zirun dengan matanya yang menajam. Cukup bagus? Ha? Bahkan didunianya yang sebelumnya Levia dapat dikategorikan sebagai pemegang pistol yang paling ahli, sehingga para musuhnya mengincar pistolnya terlebih dahulu sebelum menyerang Levia.


"Ah, itu..." Zirun tidak menyangka kalau Levia akan menanyakan hal itu hingga membuat Zirun tidak bisa menjawabnya. Levia melemparkan pistolnya keudara hingga tak berapa lama pistol tersebut menghilang, hal itu lagi - lagi membuat mereka terkejut, tapi keterkejutan itu tak berlangsung lama saat Levia mulai mengutarakan pendapatnya


"Sebaiknya aku mencari tempat tinggal terlebih dahulu." Gumam Levia yang dapat didengar oleh mereka yang ada didekatnya.


"Ah, tuan biarkan saya yang mencari-" belum selesai Chin berkata, Zirun memotong perkataan Chin dengan ucapannya.


"Persoalan tempat tinggal kau tidak perlu memghawatirkanya." Ucap Zirun menatap Levia dengan mata birunya yang memancarkan keyakinan.


"Hm?" Levia seakan tidak percaya akan ucapan Zirun, bagaimana jika ia dikurung untuk memaksanya menjadikan Zirun sebagai gurunya?


"Kau tidak perlu khawatir! Aku tidak akan memaksamu saat ini, nanti pasti pada akhirnya kau akan menjadi muridku Levia, ah bukan calon muridku." Ujar Zirun yang tersenyum penuh makna pada Levia. Levia merasa geram akan orang yang telah menolongnya itu, jika saja orang ini tidak menyelamatkannya dari lubang kematian dia pasti akan menghanguskannya dengan elemen api miliknya.


"Cih!" Levia mendecih seakan tidak punya pilihan lain dan hanya pasrah akan keinginannya untuk membumi hanguskan Zirun, hal itu membuat Zirun sedikit tersentak.


"Haha, baiklah sekarang kita akan pergi menuju tempat tinggalmu, dimana sebuah keluarga akan menyambutmu dengan hangat." Ucap Zirun dengan tawa garingnya lalu berdiri dan menepuk - nepuk bajunya untuk membersihkan debu.


"Heh! Keluarga?" Mata Levia terlihat memancarkan sebuah ketidak berdayaan saat mendengar ' keluarga' , sudah cukup ia menerima kepahitan akan sosok ayah! Walau ia sangat menginginkan sebuah keluarga tapi ia tidak ingin lagi mengalami penghianatan.


'Nona...' Chin yang mendengar ucapan Levia dengan nada ketidak berdayaan pun hanya bisa berdiam diri, tidak bisa melakukan apa - apa.


Zirun sekilas melirik Levia, ia tidak menduga kalau Levia begitu sakit hati saat mendengar kata ' keluarga'.


"Ayo!" Ucap Zirun mengajak mereka berdua untuk menuju ketempat tujuan mereka selanjutnya. Levia segera mengubah raut wajahnya menjadi semula, wajah bak tembok yang datar. Levia pun berdiri dari duduknya.


"Chin, kau kembalilah bersembunyi dibayang - bayang!" Perintah Levia pada Chin dan berlenggang pergi bersama Zirun. Chin yang mendengar perintah dari sang majikan pun segera melaksanakannya.


Diperjalanan mereka berdua tidak mendapatkan hambatan apa pun dari berbagai pihak, mau dari pihak binatang maupun pihak manusia. Hewan - hewan yang ada dihutan tidak berani untuk menyerang Levia dan Zirun karena aura Whiti dan Wlofy yang merembes keluar dari tubuh Levia membuat mereka merasa takut, akan tetapi beda dengan manusia, selama perjalanan mereka berdua tidak bertemu satu pun manusia sehingga perjalanan yang mereka lalui bisa disebut lancar tanpa hambatan.


Sebenarnya Zirun yang sudah bersiap - siap jika saja ada serangan dari hewan monster merasa bingung dan terheran - heran. Dipikirannya ia hanya bisa menduga - duga tanpa tahu apakah hal itu benar atau salah.


Berbeda dengan Zirun, Levia hanya diam tanpa memikirkan hal itu karena ia tahu kalau hal ini menyangkut dengan kedua hewan kesayangannya. Diakhir perjalanan Levia sempat melihat beberapa kediaman disebuah rumah yang amat sangat besar didekat hutan dan perbatasan.


"Kita akan kemana?" Tanya Levia tanpa menoleh dan masih menatap kedepan, dimana gerbang utama untuk memasuki sebuah kerajaan atau perkotaan.


"Hm, kita akan berkeliling terlebih dahulu." Jawab Zirun yang masih fokus menatap kedepan. Terlihat sebuah gerbang yang besar dengan 2 orang penjaga yang menjaga pintu masuk untuk para pendatang serta beberapa orang yang mengantri sambil membawa barang bawaan.


"..." Levia hanya diam dengan muka datarnya. Mereka yang sampai diakhir antrian pun ikut mengantri untuk menuju tempat tujuannya.


Tak berapa lama menunggu hingga antrian ddidepan Levia mulai memasuki gerbang, kini Levia dan Zirun telah berada tepat didepan gerbang dengan 2 orang penjaga, Levia hanya diam menatap ketiga orang yang ada didepannya, terlihat mereka berbincang - bincang dengan ramahnya dan rasa hormat pada Zirun membuat Levia terheran - heran, sebenarnya Zirun itu siapa?


Salah satu penjaga yang sebelumnya fokus berbincang sedikit menoleh dan melihat Levia hingga ia tersadar kalau kedatangan Zirun tidaklah sendiri.


"Ah, maaf apakah gadis itu murid tuan penyihir?" Tanya penjaga itu yang berniat menghilangkan rasa penasarannya. Zirun seketika menoleh kearah yang ditunjukan penjaga itu hingga ia melihat Levia dengan wajah datar bak temboknya.


"Oh, benar! Dia akan menjadi muridku." Balas Zirun dengan senyumnya, mendengar kalau sang pengihir jenius ingin mengangkat seseorang menjadi muridnya pun membuat 2 orang penjaga yang ada disana tersentak, Levia yang mendengar perkataan Zirun dihati dan raut wajahnya terlihat jelas ia berbanding terbalik dengan rasa senang yang selalu dilihat disekeliling Zirun, Levia merasa sebal dan kesal, bukannya mereka juga harus menanyakan pendapat Levia terlebih dahulu?


"Hei! Siapa bilang aku akan menjadi muridnya!!" Ucap Levia sedikit berteriak dengan jari telunjuknya mengarah pada Zirun. Zirun yang mendengar hal itu hanya bisa berpura - pura memasang raut wajah sedih.


"Apa - apaan raut wajahmu itu!!" Ujar Levia yang semakin kesal saat melihat ekspresi yang Zirun tunjukan, kedua penjaga itu hanya bisa terkejut mendengar ucapan Levia, tidak ia sangka kalau ada orang yang menolak untuk menjadi murid dari penyihir termuda dan paling jenius dari lainnya.


Teriakkan Levia membuat mereka berempat menjadi pusat perhatian, mereka yang sadar akan hal itu pun menjadi diam sejenak hingga Zirun yang sedari tadi diam beserta lainnya mengucapkan sesuatu dengan wajah risihnya.


"Ah, sudahlah. Sebaiknya kita pergi terlebih dulu dari sini!" Ucap Zirun yang pasrah akan perkataan Levia dan sedikit risih akan pandangan orang - orang disekitar mereka.


"Jadi hal pertama apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Zirun sesampainya didalam yang menatap Levia menanti balasan.


"..." Levia tidak menjawab, hanya diam menatap Zirun dengan datarnya. Zirun menghela nafasnya pasrah lagi akan Levia.


"Bagaimana kalau kita makan dulu?" Tanya Zirun dengan senyum canggungnya, Levia hanya mengangguk tanda ia menyetujuinya, mereka pun kembali melangkah kedalam untuk mencari kedai atau restoran. Zirun berhenti tepat didepan sebuah bangunan bertingkat 3 yang tidak terlalu mewah serta banyaknya orang yang datang dapat dilihat dilantai 1 yang cukup ramai, Levia ikut menghentikan langkahnya dan menoleh memandangi bangunan yang ada didepannya tak lama berselang ia beralih menatap Zirun untuk menunggu keputusannya.


"Haha, bagaimana kalau disini saja?" Tanyanya dengan senyum yang canggung membuat Levia bingung. Levia hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Zirun yang memasuki bangunan bertingkat 3 itu.


Terlihat dilantai 1 cukup ramai, sebagian banyak pria meminum minuman alkoholnya dengan wajah yang sangat senang dan beberapa pelayan wanita yang menemani jika ada yang bisa dibantu olehnya.


Zirun tidak terganggu dengan bau menyengat dari alkohol tapi ia cukup khawatir akan Levia, jika dia akan muntah tidak kuasa menahan mualnya. Tetapi yang ia lihat berbanding terbaling dengan yang ia pikirkan, Levia hanya diam disamping Zirun dengan menatap sekeliling dengan wajah tenangnya tanpa ada rasa terganggu hal itu cukup membuat Zirun tersentak.


Tidak ingin membuang waktu, Zirun segera memesan meja dilantai 2 dengan suasana yang sedikit tenang akan keramaian.


"Via, kau ingin pesan apa?" Tanya Zirun menatap Levia dengan senyum hangatnya. Levia beralih dari pandangannya dan menatap Zirun dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan ketenangannya. Zirun memiringkan kepalanya hingga ia menyadari Levia tidak bisa menjangkau meja kasir yang ada didepannya, Zirun mengangkat Levia kedalam pelukannya untuk bisa melihat menu apa saja yang ada.


Levia memukul - mukul dada Zirun dengan pelan berusaha untuk tidak melukainya. Zirun yang menyadari hal itu menatap Levia dengan bingung hingga Levia mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya.


"Turun!" Ucap Levia yang tidak terlalu keras dan pelan, Zirun hanya memiringkan kepala tanda ia tidak mengerti.


"Ap-" belum selesai Zirun berkata, Levia memotongnya dengan suara pelannya.


"Ayam bakar dan segelas teh!" Ucap Levia dengan tangan mencekram baju Zirun, Zirun yang sudah mendengar pesanan Levia pun menurunkannya dari gendongannya, lalu kembali menatap pelayan yang ada dihadapannya. Pelayan itu memandangi gaun yang dipakai oleh Levia, walau terlihat kotor tapi kualitasnya sangat bagus layaknya para putri bangsawan, pelayan itu mengira Levia adalah seorang putri bangsawan yang tersesat dan bertemu dengan penyihir termuda serta peling jenius.


"Ayam bakar 2 dan segelas teh!" Ucap Zirun lalu menyerahkan 2 koin emas pada pelayan itu, pelayan wanita itu hanya mengangguk tanda ia mengerti. Walau dimenu tidak tertera minuman teh untuk lantai 1 dan 2, tapi pelayan itu tahu kalau gadis kecil yang ada disamping Zirun adalah seorang putri. Maka pelayan itu pun hanya menurut saja.


"Ayo, kita kelantai 2." Ucap Zirun memegang tangan Levia untuk menuntunnya menuju lantai 2. Levia hanya menurut tanpa penolakan apapun. Dilantai 2 mulai terlihat orang - orang dengan pakaian yang sedikit berkualitas, itu menunjukan bahwa mereka adalah seorang saudagar - saudagar kaya atau pun para bangsawan rendah. Saat mereka mulai masuk, entah kenapa membuat mereka menjadi pusat perhatian, Levia yang pertama menyadari hal itu tapi ia tidak terlalu memikirkannya tapi berbeda dengan Zirun.


"Via, mungkin kau perlu mandi terlebih dahulu!" Ucap Zirun dengan senyum canggungnya, tidak enak hati untuk mengatakan hal tersebut. Levia tidak mempermasalahkannya lebih jauh hingga ia pun meminta salah satu pelayan untuk mengantarkannya. Zirun tidak akan menunggu Levia dengan kakinya yang berdiri sehingga ia pun mendekat kearah salah satu meja yang berdekatan dengan jendela.


Berbeda dengan situasi Levia yang mulai membaik, sekarang disebuah ruangan yang hanya dihiasi dengan meja kerja beserta kursi, tempat tidur, dan meja rias untuk menyamar. Disana terlihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk dikursi kerjanya dan menatap tajam beberapa orang yang ada dibawahnya.


"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!!" Ucap pria itu dengan nada tingginya. Salah satu dari anak buahnya menjawab.


"A- ampun ketua..." ujarnya yang masih ketakutan akan aura yang dikeluarkan ketua mereka.


"Jelaskan!!" Bentak pria yang anak buahnya disebut ketua.


'Aku harus mengatakan yang sebenarnya!' Pikir salah satu dari anak buah ketua itu.


"K - ketua, saya akan menjelaskannya!" Ucapnya membulatkan tekadnya. Sang ketua yang mendapat sahutan pun menoleh untuk menatap si penjawab.


"Lanjutkan!" Balas ketua itu. Membuat si penjawab merasa percaya diri.


"Saat gadis kecil yang ketua bawa keluar dari ruangan ketua, semua orang mencemooh dan menghina dirinya karena ekspresi wajahnya yang buruk, mereka mengira gadis kecil itu meminta ketua menjadi ayahnya, tapi sayangnya ketua menolak permintaannya sehingga ia keluar dengan muka masamnya. Gadis kecil itu hanya acuh akan hinaan yang didapat dirinya, tapi saat ia mendengar beberapa orang menghina orang tuanya membuat gadis itu marah besar sehingga ia membumi hanguskan mereka tanpa aba - aba." Begitulah yang ia ucapkan pada ketuanya. Keheningan yang cukup lama terjadi diruangan itu hingga


"Apakah kau tahu hukuman apa yang akan kau dapatkan karena telah membohongiku?!" Tanya ketua itu sedikit membentak, tapi si penjawab hanya menjawab nya dengan anggukan kepala.


'Tapi kenapa dia tidak memberitahunku akan kebenarannya, kalau dia tidak bersalah?!' Pikir ketua itu yang tidak lainnya adalah sang ketua organisasi darah besi, Herui. Herui seketika mengingat saat - saat ia mendengar perkataan Levia. 'Untuk apa aku memberitahumu, jika kau tidak percaya akan ucapanku!'


'Ah, benar juga, itu karena aku yang tidak percaya akan ucapannya.' Ucap Herui dibenaknya dengan wajah bersalah terhadap Levia si gadis kecil yang malang.


______________chp 14 end_____________


Hai hai!! sekarang Ruka up lagi nih >♡<


gimana? suka?


Ruka minta saran donk, kan Ruka masih pemula. maklum kalo banyak typo bertebaran :^


juga like dan vote buat dukungan Ruka \=^\=


up nya berkemungkinan tidak menentu karena si pembuat ' Ruka' (saya sendiri) selalu sibuk disetiap harinya :^


mohon maaf ya...


and see you next time ...