
Disebuah ruangan terdapat seorang gadis dengan rambut hitamnya sedang membaca buku yang ada ditangannya. Tiba - tiba seorang pria dengan pakaian serba hitam muncul dihadapan gadis kecil itu. Pria tersebut adalah Chin pengawal bayangan yang mengawasi selir pertama Pimxi, Chin bersujud memberi hormatnya pada gadis kecil itu yang tidak lainnya adalah Levia.
"Ada apa?" Tanya Levia pada Chin yang pandangannya masih terpaku pada bukunya.
"Pagi hari ini selir pertama mengunjungi putri Nrowna. Selir pertama dan putri Nrowna mempunyai rencana memanggil 'pria itu' untuk mengatasi anda putri." Ucapnya yang masih bersujud dengan kepala menunduk.
"Hm...siapa yang mereka maksud dengan ' pria itu' ?" Tanya Levia yang beralih memandang kearah Chin.
"Saya tidak tahu putri, mereka tidak mengatakannya dengan jelas." Ucap Chin dengan tubuh bergetar takut dirinya mendapat hukuman dari tuan putrinya.
"Hm baiklah, sekarang kembali awasi selir pertama. Walau kau mengetahui terjadi sesuatu kepadaku kau hanya perlu bersembunyi tanpa ketahuan sampai aku memanggil namamu!" Ucap Levia menutup buku yang dibacanya dan berdiri dari tempat duduknya saat melihat Chin sudah menghilang dari tempatnya.
"Pasti orang yang dimaksud mereka adalah seorang penyihir atau pendekar yang berada dialiran hitam!" Ujar Levia pelan dengan tangan kanan yang menyentuh dagunya.
"Kalau orang yang dimaksud itu jauh lebih kuat dariku, maka aku pasti akan sangat membutuhkan sistem. Tapi untuk sekarang sistem masih belum bekerja, apakah sistemnya mulai menghilang?" Cemas Levia yang berakhir dengan keheranan. Levia pun memilih untuk tidak memikirkannya dulu, sekarang ia ingin menikmati suasana yang ada ditaman.
"Kak Nay!!! Bisakah kita pergi ketaman, aku bosan disini terus!" Cemberut Levia yang berada didepan pintu kamarnya untuk mengajak Nay ketaman.
"Ah, baik putri." Balas Nay terkekeh dan segera mengikuti Levia yang berjalan dengan senangnya sambil bersenandung ceria.
Sesampainya ditaman, Levia melihat ada 2 orang anak laki - laki yang bersama seorang wanita dengan senangnya bercanda gurau serta bercerita.
Levia yang sudah tahu siapa mereka segera berlari mendekat dengan suara teriakkannya, mereka yang ada ditaman pun menoleh melihat kearah Levia yang semakin mendekat.
"Bundaaaaa!!!!" Teriak Levia saat berlari, 2 orang anak laki - laki itu adalah Jimkew dengan Yonre dan seorang wanita yang ada didekatnya tidak lainnya adalah Adelyna. Levia pun memeluk Adelyna saat ia sudah sampai didepannya disusul Nay yang berada dibelakang.
'Em... rasanya bunda seperti gulingku yang ada diduniaku dulu.' Pikir Levia mengusap - usapkan wajahnya.
"Via!! Kamu harus hati - hati saat memeluk bunda! Bunda sekarang lagi hamil!!" Ucap Jimkew memeringati Levia terhadap kondisi Adelyna dengan Yonre yang mengangguk. Levia yang mendengar perkataan Jimkew pun mendongakkan kepalanya menatap Adelyna yang juga menatap wajah Levia.
"Benarkah itu bunda?" Tanya Levia dengan senangnya yang masih belum melepas pelukannya terhadap Adelyna.
"Hm, itu benar sayang." Balas Adelyna tersenyum membuat Levia melompat tergirang - girangnya.
"Yey!! Aku akan mempunyai adik!!!" Ucap Levia.
"Levia!! Jangan melompat - lompat! Nanti jatuh!" Ucap Jimkew menasehati Levia, Levia pun berhenti melompat dan memandang kearah Jimkew sesaat sebelum ia berjalan mendekat kearah Adelyna.
"Bunda, berapa usia kandungan bunda?" Tanya Levia penasaran dengan senyumnya. 'Rasanya aku ikut senang saat mendengar bunda akan mempunyai anak dan anak itu akan memjadi adikku.' Gumam Levia dibenaknya.
"Kata tabib, ia sudah berusia 3 minggu." Jawab Adelyna memandangi wajah Levia.
"Bun- " belum selesai berkata, seseorang memotong perkataan Levia. Muncul seorang pria dengan dengan pakaian merah bercorak hitam dan topeng yang menutupi setengah wajahnya datang dari arah kediaman Levia dengan terbang.
"Hei, gadis kecil. Aku mencarimu sedari tadi!" Ucap pria itu kesal memandangi Levia dari atas. Pria itu turun mendekati Levis yang masih diam.
"Paman, apakah aku pernah bertemu denganmu?" Tanya Levia bingung, tiba - tiba Levia tersentak. Ia mengingat selir pertama akan memanggil seseorang untuk mengurus dirinya, apakah orang itu yang dimaksud mereka?
"I - itu... ketua dari organisasi 'Darah Besi'?!" Kaget Jimkew saat melihat ada tato mawar merah dengan sebuah benda yang menancap ditengah - tengah bunga mawar tepat berada ditangan pria itu. Semua orang kaget mendengar perkataannya Jimkew kecuali Levia yang tidak mengerti siapa pria itu.
"Oh? Hebat sekali. Sesuai dengan gelarnya sebagai putra mahkota!" Ucapnya yang beralih memandangi Jimkew.
"Jadi, karena kalian sudah tahu siapa diriku, maka aku langsung keintinya saja." Ujarnya lagi.
"Aku akan membawa gadis itu dari sini!" Sambungnya menunjuk kearah Levia, Levia yang sudah mengetahui niat pria itu pun tidak terkaget dengan perkataannya barusan.
"Apa maksudmu?!" Adelyna tersentak kaget.
"Jangan kau berani macam - macam terhadap putriku atau Raja akan memusnahkan organisasimu yang sesat itu!" Ancam Adelyna kepada pria yang merupakan ketua organisasi darah besi.
"Hah? Kau kira raja bodohmu itu akan melawanku hanya untuk gadis kecil yang tidak berguna itu?" Ejeknya menatap Levia dengan pandangan menghina. Lagi - lagi semua orang kaget akan perkataannya.
"Oh, kalau dilihat lebih jelas, ternyata dia cantik juga tapi masih kecil, mungkin jika sudah dewasa dia akan menjadi yang tercantik dari segala penjuru dunia. Itu membuatku ingin sekali mencoba dirinya!" Ucap pria itu dengan seringaiannya yang terlihat jelas menatap Levia.
"Jangan pernah kau sentuh adikku!!" Tegas Jimkew jijik saat mendengar perkataan pria itu.
"Ya! Jangan pernah kau sentuh gadis jelek itu!!" Yonre ikut menyahuti. Levia yang mendengar perkataan kakak - kakaknya pun terharu tetapi setelah mendengar kata 'gadis jelek' dari Yonre, ia sudah mengilangkan perasaan harunya terhadap Yonre.
'Disaat begini dia masih saja memanggilku begitu!' Pikir Levia kesal akan Yonre.
"Bunda..." takut Levia memeluk Adelyna.
"Hm... jadi kalian ingin melawanku?" Tanya dengan raut wajah yang jelek.
"..."
Tidak ada yang menanggapi pertanyaan yang dilontarkan pria itu.
"Aku yang akan melawanmu!" Ucap seseorang yang maju kedepan, yang tidak disangka orang tersebit adalah Nay, pelayan Levia yang paling setia. Levia tersentak kaget saat melihat Nay melangkah maju untuk melawan ketua organisasi darah besi itu.
"Kak Nay...!" Teriak Levia yang dijawab Nay dengan senyuman. Nay pun menatap kearah ketua derah besi.
"Jika kau ingin membawa putri Levia, kau harus melewati mayatku terlebih dahulu!" Tegas Nay menatapnya dengan tajam.
"Kalau kau bilang begitu... baiklah. Aku tidak akan sungkan." Ucahnya yang balik menatap tajam Nay. Nay melaju kearah ketua darah besi dengan cepat begitu juga dengan ketua darah besi.
Nay yang hanya menyerang dengan tangan kosong mengimbangi ketua darah besi yang juga menyerang dengan tangan kosong. Nay melesat mundur.
"Cih, mungkin aku harus menggunakan kekuatan penuhku walau kekuatanku belum pulih akibat serangan 'orang itu'!" Gumam Nay. Tiba - tiba mata dan telinga Nay berubah, mata yang sebelumnya berwarna coklat terang berubah menjadi hijau dan telinganya yang memanjang dengan kristal berwarna ungu yang menggantung menjadi anting.
'Apakah kak Nay menyembunyikan identitasnya?' Pikir Levia bingung.
'Tapi yang lebih penting lagi, kenapa kak Nay yang merupakan ras elf berada disini?, apakah ada yang menculiknya atau memang kak Nay sendiri yang kemari?' Banyak pertanyaan melayang dibenak Levia.
Nay yang sudah berubah mulai merasakan kekuatannya yang besar, sebuah pedang yang masih tersarung terlihat berada dipinggang kiri Nay. Dengan sigap Nay mengambil pedangnya dan memasang kuda - kuda untuk menyerang. Nay melaju cepat kearah ketua darah besi yang mengangkat tangannya hingga sebuah pedang besar mulai terlihat, pria itu pun juga melaju dengan cepatnya kearah Nay yang semakin mendekat.
Debu berterbangan menghalangi penglihatan semua orang yang yang melihat pertarungan sengit didepan mereka.
TRING
TING
Suara dentingan pedang yang beradu mulai terdengar. Levia yang melihat pertarungan sengit itu hanya bisa takjub dan kagum dengan keahlian berpedang mereka.
"FIRE BALL!!!!"
Terdengar suara seseorang yang mengucapkan salah satu jenis sihir api.
"WATER SHIELD!!"
BOOOM!!
Suara ledakan dengan jelas terdengar diseluruh bagian penjuru istanah membuat para penjaga segera berlarian kearah ledakan itu berasal, hingga Clyfro yang sedang mengecek dokumen pun tersentak kaget. Clyfro segera menanyakan perihal apa yang terjadi pada penjaga yang berada diluar pintu kediaman. Clyfro yang tidak mendapat jawaban yang ia inginkan pun berlari ketempat ledakan tersebut berasal, takut akan keadaan istrinya yang sedang hamil.
Sesampainya ditaman Clyfro bisa melihat para penjaga sudah berada disana tapi masih belum bergerak maju, pertarungan yang sengit sedang terjadi, sesaat Clyfro menoleh kekanan dan kekiri untuk melihat apakah ada orang lain disana, hingga ia melihat Adelyna yang sedang memeluk Levia dengan Jimkew dan Yonre yang berada disampingnya. Clyfro segera berlari kearah Adelyna dan anak - anaknya berada.
"Lyna, apa yang terjadi disini?!" Tanya nya yang sudah berada didekat Adelyna dan segera memeluknya membuat Levia segera menyingkir dari pelukan Adelyna.
"Apakah kalian baik - baik saja?" Tanya Clyfro lagi yang memandangi satu - persatu orang yang ada didekatnya.
"Kami baik - baik saja ayah, tapi mungkin tidak untuk pelayan Nay." Ucap Jimkew menatap Clyfro dan beralih kearah pertarungan yang sedang terjadi, Clyfro pun ikut memandang kearah pertarungan yang sengit itu.
"Apakah salah satu diantara mereka adalah Nay?" Tanya Clyfro yang masih melekat menatap pertarungan Nay dengan ketua darah besi. Jimkew pun menjelaskan semua yang telah terjadi hingga raut wajah Clyfro yang menjadi jelek.
"Jadi Nay bertarung untuk melindungi Levia?" Tanya Clyfro memastikan.
"Benar ayah." Balas Jimkew.
"Suamiku, kau akan melindungi Levia kan? Dia anak angkatmu!" Ucap Adelyna yang lebih cemas akan Levia. Adelyna memegang lengan Clyfro, memohon untuk melindungi Levia yang berada dalam bahaya.
"Masalah apa yang kau perbuat hingga ketua organisasi darah besi datang sendiri kesini?" Tanya Clyfro menatap Levia tajam. Bukannya menjawab Adelyna, Clyfro sebaliknya bertanya pada Levia dengan tatapan tajam seakan tidak peduli dengan Levia melainkan hanya ingin cepat menyelesaikan masalah yang terjadi.
"Ayah, Via tidak melakukan apapun pada paman itu!" Balas Levia dengan raut wajah tidak percaya. Tidak ia sangka kalau orang yang mengangkat dirinya menjadi anaknya dan seorang putri itu menyalahkan dirinya padahal Levia tidak melakukan hal yang membuat ketua organisasi darah besi itu marah. Ia kira orang yang menyelamatkannya dari bandit akan melindunginya lagi tapi kenyataan tidak sesuai perkiraan Levia, Levia sebenarnya sudah memberikan jati diri seorang ayah pada Clyfro tetapi sekarang Levia merasa seperti tidak berguna dan perasaan terhianati kini kembali lagi. Tidak sadar butiran bening kini meluap dikelopak mata Levia.
"Lalu, apa yang dia inginkan darimu!! jika dia membawamu bukan karena masalah yang kau timbulkan!" Bentak Clyfro membuat air mata Levia jatuh, mengalir dengan derasnya dari wajahnya.
"Suamiku..." ucap Adelyna menenangkan Clyfro serta khawatir akan kondisi Levia. Begitu juga Jimkew dan Yonre yang cemas terhadap Levia.
"Ak- " perkataan Levia terpotong akan seseorang yang melesat mundur kearahnya, orang tersebut tidak lainnya adalah Nay, Levia menoleh menatap Nay dengan raut wajah khawatir, ia mendekati Nay yang terluka parah akibat serangan musuhnya.
"Kak Nay... hiks." cemas Levia menahan kepala Nay dengan tangannya. Air mata yang sebelumnya mengalir kini semakin bertambah deras layaknya hujan.
"Tuan putri, anda tidak boleh menangis!" Ucap Nay yang mengangkat tangannya untuk mengusap air mata Levia, Levia menangkap tangan Nay dengan menggenggam pergelangan tangannya dan mengarahkannya kepipinya yang tembem.
"Kakak...hiks." ujar Levia disela tangisannya. Nay menoleh membuatnya melihat Clyfro dengan raut wajahnya yang buruk.
"Clyfro! Jangan pernah kau sakiti Levia!" Ucapnya dengan raut wajah marah kepada Clyfro, Clyfro tersentak kemudian mengubah raut wajahnya menjadi datar. Nay beralih lagi memandangi Levia yang masih dibanjiri dengan air mata.
"Via, aku akan memberikanmu sesuatu, mungkin saja aku tidak akan punya kesempatan untuk hidup lagi." Ucapnya yang membuat Levia menangis semakin kencang.
"Ini, jagalah. Ini adalah kekuatanku mungkin dimasa depan kau akan membutuhkannya." Ucap Nay yang semakin lemah. Nay menggerakkan tangannya yang berada dipipi Levia untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah Levia.
Cup~
Nay mencium pipi Levia dengan lembut. Tubuh Nay mulai terkulai lemah hingga tangannya yang berada dileher Levia jatuh, nafas Nay kini sudah berhenti membuat Levia menangis sekencang - kencangnya sambil memelukkan kepala Nay kedadanya.
Tiba - tiba sebuah cahaya hijau terang keluar dari tubuh Nay dan beralih memasuki tubuh Levia. Tidak ada yang sadar atau melihat cahaya hijau itu karena tubuh Nay yang dekat dengan Levia. Clyfro yang merasa terganggu akan tangisan Levia pun membentaknya.
"Cukup!! Nay sudah mati!! Dan itu karena dirimu yang tidak berguna dan hanya membuat masalah padanya!! Kalau saja bukan karena pangeran Key dan Nay yang berada dipihakmu saat penghukuman Nrowna, sudah kupastikan kau mendapatkan hukuman yang berat!! Hukuman Nrowna yang seharusnya kau terima karena mempermalukan diriku pada sahabat baikku!!" Bentak Clyfro yang mengungkap semua yang ingin dia lakukan membuat tangisan Levia terhenti.
"Seharusnya dulu aku tidak memungutmu!!" Ucapnya memandang Levia dengan tatapan tajam. Levia yang mengetahui semua rencana yang sebelumnya ia lakukan ternyata gagal apabila bukan karena Nay dan Key pun mematung. 'Memungut?' Katanya?
Semua orang tidak percaya akan apa yang Clyfro katakan terutama Adelyna dan kedua anaknya. Sebuah suara serak terdengar dari arah berlawanan.
"Sudah kubilang bukan? Kalian sendiri yang tidak percaya akan perkataanku!" Ucap ketua darah besi dengan senyuman menghina. Ia berjalan mendekati Levia yang masih mematung dan Nay yang ada dipelukannya.
"Gadis kecil, ayo! Atau kupaksa?" Ucapnya mengarahkan tangannya kedepan Levia, Levia mendongak melihat tangan yang ada didepannya. Levia mengangkat tangannya dan meletakkan tangannya diatas telapak tangan ketua darah besi. Levia berdiri dari tempatnya dibantu pria itu, terlihat mata Levia hanya memandang kedepan kosong. Levia mendongak menatap wajah ketua darah besi.
"A- ayah, g- gendong." Ucap Levia yang tanpa sadar memanggilnya ayah. Pria itu pun menatap Levia yang merentangkan tangannya hingga pria itu menghela nafasnya dan segera menggendong Levia layaknya anaknya sendiri. Ketua darah besi langsung pergi dengan Levia yang berada digendongannya menghadap kebelakang.
Levia bisa melihat Adelyna dan kedua kakaknya menatap dirinya dengan wajah cemas, Levia pun berusaha tersenyum walau matanya masih memandang kosong tanpa ada perasaan apapun yang terlihat. Semua orang yang ada disana tersentak saat melihat Levia yang masih berusaha tersenyum kecuali Clyfro yang hanya memandangnya dengan tatapan menhina.
"A - ayah, a- aku rindu a- ayah." Ucap Levia pelan dengan mata terpejam yang dapat didengar ketua darah besi dengan sangat jelas.
________________chp 11 end__________________