Princess Levia

Princess Levia
Princess Levia :Chapter 23 : Kunjungan Ke Istana



"Levia?! Apakah itu benar - benar kau?!"


"Kenapa? Apakah kau berharap aku mati karena peluru dari pistol yang kau tembakkan paman?" Levia menaikkan salah satu alisnya tanpa melunturkan seringaiannya. Kaisar Herui yang mendengar Levia menyinggung masalah satu tahun yang lalu pun semakin membuat rasa bersalahnya membesar.


"Kau salah paham Levia. Aku hanya ingin memastikan jika ini bukanlah halusinasiku saja." Herui tersenyum dengan hangatnya, merasa jika ia bisa tenang sekarang. Satu tahun terakhir Herui selalu berhalusinasi jika Levia menghampirinya dengan rasa benci yang membuncak.


Levia nampak dengan wajah pucat, disudut bibirnya terdapat darah yang disebabkan organ dalamnya rusak. Dada kanannya yang masih ada bercak darah semakin membuat perawakan Levia menjadi mengerikan disetiap halusinasi yang Herui lihat.


"Sudahlah. Aku tidak ingin berlama - lama disini, lebih baik kita berkeliling diistana. Ayo kak!" Levia berbalik dan menggandeng tangan Kano sembari menatap Zirun untuk memberi isyarat, hal itu pun dibalas anggukkan oleh Zirun.


Tanpa berpamitan dengan sang pemimpin, Levia meninggalkan ruang kerja Herui dengan tangannya yang menarik Kano agar mengikutinya. Melihat Levia telah pergi, Herui pun segera menanyakan beberapa hal kepada Zirun.


"Apakah kau mengenal gadis itu?" Herui bertanya dengan wajahnya yang berbeda saat ia berbicara bersama Levia. Wajahnya yang tegas dan berwibawa sempat membuat Zirun tersentak saat melihat perubahan yang sangat jauh akan raut wajah sang kaisar.


"Gadis kecil itu adalah Levia yang mulia. Putri yang baru diangkat oleh yang mulia Fert setahun yang lalu. Dan anak laki - laki yang bersamanya adalah putra ketiga dari keluarga Fert yang mulia kaisar."


"Lalu ada perihal apa kau sampai datang kemari?"


"Saya ingin memberitahukan sebuah kabar buruk yang baru saja terjadi dikediaman yang mulia Fert." Zirun dengan tegasnya membalas pertanyaan utama dari sang kaisar. Kedua alis kaisar menyatu membuat beberapa kerutan didahinya.


"Kabar buruk apa?"


"Kemarin, dikediaman yang mulia Fert terjadi pembantaian. Semua orang terbunuh kecuali putri angkatnya, Levia dan putra ketiga yaitu Kano. Kedua orang yang saya bawa saat berkunjung kesini yang mulia kaisar." Sedikit penjelasan yang diberikan Zirun benar - benar membuat mata kaisar Herui melotot tak percaya.


Brak!


Kaisar Herui berdiri dari kursinya dengan tangannya yang menggebrak meja kerja miliknya.


"OMONG KOSONG APA YANG KAU BICARAKAN ZIRUN!!!" Kaisar membentak Zirun, merasa sangat tak percaya akan kabar yang disampaikan oleh Zirun. Dia bahkan tidak tau jika kediaman milik kakaknya telah terjadi pembunuhan.


"Saya berkata yang sesungguhnya yang mulia kaisar! Dalang dari pembunuhan ini adalah, ... satu orang vampir." Penegasan Zirun semakin membuat Herui merasa lemas, apalagi saat ia tau jika dalangnya adalah seorang Vampir.


"I_ ini..." tangan besarnya mencekram beberapa dokumen yang ada didepannya. Tubuhnya yang kekar itu bergemetar, merasa tak berdaya ia pun terduduk dikursi dengan kasarnya.


°°°•••°°°


Sedangkan ditempat Levia saat ini. Kano dan Levia tengah berjalan - jalan untuk menjauh dari Herui, atau lebih tepatnya hanya Levia yang menginginkan hal itu. Setelah lama berjalan tanpa henti, keduanya bertemu dengan dengan 2 perempuan yang berbeda usia dengan 2 orang pelayan dibelakangnya.


Kano yang menyadari jika kedua perempuan yang ada didepannya memiliki identitas yang tinggi, berniat untuk memberi salam tapi segera ditahan Levia. Dengan melihat pakaiannya yang mewah memang bisa dipastikan jika mereka berdua adalah seorang putri dan yang ada dibelakang mereka pastinya adalah pelayan pribadi yang selalu mengikuti kemana pun tuannya pergi.


Melihat wajah yang familiar, salah satu gadis itu menghentikan langkah kakinya tepat didepan Levia dan Kano.


"Kita bertemu lagi." Ucapnya kepada Levia, ia adalah Jeila, putri kedua yang sebelumnya bertemu dengan Levia direstaurant Geigho. Levia yang tentu mengenalinya pun hanya diam karena suasana hatinya yang sedang kesal saat bertemu dengan Herui.


"Ya, kita bertemu lagi putri." Balasnya tanpa memberi salam, karena Levia tau jika kedudukannya lebih tinggi dari putri sang kaisar. Seharusnya sesuai peraturan, Fert Adrefson diperharuskan untuk menjadi kaisar setelah ayahnya yang merupakan kaisar terdahulu mati. Tapi tanpa memikirkan apa pun Fert secara terus terang menolak menjadi kaisar, karena tidak ada yang bisa membujuknya, pada akhirnya posisi kaisar ditempati oleh Herui yang sebelumnya sudah membuat organisasi kecil miliknya, yang tak lain adalah organisasi Darah Besi.


"Lancang sekali kau tidak memberi salam kepada putri!" Salah satu pelayan yang ada dibelakang dengan kerasnya berteriak. Ia merasa kedudukan nonanya sangatlah tinggi sehingga ia menuntut salam kehormatan dari Levia yang hanya diam berdiri.


"Pelayan, kau diam saja!" Gadis yang ada disamping Jeila menegur pelayan yang sekiranya bekerja dikediaman miliknya. Gadis itu adalah putri pertama, Alana Adrefson. Putri dari selir pertama, sedangkan Jeila adalah putri dari selir ketiga tetapi Jeila tetap menganggap Alana sebagai kakak kandungnya, begitunpun dengan Alana yang sudah menganggap Jeila sebagai adiknya.


"Ah, baik putri." Balas pelayan itu karena merasa keberanian yang ia lontarkan sebelumnya telah menciut jika berhadapan dengan sang putri. Alana menatap Jeila sembari memperhatikan apakah adiknya itu akan marah, tetapi Jeila terlihat baik - baik saja, ia tak mempermasalahkan hal itu karena ia sudah tau identitas Levia dengan menebak dan berdiskusi dengan Alana yang menurutnya pintar dan cerdas.


Alana kembali menatap Levia, ia tau jika adiknya itu cukup cerdas sehingga ada kemungkinan kedudukan Levia lebih tinggi darinya, atau Levia bisa saja sudah berteman dengan adiknya sehingga Jeila tak mempermasalahkan perihal etika yang harus memberi salam.


"Jadi, adik apakah kamu mengenalnya?" Alana bertanya ingin memastikan siapa sebenarnya gadis yang ada dihadapannya itu. Levia yang sebelumnya menatap Jeila pun beralih ke Alana yang juga sedang memperhatikan dirinya.


"Kakak, dia adalah gadis yang sebelumnya kutemui direstaurant Geigho." Jeila menatap Alana dengan senyum yang mengembang.


"Ah, gadis yang kamu ceritakan sebelumnya itu?" Alana mengangguk - angguk, ingat saat dimana Jeila menceritakan apa yang ia alami direstaurant Geigho.


"Iya kak. Ah, aku minta maaf sebelumnya, karena telah menamparmu sampai bibirmu sobek. Apakah sekarang bibirmu sudah membaik?" Jeila yang sebelumnya menatap Alana beralih lagi ke Levia dengan rasa tak enak dihatinya. Ia ingat saat itu, dialah yang sudah bertindak semena - mena tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu.


"Tidak masalah, bibirku sudah sembuh. Luka ini tak sepadan dengan yang ada didalam." Balasnya dengan senyumnya membuat Jeila senang sekaligus heran, apakah perkataannya telah menyakiti hati nya?


"Apakah sebelumnya perkataanku melukai hatimu?" Jeila bertanya dengan hati - hati, merasa tak ingin jika Levia mengingat kembali kejadian yang ada direstauran.


"Tidak." Balas Levia yang masih tersenyum.


"Bisa perkenalkan dirimu, biar kami tau bagaimana kami harus memanggilmu." Alana bertanya kepada Levia ingin tau semua identitas Levia.


"Ah, perkenalkan. Saya Levia, putri angkat dari kakak kaisar, yang mulia Fert Adrefson. Dan ini adalah putra ketiga, Kano." Ucapnya sembari memberi salam dengan mengangkat sedikit gaun miliknya. Begitu pun dengan Kano yang ikut memberi salam dengan salah satu tangannya yang ada didepan dada.


"Saya Kano."


"Saya Alana Adrefson, putri pertama kekaisaran. Dan ini adalah adikku, Jeila. Putri kedua, walau kami bukan satu ibu, tapi kami sudah seperti saudara kandung." Balasnya yang ikut memberi salam seorang lady yang gerakannya sama seperti yang Levia lakukan.


"Jeila." Sahut Jeila yang tak melupakan salamnya.


"Jadi dia adalah putra ketiga paman Fert. Pasti dia akan sangat tampan saat dewasa nanti." Ucap Alana yang tersenyum sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Ya aku sudah menduganya, karena kakak memang sudah tampan dari dulu." Levia ikut berkata sembari tersenyum kearah Kano yang memalingkan wajahnya karena tersipu malu. Ia ingin menunjukkan deretan giginya kepada Levia karena ia dipuji tapi saat mendengar Levia ikut memujinya entah mengapa wajahnya terasa panas.


"Walau kamu masih sangat kecil, tapi pemikiranmu lebih dewasa dari usiamu. Omong - omong, usiamu berapa?" Alana mengira jika Levia berusia 8 tahun tapi ia harus bertanya lebih dulu jika ia ingin tau usianya yang sebenarnya.


"Aku masih 6 tahun, dan kakakku berusia 8 tahun." Jawab Levia yang masih memperlihatkan senyumannya.


"Oh?" Alana sedikit terkejut saat mendengar jawaban Levia, ia tak mengira jika Levia masih sekecil itu. Sama halnya dengan Alana, Jeila juga terkejut mendengarnya.


"Apakah usia putri Alana 15 tahun dan putri Jeila 11 tahun?" Levia bertanya apakah perkiraannya itu benar atau tidak.


"Hm, kau benar." Ucap putri Alana yang tersenyum menyembunyikan rasa terkejutnya, sedangkan Jeila tak menyembunyikan raut wajah apa pun, ia dengan gembiranya berkata jika Levia menebaknya dengan sangat tepat.


"Karena kamu berusia 6 tahun, apakah kamu akan segera memasuki akademi?" Alana kembali bertanya kepada Levia. Entah mengapa ia tak tanggung - tanggung bertanya terhadap Levia.


"1 bulan lagi aku akan ke Akademi bersama kak Kano." Balasnya yang sesaat melirik Kano dan kembali memandang Alana serta Jeila yang terlihat begitu senang.


"Berarti kita akan bertemu lagi nanti!" Ucap Jeila yang terlihat begitu gembira bisa bertemu Levia diakademi. Levia yang melihat itu pun hanya bisa senyum.


"Karena sekarang kita sudah saling kenal, berarti kita berteman kan?" Levia yang mendengarnya merasa ada rasa benci saat mendengar kata teman, ia teringat perihal temannya yang sudah bertunangan dengan calon suaminya. Mengingat hal itu tentu amarah Levia langsung memuncak tetapi ia langsung memperlihatkan senyumnya sekali lagi.


"Tentu saja." Ucapnya yang membuat Jeila bahagia tak terhingga, ia sudah menanti - nantikan teman yabg sesungguhnya. Tanpa aba - aba ia langsung menggenggam kedua tangan Levia.


"Ap_" ucapan Levia terpotong akan kedatangannya Zirun yang sudah selesai berbincang - bincang dengan sang kaisar.


"Levia, Kano." Panggilnya, Levia yang mendengarnya pun langsung melepaskan genggaman Jeila dan mendekat kearah Zirun, begitu pun dengan Kano yang mengikuti dari belakang Levia.


"Guru."


"Aku sudah selesai. Mari kita pulang." Ucapnya yang tersenyum kearah Levia dan Kano.


"Hem! Ayo!" Balas Levia. Zirun mendongakkan kepalanya hingga ia baru menyadari jika Levia dan Kano sebelumnya tidak sendiri. Zirun dengan segera memberi salam dan berpamitan akan pergi. Ketika semua telah pergi, Jeila segera menanyakan siapa Zirun kepada Alana.


"Kak, siapa orang yang Levia panggil guru itu?" Jeila bertanya sembari menatap Alana dengan penuh tanda tanya.


"Entahlah. Kita tanyakan saja pada ayah." Balasnya yang berlenggang pergi diikuti oleh Jeila dan kedua pelayan dibelakangnya.


Dimalam harinya, Levia yang kembali mengingat hari dimana keluarganya dibantai pun menggila, merasa sangat sedih, dan marah. Bahkan kenangan pedih saat keluarga dibunuh dikehidupan modern pun ikut terbayang, semakin membuat Levia merasa tak bisa mengendalikan emosinya.


Tak ingin membuat suara berisik, Levia pada akhirnya memilih pergi kehutan untuk melepas semua perasaan yang selama ini ia bendung. Dengan gerakan yang lincah ia melompat kepohon yang satu kepohon yang lain seperti saat ia menjadi seorang pembunuh bayaran dikehidupannya yang sebelumnya.


Levia memiliki berbagai profesi dikehidupan modern, diantaranya ia menjadi pembunuh bayaran saat ia masih berusia 12 tahun. Diusianya yang ke 9 tahun, ia melihat sendiri bagaimana keluarganya dibantai dengan mengerikannya. Disaat ia melarikan diri dari pembunuh keluarganya, ia diselamatkan oleh seorang pria yang memiliki sebuah kafe. Dengan bantuan yang Levia lakukan dikafe ia pun menerima bayaran uang dan tempat tinggal. Disuatu malam ketika ia berusia 10 tahun, pemikirannya yang masih kekanak - kanakkan pun mulai menjadi dewasa dalam setahun.


Mengingat bahwa keluarganya telah pergi saat itu, Levia yang sebelumnya adalah Vee memutuskan untuk membalaskan dendam karena pengaruh kebenciannya yang besar. Selama 2 tahun itu ia berlatih menjadi seorang pembunuh dengan diam - diam tanpa diketahui oleh paman yang merupakan pemilik kafe sekaligus penyelamatnya.


Diumurnya yang ke 12 tahun ia memutuskan untuk pergi dari kafe, paman yang menolongnya memberikan sejumlah uang yang mungkin akan Vee gunakan. Ia yang sering latihan membuat tubuhnya lebih tinggi dari anak seusianya, sehingga ia terlihat seperti gadis berusia 15 tahun.


Dengan kemampuannya ia mendapatkan sebuah kontrakkan dan menjadi seorang pembunuh bayaran demi menjadi lebih kuat serta bisa mengetahui siapa dalang atau orang yang telah membunuh keluarganya. Selama 5 tahun itu ia lakukan hanya dengan menjalani misi yang ia terima, pergi kesupermarket untuk membeli persediaan yang ia butuhkan, jalan - jalan keluar disaat waktu senggang, membaca beberapa buku dan novel.


Diusianya yang ke 17 tahun ia mengetahui siapa orang yang memerintahkan pembunuh bayaran untuk membantai seluruh keluarganya kecuali dirinya yang masih kecil saat itu. Rasa bencinya yang besar membuatnya merencanakan untuk membunuh semua orang yang terlibat. Setelah rasa bencinya hilang bersamaan dengan hilangnya jiwa beberapa orang yang telah ia bunuh. Ia merubah profesinya menjadi polisi diusianya yang sudah ada di 18 tahun.


Kembali lagi pada Levia yang pergi kehutan, sesampainya Levia tanpa berhenti menuju ketengah hutan, ketika ia sudah sampai. Tanpa aba - aba ia terjatuh dengan lututnya yang menyentuh tanah disertai rerumputan. Perasaannya yang meluap kini ia tumbahkan, membuatnya menangis dan berteriak dengan kerasnya. Hewan yang ada disekitar berusaha untuk menjauh saat mendengar teriakkan Levia yang disertai rasa kesedihan yang begitu pekat.


Entah itu hewan monster atau hewan biasa, semuanya menghindar dari Levia, tak ingin menganggu saat - saat dimana gadis itu mengeluarkan semua perasaannya yang sudah ia bendung dengan sangat lama. Karena tempatnya yang berjarak cukup jauh, seharusnya dikediaman Fert teriakan Levia tak bisa terdengar karena lokasi Levia berada cukup atau bisa dibilang jauh.


Sejak saat itu Levia mulai menegaskan hatinya untuk membuat dinding dihatinya agar orang lain tak mengetahui perasaannya yang sebenarnya, Levia membuat dirinya disisi lain dinding sebagai penampilan diluarnya yang nampak memiliki wajah ceria, senang, dan bahagia. Tanpa ada rasa sedih yang ia perlihatkan. Tetapi tak bisa ia pungkiri, saat ia merasa sedih sembari memperlihatkan wajahnya yang biasa - biasa saja atau masih tersenyum, semakin membuat hatinya terluka menjadi parah.


°°•••°°


Waktu berjalan dengan sendirinya, hingga 1 bulan kemudian Levia dan Kano pergi ke akademi yang berada di ibukota Dufxi. Di akademi itu ia dipertemukan dengan beberapa pengurus yang bersikap baik terhadapnya.


Sehingga banyak yang berspektakulasi bahwa Levia adalah bangsawan. 1 hal lagi yang membuat semua murid yakin jika Levia adalah putri dari seorang bangsawan karena putri kedua kekaisaran, yaitu Jeila selalu bersamanya.


Salah satu murid dari anak seorang bangsawan yang merasa penasaran memutuskan untuk melihat wajah dari murid baru yang banyak dibicarakan itu. Ketika ia melihat Levia, jantungnya seakan berhenti melihat wajah dari orang yang ia kenal seharusnya sudah mati.


__________________chp 23 end_________________


Hayo, siapa putri bangsawan yang sepertinya sudah kenal dengan Levia?


Bahkan mengira jika Levia seharusnya sudah mati.


Siapa sebenarnya putri bangsawan itu? Apakah ia sudah mengenal Levia dari dulu? Ataukah dia musuh Levia?


Nantikan aja chp berikutnya.


Salam dari Ruka, Nevt, dan Aneko~


Semoga terhibur ^^