
Levia berjalan menuju pemandian diikuti 2 orang pelayan wanita dibelakangnya. Tak berselang lama kemudian mereka bertiga akhirnya sampai didepan pintu tempat pemandian. Sebelum tangan Levia menyentuh tuas pintu, Levia terlebih dahulu memutar badannya menghadap kedua pelayan wanita yang mengikutinya tadi.
"Kalian bisa pergi! Aku ingin mandi sendiri!" Ucapnya yang sedikit ketus, tapi bukannya menurut mereka berdua malah saling menatap satu sama lain hingga mereka memandang kembali Levia.
"Maaf nona, kami tidak bisa pergi. Kami berkeharusan untuk membantu nona dikedepan harinya." Ucap salah satu dari kedua pelayan itu dengan tegasnya. Levia menatap jengkel pada kedua pelayan pembantah itu.
"Siapa nama kalian?" Tanya Levia pada mereka berdua, kedua pelayan itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Levia.
"Nama saya Peni nona." Ucap pelayan yang menjawab Levia sebelumnya.
"Saya Jesi nona." Ucap pelayan yang terlihat lebih tua dari Peni. Levia yang mendapat balasan pun mengangguk mengerti.
"Jadi kak Jesi dan Peni, bisakah kalian menuruti perkataanku tadi?" Tanya Levia dengan lembut tapi dimata mereka yang melihat pasti akan tau kalau Levia sedang kesal dengan kedua pelayan wanita itu.
"Tidak bisa nona." Ucap mereka berdua dengan serempak yang semakin membuat Levia jengkel dan hal itu pun tak luput dari pengamatan mereka berdua.
"Huh! Baiklah - baiklah!!!" Ucap Levia yang mengalah pada kedua kakak pelayan itu membuat mereka tersenyum cerah. Levia berbalik memutar badannya tepat dihadapan pintu, dengan secepat kilat Peni menarik tuas pintu untuk membantu nona mudanya.
Levia yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafasnya dan lanjut melangkahkan kakinya memasuki tempat pemandian setelah pintu terbuka sempurna.
'Apakah mereka yang ada disini memang perlu sebuah kolam untuk mandi?!' Pikir Levia yang terheran. Melihat majikannya yang diam melamun membuat Jesi menyadarkan Levia dari termenungnya. Jesi menepuk pelan bahu kanan Levia untuk menyadarkannya, terlihat raut wajah Levia yang terkejut saat merasakan sebuah tepukan dibahu miliknya.
Levia menolehkan kepalanya kebelakang untuk melihat siapa yang menepuk bahunya, ia melihat Peni dan Jesi yang terlihat kebingungan dengan dirinya.
"Nona anda harus melepas gaun tidur anda." Ucap Jesi yang dibalas anggukan oleh Peni.
"Aku bisa melepas gaunku sendiri!" Ucap Levia yang terlihat jengkel. Jesi melangkah mendekati Levia.
☆☆☆
"Nona, anda ingin wewangian aroma apa?" Tanya Peni.
"Mawar." Balas Levia yang mengenakan handuk pakaian dengan pinggangnya yang terikat. Melihat Peni yang telah selesai mencampur wewangian, Levia berjalan menuju pemandian dengan langkahnya yang pelan.
Bruuk!!!
"Ugh!!!" Rintih Levia yang terjatuh kelantai. Jesi dan Peni terkejut secara bersamaan melihat nonanya terjatuh, hingga mereka berdua mendekati Levia yang mencoba untuk berdiri dengan salah satu tangannya yang memegangi dahinya.
"Nona, apa anda baik - baik saja?" Tanya Peni yang memerhatikan seluruh tubuh Levia.
"Em, aku baik - baik saja." Balas Levia yang sudah berdiri tegak dengan bantuan Jesi.
"Hati - hati nona." Levia mengangguk membalas perkataan Jesi. Levia kembali melangkah kedepan dengan kakinya yang selalu berhati - hati dalam setiap langkah yang ia ambil. Hingga Levia sampai tepat ditepi pemandian, dilangkah terakhir Levia, ia menginjak lantai yang berair membuat Levia terpeleset dan pada akhirnya terhuyung kepemandian.
Byuur!!!
"Nona?!" Ucap kedua pelayan serentak. Mereka berlari mendekat kearah Levia.
"Nona anda baik - baik saja?" Tanya Jesi dengan raut wajahnya yang khawatir, Jesi melompat turun untuk membantu Levia yang masih terduduk.
"Nona, jika anda ingin mandi anda harus melepas handuknya terlebih dahulu non." Ucap Peni yang mengira Levia melompat karena tidak sabar ingin mandi. Levia yang mendengar itu hanya bisa berdecak kesal.
***
"Kak Zirun, bisa- ..." ucap Levia yang terpotong akan perkataan Zirun.
"Via, sekarang aku adalah gurumu, jadi ubah panggilanmu itu!" Sela Zirun yang sedikit kesal.
"Baik kak-"
"Master!!" Sela Zirun lagi.
"Huh!! Baik master!!!"
"Jadi, bisa kau mulai belajarnya kak-, maksudku master!" Ucap Levia yang dibuat kesal oleh Zirun. Sekarang Levia dan Zirun sedang berada diperpustakaan atau lebih tepatnya berada diluar perpustakaan kediaman Levia yang berada didekat taman mawar. Disana hanya ada 2 kursi dengan 1 meja yang telah terpakai serta pohon besar nan rindang yang menutupi cahaya matahari dari mereka berdua.
"Baik, kau dengarkan baik - baik!" Balas Zirun yang menampilkan senyumnya. Levia hanya mengangguk tanda ia mengerti.
"Tanah yang sekarang kau pijaki ialah tempat tinggal keluarga Fert, Fert Adrefson sang kakak dari kaisar saat ini, Herui Adrefson." Zirun menghentikan penjelasannya dan menatap lekat Levia.
'Terkejut' itulah yang terpampang jelas diwajah Levia. Ia benar - benar tak menyangka kalau ketua organisasi darah besi yang sebenarnya adalah seorang 'KAISAR?!'.
'Benar - benar mengejutkan. Ha, kejutan yang sangat menarik sekali.' Pikir Levia. Zirun melanjutkan penjelasannya setelah melihat Levia kembali normal.
"Dikekaisaran Cylo terdapat 3 kerajaan utama yang berperan penting bagi kekaisaran. 3 kerajaan tersebut adalah kerajaan Ourta yang dipimpin oleh keluarga Haik, kerajaan Nuis dengan keluarga Whirtay, serta kerajaan Weyn yang dikendalikan oleh keluarga Yeroy." Jelas Zirun yang sedikit menjelaskan perihal ketiga kerajaan utama. Bibir Zirun mulai terangkat, berniat untuk melanjutkan penjelasannya tetapi sebuah suara dobrakan yang nyaring membuat Zirun tersentak kaget.
BRAAKK!!!
"LEVIA DIMANA KAU?!"
Suara teriakkan itu kini telah membuat seluruh orang yang ada dikediaman Levia menjadi ricuh. Suara tersebut tepat berada digerbang utama dimana jalur masuk kediaman Levia. Sedangkan kini sosok yang dicari - cari hanya diam dengan wajah tenangnya.
Berbeda dengan Levia, Zirun merasa bingung dan heran. Apa lagi yang dilakukan gadis kecil ini? Itulah yang ada dibenak Zirun saat itu. Zirun yang masih bingung tidak bisa berfikir lagi karena pintu didekat mereka telah terbuka dengan cara yang kasar membuat pintu tersebut menjadi rusak.
"Huh! Akhirnya ketemu juga!" Ucap seseorang.
"Apa yang kalian lakukan...!" Levia yang sedari tadi diam kini mulai membuka mulutnya. Levia menatap kedua orang yang berbeda gender itu dengan tatapan nyalang membuat mereka berdua bergidik ngeri.
"Haha, Levia kita hanya ingin bertamu dan bertemu dengan dirimu." Ucap salah seorang dari mereka berdua yang adalah seorang gadis berumur 14 tahunan.
"Kalian telah merusak fasilitas kediaman milikku." Ucap Levia tenang tapi didalam ketenangannya terdapat sebuah kemarahan.
"Ah, aku minta maaf untuk itu." Ucap mereka secara serempak membuat mereka terkejut sendiri. Kedua orang itu kini saling bertatapan dengan tajam menyiratkan suatu perkataan.
*kau meniru ucapanku!!!*
*Tidak! Kaulah yang meniru perkataanku!!*
Kira - kira itulah yang dikatakan mereka melalui telepati kebencian. Zirun yang diam sedari tadipun mulai menyimpulkan bahwa mereka berdua ini bukanlah musuh Levia.
"Maaf kalian siapa ya?" Tanya Zirun yang berusaha untuk berkata sesopan mungkin. Kedua orang tersebut mengalihkan pandangan mereka dan beralih menatap Zirun.
"Ah itu..." ujar mereka serempak lagi membuat keduanya menjadi diam tak ingin berbicara. Zirun yang melihat itu pun menatap Levia meminta untuk menjelaskan hal tersebut.
"Perkenalkan diri kalian sendiri dengan benar! Aku sedang sibuk!" Ucap Levia yang malas memperkenalkan kedua orang yang suka bertengkar itu. Mereka bertiga yang mendengar itupun memasang ekspresi tak terartikan.
'Sibuk apanya? Yang ada kau hanya malas!' Pikir mereka bertiga.
"Sajikan aku teh dan cemilan!" Perintah Levia tanpa memperdulikan mereka bertiga yang terdiam. Peni yang ada disana pun berlenggang pergi meninggalkan Jesi setelah mendapat perintah dari sang majikan.
"Jadi? Bisa kalian kenalkan diri kalian sendiri?" Ujar Zirun yang menanti jawaban.
"Kau duluan!!" Ucap seorang lelaki yang menuangkan 60% nada kebencian pada ucapannya. Gadis yang merasa dipanggilpun mendengus kesal terhadap lelaki itu.
"Namaku Muye Reryn. Umur 14 tahun seorang ahli pedang serta seorang penyihir." Lanjut lelaki itu yang bernama Muye.
"Hanya seorang penyihir pemula!" Cibir Fui. Zirun yang sedari tadi mendengarkan semuanya kini menatap Fui dari bawah sampai atas kepala.
"Ada apa? Apa kau tertarik denganku?" Tanya Fui yang menggoda Zirun lagi.
"Huh!! Mana mungkin dia tertarik dengan perempuan berdada ceri sepertimu!!" Ejek Muye yang menimpali perkataan Fui. Ucapan Muye benar - benar membuat Fui menjadi kesal.
"KAU!!!!" Geram Fui yang menahan amarahnya untuk meledak.
"Namaku Zirun, usia 15 tahun. Seorang ahli sihir dan persenjataan." Ucap Zirun yang menengahi mereka berdua dan acuh tak acuh terhadap godaan Fui.
"Kau seorang penyihir?" Tanya Zirun kepada Fui.
"Ya kau benar." Balas Fui dengan tenang. Mata Fui kini beralih menatap Levia yang sedang meminum teh tanpa merasa ada gangguan sama sekali.
"Sejak kapan kau minum teh, Levia?" Heran Fui, padahal sedari tadi Fui tak melihat Levia minum teh sebelumnya.
"Tepat disaat kau mengenalkan dirimu." Balas Levia yang meletakkan cangkirnya dimeja dan mengambil cemilan.
"Hei! Setidaknya kau persilahkan kami duduk terlebih dahulu sebelum minum teh!" Tegas Fui tapi tak dijawab Levia yang masih mengunyah cemilannya, Zirun dan Muye hanya diam mendengarkan percakapan antara 2 orang gadis muda.
"Silahkan duduk." Ucap Levia yang telah meminum tehnya sesudah mengunyah cemilan yang dibawakan oleh Peni. Jesi dan Peni segera pergi untuk mengambil kursi hingga mereka datang kembali dengan 1 kursi tiap orang.
"Jadi ada urusan apa kalian datang kemari?" Tanya Levia saat melihat kedua tamunya telah duduk dikursi yang baru saja disiapkan begitu juga dengan Zirun yang ikut duduk ditempatnya semula.
"Aku hanya ingin pamit sebelum pergi." Balas Fui yang mengambil cemilan didekatnya.
"Oh." Levia hanya ber - oh ria tanpa menanyakan kemana Fui akan pergi, dan hal itu juga membuat Fui menjadi kesal dan cemberut.
"Apa kau tidak akan bertanya, kemana aku akan pergi?"
"Untuk apa aku menanyakan hal itu." Ucap Levia yang terkesan acuh tak acuh. Mendengar ucapan Levia, Fui menangis dan memaki Levia didalam hatinya.
"Aku akan pergi kembali kenegaraku. Jangan merindukanku jika aku belum kembali mengunjungimu." Ucap Fui yang berusaha untuk mengejek Levia.
"Apakah Negara asalmu itu kekaisaran Nihonji yang berada dibenua selatan?" Tanya Zirun memastikan, Fui hanya mengangguk dengan malas karena Zirun yang bertanya, ia kira Levia yang akan menanyakan hal itu.
"Aku juga akan kembali keakademi, karena misiku sekarang sudah selesai." Ucap Muye yang menyampaikan alasannya.
"Lalu kau berasal dari kekaisaran mana?" Tanya Levia dan itu sukses membuat Fui menjadi sedih. Kenapa kau hanya bertanya pada dirinya Via? Keluh Fui dibenaknya sembari membuat lingkaran ditanah dengan jari telunjuk, layaknya anak kecil yang sedang murung.
'Apa dia perlu sampai segitunya?' Pikir Zirun yang menatap Fui.
"Jadi kau berasal dari mana?" Tanya Levia lagi tanpa memperdulikan Fui yang semakin dibuat Frustasi.
"Kekaisaran Desra dibenua utara." Balas Muye menjawab pertanyaan Levia, dengan senyum kemenangan ia menatap Fui dengan arogannya.
*Aku menang!*
*Awas saja kau!!!!*
Itulah yang mereka katakan melalui tatapan dan telepati kebencian mereka. Zirun yang mengetahui hal itu hanya terkekeh pelan tak ingin didengar oleh mereka berdua.
***
Fui berjalan dengan pelan sembari menundukkan kepalanya merasa 'sangat disayangkan' akan suatu hal.
"Ha..., andai saja Levia mau menjadi adikku! Sungguh disayangkan!" Ucap Fui menghela nafasnya kasar. Muye yang mendengar hal itu menyunggingkan senyumnya yang mengejek untuk diperlihatan pada Fui.
"Hah! Menjadi adikmu itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri! Walau ia mau, tetap saja menjadi fakta jika adikmu yang lebih kuat dari pada kakaknya yang berbeda jauh usianya!" Ejek Muye yang membuat Fui menjadi kesal.
"Tidak bisakah kau mengacuhkan setiap perkataan yang keluar dari mulutku!!!" Ucap Fui tanpa menyembunyikan amarahnya.
"Seharusnya kau bersyukur, karena master memperbolehkan kita memanggil namanya." Balas Muye yang memberi nasehat. Mendengar itu Fui menjadi tenang seiring lamanya ia berjalan.
"Aku tau hal itu! Jika saja aku tidak bertemu master sebelumnya, sudah dipastikan kalau aku akan mati pada saat itu." Ucap Fui yang mendongakkan kepalanya melihat langit yang masih cerah.
"Kau benar. Jika master tidak datang, mungkin sekarang kita sudah ada dialam baka." Balas Muye yang ikut menatap langit.
>FLASH BACK ON>◇◇◇
Levia melangkah maju, mendekati kedua orang itu. Dengan wajah datarnya ia menampakkan seluruh wujudnya dari balik semak - semak. Mereka berdua mengernyit bingung saat melihat Levia.
'Anak kecil?'
"Heh!! Jadi ini bala bantuanmu itu?!" Ejek gadis itu yang ternyata adalah Fui.
"Gadis kecil kenapa kau kemari? Kau bersama siapa?" Tanya lelaki itu tanpa memperdulikan Fui, lelaki tersebut tidak lainnya adalah Muye.
"Berburu, Sendirian." Balas Levia yang masih bersikukuh dengan wajah datarnya.
'Berburu? Baik! Aku akan ikuti drama kalian!' Pikir Fui yang sudah mengambil keputusan. Fui mendekat menuju Levia, ia berfikir jika gadis yang ada dihadapannya itu hanyalah samaran dari tua bangka yang berniat menyelamatkan Muye, dengan tatapan ramah ia menatap Levia tanpa ada raut wajah lain. Levia menatap kedepan tak peduli dengan Fui yang mendekatinya.
"Apa yang kau lakukan disini anak manis?" Tanya Fui sembari menyentuh pundak Levia. Mata Fui membesar seketika setelah menyalurkan energi miliknya ditubuh Levia.
'Dia benar - benar anak kecil?! Seharusnya sihir milikku itu memang benar seakuratnya!' Kaget Fui sambil menatap Levia.
Levia menepis tangan Fui yang sedikit terangkat akibat kekagetannya, Fui meringis ketika merasakan rasa sakit mulai terasa ditangannya.
"Jangan menyentuh maupun menyalurkan energimu padaku!!" Tegas Levia yang membuat Fui melangkah mundur beberapa langkah.
"Apa yang kalian lakukan?!" Tanya Levia dengan nada yang masih sama tegasnya.
"Dan untuk apa sihir ilusi tadi?!" Lanjut Levia penuh penegasan. Mendengar perkataan Levia mereka berdua terbelalak kaget ketika menyadari jika mereka telah dijebak.
"Serta apakah hewan itu adalah teman kalian?" Tanya Levia lagi memecah keheningan yang telah memuncak. Fui dan Muye menoleh kebelakang dimana tempat yang ditunjuk oleh Levia.
"Grr!!!!" Mereka berdua tersentak kaget membuat tubuhnya bergerak mundur secara sendiri tanpa diminta.
"I - INI ...
_________________chp 18 end__________________
Jeng! Jeng! Jeng!! Kira - kira apa yang membuat Fui dan Muye kaget ya???
oh ya cuman mau kasih tau aja, karena masa liburnya udh habis, Ruka bakalan jadi sibuk lagi nih -_-
tapi tenang, Ruka bakalan up klo udh selesai nulis pas ada waktu luang.
Tunggu chapter kelanjutannya ya!!! >♡<