
Pria yang menyelamatkan Levia ialah Raja di kerajaan Nuis yang merupakan keluarga Whirtay, pria tersebut bernama Clyfro Whirtay.
Sesampainya disana terlihatlah sebuah bangunan yang megah tapi kalah megah dari istanah kaisarlah ya, ia pun membawa Levia kedalam.
'SALAM RAJA CLYFRO'
Salam serempak para pelayan didalam kediaman tersebut, para pelayan wanita berjejer rapi disebelah kiri dan pelayan laki - laki berjejer disebelah kanan, didepan terlihat juga kepala pelayan, semuanya menunduk hormat kepada raja mereka yaitu Raja Clyfro Whirtay.
"Ayo masuk." Ucapnya saat melihat Levia bengong, Clyfro menarik tangan Levia pelan agar menyadarkannya, Levia pun juga tersadar tapi ia langsung menyesuaikan langkah kakinya, Levia memandangi Clyfro dari bawah karena perbedaan tinggi yang sangat jauh, dia penuh dengan aura kebangsawanan.
Terlihat juga didepan sekeluarga Whirtay yang anggotanya terdiri
◇Clyfro Whirtay - Raja kerajaan Nuis
◇Adelyna Strawn - Ratu kerajaan Nuis (istri sah)
◇Pimxi Crew - Selir pertama
◇Hunna Strorgy - Selir kedua
◇Jimkew Whirtay Strawn - Putra Mahkota ( putra pertama dari ratu Adelyna) 11 tahun
◇Nrowna whirtay Crew - putri pertama (dari selir Pimxi) 10 tahun
◇Treny Whirtay Crew - pangeran kedua ( putra dari selir pertama Pimxi)10 tahun
◇Dern Whirtay Strorgy - pangeran ketiga ( putra dadi selir kedua Hunna) 8 tahun
◇Klara Whirtay Strorgy - putri kedua (putri dari selir kedua Hunna) 9 tahun
◇Yonre Whirtay Strawn - pangeran keempat(putra dari ratu Adelyna) 7 tahun
Kira - kira seperti itu, marga Whirtay hanya untuk calon penerus sebenarnya, tapi karena masih belum menikah nama Whirtay masih ada di antara anak - anak, jika sudah menikah tetapi bukan calon penerus maka nama Whirtay harus dihapus dan hanya menyisakan marga ibunya.
Clyfro dan Levia sampai tepat didepan keluarga Whirtay, bisa Levia rasakan rasa tertekan yang mendalam kecuali Ratu dan anak - anaknya. 'Gugup' itulah yang dirasakan Levia saat itu.
"Putri kecil perkenalkan dirimu." Ucap Clyfro pada Levia, sesaat Levia melirik Clyfro lalu kembali memandang kedepan, keluarga whirtay berada.
"Perkenalkan nama saya Levia Necrivan." Ucap Levia yang berusaha terlihat polos.
"Mulai sekarang, anak ini akan menjadi bagian dari keluarga kita, Levia Necrivan Whirtay." Ucap Clyfro lantangbyang membuat semua orang mendengarnya. Terlihat semua orang juga sama terkejut terutama para selir dan anak - anaknya, tetapi beda dengan Ratu dan putra keduanya yang terlihat senang kecuali 1 orang yang terlihat biasa saja dengan ekspresi datar yaitu putra mahkota.
____________________
Levia berjalan ditemani kepala pelayan wanita, ia bernama Rim.
"Bibi Rim, bisakah bibi pelan - pelan saat berjalan? Hosh..." ucap Levia yang tertinggal dibelakang dengan nafas yang tidak teraturnya.
"Hmp... jangan kira karena kamu diangkat menjadi putri, kamu bisa bertindak sesuka mu ha!!" Bentaknya yang sedikit kesal, Levia tidak tau masalah apa yang ia perbuat sampai Pelayan Rim bisa mmebencinya seperti itu.
'Cih, pengen banget nih orang aku kuliti!! Salahku apa coba!!' Pikir Levia saat sampai dikamar yang akan ia tempati.
"Kalau saja aku tidak berakting sudah kupastikan langkah kakiku yang lebih cepat." Ucap Levia yang kemudian membuka lemarinya, terlihat beberapa gaun cantik berjejer rapi didalam lemari itu.
"Ish...norak banget!" Ucap Levia yang memandang sinis kearah gaun yang ada didalam lemari. Tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok
"Masuk!" Ucap Levia tanpa menoleh dari pandangannya. Pintu pun terbuka menampilkan seorang gadis cantik sekitar berusia 8 tahun dengan senyumnya.
"Salam putri" ucapnya membungkuk kearah Levia.
"Hm." Jawab Levia, ia sebenarnya tak beesikap arogan tetapi hanya malas menanggapi.
"Saya yang akan menjadi pelayan putri, putri saatnya mandi, lalu ke aula makan untuk makan malam putri." Ucapnya lagi masih dengan senyumnya.
"Hm...nama?" Ucap Levia sedikit pelan sambil menoleh kearah pelayan tersebut.
"Eh?" Bingung pelayan itu, saat melihat wajah Levia yang datar ia pun sadar.
"Saya bernama Nay putri." Ucap pelayan tersebut yang bernama Nay.
"Baik putri." Ucap Nay membungkuk lalu mengarahkan Levia ke tempat pemandian.
___________
"Kak Nay kamu bisa pergi, aku akan mandi sendiri." Ucap Levia yang enggan membuka bajunya.
"Eh... tapi putri nanti anda..." ucapan Nay terpotong dengan perkataan Levia.
"Tak apa, kak Nay bisa jelaskan caranya yang harus aku lakukan." Ucap Levia yang mulai menyakinkan Nay. Nay pun mulai menjelaskan, setelah itu Nay menunggu diluar atas permintaan Levia.
"Huh... akhirnya, sebenarnya melelahkan harus berakting terus, tapi apa dayaku." Ucap Levia menghembuskan nafasnya pelan.
_________________>>>>>>>
Setelah selesai mandi Levia mulai memakai gaun dibantu pelayannya Nay, rambut Levia yang berwarna hitam hanya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun.
Levia mulai melangkahkan kakinya keaula makan, terlihat meja panjang dengan beberapa kursi yang sudah terisi dan tersisa satu, mungkin untuk Levia. Ia membungkuk memberi salam lalu duduk dikursi yang sudah disiapkan, Nay pun juga mulai bergabung dengan beberapa pelayan yang berjejer ditepi, kalau mungkin nanti tuannya membutuhkan sesuatu. Makan malam saat itu tidak ada yang berbicaran hanya ada suara dentingan sendok dengan piring.
"Yang mulia, lihatlah gadis itu tidak bisa makan dengan tenang." Ucap salah seorang yang membuat tingkah Levia berhenti.
'Yah iyalah, kalau aku makan dengan anggun nanti malah pada curiga.' Jawab Levia dalam hati.
"Tidak apa nanti kita akan memberikan guru yang mengajari etika padanya." Ucap Clyfro yang melanjutkan makannya. Makan malam sudah selesai, semua pun kembali ke kediamannya masinh - masing.
"Kak Nay kau boleh pergi istirahat." Ucap Levia memandangi Nay.
"Baik putri." Ucap Nay membungkuk lalu pergi meninggalkan Levia sendiri diruangannya.
"Ah...hei dewa kehidupan, sebenarnya hukuman apa yang kamu maksud, aku tak mengerti, apakah aku harus menghentikan sebuah perang? Atau membimbing seseorang untuk menjadi yang terkuat?" Ucap Levia yang menatap langit - langit kamarnya. Tiba - tiba muncul kepulan asap yang semakin lama semakin banyak hingga pada akhirnya sekumpulan asap itu menghilang digantikan dengan sesosok pria tampan berdiri didepan Levia.
"Kamu harus mencari tahu nya sendiri." Ucapnya, ya pria tersebut adalah dewa kehidupan.
"Huh... sampai kapan?" Tanya Levia.
"..." yang hanya dijawab dengan senyum manisnya.
"Ya iya aku tahu kalau kamu itu memang tampan, tapi setidaknya kamu memberitahuku dong!" Ucap Levia sedikit kesal dengan dewa kehidupan.
"Jadi... sebenarnya apa maumu?" Tanya dewa kehidupan terkekeh.
"Aku... tidak tahu." Ucap Levia melamun.
"Kalau kamu ingin sesuatu bilang saja." Ucap dewa kehidupan dengan senyum tulus sambil mengelus elus kepala Levia.
"Hmm..." Levia tersipu malu akan perlakuan dewa kehidupan.
"Kalau begitu aku pergi." Ucap dewa kehidupan yang langsumg dijawab anggukan oleh Levia.
"Kamu harus bisa mencapai puncak dari segalanya, maka kamu akan tahu hukumanmu." Dewa kehidupan pun menghilang.
"Hump...apa harus mencapai puncak dulu baru tahu!" Kesal Levia terhadap dewa kehidupan yang membuat Levia menjadi imut.
____________________
Beberapa hari telah berlalu hingga guru yang akan mengajarkan etika kepada Levia pun datang, perlakuannya bisa dibilang sedikit kasar, setiap kali Levia melakukan kesalahan ia pasti akan memukul Levia dengan kayu panjang yang dibawa olehnya. Levia memang melakukan semua kesalahannya dengan sengaja dan juga setiap hari pastinya para selir dan anak - anaknya akan menjahili dan menindas Levia, Clyfro juga sudah mengetahui akan hal itu tetapi ia hanya diam karena rayuan kedua selir.
"Huh...aku sudah lelah akan semua hal ini!" Geram Levia saat ia mengingat para selir dan anak - anaknya menindas dirinya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar membuat Levia harus mulai berekting lagi.
"Iya masuk." Ucap Levia.
Pintu mulai terbuka hingga terlihat seorang wanita dan seorang lelaki, sekali lihat Levia sudah tahu siapa mereka, mereka adalah Ratu Adelyna dan putra keduanya Yonre.
___________________chp 3 end_________________
◇jadwal upload tidak menentu~