
1 tahun telah berlalu setelah Levia diangkat menjadi putri satu - satunya dari keluarga Fert. Semua berlalu begitu saja, beberapa kenangan bersama keluarga barunya membuat ia kembali bahagia. Tapi kebahagiaan yang ia dapat kembali tak bertahan lama hingga.
"Apa menurut kalian aku terlihat cantik hari ini?" Gadis dengan mata berlian berwarna ungu itu bertanya antusias kepada kedua orang pelayan yang ada dihadapannya.
"Tentu saja. Nona yang paling tercantik didunia!" Balas salah satu diantara mereka yang terlihat lebih muda. Tentu saja pelayan yang ada disampingnya juga setuju akan perkataannya. Gadis yang mendapat jawaban seperti pemikirannya pun tersenyum senang.
"Hm! Aku ingin ke aula makan! Saatnya sarapan bersama!" Levia berseru dengan ceria sembari berlari kecil saat menuju ke aula makan keluarga. Dengan ditemani kedua pelayan setianya yang tak lainnya adalah Peni dan Jesi.
Sesampainya didepan pintu aula, terdapat 2 penjaga yang sedang berjaga - jaga. Sesaat terlihat raut wajah tegas mulai berganti menjadi senyum yang lebar dikedua penjaga pintu saat melihat sang bidadari kecil mereka mulai mendekat.
"Selamat pagi!" Levia menyapa kedua penjaga dengan senyum bahagianya yang nampak persis seperti gadis kecil tanpa dosa pada umumnya.
"Selamat pagi nona." Kedua penjaga menjawab dengan senyum bahagia diwajah mereka, melihat Levia akan masuk, kedua penjaga dengan senang hati membukakan pintu. Ketika Levia sudah memasuki aula makan, kedua penjaga mulai teringat jika mereka belum mengumumkan akan kedatangan putri satu - satunya majikan mereka. Jesi dan Peni yang menyadari hal itu hanya geleng - geleng kepala.
"AYAAAH!!!!" Suara teriakan dari Levia membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka pada gadis kecil yang berlari mendekat kearah seorang pria yang sedang duduk.
"Levia, jangan teriak begitu. Dimana letak tata krama yang telah diajarkan guru pada setiap perilakumu?" Pria yang dipeluk Levia tak lainnya adalah Fert, ayah dikeluarga baru Levia sekaligus kakak dari kaisar yang membuat peluru bersarang pada jantungnya.
"Tata krama? Apa itu tata krama ayah?" Levia bertanya dengan mata bulat yang menunjukkan kepolosan tiada tara dalam dirinya.
"Levia." Fert menegur dengan lembut tanpa ada bentakan yang membuat Levia semakin menyanyanginya, tetapi mengingat Fert menegur perihal tata krama membuat Levia menjadi cemberut.
"Aku membuangnya. Tata krama akan membuatku seperti kakak ketiga ayah!" Levia menunjuk jari telunjuknya kearah anak lelaki yang duduk dengan wajah datarnya, tentu saja hal itu tidak akan bertahan lama.
"Huh? Kenapa menunjukku? Apa kau akhirnya terpesona padaku?" Bocah berusia 9 tahun itu tak lainnya adalah Kano, putra ketiga keluarga Fert. Kano bertanya dengan anda menggoda kepada Levia yang menunjukkan raut wajahnya seperti mengatakan 'menjijikan!'.
"Hih! Jangan terlalu bangga akan wajah jelekmu itu." Levia mengejek dengan seringai yang nampak jelas diwajahnya. Melihat hal itu tentu membuat Kano tersentak, hanya gadis kecil yang menjadi adik perempuannya itu lah yang berani mengejek dirinya yang terbilang sempurna dengan usianya yang baru memasuki usia 9 tahun.
"Ayah! Jika aku jelek, bukankah ayah juga sama saja?!"
"Kano. Kau, bagaimana bisa kau mengatai ayahmu sendiri dengan sebutan jelek?" Fert bertanya dengan raut wajahnya yang nampak tak percaya akan ucapan Kano.
"Ayah, bukan aku yang mengejek ayah! Tapi Levia yang mengatakannya!" Kano mengelak dengan jarinya yang menunjuk kearah Levia yang masih memeluk Fert. Levia segera melepas pelukannya dari Fert sembari menatap Kano dengan mata tajamnya.
"Sudahlah, Jangan bertengkar lagi. Levia cepat duduk nanti makanannya dingin." Hiny berkata dengan lembut layaknya ibu yang melerai pertengkaran anaknya. Levia mengangguk dan segera duduk ditempat duduk yang disediakan untuknya.
Suasana didalam aula makan mulai hening hingga membuat suara dentingan sendok bisa terdengar dengan jelas.
"Levia, kudengar kau sudah bisa mengeluarkan elemen dan menggunakannya, ayah telah mendaftarkanmu keakademi pusat di ibukota Dufxi. 1 bulan lagi kamu bisa masuk keakademi." Fert memecah kehening yang memenuhi aula makan setelah semua orang selesai memakan makanan yang dihidangkan.
"Hm? Akademi? Apakah kakak juga akan ikut?"
"Tentu saja! Sudah lama aku tidak masuk semenjak aku diliburkan." Kano mendengus.
"Cih! Siapa yang bertanya padamu?!"
"Ayah, bolehkah hari ini aku sedikit berbelanja tanpa ada jadwal pelajaran dari kak Zirun?" Levia menatap Fert dengan mata besarnya yang bersinar membuat siapa pun tak tahan melihatnya. Fert menghela nafasnya kasar merasa tak bisa mengabaikan tatapan Levia.
"Baiklah , nanti ayah akan bilang pada Zirun." Levia tersenyum cerah saat mendengar apa yang Fert katakan.
"Terima kasih ayah!"
☆☆☆☆☆☆☆》》》》》》
Levia berjalan dengan dengan wajahnya yang selalu menebar senyum ceria, ia sudah berada didalam kota Dufxi bersama kedua pelayannya Peni dan Jesi serta 1 orang pengawal.
Dengan berlarian kecil Levia menelusuri setiap toko yang menarik perhatiannya, sesekali ia juga membeli sesuatu untuk diberikan keluarganya sebagai oleh - oleh. Sangat jarang bagi keluarga Fert untuk berkunjung ke kota Dufxi. Walau jaraknya tak jauh dari kediaman milik keluarga Fert.
Tepat saat tengah hari Levia mengajak kedua pelayannya kesebuah restaurant yang ternama di ibu kota kekaisaran Cylo, rumah makan Geigho. Saat akan memasuki rumah makan tersebut Levia sempat dihadang oleh 2 orang penjaga yang menjaga didepan pintu restaurant.
"Kalian tidak diperbolehkan masuk!" Kedua orang yang merupakan penjaga rumah makan Geigho menghadang Levia yang sudah didepan mulut pintu.
"Tapi kenapa?" Raut wajah Levia terlihat begitu kecewa ketika mendapati larangan dari kedua penjaga. Dengan sigap pengawal yang mengawal Levia dari tadi mengeluarkan suatu benda yang mirip seperti token dengan tanda pengenal.
Melihat nama yang terpampang ditoken adalah nama keluarga yang begitu dihormati, kedua penjaga itu meminta maaf kepada Levia dan lainnya dan segera menyambut mereka dengan muka senyim yang masam merasa sedikit takut jika saja mereka dikenakan hukuman.
Token yang dibawa pengawal Levia adalah emas yang berbentuk bintang yang mana status tertinggi, tak lainnya adalah token untuk keluarga kekaisaran. Dengan nama yang terukir ditoken menunjukkan identitas siapa orang yang telah mereka singgung.
Sejenak memang kedua pengawal itu sedikut ragu akan keaslian token yang ditunjukkan, tetapi setelah dilihat lebih teliti lagi ternyata token emas tersebut adalah token emas yang asli dengan ukuran yang diukir menggunakan nama Adrefson. Melihat jika yang dikawal adalah seorang gadis, kedua penjaga mulai menyimpulkan jika gadis yang sedang berkunjung adalah salah satu dari putri kekaisaran.
Saat Levia sudah ada didalam, Levia dapat melihat begitu banyak orang yang berkunjung dilantai 1 yang mana adalah lantai paling bawah dirumah makan Geigho. Rumah makan Geigho adalah salah satu rumah makan yang paling terkenal atau ternama dikota Dufxi yang ada diurutan kesatu dari yang terbaik.
Rumah makan Geigho memiliki 4 lantai yang bertingkat. Sebenarnya rumah makan Geigho juga meperbolehkan rakyat biasa untuk makan disini, tetapi setelah banyaknya protes dari pelanggan kalangan bangsawan, pada akhirnya manager dari rumah makan Geigho mulai menggunakan kebijakan baru.
Pandangan Levia mulai terarahkan pada pelayan wanita yang berdiri sebagai kasir atau tempat pembayaran.
"Paman, boleh aku pinjam token yang paman bawa tadi?" Levia menatap pengawal yang menjaganya, tanpa ada rasa ragu pengawal itu memberikan token pengenal kepada Levia.
"Terima kasih."
Dengan langkah pasti Levia menggenggam token pengenal dan berjalan menuju pelayan yang menjadi kasir. Levia yang tak dapat melihat wajah dari pelayan yang ingin ia ajak bicara pun memberi Jesi kode untuk mengangkatnya dan duduk dikursi.
"Bisakah aku memesan ruang pribadi disini?" Levia menatap pelayan yang ada didepannya. Pelayan wanita dengan rambut sebahu, dan mata berwarna coklat cerah.
"Maaf ruang pribadi dilantai 4 telah dipesan oleh keluarga kekaisaran." Balas pelayan itu dengan kepala menunduk yang menunjukkan permintaan maaf yang sebesar - besarnya karena mereka tak bisa menyinggung orang dari keluarga kekaisaran.
Levia yang mendengar hal itu pun menunjukkan token pengenal yang sedari tadi ia genggam dengan kuat ditangannya.
"I- ini... " pelayan tersebut tergagap tak tau harus bagaimana, pelayan itu hanya diam dengan matanya yang menatap token kekaisaran. Token atau tanda pengenal memiliki tingkatan dengan status pemilik.
Tingkatan token dapat dibedakan menjadi beberapa hal.
Diagram : Token berbentuk setengah lingkaran yang berada ditingkatan kedua paling rendah setelah rakyat, yang mana adalah para bangsawan rendah.
Lingkaran : Token berbentuk lingkaran penuh menunjukkan identitasnya sebagai penjabat atau bangsawan atas yang berada diposisi ketiga paling rendah.
Persegi : Token berbentuk segi empat hanya dimiliki oleh para raja yang berada dikekaisaran yang dipimpin oleh kaisar itu sendiri. Token persegi terkadang sering dipakai oleh para pangeran dan putri dari keluarga kekaisaran.
Bintang : Token berbentuk bintang atau segi lima adalah token yang paling berkuasa disuatu kekaisaran yang mana pemakai dari token tersebut memiliki kekuasaan seperti kaisar, token bintang hanya bisa diberikan oleh mereka yang dekat dengan keluarga kaisar atau para tamu khusus.
Segitiga : Token dengan bentuk segitiga sering didapat oleh para penyihir atau ahli sihir yang profesional yang bahkan diakui oleh kaisar itu sendiri. Token segitiga memiliki 2 jenis. Yang satu adalah token segitiga dengan gerigi disekelilingnya, menunjukkan seorang penyihir yang tidak ingin terikat atau bebas dari hubungan penjabat serta kaisar. Token segitiga tanpa gerigi adalah penyihir yang bisa saja mengikat kontrak dengan seseorang dengan suatu pertukaran tertentu sebagai bayaran.
Belah ketupat : Token ini hanya diperuntukkan oleh pendekar yang kuat, token ini hanya berlaku didunia tengah dan tak meliputi dunia bawah atau atas sekalipun.
Pelayan yang jelas tau apa arti dari token yang diserahkan Levia pun menjadi diam membisu tak tau harus bagaimana. Melihat hal itu tentu saja membuat Levia tersenyum sembari mengetukkan jarinya kemeja. Dengan sabar Levia menunggu tetapi pelayan itu masih saja diam tak bergeming yang disusul oleh sebuah suara.
"Ada apa ini?" Seorang wanita cantik mulai turun dari anak tangga yang menghubungkan antara lantai 1 dengan lantai 2. Wanita berusia 40 tahun itu adalah manager sekaligus pemilik dari rumah makan Geigho ini.
"N - nyonya..." pelayan yang diam sedari tadi kini mulai merasa ada secerah cahaya yang masuk dan sedikit rasa gugup juga mulai muncul.
"Ada apa?" Wanita itu bertanya sekali lagi kepada pelayan yang sama. Dengan sedikit rasa gugup pelayan itu menjelaskan semua mulai dari Levia yang meminta ruang pribadi sampai sang pemilik menampakkan dirinya.
"Hm? Token bintang?" Wanita itu dengan ragu mengulangi perkataannya, merasa tak yakin jika yang ditunjukkan oleh nona kecil adalah token bintang asli.
"Apakah saya boleh meminjam token anda sebentar?" Perempuan berusia 40 tahun itu bertanya dengan sopan berusaha untuk tak menyinggung perasaan orang yang identitasnya belum ia ketahui.
Dengan senyum merekah Levia menyerahkan token bintangnya kepada wanita itu "Silahkan."
Dengan teliti wanita itu mulai mengecek apakah token bintang yang ada ditangannya itu asli atau tidak, setelah menunggu cukup lama, dengan melihat raut wajah dari pemilik rumah makan Geigho. Levia dapat mengetahui apa yang didapat wanita itu.
"I - ini..." Wanita itu kini merasa tak percaya jika token bintang yang katanya terbuat dari emas bisa ia lihat secara langsung dan token yang berada ditangannya tersebut adalah token bintang asli.
"Apa yang dikatakannya tadi? Token bintang?"
"Apa aku tidak salah dengar? Bagaimana mungkin ada orang yang menunjunkkan token bintang disini?"
"Lalu siapa yang membawanya?"
"Apakah gadis dengan dua pelayan dan 1 pengawal itu?"
"Tapi aku belum pernah melihatnya dikeluarga kekaisaran."
Levia yang menjadi bahan perbincangan hanya daim sembari menunggu apa yang akan keluar dari mulut wanita yang masih memegang token bintang milik ayahnya itu.
"TIDAK MUNGKIN ITU ASLI!! PASTI TOKEN ITU PALSU!!!" Sebuah teriakkan dari pintu masuk membuat semua orang terkejut, sekali lagi perhatian dari semua orang dilantai 1 mulai beralih ke arah pintu masuk yang terdapat 1 orang gadis cantik dengan 1 pelayan wanita yang mengikutinya. Dilihat dari penampilannya yang terkesan mahal itu dapat disimpulkan jika ia adalah putri dari seseorang yang statusnya terpandang.
"Dia?! Itu adalah putri kedua kaisar, Jeila Adrefson!!!"
Hanya dengan satu sahutan yang memberitahu siapa sosok gadis itu, membuat lantai 1 ricuh kembali.
"Jeila Adrefson? Apakah dia keponakan ayah?" Levia bertanya kepada kedua pelayannya yang sedari tadi diam.
"Benar nona, dia adalah putri Jeila. Putri kedua dari paman nona." Jesi membalas apa yang ditanyakan majikannya.
"Bagaimana jika nona menyapanya?" Kali ini bukan Jesi yang menyarankan tapi Peni dengan senyumnya yang ceria.
Sedangkan orang yang mereka bicarakan saat ini dengan muka yang penuh akan amarah, ia pergi mendekat kearah Levia yang masih terduduk dikursi. Suara hentakan kakinya yang keras sempat membuat Levia bingung.
'Apakah dia marah?'
PLAK!!!
Tepat saat didepan Levia, gadis bernama Jeila itu menampar Levia dengan keras hingga membuatnya terjatuh dari kursi. Semua yang menyaksikan dibuat tercengang saat melihatnya.
BRUK!!!
Levia tersungkur dengan kerasnya, dengan tangan sebagai tumpuan Levia segera memegang pipi yang ditampar tadi, rasa panas mulai terasa dengan rasa nyeri dipipinya. Darah nampak terlihat disudut bibir Levia membuat Peni dan Jesi khawatir. Dengan cepat keduanya membantu Levia berdiri.
'Bibirku sampai sobek. Tubuh pendekarku masih belum menyatu.'
"Pasti token itu palsu!! Ayah tidak akan menyerahkan token itu kepada gadis kecil sepertimu!! Ayah telah memberikan token bintang kepada paman."
"Aku hanya punya satu paman didunia ini, itu adalah paman Fert. Dan tak mungkin juga jika paman memberikan token itu karena kau bukan putri paman!" Jeila membentak Levia dengan amarahnya yang meledak, tak tau marah karena apa. Tiba - tiba suara dari sistem membuat Levia terkejut.
[Ding!]
[Virus berbahaya memasuki sistem, peringatan!! Virus berusaha merusak sistem!!]
[Berbahaya!!]
[Tit! Peringatan! Sistem mulai menghilang!!]
Levia terkejut saat mendengar suara sistem terus menerus muncul dibenaknya.
'Apa? Virus?'
[Sistem ..... EROR!!!!]
[Peringatan!! Keberadaan sistem mulai memudar.]
Levia benar - benar terkejut mendengar suara sistem yang lama - kelamaan mulai menjadi pelan hingga suara nyaring tiba - tiba berdengung membuat kepala Levia menjadi sakit.
"Ugh!!!" Rintih Levia yang merasakan sakit dikepalanya. Peni dan Jesi yang melihat Levia merintih kesakitan menjadi semakin khawatir dan cemas.
"Nona?!"
'Apakah sistem menghilang?'
Pengawal Levia tiba - tiba mendekat kearah Levia sembari membisikkan sesuatu. Mendengar apa yang dibisikan pengawalnya, Levia mengangguk. Tentu saja anggukkan Levia membuat semua menjadi penasaran. Seorang pria mulai mendekat dan membungkuk, bukan membungkuk untuk putri Jeila tapi Levia.
"Permisi nona, saya adalah utusan yang mulia tuan Fert. Ayah anda merasa khawatir karena anda belum pulang setelah seharian berbelanja."
"Jadi yang mulia mengutus saya untuk menjemput nona agar segera pulang dan ikut makan malam bersama." Ucapan pengawal tersebut membuat seluruh ruang dilantai satu menjadi hening seketika. Sedangkan Jeila sekarang masih terkejut mendengar siapa orang yang ia tampar.
"Hm, baiklah. Aku tak ingin membuat ayah dan semuanya khawatir." Levia berjalan menuju pintu masuk, tepat saat melewati Jeila Levia tak mengatakan apa - apa dan hanya terus berjalan.
"Ambil tokennya. Kita kembali, aku tak ingin ayah kehilangan token miliknya."
"Baik." Jesi mendekat kearah wanita yang merupakan pemilik rumah makan Geigho. Hanya dengan sekali tatap wanita itu dengan segera menyerahkan token bintang yang ada ditangannya. Jesi segera menyusul Levia setelah mendapatkan apa yang diminta Levia. Setelah semua keluar, pengawal Levia yang diam mulai menatap semua orang dengan tajam, dan langsung pergi mengikuti rombongan.
"Aku tak menyangka jika gadia itu adalah putri dari kakak sang kaisar!"
"Tapi bukankah yang mulia Fert itu tidak memiliki seorang putri, dan hanya mempunyai 3 orang putra?"
"Kau benar! Tapi bisa saja jika dia adalah putri angkatnya!"
Jeila yang mendengar omongan disekitarnya hanya bisa menahan tubuhnya yang gemetar, tak tau apakah karena takut atau gugup.
•••••••
BRAK!!!
Suara dobrakan memenuhi aula makan. Gadis kecil yang tak lainnya adalah Levia menampakkan dirinya di depan pintu yang terbuka. Levia terkejut saat melihat apa yang ada dihadapannya. Saat ia memasuki kediaman ia tak menemukan siapa pun yang membuat Levia merasakan firasat yang buruk sehingga ia segera berlari menuju aula makan dan meninggalkan orang - orang yang ada dibelakangnya.
Firasatnya benar - benar terwujud, yang ia lihat dihadapannya saat ini bukanlah aula makan yang biasanya dipenuhi oleh dentingan sendok. Darah memenuhi aula makan yang mana adalah darah dari para pelayan dan penjaga. Terlebih keadaan mayat semuanya dalam keadaan yang kering.
Hal itu tentunya mambuat Levia teringat film yang keadaan mayatnya sama seperti yang ia lihat dan pelaku yang melakukannya adalah seorang vampir.
"Levia!"
______________chp 21 end_________________
Hai!! Ruka kembali up.
Ruka mulai berfikir untuk berkerja sama dengan temen Ruka, Aoi dan Aneko
yah menurut pertimbangan Nevt dan Aneko ingin menambahkan genre Yaoi dan Shoujo Ai, yang mana adalah kisah Bl serta Girl's Love.
Aneko bilang jika dunia itu luas sehingga banyak ditemui kisah - kisah yang unik.
nah Ruka dah up cepet karena bentar lagi Ruka Aoi dan Aneko bakalan Ujian :^
di chapter kali ini Ruka dah up sekitaran 2 setengah ribuan.
semoga terhibur \=^\=
salam dari Ruka, Nevt, dan Aneko ~
>♡<