
"AAAHHHHHH!!!!!" Teriak Levia yang terkejut akan keberadaan Zirun dibelakangnya, sontak ia langsung saja menendangnya hingga terjatuh.
Bruuuk
"Aduh!!!"
"Kenapa kau disini?!" Teriak Levia yang tidak bisa mengontrol emosi maupun air mukanya. Zirun menatap Levia sesaat sebelum ia menghela nafasnya.
"Ini ruangan yang disediakan paman Fert untukku. Bukankah memang seharusnya aku tidur disini?" Ucap Zirun yang mencoba berdiri dengan tangannya yang menggosok - gosok pan**tnya. Perkataan Zirun membuat dahi Levia mengerut menampilkan beberapa kerutan yang mulai terlihat.
"Apa maksudmu?" Tanya Levia yang mencoba menenangkan emosinya. Zirun kembali menatap Levia dan mendekat untuk duduk disamping Levia.
"Bukankah sudah kubilang jika aku akan menjadi gurumu?" Levia hanya menatap Zirun tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Huh, aku akan menginap disini selama 2 bulan, dan saat itu pun aku akan mengajarimu beberapa hal agar kau tidak bodoh lagi." Ujar Zirun yang duduk disamping Levia.
"Kau sendiri yang memilih tidur disini sebelum mendengar penjelasanku!" Lanjut Zirun lagi saat melihat Levia yang hanya diam menatap dirinya dengan horor.
"Baiklah - baiklah! Aku yang salah!!" Ucap Levia yang mengalihkan pandangannya. Levia melihat sekelilingnya hingga ia melihat 1 pintu yang berada disudut ruangan.
Ia menurunkan badanya dari tempat tidur dan langsung membuka lemari yang ada disana, Zirun yang melihat Levia membuka pintu lemari pun mengerti akan keinginan Levia.
"Aku menyimpan gaunmu dipeti itu." Ucap Zirun yang menunjuk pada sebuah peti yang seukuran dengan Levia. Levia sesaat melirik peti itu hingga kakinya melangkah mendekat.
Kreet
Peti tersebut terbuka menampilkan beberapa kotak didalamnya. Levia hanya terpaku pada kotak yang berwarna biru langit dengan pita hitamnya. Tanpa basa basi lagi, ia mengambil kotak itu dan membukanya untuk memastikan isi yang ada didalamnya, Levia menutup kembali kotak itu, lalu menuju kearah pintu yang ada disudut ruangan, Zirun diam tak bergeming dari tempatnya hingga ia keluar dari ruangan itu tanpa pamit ataupun mengeluarkan sepatah katapun.
Tak berselang lama kemudian Zirun akhirnya kembali terlihat dibalik pintu dengan wajah segarnya dan pakaian yang terkesan rapi.
"Via, apakah kau sudah selesai?" Tanya Zirun yang sama sekali tidak mendapat balasan. Hal itu membuat Zirun sedikit khawatir hingga ia memanggil levia lagi.
"Via?" Panggil Zirun sembari mengetuk pintu yang menjadi pembatas antara kamar tidur dengan pemandian, Zirun semakin cemas karena tidak mendapat respon apapun dari dalam hingga ia memutuskan untuk masuk. Tapi sebelum Zirun membuka pintu sebuah suara terdengar terlebih dahulu membuat gerakan Zirun terhenti.
"Jangan masuk kedalam!" Ucap Levia dari dalam pintu, Zirun yang mendengar kembali suara Levia pun kembali lega dari kekhawatiranya, tapi hal itu tak berselang lama hingga Zirun membuat air mukanya yang terlihat kesal.
"Setidaknya kau jawab dulu panggilanku dari tadi! Agar aku tidak cemas akan kondisimu!!" Ucap Zirun yang kesal menuju salah satu kursi yang ada didekatnya. Levia sama sekali tidak mempedulikan ucapan Zirun, ia hanya perlu ketenangan untuk menikmati berendamannya.
Zirun yang tidak mendapat respon lagi menjadi semakin kesal. 'Lagi - lagi tidak menbalas ucapanku!' Pikir Zirun yang semakin kesal, hingga sebuah ide yang sangat bagus ( bagi Zirun) muncul, bibir Zirun terangkat menampilkan senyumnya, tapi senyum itu bukanlah senyuman yang manis melainkan sebuah senyuman yang sangat menyeramkan.
'Hehe, awas saja kau!!'
•••
"VIA! CEPATLAH! ATAU KITA NANTI AKAN TERLAMBAT!!!"
"VIA!! APAKAH KAU SUDAH SELESAI?!"
"VIA!!!!"
"LEVIA!!!!"
"CEPATLAH VIA!!! MAKANANNYA ENAK SEKALI LOH!!"
"VIA!! NANTI KAU AKAN TERLAMBAT DIJAM PELAJARANKU!!"
"VIA CEPATLAH!! ATAU KAU NANTI AKAN JADI BODOH KARENA TERLALU LAMBAT!!!" Ucap Zirun yang masih dengan seringaiannya. Ia baru saja sadar kalau Levia sangat menyukai ketenangan, maka jika ia ingin mengganggunya, ia harus selalu berisik agar ketenangan Levia terganggu.
"Cih! Ini orang tidak bisa diam apa?!" Gumam Levia yang sangat geram akan Zirun.
"Hei, hei! Buatlah suara kegaduhan atau lainnya!!" Zirun memerintahkan semua pelayan yang ada disana, jika ia ingin mengganggu Levia, ia harus menyiapkan tumbal selain dirinya agar Levia tidak menyerangnya. Para pelayan yang ada disana merasa ragu tapi apalah daya mereka, semua pun hanya bisa menurut akan keinginan Zirun.
Suara kegaduhan pun mulai terdengar sangat bising membuat semua yang ada dikediaman itu menjadi penasaran akan asal suara tersebut, begitu juga dengan keluarga Fert yang merasa terganggu. Mereka yang awalnya menuju aula makan berganti keasal suara kegaduhan.
Levia yang masih berendam merasa kesal akan Zirun yang mengganggu dirinya, ia tahu kalau dalang dari semua yang terjadi saat ini adalah Zirun, Levia yang sudah tidak bisa menahan emosinya pun segera bangkit dari tempat pemandian dan memakai baju yang ada didalam kotak. Ia memakai baju dengan sedikit perubahan menggunakan sihir penggantinya, Levia menyelaraskan pakaiannya dengan celana berwarna biru gelap.
Levia yang masih dengan rambut basahnya keluar dari ruangan itu untuk menemui Zirun si pengganggu yang berada diluar kediaman yang ia tempati.
Braak!!!
Suara dobrakan pintu itu berasal dari sesosok gadis mungil yang kesal, Levia berjalan dengan wajah marahnya yang mungkin jika dilihat orang lain akan merasa imut atau lucu. Zirun tersenyum tipis saat melihat Levia keluar hingga ia menyadari pakaian yang dikenakan olehnya.
"Oh hai Via! Akhirnya kau keluar juga!" Ucap Zirun yang melebarkan senyumnya kepada Levia.
"Dan juga itu -" ucapan Zirun terpotong akan suara Levia.
"Tidak perlu membahas itu! Sekarang yang harus kulakukan hanyalah mengurus binatang yang sangat mengganggu diriku ini!" Ucap Levia yang menyeringai dengan wajah gelapnya membuat air mukanya yang sangat mengerikan! Bahkan kini Zirun pun menelan ludahnya dengan susah payah.
"Haha, ah itu Levia ... " ucap Zirun dengan tawa garingnya tapi belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Levia terlebih dahulu menyela Zirun.
Levia berlari kearah Zirun berniat untuk tidak mendengar ataupun membiarkan Zirun lepas dari genggamannya. Zirun tersentak tapi tak berselang lama setelah ia sadar bahwa posisinya saat ini sangatlah buruk, Zirun berlari melarikan diri dari kejaran Levia dan beberapa kali mengucapkan kata 'ampun', tapi Levia hanya mengacuhkannya.
Semua orang yang ada disana hanya bisa terdiam ditempat tanpa sepatah kata apapun yang keluar. Kini keluarga Fert lanjut menuju aula makan, dimana tempat tujuan mereka berada.
•••
Diruang makan terdapat beberapa orang dengan bermacam - macam hidangan yang tersedia dimeja makan, tepatnya didepan orang - orang yang kini telah duduk. Terlihat 2 orang yang berbeda usia sedang menjadi pusat perhatian dari semua orang yang ada disana. Lagi - lagi Levia dan Zirun mendapatkan semua tatapan tanpa meminta, Levia yang memakan makanannya dengan cepat sembari memejamkan matanya tidak ingin melihat apapun yang akan membuat emosinya tidak terkendali, sedangkan Zirun sangat berbeda dengan Levia yang bersuasana suram. Zirun tampak begitu senang karena mengetahui kelemahan dari gadis kecil itu.
Hiny yang sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya pun menanyakan suatu hal pada mereka berdua.
"Jadi ... bisa kau jelaskan pada kami apa yang terjadi pada kalian sebelum datang kemari?" Tanya Hiny yang melemparkan pertanyaannya pada Zirun. Zirun yang mendapat pertanyaan disaat moodnya sangat bagus pun menjawabnya dengan semangat.
•••
> FLASH BACK ON <
Levia mengejar Zirun sampai mengelilingi seluruh kediaman milik keluarga Fert hingga Zirun terhenti. 'Bukankah Levia hanya anak kecil? Mungkin saja dia tidak bisa menangkapku' Zirun menghentikan langkahnya secara mendadak, Levia yang bisa menyeimbangi langkah Zirun pun tersentak saat melihat Zirun terhenti. Levia yang terlalu cepat berlari tidak bisa menghentikan kakinya secara tiba - tiba sehingga membuat Levia terbentur tubuh Zirun.
Bruuk!!!
Levia yang tidak kuasa menahan berat badannya pun terjatuh kebelakang diikuti oleh Zirun yang ikut terhuyung. Levia yang masih bisa merasa hal duniawi pun memejamkan matanya dengan kuat untuk menahan rasa sakit dibadannya, Levia membuka matanya tiba - tiba saat merasa tubuhnya tertindih akan sesuatu yang sangat berat.
"Apa yang kau lakukan?!! Cepatlah berdiri!!! kau sangat berat!!!" Teriak Levia saat melihat Zirun yang ada diatas tubuhnya. Zirun tidak menanggapi ucapan Levia dan langsung mencoba untuk berdiri, ia pun menggunakan tangannya sebagai penyanggah agar badannya tidak terjatuh lagi.
Tetapi entah mengapa tangan Zirun memdadak terasa lemas membuat badannya menimpa tubuh Levia lagi bahkan lebih keras.
"AKH!!! ... sakit!!!" Teriak Levia yang sedikit merona, tidak tau kenapa ia sedikit merasa geli saat kepala Zirun mengenai perutnya. Zirun yang mendengar rintihan Levia pun segera mengangkat kepalanya.
"Levia apa kau baik -" ucapan Zirun terhenti saat melihat wajah Levia yang sedikit memerah, Zirun menyeringai, berfikir bahwa Levia adalah seorang gadis kecil yang jenius dan mesum. 'Memang benar jika seseorang pasti tidak ada yang sempurna' pikirnya.
"Via wajahmu ... apa jangan - jangan -" ucap Zirun yang menyertai seringainnya terhadap Levia, Levia yang tau akan apa yang dipikirkan Zirun pun segera menyela tidak ingin Zirun salah sangka.
"TIDAK!! aku bukanlah gadis mesum seperti yang kau bayangkan!!! Aku hanya ... sedikit geli saat kepalamu mengenai perutku!!!" Bantah Levia. Zirun yang mendengar bantahan Levia terkekeh pelan hingga ia menatap Levia dengan senyumnya yang melebar.
'Gadis kecil, kelemahanmu terlihat lagi...'
Levia yang melihat senyum Zirun mulai merasakan firasat yang tidak mengenakan hatinya. Levia perlahan mengerakkan tubuhnya kebelakang untuk menghindari Zirun, tapi hal itu dapat dilihat oleh Zirun sehingga Zirun pun memegang pergelangan tangan Levia.
"Le - lepaskan!!" Ucap Levia sedikit gugup saat melihat wajah Zirun yang mulai berubah sangat mengerikan disertai niat terselubung dibenaknya.
"Pfft... AHHA HA HA HA HA HA!!!" Teriak Levia yang tertawa geli saat jari tangan Zirun mulai menggelitik pinggangnya. Wajah Levia mulai memerah tak tahan dengan rasa geli yang ada.
"HE - HENTIKAN!!! HA HA HA HA!!"
"KUMOHON HA HA HA HENTIKAN!!! HA HA HA!!!" Levia berteriak memohon pada Zirun untuk menghentikan jarinya, Zirun tidak menjawab hingga beberapa saat ia menghentikan kelakuannya. Merasa kegelian dalam hatinya semakin berkurang Levia mulai menghela nafasnya merasa lega. Zirun berdiri dari tempatnya sembari melihat Levia yang masih memegangi perutnya.
Levia yang sudah kembali normal pun bangkit dari tempatnya, melihat Zirun ada didepannya dengan senyum yabg lebar membuat Levia merasa geram dan kesal akan kelakuan yang Zirun perbuat. Levia menghela nafasnya dan mengarahkan kakinya kebelakang hingga ia kembali mendorong kakinya kedepan untuk menendang Zirun.
Bruuk!!!
Zirun sedikit terpental kebelakang hingga menambrak pohon, Zirun merintih merasakan sakit yang tidak main - main tapi tetap saja senyum yang ada dibibirnya tidak menghilang, hal tersebut juga dapat dilihat Levia sehingga membuatnya semakin kesal. Levia berbalik pergi tanpa menghiraukan teriakkan Zirun yang sudah pulih menggunakan sihirnya.
"VIA TUNGGU!!!"
> FLASH BACK OFF <
Zirun menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi olehnya, semua orang terdiam dengan berbagai ekspresi yang berbeda - beda. Zirun tang melihat hal itu pun semakin tersenyum senang. Levia yang sudah tak tahan pun berdiri dari tempat duduknya secara tiba - tiba membuat semua orang disana tersentak kaget karena terlalu terpaku pada pikirannya masing - masing.
"Aku selesai, terima kasih makanannya." Ucap Levia yang berlenggang pergi menghiraukan semua orang yang ada disana. Zirun juga ikut pergi tapi sebelum itu ia berpamitan dengan semua orang.
•••
Levia pergi menuju kediaman yang seharusnya ia tempati sebelumnya, kediaman yang sangat dekat dengan hutan membuatnya sedikit senang saat memikirkan ia pergi kedalam hutan untuk bersenang - senang. Apakah ia tidak berfikir kalau Fert tidak menyukainya karena menempatkan kediaman yang dekat dengan hutan berarti bahaya bagi gadis kecil pada umumnya tapi kecuali bagi Levia.
Levia sama sekali tidak memikirkan hal tersebut. Tapi bukan berarti ia bodoh, hanya saja ia tidak ingin memikirkan hal itu walau begitu sebenarnya bukannya fert tidak menyukai Levia, kediaman yang akan ditempati Levia adalah kediaman yang tersisa dari semua kediaman yang ada, maka dari itu Fert terpaksa menempatkan Levia dikediaman yang dekat dengan hutan tanpa ada maksud tertentu.
Levia yang sampai disana langsung saja berkeliling sebelum ia masuk kedalam. Disebelah kanan kediaman terdapat sepetak tanah yang luas dengan berbagai jenis bunga bermekaran, Levia sedikit terpana melihat ladang bunga itu, Levia melihat kekanan dan kekiri seakan mencari sesuatu.
'Apakah tidak ada pembatas atau pagar disini?' Pikir Levia. Memang sebelumnya didepan Levia sama sekali tidak melihat ladang bunga disisi kanan kediaman, hal itu dikarenakan tertutupi oleh semak - semak yang sangat lebat sehingga ia tidak bisa melihatnya dari depan kediaman. Levia mulai berfikir bahwa ia akan membuat pembatas dengan semak - semak bunga mawar untuk menghalangi penglihatan orang lain saat melihat ladang bunga miliknya. Ya sebenarnya Levia agak sedikit pelit akan beberapa hal, tapi bukan berarti ia pelit dalam membagikan uang untuk orang yang patut ia kasih.
Levia mengangguk - anggukkan kepalanya sebagai akhir keputusan yang telah ia buat. Levia kembali menatap ladang yang ditumbuhi berbagai macam jenis bunga, bunga lily, tulip, mawar, melati, lavender, anggrek dan banyak lagi macamnya.
'Mungkin aku harus menata ulang ladang ini agar menjadi taman yang indah.' Pikir Levia.
Levia yang sudah selesai melihat pun lanjut berkeliling menuju kebelakang kediaman. 'Tanah kosong' hanya itulah yang ada dibenak Levia saat melihat tanah - tanah yang banyak ditumbuhi oleh rumput.
"Hanya tanah kosong yang ditumbuhi oleh rumput liar." Gumam Levia menatap rerumputan lalu berlaih menatap kedepan dimana banyak pepohonan yang terlihat dari kejauhan.
"Mungkin disana juga termasuk wilayah hutan, bagus juga!" Ucap Levia dengan sendirinya.
'Sebaiknya nanti tanah ini kutanam beberapa tanaman herbal dan tanaman ajaib.' Pikir Levia lagi
"Ah, dan juga array pelindung agar tidak ada yang mencurinya!".
_________________chp 16 end__________________
Hai, Ruka Up lagi nih :^
12 hari mendatang Ruka gk bisa up jadi hari ini Ruka udh usahain buat up. tapi klo bisa Ruka bakal up kok klo ada waktu.
Besok Ruka ada PAS jadi Ruka harus berhenti dulu. Dah itu aja yg Ruka sampaikan, mohon dukungannya ya
dengan Like, Coment, Vote
\=^\= See you later.... Bye ^^