Princess Levia

Princess Levia
Princess Levia :Chapter 22 : Dibantai



"Levia!"


Mendengar namanya dipanggil membuat Levia beralih menatap kearah suara tersebut berasal, tepatnya dipojok kanan sudut ruangan. Semua yang masih tersisa kini hanya ada keluarga Fert yang dilanda rasa takut saat melihat dari dalang utama yang membuat semua kekacauan dikediamannya itu.


Dapat Levia lihat, disudut ruangan tersebut ada seluruh keluarganya dan 1 orang pria asing dengan banyaknya bercak darah ditubuhnya, serta tangannya yang mencekram kerah dari pelayan laki - laki yang merupakan salah aatu pelayan dikediaman Fert, entah ia masih hidup atau sudah mati.


"Hm? Sepertinya ada makanan baru?" Pria asing itu menatap Levia dengan seringaiannya yang lebar, tentu saja semua orang yang ada disana mulai merasak gugup serta takut yang mendalam terutama Hiny dan Fert yang mengerti jika yang sedang ditatap oleh pria itu adalah putri satu - satu nya. Dengan segera semua mulai mengalihkan tatapan mereka kearah yang sama.


Seorang gadis kecil yang sangat mereka kenal itu, menatap mereka semua dengan perasaan yang sangat familiar bagi gadis itu. Rasa takut, gugup, cemas, sangat terasa bagi Levia, tapi ia tak menghiraukan itu sehingga tubuhnya mulai gemetar tanpa diminta.


"Apa - apaan ..." Levia menatap semua orang yang ada disana satu - persatu hingga matanya bertemu dengan sesosok pria asing, wajah pucat, mata merah menyala, serta dua gigi panjang miliknya sungguh membuat Levia gugup, tak ingin jika apa yang ia pikirkan benar - benar ada didepannya.


"Apa kau ... dari klan Vampir?" Kata - kata itu lolos keluar dari mulut Levia, membuat sang pria asing semakin melebarkan senyumnya.


"Benar sekali." Dengan bangga pria itu menjawab Levia. Semua orang yang belum mengetahui siapa pria itu menjadikan rasa takut mereka semakin menjadi membuat tubuh mereka gemetar.


"Kau pintar sekali gadis kecil. Sebagai hadiah dariku, aku akan menjadikanmu budakku!" Semua orang disana tak bisa tidak menyembunyikan ekspresi terkejutnya, begitu pun Levia.


"Kau!!" Dengan perasaan marah, Levia mencekram gaunnya. Mencoba untuk memgendalikan amarahnya, sekarang keluarganya masih berada didekat Vampir yang rakus itu.


"Levia, cepat pergi dari sini bersama para kakakmu! Biar ibu dan ayah yang menangani pria itu."


Sontak saja Levia dan ketiga putra Fert terkejut saat Fert mengatakan jika ia dan Hiny akan melawan Vampir yang ada dihadapannya itu.


"Tidak ayah! Kita akan menghadapinya bersama - sama!" Ril berteriak tak mau pergi meninggalkan orang tuanya, kedua adiknya mengangguk setuju.


"Ril! Kau sebagai kakak tertua seharusnya melindungi adik - adikmu!" Fert membentak putra nya agar Ril segera pergi walau harus ada rasa kecewa dihatinya.


"Tidak mau ayah! Jika kita pergi, maka kita akan pergi bersama ayah dan ibu!" Kini bukan Ril yang berteriak melainkan Gaky, putra kedua yang biasanya menampakkan wajah cerianya sekarang sedang menangis tak ingin meninggalkan orang tuanya.


"Wah - wah. Tidak kusangka jika aku akan melihat drama menjijikan seperti ini." Setelah lama ia perhatikan, pria itu pun mengeluarkan suara merasa telah cukup melihat drama sedih didepannya.


"Cih! Aku sudah terlalu lapar untuk menunggu drama kalian selesai."


"Sebaiknya siapa yang harus kumakan dulu?" Tangan yang sebelumnya masih memegang kerah seorang pelayan itu kini membuang mayat pelayan dari kediaman Fert dengan sembarangan.


"Makan saja aku! Tapi biarkan semua keluargaku pergi dengan selamat!" Hiny menawarkan dirinya sendiri tanpa menimbangkan semuanya terlebih dahulu. Tentu semua orang terkejut saat mendengar apa yang dikatakannya.


"Ibu apa yang kau katakan?!"


"Ibu apa kau sudah tidak sayang dengan kami?!"


"Sayang jangan berkata seperti itu!"


Semua orang terkejut bukan main terutama Levia yang masih terdiam. Wajah datar Levia yang masih terpajang membuat Gaky merasa kesal. Ia mengira Levia sudah tidak peduli dengan ibu mereka.


"Jika kau lapar, kau bisa memakan gadis yang ada disana! Tapi biarkan kami semua pergi!" Gaky berkata dengan lantang yang sekali lagi mengejutkan semua orang terutama Levia, wajah kagetnya tak dapat ia tahan kali ini.


Dengan menguatkan hatinya Levia mencoba untuk tidak menangis, kedua tangan mungilnya mencekram gaunnya berusaha sekuat tenaga menahan perasaan yang sudah sangat familiar baginya.


"Oh? Kau memintaku untuk menghisap darahnya yang belum seberapa itu?" Vampir itu tersenyum memperlihatkan taringnya yang panjang.


"Gaky! Apa yang kau katakan?!"


"Apa kau mencoba untuk mengorbankan adikmu sendiri?!"


"Apakah kau gila?!"


"DIA BUKAN ADIKKU!!" Teriakkan itu lantas berhasil membuat sebuah benda bening mulai jatuh dari pelupuk mata yang dikata 'bukan adik'nya. Aliran air mata menggucur dengan derasnya tanpa diminta oleh sang empu.


"Haha..." Levia tertawa dengan lemas, tak bisa menerima jika yang barusan ia dengar adalah kenyataan. Tawa Levia sontak membuat semua orang menatapnya, keluarga Fert menatap Levia dengan perasaan cemas, jika apa yang dikatakan oleh Gaky membuat mental Levia terganggu.


"Baiklah. Kau boleh menghisap darahku sepuasmu!" Levia tersenyum dengan getir tetapi tetap ia paksakan agar seperti senyum yang bahagia dengan tulus.


"Levia, jangan dengarkan Gaky. Kau tetaplah bagian dari keluarga kami!" Hiny berteriak takut jika Levia tak menghiraukannya. Fert, Ril, dan Kano hanya mengangguk merasa jika apa yang dikatakan oleh Hiny adalah benar.


"Tak apa, aku akan membalas semua yang 1 tahun aku dapat disini bersama kalian dengan ini." Levia berjalan mendekat kearah vampir yang kini masih tersenyum kearahnya.


Tepat saat ia sudah mencapai tujuannya, tiba - tiba pria itu mengatakan sesuatu yang membuat Levia terkejut.


"Tapi, sebelum itu. Aku akan menghabisi semua orang terlebih dahulu!" Setelah mengatakan hal itu. Vampir itu menghilang dari tempatnya dan tiba - tiba terlihat didekat Fert. Kedua tangannya dengan gesit memutar kepala Fert hingga orang berstatus kakak kaisar itu mati. Pria itu beralih lagi ke Hiny dengan satu tangannya yang sudah mencekik lehernya.


Tak bisa bernafas Hiny pun perlahan mulai merasakan lemas disekujur tubuhnya hingga ia mati tanpa bisa melawan. Tentu semua terkejut sekaligus ketakutan saat melihat aksi pria itu. Tanpa ampun pria itu pun mengambil pedang yang tergeletak tak jauh darinya dan segera mengarahkan senjatanya kearah leher Ril.


Sreet


Bruuk!


Tubuh Ril terjatuh menampakkan lehernya yang menggucurkan darah tanpa kepalanya yang sudah tidak tersambung lagi.


Trang


Pedang yang ada ditangan vampir itu terjatuh tanpa memperlihatkan sosok yang membawanya. Bertepatan dengan itu, putra kedua fert kini sedang kesakitan saat 2 buah taring mulai menembus kulit dilehernya. Vampir itu menghisap darah Gaky dengan rakusnya tanpa memperdulikan sekitarnya.


"Apa yang_" Levia tak bisa berkata - kata saat melihat semua yang terjadi didepannya. Dengan cepat ia pun menghampiri Kano yang terdiam dengan wajah terkejutnya disertai air matanya yang mengalir tanpa ada suara yang mengikuti.


"Kakak!" Levia menarik Kano mendekat dan memeluknya. Levia tidak ingin jika kakaknya melihat tubuh Gaky yang sudah mulai mengering dengan kesadarannya yang ikut memudar.


Bruuk!


Tubuh yang sudah kering itu terjatuh kelantai dengan kerasnya. Mata Levia menatap tajam sesosok vampir yang sedang menjilati bibirnya.


"Apa - apaan kau! Bukankah aku sudah menawarkan diriku agar kau melepaskan mereka semua!" Levia berteriak dengan kencangnya. Walau Levia sempat merasa sakit di ulu hatinya akibat perkataan Gaky, tapi ia tetap menyayangi mereka semua.


"Hm? Kukira kau ingin mereka semua mati." Pria itu dengan entengnya berkata. Amarah Levia semakin meningkat tapi tetap ia tahan karena menghilangnya sistem membuat Levia khawatir jika kekuatannya ikut menghilang.


"Tidak akan!" Levia semakin mendekapkan tubuh Kano dan mempererat pelukannya.


"Gadis manis, cepat serahkan atau kau tidak akan bisa melihat dunia lagi!" Pria itu mengancam Levia tetapi Levia dengan tekadnya yang kuat tak ingin melepaskan Kano dari dekapannya. Pria itu menggertakkan giginya merasa kesal dan berjalan mendekat kearah Levia berniat untuk merenggut paksa Kano yang sedang dipeluk Levia. Tepat saat langkah ketiga tiba - tiba saja pria itu terpental akibat ditendang oleh seseorang.


Bruuk!


Pria itu tersungkur dengan kerasnya, orang yang menendangnya adalah sosok guru bagi Levia, yaitu Zirun. Zirun segera mendekat kearah Levia dengan raut wajah cemasnya.


"Apa kalian baik - baik saja?" Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya, dan hal itupun dijawab Levia dengan anggukan. Merasa lega, Zirun menghela nafasnya dan mengarahkan senyumnya pada Levia berusaha agar muridnya itu tidak takut lagi. Zirun berdiri lalu menatap pria yang mencoba berdiri akibat tendangannya.


"Ugh! Sebaiknya aku pergi sekarang. Mungkin saja lelaki itu membawa bala bantuan." Setelah berbicara sendirian pria itu menatap Zirun dengan tajam dan dalam sekejap, vampir yang haus darah itu memghilang dalam sekali kedipan mata.


"Guru..." Levia bergumam dengan pelan memanggil Zirun yang masih memperhatikan tempat dimana vampir sebelumnya menghilang. Mendengar ada yang memanggilnya Zirun menoleh dan mendapati murid kecilnya sedang menangis tanpa ada suara isakan.


"Tenang, semua sudah berakhir. Aku akan menjaga kalian mulai sekarang!" Tepat setelah Zirun mengatakan itu Levia mengangguk dan langsung saja tertidur saat Zirun mendekap tubuhnya yang masih memeluk Kano yang terlelap.


"Kalian pasti lelah."


•••


"Sistem menghilang. Apakah Whity dan Wlofy juga ikut memghilang? Kekuatan, teman, dan senjata semuanya hilang." Levia menatap kedepan, ia baru saja terbangun dari tidurnya. Suasana pagi hari yang asing baginya setelah 1 tahun ia jalani disini.


"Aku tak tau, apakah Jesi dan Peni masih hidup. Aku harus memastikannya!" Levia turun dari ranjangnya yang empuk dan segera berlari keluar dari kediamannya. Ditengah perjalanannya ia bertemu dengan Zirun yang sebenarnya akan menuju kediaman milik Levia.


"Ah! Guru, apakah Jesi dan Peni masih hidup?" Levia segera bertanya karena ingin memastikan jika ia tak kehilangan pelayannya yang sudah ia anggap kakak perempuan. Zirun memasang wajah sedih saat mendengar apa yang ditanyakan Levia.


"Semua sudah mati. Hanya tersisa Kano dan kau saja." Ucapnya yang membuat seakan - akan detak jantung Levia berhenti. Kepala Levia tertunduk menatap kakinya yang tanpa memakai alas kaki. Dengan tangan gemetar ia menguatkan hatinya untuk tidak menunjukkan wajah sedih.


'Kuatkan hatimu Levia!'


"Jadi bagaimana dengan kak Kano?"


"Dia baik - baik saja. Dia sekarang sedang menunggu kita diaula makan untuk sarapan bersama." Levia mendongak menatap Zirun sesaat lalu tersenyum.


"Kalau begitu ayo kita segera kesana!" Levia menarik tangan Zirun dan berlari menunju aula makan yang kini telah terdapat Kano seorang dan beberapa macam makanan yang terhidangkan diatas meja.


"Kak Kano." Saat suara lembut itu memanggil, orang yang merasa dipanggil pun menoleh menatap kearah pintu masuk yang terlihat 2 orang dengan salah satunya adalah adik satu - satunya yang paling berharga. Kano membalasnya dengan senyumnya yang lebar.


"Ayo duduklah, dan cepat makan. Atau nanti makanannya akan segera dingin." Zirun menuntun Levia agar duduk ditempat yang dekat dengan Kano.


"Setelah selesai makan, nanti kalian akan menemui paman kaisar bersamaku."


"Paman kaisar, apakah itu kaisar Herui guru?" Levia bertanya tanpa menoleh pada makanannya yang ia santap.


"Benar. Selesai makan kalian bersiap - siaplah. Setelah itu kita akan pergi bersama." Kano mengangguk mengerti, setelah bangun tidur. Kano hampir tak berbicara dan hanya menjawab dengan isyarat tubuhnya seperti mengangguk atau menggeleng.


•••


Kini Levia, Kano dan Zirun tengah dalam perjalanan untuk menuju istana tempat tinggal sang kaisar beserta keluarganya. Tepat saat didepan gerbang yang dijaga oleh 2 orang penjaga. Zirun sedikit berbincang - bincang dengannya dan tak lama setelah itu Zirun segera menggandeng salah satu tangan Levia dan Kano agar mereka tak berpisah saat diistana.


Gerbang terbuka menampilkan sebuah istana yang nampak tinggi dengan megahnya. Dengan 2 orang pelayan yang mengantarkan mereka menuju tempat kerja sang kaisar, Zirun tak henti - hentinya melepas tatapan matanya yang tegas dan serba waspada, dimana tempat yang sekarang mereka pijaki adalah tempat paling berbahaya diseluruh kekaisaran.


Istana bukan hanya tempat tinggal untuk keluarga kaisar, tapi juga tempat dimana para menteri mendiskusi kan beberapa hal yang menyangkut dengan situasi kekaisaran.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan itu berhasil membuat sebuah tangan yang sedang sibuk mengurus beberapa dokumen berhenti. Mata yang tegas itu menatap kearah pintu yang masih tertutup, dan kembali menatap serta melanjutkan pekerjaannya.


"Masuk!" Suara tegas serta berwibawa itu membuat pintu yang semulanya tertutup perlahan terbuka memperlihatkan 3 orang yang 2 diantaranya masih berada diumur yang sangat muda.


"Salam yang mulia. Hamba Zirun, datang untuk menghadap kepada yang mulia kaisar." Zirun memberi salam dengan kepalanya yang sedikit menunduk diikuti oleh Levia dan Kano yang mengerti akan tata krama dasar saat menghadap kaisar yang memimpin kekaisaran walau didalam hati, Levia sungguh tak ingin melakukannya.


"Ada apa kau sampai datang kemari? Aku tau jika kau memiliki hubungan dengan kakakku. Jadi katakan, ada keperluan apa kau sampai datang menemuiku?" Kaisar yang semulanya mengerjakan dokumennya itu kini menatap kearah Zirun dan kedua orang anak kecil yang bersamanya.


Tepat saat kaisar menanyakan keperluan atas kedatangannya. Zirun pun menegakkan kepalanya kembali sembari menatap kaisar yang juga menatap dirinya. Levia yang mengenali suara sang kaisar pun ikut mengembalikan posisi kepalanya kesemula dan ikut menatap sang kaisar, sedangkan Kano hanya diam tak memikirkan apa pun.


"Hm? Siapa kedua bocah yang ada disamping mu __ i - itu?!" Saat kaisar menanyakan identitas dari Levia dan Kano, kaisar terkejut saat wajah dari gadis kecil yang ada disamping Zirun adalah wajah dari orang yang sempat memanggilnya ayah.


Deg


Detak jantungnya kini dapat ia dengar dengan sangat jelas oleh sang empu. Rasa bersalah mulai terasa dihatinya saat melihat wajah dingin dari gadis yang ia kenal itu.


"Le- Levia?! Apakah itu kau?!" Mata kaisar melotot tak percaya akan sesosok gadis yang ada dihadapannya. Gadis yang ia tembak dengan pistol, ia mengira jika Levia telah mati setelah meninggalkan markas organisasi darah besi. Melihat wajah terkejut milik sosok yang dimuliakan rakyatnya itu membuat kedua sudut bibir Levia terangkat menampilkan senyum dinginnya.


"Lama tak bertemu, paman Herui." Seringaian Levia, semakin membuat rasa bersalahnya meningkat. Herui Adrefson, kaisar yang dihormati rakyatnya ini kini menatap Levia dengan rasa bersalah. Sedangkan Zirun hanya diam dengan alisnya yang mengkerut.


"Levia, itu benar - benar kau?!"


__________________Chp 22 end________________


Yosh! Ruka up lagi, walau telat ya


Maaf nih, Ruka agak stres jdi sering sakit kepala nulisnya jdi ketunda mulu


tapi tak apa, Ruka udh usahain buat up secepetnya.


Love U buat semua ^♡^