
Levia yang sudah bersih dari kotoran ternyata masih membuatnya menjadi pusat perhatian karena kecantikan yang dimilikinya. Levia melangkah mendekat kearah Zirun yang menatap dirinya dengan raut wajah keterkejutannya. Kini Levia hanya bisa memakai pakaian untuk pelayan, dikedai tidak menyediakan gaun ataupun pakaian untuk berganti jadi Levia tidak punya pilihan lain selain memakai seragam pelayan. Tapi walau begitu kecantikan yang dimiliki Levia tidak luntur hanya karena perbedaan kualitas ataupun gaun.
Levia yang sampai didepan meja pun langsung duduk tanpa meminta ijin ataupun menyapa Zirun terlebih dahulu, Zirun sama sekali tidak mempermasalahkannya agar ia terbiasa dengan tingkah laku calon muridnya itu. Diatas meja kini sudah tersedia 2 porsi ayam bakar hingga tak berapa lama kemudian, pelayan datang dengan membawakan satu cangkir atau gelas kecil dan seteko teh yang hangat.
Setelah meletakan pesanan Levia, pelayan itu membungkuk lalu pergi setelah Levia menerima salamnya. Tanpa basa basi lagi Levia mulai menuangkan tehnya dari teko dengan elegannya, dan mengangkat cangkirnya sedikit keatas untuk menikmati aroma yang keluar dari teh. Setelah puas akan menghirup aroma teh, Levia langsung saja menyesapinya dengan perlahan.
Terlihat cara Levia memegang cangkir teh dengan tangan kiri yang berada dibawah tangan kanan untuk menahan cangkir tersebut untuk tidak jatuh atau pun hal lain. Levia menyesap tehnya dengan jari kelingking berada dibelakang cangkir dan matanya yang terpejam menikmati tehnya membuat Levia terlihat begitu anggun dan elegan layaknya putri para bangsawan.
"Via, apakah kau benar - benar gadis kecil biasa atau kau sebenarnya adalah seorang putri dari para bangsawan?" Tanya Zirun dengan mata tajamnya, Zirun sedikit tidak menyukai para bangsawan karena pengalaman buruknya terhadap seorang bangsawan. Levia menurunkan cangkirnya dan mulai membuka matanya menampilakan manik - manik mata hitam ungun nan cantik.
"Hm, aku bukanlah seorang putri. Aku hanya seorang gadis kecil yang pernah diangkat seorang raja menjadi salah satu putrinya." Balas Levia dengan senyum diwajah tenangnya menatap tangannya yang masih memegang cangkirnya.
"Seorang raja? Siapa?" Kini Zirun menatap Levia dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan.
"Hm, nanti pada akhirnya kau akan tahu sendiri." Ucap Levia membuat kerutan didahi Zirun semakin menambah.
"Via, kau ini benar - benar...." Zirun menghela nafasnya pasrah lagi. Kini mereka lanjut memakan makanan yang ada dihadapannya hingga selesai dan segera keluar dari kedai itu untuk lanjut berkeliling seperti yang Zirun katakan.
•••
"Via, mungkin kau butuh gaun baru untukmu saat ini?" Tanya Zirun yang masih berjalan tanpa menolehkan kepalanya untuk melihat Levia.
"Tidak perlu." Balas Levia singkat.
"Huft... aku akan membawamu ketoko pakaian, mungkin saja kau akan menyukai beberapa pakaian disana." Ucap Zirun lagi menyertai helaan nafasnya yang kabur dari mulutnya. Levia hanya diam tidak menolak ataupun menyetujuinya tanpa harus menghentikan langkah kakinya. Zirun yang melihat Levia terdiam pun mengambil keputusan dengan sendirinya.
"Aku anggap itu setuju." Ucap Zirun yang kemudian menarik lengan Levia, lalu mengangkat tubuhnya untuk digendong dalam pelukan Zirun. Tak berapa lama kemudian Zirun dan Levia sampai ditoko pakaian yang amat ramai akan pengunjung atau bisa dibilang pelanggan.
Zirun yang ingin masuk pun melangkah kan kakinya, tapi tak berselang lama Levia menarik - narik baju Zirun, karena merasa terganggu Zirun akhirnya menoleh menatap Levia dengan tatapan bingungnya. Levia mengacuhkan tatapan yang diberikan Zirun, ia mengarahkan jari telunjuknya kearah samping, sebuah toko yang terlihat sepi akan pelanggan dengan nama 'Giby ' dipapan nama diatas toko.
"Apakah kau ingin kesana?" Tanya Zirun yang dibalas anggukan Levia. Zirun hanya menurutinya karena ia tahu kalau toko yang ditunjuk Levia adalah toko pakaian, tetapi Zirun juga tidak tahu kenapa Levia lebih memilih toko yang sepi daripada toko yang ramai akan pelanggan. Bukankah toko dengan pelanggan yang banyak pasti memiliki barang yang berkualitas dan bagus?
Zirun yang sudah didepan pintu pun membukanya dengan pelan hingga menimbulkan suara yang disertai suara lonceng.
Kreeet
Kling
"Ara~, ternyata ada pengunjung." Sebuah suara yang tiba - tiba terdengar membuat Zirun terkejut sebab suara tersebut berasal disamping ia berdiri setelah memasuki toko. Ia tidak melihat ada seseorang disana sebelumnya sehingga Zirun memutar badannya untuk melihat.
"Ada yang bisa saya bantu?" Seorang perempuan dengan jubah hitam dan rambutnya yang berwarna coklat atas merah bawah menutupi wajahnya.
"Ah?!" Zirun tersentak saat melihat perempuan itu. Levia hanya diam tanpa mengeluarkan suara ataupun raut wajah lainnya selain wajah datar bak tembok.
"Apakah anda ingin memesan atau membeli pakaian?" Tanyanya dengan sopan. Zirun menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya dari keterkejutannya. Zirun membuka mulutnya berniat mengatakan sesuatu tapi Levia terlebih dulu menyelanya.
"Pakaian laki - laki dengan ukuran untuk anak usia 5 tahun dan juga keatasnya." Ucap Levia menatap perempuan itu.
"Baik, tunggu sebentar." Ujarnya lalu berlenggang pergi meninggalkan Levia dan Zirun sendirian diruangan serba hitam itu dengan beberapa model gaun dan pakaian dimana - mana.
"Via, untuk apa kau memesan pakaian laki - laki? Apakah kau punya saudara?" Tanya Zirun yang heran akan Levia. Zirun menatap mata Levia, menanti jawaban yang keluar dari mulutnya. Levia yang ditatap pun balik menatapnya.
"Em." Balas Levia yang mengangguk 1 kali, Zirun yang mendapatkan jawaban Levia pun hanya ber - oh ria.
Tak berapa lama kemudian, perempuan itu datang kembali dari balik pintu yang ada disebelah kanan dengan sebuah kotak. Perempuan itu menghampiri Levia dan Zirun lalu meletakkan kotak itu dimeja kasir yang ada didekat Zirun.
"Ini nona. Ada 15 pakaian laki - laki didalam kotak ini dengan ukuran yang berbeda - beda." Ucapnya yang dibalas Levia dengan anggukan.
"Ah, tolong ambilkan beberapa gaun juga untuknya!" Ucap Zirun yang meminta perempuan itu dengan menunjuk Levia, perempuan itu hanya mengangguk lalu pergi lagi.
•••
Zirun mengajak Levia mengelilingi kota hingga matahari mulai terbenam, Levia juga tidak pernah mengeluh disetiap perjalanan dan hanya diam saat Zirun menjelaskan beberapa hal sembari melihat sekitar untuk mengingatnya.
"Baiklah, sekarang kita pulang."ucap Zirun melangkahkan kakinya kearah barat, dimana mereka memasuki kota melewati gerbang utama.
"Kak Zirun, sebenarnya ini kota apa?" Tanya Levia yang masih belum tahu mengenai kota yang sekarang ia pijaki. Zirun yang mendengar ucapan Levia seketika membeku menghentikan langkah kakinya. Ia kemudian menoleh menatap Levia yang ada disampingnya.
"Via, apa... jangan - jangan kau tidak tahu mengenai kota ini?" Tanya Zirun dengan raut wajah tak percaya. Levia hanya diam menatap mata Zirun. Memangnya kenapa kalau tidak tahu? Sampai - sampai raut wajahnya menjadi seperti itu, dan lagi dengan kedua tangannya yang memegang kedua sisi bahu Levia. Levia hanya mengangguk dengan malas, seketika Zirun membuat raut wajahnya lebih menjadi lagi, hal itu membuat pelipis Levia berkedut. Hey hey! Apa perlu sampai segitunya?!
"Levia... padahal kota yang kau pijaki saat ini adalah kota yang paling terkenal dikekaisaran Cylo!, sebenarnya kau berasal dari mana sih?!" Ucapnya yang sedikit memperlihatkan wajah putus asanya. Levia hanya diam tak bergeming, Zirun menatap Levia dengan lekatnya.
"Huft... kota ini bernama DUFXI, ibukota dikekaisaran Cylo. Dufxi merupakan kota yang paling terkenal karena pusat dari Cylo, kota ini secara langsung dipimpin oleh kaisar daratan timur bagian tengah. Kau tahu nama kaisar saat ini?" Ucap Zirun panjang lebar yang diakhiri dengan pertanyaan. Levia menggeleng tanda ia tidak tahu, lagi - lagi hal ini membuat Zirun semakin frustasi. Apa - apaan ini?! Calon muridnya memang jenius, tapi pengetahuannya terlalu minim!
"Hah... sudahlah besok akan kuberitahu lebih jelas mengenai hal itu. Untuk sekarang kita harus kembali." Ucap Zirun yang mengajak Levia pulang.
Zirun dan Levia berjalan keluar dari kota menuju hutan, Zirun tidak ingin berlama - lama dalam perjalanan sehingga ia pun memakai alat sihir teleportasi untuk langsung sampai didekat hutan. Kini rumah besar yang sebelumnya Levia lihat mulai terlihat kembali, setiap Levia melangkah entah kenapa ia serasa mendekat kerumah itu. Tak berselang lama, Zirun dan Levia telah sampai dirumah yang ada didekat hutan itu.
"Mulai sekarang ini adalah rumahmu." Ucap Zirun yang berlenggang masuk kedalam rumah setelah ia mengetuk pintu beberapa kali hingga seorang pelayan laki - laki membukakan pintunya.
'Ini... terasa familiar?!' Pikir Levia mengerutkan dahinya.
"Mereka adalah keluarga barumu mulai sekarang." Ucap Zirun yang tersenyum hangat kepada Levia, Levia hanya diam memalingkan wajahnya, bukan karena malu tapi ia sudah muak dengan kata 'keluarga' sehingga ia sungguh tak sanggup lagi menatap mereka. Mereka yang ada disana tertawa kecil menganggap Levia sedang tersipu malu kecuali Zirun dan 1 orang laki - laki yang terlihat lebih tua 3 tahun dari Levia.
"Ayo nak, perkenalkan dirimu." Ucap wanita yang terlihat berkepala 3 itu. Levia tidak menanggapinya, Zirun yang melihat Levia diam pun hanya bisa turun tangan secara langsung.
"Namanya Levia, dia masih berusia 5 tahun." Ucap Zirun menjawab pertanyaan wanita itu.
"Nama yang bagus!" Ucap sang pria yang ada disebelah wanita berkepala 3.
"Namaku Fert, kau bisa memanggilku ayah." Ucapnya lagi dengan senyumannya.' Bagaimana bisa dia memanggil dirinya sendiri ayah? Padahal aku belum memanggilnya!' Pikir Levia.
"Namaku Hiny, jika kamu memanggilnya ayah maka kamu bisa memanggilku ibu." Ucap wanita berkepala 3 itu.
"Namaku Ril, aku putra pertama." Ucap salah satu anak laki - laki, yang berkisaran 13 tahun.
"Aku Gaky, putra kedua." Ucap seorang anak kecil yang berusia 10 tahun dengan senyum hangatnya.
"Kano, putra ketiga." Ucap anak berusia 8 tahun. Levia tidak bergeming, ia sungguh sangat tidak ingin berbicara sama sekali. Melihat hal itu Zirun hanya bisa menghela nafasnya berat. Ia kemudian menggendong Levia yang tanpa perlawanan.
"Maaf. Mungkin Levia lelah karena terlalu lama berkeliling." Ucap Zirun yang tidak enak hati akan tingkah Levia.
"Ah, tidak apa - apa. Kalau begitu cepatlah beristirahat." Ujar Fert yang mengerti akan keadaan Levia melalui penjelasan Zirun. Zirun hanya mengangguk lalu berlenggang pergi bersama 1 orang pelayan wanita untuk mengarahkan mereka kekamar yang telah Fert sediakan untuk Levia.
Sesampainya didepan pintu kamar Levia, pelayan itu langsung saja membukakannya tanpa diperintah sekalipun. Zirun segera melangkahkan kakinya memasuki kamar itu, terlihat kasur yang besar dengan boneka - boneka yang berwarna merah muda, meja rias dengan kursi, lemari dan beberapa hal lainnya yang tersusun rapi.
"Apa - apaan...?!" Ucap Levia yang terkejut akan isi didalamnya, banyak sekali bonekanya?!
Levia tahu kalau sekarang usianya memang masih tergolong anak kecil, tapi didalamnya ia adalah seorang wanita berusia 28 tahun! Zirun yang melihat isinya tidak terkejut seperti Levia, mungkin ia juga berfikiran sama dengan Fert, Levia masih anak kecil yang ingin dimanja.
"Ganti!!" Ucap Levia sedikit berteriak. Zirun bingung akan ucapan Levia, ganti? Apa yang harus diganti? Setidaknya jelaskan dulu lah, jangan singkat terus, jadi gk ngerti.
"Apa-" ucapan Zirun terpotong akan teriakkan yang dikeluarkan Levia. Yah, Zirun hanya bisa menghela nafasnya setiap kali melihat tingkah gadis itu.
"Ganti warnanya!!! Singkirkan semua bonekanya!!!" Teriak Levia membuat semua yang disana menatap Levia bingung. Bukankah anak kecil paling suka boneka? Tapi itu berbeda dengan Levia.
"Hmmph!!" Levia melompat dari gendongan Zirun untuk turun, Levia pergi keluar meninggalkan mereka yang masih bingung harus melakukan apa. Levia berjalan menelusuri lorong dengan Zirun yang berada dibelakang mengejarnya, disaat ia melihat sebuah pintu kamar, ia langsung membukanya tanpa mengetuk, karena Levia tahu kalau kamar tersebut tidak ada orang sama sekali. Tanpa pikir panjang Levia segera masuk dan melihat segala hal yang ada didalamnya. Cukup sederhana untuk sebuah kamar, kursi dan meja, kasur yang muat 2 orang dewasa, dan sebuah lemari. Levia suka dengan ruangan itu apalagi warnanya itu bukanlah warna untuk anak - anak.
Entah kenapa sekarang Levia tidak suka dianggap anak kecil ataupun gadis kecil. Ia hanya ingin melakukan apa yang ia suka. Kamar yang mendominasi warna putih, sangat suka. Zirun yang berada tepat dibelakang Levia saat ini sedang menatap Levia. Apakah dia ingin kamar ini?
Tanpa basa - basi lagi Levia segera berlarian kecil menuju tempat tidur, ia langsung menjatuhkan tubuh mungilnya itu ketempat tidur tanpa menghiraukan keberadaan Zirun.
"Apa kau ingin kamar ini? Tanya Zirun yang mendekat kearah Levia yang masih asik sendiri.
"Ya, aku ingin sekali!" Ucap Levia antusias yang perlahan mulai tenang.
"Kau bisa meminta-..." Zirun memiringkan kepalanya untuk melihat Levia yang memperlihatkan punggungnya.
'Dia tidur?' Pikir nya saat melihat Levia dengan mata terpejamnya.
'Cepat sekali?!!'
"Ah, terserah... " ucap Zirun tidak mau ambil pusing.
•••
Keesokan paginya disebuah ruangan terdapat 2 orang yang tertidur pulas, seorang laki - laki yang berusia 15 tahun dengan gadis kecil yang terlihat berusia 5 tahun mereka tidak lainnya adalah Zirun dan Levia yang tertidur pulas dengan posisi Zirun yang menghadap dipunggung Levia.
Terlihat mata Levia sedikit bergerak menandakan ia merasa terganggu akan sinar matahari yang menembus disela - sela tirai. Ia mengerjabkan matanya beberapa kali untuk membuat penglihatannya menjadi jelas, Zirun yang merasakan pergerakan pun sedikit merasa terganggu membuat beberapa getaran dikasur. Levia menoleh untuk melihat.
"AAAHHHHH!!!!!"
________________chp 15 end______________
>jeng - jeng - jeng... woah, pasti udh tau kan apa yang dilihat Levia.
ini Ruka sudah nulis dengan 2000 lebih nih. bisa tolong dukung Ruka gk?
Like,
coment
vote
yak?! \=^\=