Princess Levia

Princess Levia
Princess Levia :Chapter 24 : Akademi



Levia dan Kano kini sedang dalam perjalanan menuju akademi yang berada dipinggiran ibukota. Yang mana sangat dekat dengan hutan yang sering kali disebutkan jika hutan ini sangat berbahaya.


Sesampainya didepan gerbang akademi. Levia dapat melihat bangunan mewah dan tinggi dari luar. Diluar gerbang terdapat 2 orang dengan 1 masing - masing tombak ditangan, kedua orang ini tentunya adalah penjaga pintu masuk keakademi. Biasanya akademi ini akan mengutus salah satu murid untuk menyambut murid baru yang akan datang.


Tetapi dilihat didepan gerbang hanya ada 2 penjaga tanpa ada orang lain yang akan mengarahkan Levia yang mana adalah murid baru diakademi. Kano yang mengetahui hal itu diam - diam menahan kekesalan dihatinya. Sedangkan Zirun, ia terlihat memandang kekanan dan beralih lagi kekiri hingga berulang - ulang layaknya seseorang yang sedang mencari orang lain.


Disaat pandangannya menangkap seorang pria yang sudah terlihat tak muda lagi, ia pun melambai - lambaikan tangannya kearah pria itu. Orang yang diberi isyarat oleh Zirun hanya bisa menghela nafasnya, merasa jika bocah didikkannya masih belum dewasa.


Ketika pria itu datang menghampiri Zirun, Levia dan Kano hanya diam menatap gedung milik akademi satu - persatu. Pria yang dikenal oleh Zirun sudah ada tepat didepannya sembari menatap Zirun dengan wajah malas, merasa tak ingin bertemu dengan bocah yang sangat ia kenal kelakuannya itu.


"Jadi, mana bocah yang akan menjadi murid baru?" Tanyanya yang tanpa basa basi kepada Zirun, hanya dengan melihat wajahnya pria itu sudah merasakan rasa kekesalan dihatinya.


"Itu." Ucapnya yang menunjuk kearah Levia, pria itu pun mengikuti arah pandangannya dimana yang ditunjuk oleh Zirun.


"Itu?" Pria itu bertanya sekali lagi, merasa tak yakin akan apa yang ia lihat. Mungkin saja Zirun salah tunjuk orang. Tetapi wajah Zirun yang sebelumnya tersenyum kini masih mempertahankan senyum miliknya.


"Iya, gadis itu." Balasnya yang membuat pria itu menjadi bingung sekaligus terheran - heran. Dilihat dari mana pun gadis itu tak memiliki bakat elemen, serta tubuh mungilnya yang nampak lemah itu membuatnya merasakan keraguan dihatinya.


"Apa kau yakin, Zirun?" Ucapnya yang masih tak percaya terhadap orang yang sudah sangat ia kenal itu. Dia sebelumnya yakin jika orang yang akan dibawa oleh Zirun pasti sangatlah berbakat, karena ia tau Zurun cukup tau mana yang berbakat dan mana yang sampah.


"Tentu saja aku yakin, ... guru." Balas Zirun sekali lagi, pria itu terlihat cukup terkejut saat Zirun memanggilnya guru, sebab sudah lama ia tak mendengar kata itu keluar dari mulut Zirun setelah 1 tahun lamanya.


"Sudah lama sekali aku tidak mendengarmu memanggilku guru, biasanya kau hanya memanggilku paman tua." Sahut pria itu yang menggeleng - gelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Tentu saja itu karena aku tidak bisa menunjukkan sifat seperti itu didepan muridku." Balasnya yang masih menatap pria didepannya tanpa melunturkan srnyumannya. Tentu saja pria yang dipanggil guru oleh Zirun adalah seseorang yang telah merawatnya sedari kecil, dimana ia hidup dipinggir jalanan hingga ia bertemu seseorang paman yang mengajaknya untuk melihat dunia luar dan menjadi muridnya.


"Sudahlah, kita lanjutkan saja perbincangan ini ditempat lain. Untuk sekarang pandu dia ke pengurus untuk mengurus beberapa hal." Ucap Zirun yang langsung keinti pembicaraan mereka. Guru Zirun merasa heran dan kebingungan, sebelum mengurus seragam dan lainnya, calon murid diharuskan untuk mendaftar terlebih dahulu. Dan pendaftaran akademi itu sudah berlalu cukup lama.


"Bukankah dia harus mendaftarkan dirinya terlebih dulu?" Pria itu terlihat kebingungan, entah mengapa ia mengira jika gadis itu bukanlah orang biasa. Akademi bisa dimasuki oleh orang - orang lain selain anak para bangsawan. Tetapi rakyat yang tidak berkecukupan harus memiliki bakat atau telah diangkat murid dari salah satu penatua sehingga baru bisa menjadi murid akademi.


"Dia sudah didaftarkan oleh ayahnya sendiri." Sahut Zirun yang membuat gurunya memikirkan siapa kira - kira ayah dari gadis itu.


"Berhenti memikirkannya, aku tau apa yang sedang kau pikirkan. Levia, Kano kemarilah!" Levia yang merasa terpanggil pun menoleh menatap Zirun dan ke arah pria asing yang ada disamping Zirun.


"Baik guru!" Seru Levia yang segera berlarian kearah Zirun tanpa memperhatikan etika seorang putri bangsawan, diikuti Kano dari belakangnya yang nampak berjalan dengan pelan sembari menegakkan bahunya.


"Gadis itu memanggilmu guru, ternyata dia benar - benar muridmu rupanya." Ujarnya yang entah mengapa merasa jika muridnya itu telah tumbuh dewasa.


"Tentu saja Levia adalah muridku. Levia, ini adalah Aden Yuvnom. Ia sebelumnya adalah guru ku dan termasuk salah satu penatua diakademi. Aku memintanya untuk mamandumu di akademi dikelanjutan harinya." Ucap Zirun yang mengusap - usap rambut Levia disaat ia berhenti didepannya. Levia yang mendapati hal itu hanya diam menikmati apa yang ia dapatkan.


"Apakah muridmu hanya gadis ini? Kukira muridmu itu mereka berdua." Sahut Aden yang mengelus dagunya. Aden sebenarnya sudah berusia 38 tahun yang mana ia sudah tak muda lagi, disaat ia menemukan Zirun ditempat gelandangan, ia saat itu masih berusia 33 tahun dan Zirun berusia 11 tahun yang mana kejadian Zirun dijadikan muridnya sudah berlalu 5 tahun yang lalu.


"Jangan terlalu banyak berfikir, walau usiamu masih belum tergolong tua. Tetapi kau sudah tidak muda lagi guru. Kano juga merupakan murid dari akademi ini, terserah dia mau memilih siapa gurunya, asalkan dia orang baik dan kuat." Ucap Zirun yang segera menarik tangannya dari kepala Levia.


"Hm? Apakah dia juga termasuk murid dari akademi? Tapi aku tidak pernah melihat dirinya sebelum ini." Balas Aden yang merasa sedikit asing dengan wajah Kano yang bagaimana pun mirip dengan orang tuanya, tetapi Kano lebih mendominasi dengan Fert.


"Tapi jika dilihat baik - baik. Entah mengapa aku merasa familiar dengan wajah bocah ini." Ucapnya yang melihat lebih teliti bentuk wajah Kano.


"Tentu saja, itu karena ayahnya sendiri adalah temanmu guru." Balas Zirun yang memperhatikan raut wajah dari kedua anak kecil yang ada didekatnya. Menyadari jika mereka masih bersedih, Zirun segera menyuruh Aden untuk masuk dengan Levia dan Kano.


"Sudahlah guru, nanti akan kuberitau semuanya. Tapi sekarang antar keduanya keakademi dan urus semua keperluannya Levia ya, kakek tua." Ucapnya yang berlenggang pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih membeku ditempat.


"Dasar bocah itu!" Gumam Aden yang menggeleng - gelengkan kepalanya. Merasa menyesal telah mengira jika Zirun telah menjadi dewasa.


"Jadi paman guru, bisa kita masuk sekarang? Kakiku sudah pegal berdiri terus sedari tadi." Ucap Levia yang menarik - narik ujung baju yang dikenakan oleh Aden. Aden menoleh menatap Levia dan tersenyum.


"Baiklah, ikuti aku dan jangan sampai terpisah." Balasnya yang memegang tangan mungil Levia dan berjalan masuk menuju gerbang diikuti Kano disamping kirinya dan Levia yang berada disamping kanan.


°°•••°°


"Hei, dengar - dengar ada murid baru ya?" Tanya salah seorang laki - laki yang berusia 8 tahun kepada temannya yang sesama laki - laki dengan usia 9 tahun.


"Ya, itu benar. Murid baru itu ternyata seorang gadis. Katanya gadis itu sangat cantik walau masih berusia 6 tahun." Jawabnya yang menatap laki - laki didepannya.


"Bahkan kebanyakkan orang dewasa diakademi bersikap baik dan ramah padanya. Bahkan ada rumor mengatakan jika gadis itu memiliki hubungan dengan penatua ke - 4." Lanjutnya yang membuat kening lawan bicaranya menjadi berkerut hingga menampakkan beberapa kerutan didahinya.


"Hm? Apakah jangan - jangan gadis itu keponakan penatua ke - 4?!" Bocah berusia 8 tahun itu nampak terlihat begitu serius ketika ia menyuarakan apa yang ia perkirakan.


"Entahlah. Tapi ada juga orang bilang selain gadis itu ada 1 bocah laki - laki yang ikut bersama penatua ke - 4 hari itu." Bocah berusia 9 tahun itu kembali bersuara membuat perhatian bocah didepannya mengarah kepada dirinya. Karena keasikan berbicara kedua bocah ini bahkan tidak sadar jika dibelakang bocah berusia 9 tahun kini ada seorang yang nampak berusia 11 tahun.


"Jadi maksud senior, gadis itu tidak berbakat tetapi bisa masuk menjadi murid akademi itu karena ia adalah seorang putri bangsawan?" Sahut bocah berusia 8 tahun yang sedang menebak apakah hal itu benar atau tidak.


"Dan senior bilang orang yang membullynya menjadi terluka. Itu berarti, gadis itu memiliki seseorang yang melindunginya?" Bocah berusia 9 tahun itu ikut bertanya.


"Sudahlah, jangan pikirkan itu lagi. Dan berhentilah menggosipkan orang lain. Aku tau jika kalian berdua ini adalah putra dari para bangsawan. Jangan mengira hanya karena kalian anak dari kaum bangsawan bisa seenaknya saja." Ucap lelaki itu dan berlenggang pergi meninggalkan kedua bocah yang masih duduk dikursinya. Sebenarnya mereka sekarang sedang berada dikantin akademi, sehingga karena kejadian tadi sekarang mereka berdua menjadi pusat perhatian.


Sedangkan gadis yang sedang mereka bicarakan itu juga ada dikantin sehingga dia melihat semuanya dari awal hingga akhir tetapi, ia tak mempermasalahkan hal itu dan pergi dari kantin tanpa diketahui oleh orang lain, karena ia hanya duduk sendirian dipojok sudut.


Gadis itu ialah Levia, kabar mengenai dirinya yang merupakan murid baru sudah tersebar. Tetapi kebanyakkan dari mereka tak mengetahui atau pernah melihat wajah wajah Levia.


Levia yang meninggalkan kantin berjalan menuju ketempat dimana penatua ke - 4 berada. Karena akademi memiliki fasilitas bagi semua yang termasuk dari bagian akademi. Para murid memiliki asrama sendiri dengan perempuan serta laki - laki yang terpisah, biasanya disetiap kamar dihuni oleh 2 orang, tetapi ada juga 1 ruangan luas yang hanya digunakan oleh 1 orang.


Penatua maupun para murid bisa memiliki tempat tinggal sendiri diakademi, tetapi terkadang ada juga yang lebih memilih untuk tinggal dirumah dan akan kembali berangkat keakademi dipagi harinya untuk mengikuti pelajaran. Sedangkan Levia dan Kano lebih memilih untuk tinggal diasrama sehingga keduanya memiliki 1 teman khusus yang selalu menemani dimalam hari.


Levia yang sudah ada didepan pintu kediaman milik Aden pun mengetuknya dan menunggu ada yang keluar. Tetapi lama ia menunggu, Aden belum juga keluar setelah 3 kali Levia mengetuk pintu. Hari itu memang 1 minggu setelah ia masuk keakademi, selama itu juga ia selalu didatangi Jeila untuk diajak berbagai hal bersama.


Levia yang sudah lama menunggu pun memutuskan untuk pergi dari sana, beberapa murid yang berlalu lalang disekitar mulai membicarakan tentang Levia yang sudah lama menunggu tetapi penatua yang dicari ternyata tidak ada dikediamannya saat ini.


Tentu Levia tak mengacuhkan itu semua, tanpa berhenti berjalan ia mulai mencari keberadaan kakaknya, Kano. Sembari melihat kekanan dan kekiri, ia tiba - tiba saja dipanggil oleh seseorang. Ia menoleh menatap orang yang memanggilnya.


Secara mendadak kepala Levia terasa sakit dan ada beberapa gambar yang muncul, mengalir bagaikan film dibioskop. Ingatan dimana ketika ia masih belum menepati tubuh seorang gadis kecil. Terlihat Levia sedang bermain - main dengan anak perempuan yang terlihat sebaya dengan dirinya.


Disaat ia kembali sadar akan dunia kenyataan, ia segera menghampiri orang yang memanggilnya tadi. Ketika berada didepannya ia segera bertanya.


"Ada apa?"


"Ini, ada orang yang mencari mu. Dia adalah Nala, putri dari Count Trille. Dia sedang mencarimu tadi." Ucapnya yang berlenggang pergi setelah mengenalkan gadis bangasawan yang sedang mencarinya itu.


Nala, putri angkat dari count Trille. Dapat Levia lihat, jika Nala merupakan salah satu teman pemilik tubuhnya yang asli didesanya. Tetapi, bagaimana gadis tanpa kekuatan itu bisa selamat?


Nala adalah salah satu dari banyaknya anak bangsawan yang penasaran siapa murid baru yang sedang banyak diperbicarakan itu. Setelah ia melihat wajah Levia dengan teliti, jantungnya seakan - akan berhenti berdetak. Orang yang seharusnya sudah mati kini masih berdiri dihadapannya, wajahnya menjadi pucat.


"Sudah lama kita tidak bertemu ya, Nala." Ucap Levia yang nampak tersenyum kepada Nala. Nala yang melihat hal itu seketika badannya bergetar merasa takut pada Levia.


"Bukankah warga desa saat itu sudah dibantai habis oleh pembunuh? Lalu kenapa kau masih hidup saat ini?" Levia bertanya dengan wajahnya yang tersenyum lebar, hal itu membuat Nala semakin bergemetar.


"A - aku ... aku ..." Nala yang gugup tak bisa mengatakan dengan benar, mendapati hal itu Levia tentu semakin melebarkan senyumannya.


"Bisa kau jelaskan bagaimana kau sampai hidup hingga saat ini?" Nala yang terdesak pun mulai membalikkan pertanyaan Levia.


"Lalu, ka- kau juga bagaimana bisa sampai kesini?" Tanyanya kembali kepada Levia, ia tak punya pilihan lain karena sudah terdesak.


"Hm? Bagaimana kau bisa bertanya padaku sebelum menjawab apa yang kutanyakan. Tapi aku akan menjawab pertanyaanmu itu."


"Bagaimana aku bisa hidup hingga saat ini karena banyak orang yang telah menolongku. Didesa saat terjadi penyerangan, ibu dan ayah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanku. Sesuai dengan keinginan mereka, aku berhasil hidup dan mulai menuju kekota terdekat. Hingga saat ini aku juga sama sepertimu. Sama - sama menjadi putri angkat dari seorang bangsawan." Ucap Levia yang menjelaskan sebagiannya. Senyum yang terpampang diwajah Levia masih belum pudar walau ia harus menceritakan kejadian dimana ia pertama kali menapakkan kakinya didunia ini.


"Sekarang, giliranmu untuk menjawab pertanyaan yang sama. Bagaimana kau bisa hidup sampai sekarang?" Sambung Levia yang melebarkan seringaiannya, berbeda dengan Levia. Nala saat ini sudah kembali tersudut akibat bertemu Levia.


"I - itu ... a - aku juga saat itu diselamatkan oleh seseorang!" Balasnya yang jelas terlihat gugup, ia ingin segera pergi menjauh dari Levia, ia tak mengira jika sikap Levia telah berubah hanya dalam waktu 1 tahun. Dari arah belakang Nala, dapat Levia lihat ada seseorang gadis yang sedang mencari Nala.


Melihat itu tentu ia semakin melebarkan senyumnya lagi, merasa kebetulan yang terjadi sangat beruntung untuk Nala. Levia berbalik membuat yang dilihat Nala hanyalah punggungnya yang kecil.


"Kau beruntung. Ada yang sedang mencarimu, untuk sekarang aku akan diam. Suatu hari aku akan menagih hutang ini. Sampai jumpa ... Nala." Ucapnya yang berlenggang pergi meninggalkan Nala yang masih diam menatap kepergian Levia. Ketika ada tangan yang memegang bahunya, Nala tersentak merasa terkejut akan sentuhan yang tangan itu pegang.


"Nala, ada apa? Kenapa kamu bengong? Aku sedari tadi mencarimu!" Ucap gadis itu yang sepertinya sudah akrab dengan Nala.


°°•••°°


"Kak, ada yang ingin kubicarakan." Levia mendekati Kano yang sedang bersama temannya. Kano yang sebelumnya terfokus pada temannya mulai beralih menatap Levia yang berada didekatnya.


"Ada apa?" Tanyanya yang tersenyum. Hal itu mengejutkan teman - temannya, tak mereka sangka ternyata Kano bisa tersenyum seperti itu.


"Kakak, besok aku ingin kembali kerumah. Aku berniat meminta ijin pada paman guru, tapi orangnya tidak ada diakademi."


"Hm, bagaimana kalau ....


__________________chp 24 end _________________