Princess Levia

Princess Levia
Princess Levia :Chapter 13 : Naif



Pria itu berjalan mendekat kearah Levia yang terduduk lemas dengan beberapa luka lecet dibadannya. Lelaki itu hanya memandang sinis Levia dengan seringainya hingga ia mengarahkan kakinya dengan sekuat tenaga untuk menendang Levia.


"Rasakan itu!!" Ucapnya. Lelaki itu terus saja menendang Levia secara bertubi - tubi hingga membuat beberapa tulang Levia menjadi patah.


"Ugh..... Chin!" Ucap Levia sembari menahan rasa sakitnya. Sesosok bayangan hitam muncul tepat didepan Levia. Chin sekilas memandang Levia dengan tatapan cemas dan langsung beralih pada pria yang ada dihadapannya dengan tatapan yang amat sangat benci.


Chin mulai menyadari kalau Levia hanyalah seorang gadis kecil yang membutuhkan kasih sayang orang tua. Tapi yang dilihat Chin hanyalah sebuah penghianatan terhadap Levia. Hal itu membuat Chin merasa kasihan dan ingin rasanya ia menjadi salah satu keluarga Levia.


"Heh! Siapa kau? Apakah kau pengawal bayangan yang diutus oleh orang tuanya?" Tanya pria itu terhadap Chin dengan matanya yang memancarkan penghinaan pada Levia.


"Hei gadis kecil! Rupanya orang tuamu masih peduli pada dirimu yang tidak berguna ini ya...?!" Ucapnya yang disusul oleh pukulan telak dari Chin. Chin merasa marah saat nona mudanya diberikan penghinaan yang segitunya, apa salahnya?


"Diam kau!!!" Teriak Chin disela - sela pukulannya. Pria itu tidak bisa mengelak ataupun menyerang balik karena Chin yang tidak memberi jeda sedikit pun untuk dirinya hingga dipukulan terakhir, Chin mengarahkan semua tenaganya di telapak tangan yang akan ia arahkan pada pria itu.


"Ugh!!!...." pria itu terlempar cukup jauh kebelakang hingga teman - temannya harus menahan badan pria itu. Semua orang yang mengelilingi Levia mulai waspada dan mengeluarkan suatu benda yang terlihat mirip dengan senjata yang ada didunia Levia berasal.


'Pistol?!' Terkejut Levia saat melihat pistol ditangan semua orang yang ada disekelilingnya. Levia menatap Chin, meminta untuk mendapatkan salah satu pistol dari mereka. Chin yang melihat tatapan Levia pun mengangguk tanda ia mengerti apa yang dipikirkan Levia.


Levia mencoba berdiri dengan bantuan tangannya sebagai penompang tubuhnya. Levia yang sudah berdiri tegak pun memandang kedepan dimana ia bisa melihat Chin yang sedang bertarung dengan beberapa pria dengan pedang dimasing - masing tangannya. Chin yang menggunakan tangan kosong pun hanya bisa menghindar dan menyerang tanpa senjata apa pun.


Tiba - tiba sebuah suara yang muncul dikepala Levia membuat Levia terkejut.


[Tuan...]


"Sistem?" Ucap Levia yang segera menetralkan ekspresinya.


[Maaf tuan, sistem berhenti dengan sendirinya pada saat hari itu karena dipanggil oleh master.] Balasnya.


'Jadi apakah orang yang membuat sistem ini memanggilmu saat itu?' Tanya Levia dalam benaknya sembari masih menatap pertarungan yang terjadi didepannya.


[Benar tuan.]


"Hm..." Levia mengamati pertarungan yang terjadi pada Chin. Chin terlihat mulai kewalahan menghadapi 3 orang pria yang melawannya menggunakan pedang sedangkan dirinya tidak menggunakan apapun melainkan hanya menyerang dengan tangan kosong. Levia yang melihat hal itu pun secara spontan mengambil pedang yang didapatkan oleh Levia pada saat penyerangan orang sekelompok berbaju hitam didesanya.


"CHIN!!!" Tetiak Levia yang mengambil salah satu pedangnya dari dimensi pengimpanan dan segera melemparkannya kearah Chin yang mungkin membutuhkan senjata untuk membalikkan keadaan pada pertarungannya. semua orang yang melihat cara Levia mengambil pedangnya merasa terheran - heran, apakah gadis kecil ini punya ruang dimensi?


Chin sesaat menoleh kebelakang tepat dimana Levia berdiri, Chin yang melihat sebuah pedang menuju kearahnya pun secara otomatis menangkap pedang itu. Tanpa menunggu lagi Chin segera menyerang dengan pedang yang berada digenggamannya.


"Hm, bagus! Sekarang -" belum selesai Levia berucap, tiba - tiba sebuah suara tembakan terdengar dengan dada kanan Levia yang terasa mati rasa.


"Apa yang ..." ucap Levia sembari memegang dada kanannya dan menatap tangannya yang berwarna merah begitu juga dengan dada Levia.


Levia menoleh kebelakang dengan mulutnya yang mulai teraliri oleh cairan berwarna merah. Mata Levia membesar saat melihat orang yang telah menembaknya adalah Herui sendiri, sesosok yang sempat Levia panggil 'ayah'.


"Ah... sepertinya aku terlalu naif!" Ucap Levia pelan dengan senyum kecewanya yang mulai terhuyung kebelakang tidak kuat menahan tubuhnya yang mulai terasa berat. Herui yang melihat hal itu tentunya sedikit senang akan kematian orang yang berkemungkinan sebagai musuh terbesarnya, tapi tetap saja orang yang ia tembak adalah seorang gadis kecil yang sebelumnya memanggil dirinya seorang ayah. Awalnya Herui berniat untuk mengadopsi Levia dan menjadikannya sebagai keluarga tercintanya. Tapi sekarang... gadis tersebut mulai sekarat karena luka tendangan dan tembakan peluru. Herui yang bersiap untuk menembak kembali pun mengarahkan pistolnya lagi kearah Levia yang mulai terjatuh kebelakang hingga ia menarik pelatuk pada pistolnya membuat satu timah panas meluncur dengan cepatnya kearah Levia.


^~~~


Whiti yang melihat Levia tertembak dari dimensi kehidupan pun menjadi marah begitu juga dengan Wlofy yang berada tepat disamping Whiti.


"Grr sebaiknya kita keluar dari sini dan segera membantu nona!!!" Ucap Wlofy yang sudah tidak bisa menahan amarahnya sembari menoleh untuk menatap Whiti yang berada disamping dirinya.


"Hm... kau benar!!" Balas Whiti yang membuat keputusannya saat melihat Levia yang hendak terjatuh. Tanpa menunggu aba - aba kedua hewan tersebut menghilang dari dimensi kehidupan dan menampakkan dirinya didunia nyata.


Whiti yang berada didepan Levia mengaum dengan kerasnya serta Wlofy yang menjadi tumpuan untuk Levia. Whiti yang melihat sebuah timah panas melesat kearah Levia pun segera berlari menghalangi peluru tersebut. Whiti menangkap peluru yang melesat kearah Levia dengan cepatnya.


"Dasar manusia busuk!! Kalian telah melukai tuan mudaku yang amat sangat berharga ini" Teriak Whiti dengan amarahnya yang menggebu - gebu.


Semua orang yang melihat kehadiran sesosok hewan yang terhormat pun terkejut, bukan hanya melindungi gadis kecil yang sekarang sedang menjadi target mereka tapi sang hewan terhormat itu bilang kalau gadis yang sekarang sedang sekarat itu adalah tuan muda dari singa putih sang penjaga hutan terlarang?! Herui yang sempat masih menodongkan pistolnya ikut terkejut hingga pistol yang ada ditangannya jatuh ketanah.


"Apa?!" Pekik Herui tidak percaya akan perkataan yang dilontarkan Whiti.


"Kalian harus mendapatkan balasan atas perlakuan yang telah kalian lakukan terhadap tuanku!" Ucap Whiti dengan kuda - kudanya yang bersiap untuk menyerang, tetapi sebuah tangan mungil menyentuh kaki Whiti membuat Whiti membatalkan niatnya.


"Whiti ayo... kita pergi! Aku sungguh merindukan kalian berdua." Ucap Levia dengan nada lemah, membuat Whiti tidak tega untuk membantah ucapan Levia.


"Chin... kita pergi dari sini!" Ujar Levia lagi menatap Chin yang berhenti menyerang melawan musuhnya. Chin mengangguk lalu sesaat ia melirik pistol yang ada dipinggang salah satu musuhnya, dengan secepat kilat ia mengambil pistol itu tanpa diketahui sang pemiliknya.


Chin menghampiri Levia yang bersusah payah untuk berdiri dibantu dengan serigalanya Wlofy. Sesampainya, Chin yang melihat nonanya kesulitan untuk menaiki Whiti dengan keadaan tubuhnya pun meminta ijin untuk membantu. Levia mengangguk tanda ia mengijinkannya. Chin mengangkat Levia keatas badan Whiti yang telah bersiap.


"Terima kas-" Levia merasakan sakit yang mendalam didada kanannya yang masih terdapat peluru, ia yang tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya pun mulai kehilangan kesadarannya membuat Whiti dan Wlofy khawatir dan semakin marah terhadap organisasi darah besi.


"Tuan..." ucap Wlofy yang khawatir akan Levia yang tidak sadarkan diri diatas badan Whiti.


"Kalian sangat beruntung bisa selamat dari genggamanku karena tuanku yang meminta!!" Ucap Whiti dengan tatapan membunuh, lalu ia beralih menatap Chin yang semakin cemas akan kondisi Levia.


"Kau, pergilah. Kami akan menyelamatkan tuan dan membawanya pergi dari sini!" Ucap Whiti lagi yang berlenggang pergi tanpa menunggu jawaban yang keluar dari mulut Chin.


Whiti berlari dengan cepat yang diikuti oleh Wlofy dibelakangnya. Mereka melesat kearah hutan terdalam untuk mencari beberapa hewan yang mungkin saja bisa menyembuhkan Levia dengan sihirnya. Whiti yang semakin gelisah tidak bisa berfikir dengan jernih membuatnya merasa putus asa setelah mengelilingi hutan tetapi tidak ada satu pun hewan yang bisa membantu.


Pada akhirnya Whiti dan Wlofy memutuskan untuk berhenti berniat beristirahat dibawah pohon besar yang rindang didekat mereka. Whiti menurunkan tubuh Levia ketanah dan mendudukkannya untuk bersandar dipohon yang ada dibelakangnya.


"Grrr kita harus bagaimana?" Tanya Wlofy yang menatap Levia dengan raut wajah gelisahnya.


"Aku tidak tahu, andai aku bisa mencabik - cabik mereka sampai mati!" Ucap Whiti dengan tatapan penuh kebencian yang jelas terpancar dari matanya. Sebuah suara yang berasal disemak - semak membuat mereka berdua menjadi waspada, takut manusia busuk seperti organisasi darah besi melukai tuan mereka lagi.


Sreek


Muncul sesosok bayangan yang terlihat didekat semak - semak tadi. Whiti dan Wlofy saling memandang hingga akhirnya mereka mengangguk dengan kompak, pada saat itu juga kedua hewan kesayangan Levia menghilang tanpa meninggalkan jejak apa pun seperti mereka tidak pernah menginjakkan kaki mereka disana.


Sosok bayangan yang berada disemak - semak semakin mendekat kearah Levia yang tidak sadarkan diri. Seorang lelaki tampan terlihat disela - sela bayangan pohon yang ada didekatnya, pria itu menatap Levia dengan mata tajamnya yang berwarna biru cerah. Ia menghela nafasnya saat melihat Levia yang masih dengan mata terpejamnya, pria itu mendekat dengan langkah kakinya yang pelan seakan tidak mau menganggu Levia.


Lelaki itu berjongkok untuk melihat Levia dari dekat saat ia sudah berada tepat didepan Levia. Mata birunya menatap lekat pada Levia seakan sedang menilai kondisi Levia, matanya beralih menatap dada kanan Levia yang semakin banyak darah yang keluar.


"Mungkinkah dia ditembak menggunakan pistol?" Gumamnya berfikir setelah memeriksa tubuh Levia. Pria itu pun memutuskan untuk membantu Levia dalam penyembuhannya, walau ia tidak terlalu mahir tapi ia bisa saja mencoba bukan?


"Sebaiknya aku sembuhkan dulu lukanya, masalah peluru bisa dipikirkan nanti!" Ucapnya lagi yang langsung menggunakan sihir penyembuhnya.


"Cih! Aku hanya bisa menggunakan mantra penyembuh untuk memulihkan tubuhnya. Andai aku punya elemen cahaya!" Ujarnya saat menggunakan mantra penyembuh. Perlahan lubang didada kanan Levia mulai menutup bertanda mantra penyembuh telah berhasil memulihkan luka yang didapat Levia.


"Ugh..." Levia menggerakkan matanya hingga ia memaksa untuk membuka matanya, ia mengendipkan matanya berulang kali untuk memulihkan penglihatannya yang buram agar menjadi lebih jelas.


Levia yang mulai bisa melihat dengan normal kembali pun menatap lelaki yang ada didepannya.


"Em... maaf anda siapa ya?" Tanya Levia.


"Oh, kau sudah sadar ya. Baguslah ternyata tidak sia - sia tenaga sihir yang kumiliki terkuras begitu banyaknya." Ucapnya yang tidak menjawab pertanyaan Levia, pria itu mengusap keringat yang ada didahinya menggunakan tangannya pertanda lelaki tersebut kelelahan akibat menyembuhkan luka yang diderita Levia.


"Ah, kau tadi menanyakan diriku bukan?" Tanyanya kembali menatap Levia dengan telunjuknya yang mengarah padanya sendiri.


"Hm!" Levia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan pria itu.


"Bukannya ada etika yang harus memperkenalkan diri sendiri sebelum menanyakan diri orang lain?" Ucapnya yang tersenyum hangat pada Levia. Levia yang mendengar hal itu pun menjadi bingung, etika? Apakah dirinya terlihat seperti seorang gadis yang beretika? Atau seorang gadis keturunan bangsawan?


"Namaku Levia, usiaku 5 tahun." Balas Levia dengan singkat.


"Oh. Namaku Zirun, 15 tahun. Salam kenal Levia." Ucapnya tersenyum kearah Levia.


"Hm, salam kenal kak-... Zirun." Ucap Levia yang sedikit terjeda mengingat kejadian sebelum dirinya sampai ditempat ini.


"Ada apa?" Tanya Zirun yang kebingungan.


"Hm, tidak apa - apa!" Balas Levia yang sedikit tersenyum. Levia beralih memandang sekitar dengan wajah datar bak temboknya.


"Kak Zirun, apakah kau melihat seekor singa putih dan serigala biru didekat sini?" Tanya Levia yang masih dengan wajah datarnya menatap Zirun. Zirun sedikit tersentak saat melihat raut wajah Levia.


"Ah, aku tidak melihat apa pun disini kecuali dirimu yang tidak sadarkan diri dengan luka didada kananmu." Jawabnya yang berusaha menutupi keterkejutannya.


"Ah, lukaku!" Ucap Levia sedikit berteriak saat teringat akan luka yang didapatnya, Levia meraba - raba dada kanannya berusaha untuk mencari lukanya. Akan tetapi Levia hanya melihat bajunya yang berlubang dengan darah yang masih terlihat baru.


"Pasti kak Zirun yang menyembuhkanku! Benarkan kak?" Ucap Levia menatap Zirun.


"Hm. Benar." Balas Zirun menjawab pertanyaan Levia, ah bukan tapi pernyataan Levia.


"Baiklah, terima kasih akan bantuan yang kak Zirun berikan." Ucap Levia lagi dengan senyumannya yang membuat Zirun sedikit merona.


"Ehem! Jadi, kenapa kau bisa terluka?" Ucap Zirun yang berusaha untuk menyembunyikan rona merahnya.


"Itu, organisasi darah besi berusaha untuk membunuhku begitu juga dengan ketua mereka." Jawab Levia yang menundukkan kepalanya kebawah. Zirun yang mendengar hal itu pun mengerutkan dahinya heran.


"Memang apa yang kau lakukan sehingga membuat mereka sangat ingin membunuhmu?" Tanya Zirun lagi untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"Ah... itu..." Levia terlihat ragu untuk mengatakan hal tersebut membuat Zirun semakin penasaran.


"Hm?" Zirun menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut mungilnya Levia, dengan matanya yang semakin tajam.


"Orang - orang disana menghina orang tuaku! Itu membuatku marah, aku...aku membunuh mereka. Tapi paman Herui tidak akan percaya akan perkataanku! Sehingga paman juga berniat membunuhku karena diriku yang telah membunuh orang - orangnya." Ucap Levia yang menunduk dengan tangan yang menggenggam gaunnya dengan erat.


'Herui? Apakah yang dimaksud itu kaisar Herui?' Pikir Zirun


"Hm...baiklah, jadi bagaimana kau bisa kesini jika mereka ingin membunuhmu, seharusnya mereka mengejarmu!" Ucap Zirun yang mulai memahami situasi Levia.


"Ah!!!" Pekik Levia saat ingat Chin yang terluka untuk melindunginya.


"Ada ap-" belum selesai Zirun berbicara, ucapannya terpotong akan ucapan Levia.


"Chin!" Ucap Levia sedikit berteriak meminta Chin untuk segera menghadap pada Levia. Tanpa ada yang melihat, sesosok pria dengan pakaian hitam muncul didepan Levia, tentu saja Zirun yang tidak menyadari keberadaan Chin menjadi kaget.


"Nona." Ucap Chin yang bersujud didepan Levia untuk memberi salam pada tuannya. Levia mengibaskan tangannya menerima salam yang dilakukan chin untuknya.


"Bagaimana dengan lukamu?" Tanya Levia dengan wajah bak temboknya.


"Terima kasih atas kekhawatiran nona, saya baik - baik saja." Balas Chin yang menunduk masih dengan sikap sujudnya.


"Apakah kamu yakin?" Tanya Levia lagi yang tidak percaya akan perkataan Chin.


"Saya sungguh berterima kasih nona, tetapi saya sungguh baik - baik saja. Dan juga nona, saya sudah memdapatkan apa yang nona inginkan." Balas Chin lagi.


"Benda yang aku inginkan?" Beo Levia yang tidak mengingat apa yang ia perintahkan pada Chin terakhir kalinya. Mata Levia yang semulanya menyipit pun terbuka pertanda ia mengingat apa yang ia inginkan hingga memerintahkan Chin untuk mendapatkannya.


"Hm... berikan padaku!" Ujar Levia menjulurkan tangannya untuk meminta barang yang ia minta. Chin yang mengerti pun segera mengeluarkan barangnya dan menyerahkannya pada Levia. 'Sebuah pistol'


Levia yang mendapatkan senjata berupa pistol pun tersenyum lebar. Levia sangat ingin sekali menarik pelatuk dari sebuah pistol, ah~ ia sungguh merindukan dirinya yang selalu membawa pistol kemana pun ia berada pada kehidupannya yang lalu.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Zirun yang sebelumnya hanya memperhatikan Levia dan Chin yang saling berinteraksi. Saat ia melihat Levia tersenyum kearah pistol yang ada ditangannya pun curiga hal apa lagi yang akan gadis kecil itu lakukan dengan pistol yang ada ditangannya.


_______________chp 13 end______________


JENG!!! up lagi!!! gimana? suka?


tolong like, coment, dan vote ya....


kalo vote seikhlasnya saja :^


beri dukungan dengan ikhlas ya, tanpa paksaan


oh dan juga, up nya gk nentu ya...