Princess Levia

Princess Levia
Princess Levia :Chapter 26 : Bangkit Lagi



Tanpa ada kehendak butiran buliran bening mulai mengalir bagaikan sungai di kedua sudut mata mereka yang menyaksikan orang tercinta terjatuh kejurang tanpa bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan hanya bisa menatap mereka yang ia kenal dengan tatapan sedih tetapi diakhir sebelum ia terjatuh sepenuhnya kejurang.


Sebuah senyum yang selama ini ia tunjukkan kembali terpampang diwajahnya disertai buliran bening yang keluar dari kedua matanya. Wajah sedih dengan senyum paksanya semakin membuat Chin, Kano dan Zirun tersentak terdiam tanpa tau harus bagaimana.


"Levia!!"


"Levia!!"


"Nona!!"


Mereka bertiga berteriak secara serentak berharap jika gadis yang mereka sayangi itu tidak pergi meninggalkan mereka. Sang gadis yang melihat itu hanya bisa mengucapkan beberapa patah kata.


"Aku menyayangi kalian semua. Terima kasih, dan selamat tinggal." Levia yang merupakan gadis itu tersenyum pahit hingga ia pun terjatuh dengan kecepatan yang sangat cepat.


"TIDAK!!!" Teriak mereka bertiga secara bersamaan yang dapat Levia dengar. Mereka yang menangis hanya bisa menahan kesedihan mereka hingga rasa amarah mulai memuncak membuat mereka bertiga berusaha mati - matian untuk membunuh musuhnya yang telah membuat gadis mereka pergi.


___


Setelah lamanya ia menunggu untuk sampai didasar jurang. Ia membuka matanya seketika itu juga, tubuhnya sudah tertancap beberapa batu runcing yang menembus tubuhnya, bahkan peluru yang ada didada kanannya terjatuh setelah lamanya ia bersarang.


Tak


Suara peluru menyentuh tanah yang ada dibawahnya terdengar sangat jelas ditelinga Levia. Ia yang sudah kehabisan banyak darah mulai kehilangan kesadaran tanpa adanya rasa sakit yang ia rasakan. Hanya rasa hampa yang selalu menghantui dirinya. Tiba - tiba saja ia teringat disaat ia mendapatkan sebuah hukuman dari dewa kehidupan, dimana ketika ia pertama kalinya bertemu.


Mengingat akan hukuman yang diberikan oleh dewa kehidupan, rasa bersalah mulai Levia rasakan karena tidak bisa memenuhinya. Dengan senyum sayunya ia berkata


"Maafkan aku. Aku tidak bisa menjalani hukuman darimu hingga selesai. Mungkin nanti kita akan bertemu ketika aku berada dialam baka nanti." Setelah mengucapkan hal itu, secara perlahan kesadaran Levia mulai pudar. Tepat sebelum ia kehilangan kesadarannya sepenuhnya, ia mendengar sebuah suara yang membuatnya ingin tau siapa orang yang ada disana bersama dirinya.


"... cucu nenek yang malang." Itulah yang Levia dengar dengan pendengarannya yang ikut memudar diikuti matanya yang mulai tertutup. Dalam pikirannya Levia tak mengira jika kematian tidak ada rasa menyakitkan, hal itu membuat pikiran Levia bersyukur.


'Mungkin memang kematianlah yang kuharapkan. Dengan begini, aku tidak akan menderita lagi.'


Wush~


Suara angin yang menerpa wajahnya membuat kedua mata Levia terbuka menampilkan permata ungu nan cantik. Hal yang ia lihat didepannya hanyalah sebuah hamparan bunga dengan warna yang berbeda - beda.


Kelopak bunga yang ada didepannya perlahan mulai berterbangan menutupi apa yang Levia lihat. Kelopak bunga yang berterbangan mulai menyapu pandangan Levia hingga tiba - tiba semuanya hilang digantikan dengan padang rumput yang luas serta sebuah pohon besar yang berdiri didepan Levia diikuti pria tampan yang sedang bersandar dibatang pohon dengan mata yang menatap Levia dengan lekatnya.


Pria inilah yang menjadi penyesalan terakhir Levia disaat hidupnya sudah diambang kematian. Ia ialah Dewa Kehidupan, gadis itu nampak menunduk tak ingin menatap wajahnya karena rasa bersalahnya. Dewa kehidupan nampak sedang menatap Levia begitu lekatnya, ia tersenyum haru terlihat jelas jika dia tidak kecewa terhadap Levia yang sudah berusaha.


Merasa sedang ditatap oleh Dewa kehidupan semakin membuat kepala Levia menunduk dengan tangannya yang mengepal sembari bergetar karena rasa khawatirnya yang semakin meninggi, ia berfikir apakah Dewa kehidupan sedang marah terhadap dirinya?


Tentu Dewa kehidupan tau apa yang sedang dipikirkan gadis yang ia tatap. Nampak jelas jika senyum yang terukir diwajah Dewa kehidupan masih tidak luntur, ia memejamkan matanya sebentar hingga ia membuka kelopak matanya sembari berdiri tegak tanpa bersender pada batang pohon.


"Kemarilah." Hanya satu kata yang keluar dari mulut Dewa kehidupan yang mana membuat Levia gugup, tetapi Levia tetap melangkah maju mendekat kearah Dewa kehidupan yang masih menunggunya. Dengan langkah ragu ia berjalan tanpa memperhatikan wajah Dewa Kehidupan karena kepalanya masih menunduk.


"Tatap mataku." Setelah sampai didepannya, Levia berhenti tanpa mengatakan apa pun hingga Dewa kehidupan mengucapkan suatu hal yang harus Levia lakukan. Dengan ragu ia pun mendongak secara perlahan hingga dapat ia lihat wajah tampan dari orang yang ia kenal itu. Melalui mata Dewa kehidupan yang putih, Levia dapat melihat wajahnya sendiri dengan benda bening yang ada dikedua sudut matanya.


"Levia. Kau tak perlu merasa bersalah seperti itu, yang terpenting adalah kau sudah berjuang keras. Aku tidak akan menyalahkanmu hanya karena hal ini, lagipula. Kau bisa bertemu denganku sekarang hanyalah sementara dibanyaknya kesempatan." Dewa kehidupan melebarkan senyumnya yang begitu menawan membuat Levia sedikit terbengong.


Melihat hal itu membuat yang dipandang menjadi tertawa kecil, merasa jika pesonanya memang tak main - main walau masih ada yang bisa mengalahkan ketampanan miliknya. Mendapati jika lawan bicaranya menertawakan tingkah lakunya membuat Levia memalingkan wajah, merasa jika dirinya sangat memalukan, ia menebak pasti orang yang ada dihadapannya itu pasti akan mengejek dirinya.


"Tak kukira ternyata pesona milikku masih mempan." Dewa kehidupan berkata sambil terkekeh geli.


"Jadi apakah kau memutuskan untuk bersamaku gadis manis?" Sekali lagi Dewa kehidupan menggoda Levia dengan perkataannya yang terkesan lembut sembari salah satu matanya berkedip layaknya seorang lelaki yang berusaha menggoda perempuan.


Levia yang melihat itu lantas semakin nampak jelas rona merah dikedua pipinya. Dengan kesal Levia pun memukul badan Dewa kehidupan agar tidak menggodanya lagi.


"Bisakah kau berhenti berkata dengan nada menjijikanmu itu!"


"Seperti inilah gadis yang kukenal. Dengar Levia, tidak penting apakah kau gagal menyelesaikan hukuman yang kuberikan. Kau sudah cukup membuatku bangga hanya dengan usahamu yang sangat keras itu."


"Sekarang aku bukanlah Levia, aku telah kembali menjadi diriku yang sebelumnya. Navee, kau harus ingat itu!" Gadis itu dengan kesalnya menunjuk kewajah Dewa kehidupan menggunakan jari telunjuknya. Pria yang ada dihadapannya pun kembali terkekeh geli merasa jika perempuan yang ada didepannya ini tidak seperti sebelumnya.


"Tidak penting apakah kau Levia atau Navee. Perjalananmu sebagai Levia masih belum berakhir karena ada seseorang yang sedang menunggumu disuatu tempat."


"Kau pasti telah menyadarinya jika, penderitaan yang kau alami sebelumnya lebih mudah dari sekarang yang sudah kau hadapi." Dengan senyum yang mengembang Dewa kehidupan menurunkan tangan Levia yang sebelumnya masih menunjuk kearah wajahnya. Rasa kasih sayang mengalir ketangan pria itu disaat telapak tangannya menyentuh kepala Levia dan mengelusnya dengan lembut.


Levia tertegun ketika ia menyadari jika telapak tangan Dewa kehidupan sudah ada diatas kepalanya, merasakan sebuah kehangatan Levia pun perlahan tersenyum senang.


"Aku tau itu." Levia mendongak menatap pria yang ada dihadapannya dengan wajah riang yang tulus dari lubuk hati terdalamnya. Tetapi mengingat perkataan Dewa kehidupan sebelumnya membuat Levia seketika menjadi heran dan bingung dari maksud perkataannya.


"Tunggu, sebelumnya kau bilang perjalananku sebagai Levia masih belum selesai. Apa maksudmu itu?!" Kening Levia mengkerut merasa aneh akan maksud dari perkataan itu. Dewa kehidupan nampak masih tersenyum tanpa mengubah ekspresi wajahnya.


"Kau akan tetap menjadi Levia hingga saat ini, karena perjalananmu belum berakhir Levia." Setelah mengatakan hal itu tangannya mulai berganti posisi dengan tanda seperti melambai didepan wajahnya sendiri. Tanpa diketahui dirinya sendiri, tubuh Levia perlahan terlihat pudar semakin banyaknya kelopak bunga mulai keluar dari tubuhnya yang masih dalam wujud gadis kecil.


Levia yang baru menyadarinya nampak begitu terkejut sehingga ia pun menanyakan apa yang sedang terjadi pada orang yang ada didepannya itu.


"Sekarang kau akan kembali keragamu. Disana sudah ada nenek yang sedang menjaga tubuhmu. Ingat Levia, tidak penting apakah tugasmu gagal kamu hanya harus memastikan dirimu kembali dengan selamat. Ada yang sedang menunggu kedatanganmu, jangan membuat mereka menunggu terlalu lama."


Levia yang mendengarkannya hingga selesai lantas sadar jika tubuh jiwanya telah sepenuhnya memudar. Tak ingin pergi tanpa mengatakan sesuatu akhirnya Levia membuka mulutnya.


"Terima kasih untuk semuanya." Ucapnya dengan senyum yang lebar diwajah cantiknya dan hilang seperti tak ada jejak jika dia pernah ketempat ini. Dewa kehidupan terus menatap tempat dimana Levia menghilang, namun bukan senyum yang biasanya terlihat diwajahnya saat ini.


"Hah! Aku yakin dia pasti akan mengingat perkataanku yang sudah ku ulangi sebanyak 3 kali tadi."


°°•••°°


Disebuah jurang yang sangat dalam nampak sebuah rumah yang berdiri tanpa ada rumah lain yang terlihat. Didalam seorang wanita paruh baya yang sudah renta terlihat memandangi gadis yang sedang terbaring dengan perban yang membalut dibeberapa bagian tubuhnya.


"Berapa lama lagi pria itu selesai berbicara dengan cucuku." Gumam nenek itu yang terlihat kesal entah kemana arah matanya memandang. Ia melirik kearah gadis yang telah ia selamatkan, seorang gadis yang cantik dengan kulit putihnya yang lembut. Rambut hitamnya yang panjang seperti gelapnya dimalam hari tanpa bintang. Hidung mungil serta bibir nya yang nampak terlihat berwarna merah muda alami.


Senyum mulai terlihat diwajah tuanya yang merasa jika cucunya telah tumbuh besar melalui beberapa penderitaan yang tak pernah dialami anak seusianya. Ketika ia mengetahui jika cucunya akan menemui ajalnya kembali dijurang, ia secepat mungkin untuk segera sampai agar nyawa cucu tercinta dapat terselamatkan. Walau tanpa kehadirannya mungkin gadis itu masih bisa diselamatkan oleh pamannya.


Matanya yang sedari tadi memperhatikan menangkap pergerakan kecil dari tangan gadis didepannya. Nenek itu memilih untuk duduk disampingnya tanpa memalingkan pandangannya dari gadis yang ada didepannya.


"Ugh!" Desir gadis yang tengah terbaring, tangannya yang tergeletak perlahan naik memegang kepalanya yang terasa pusing. Disaat bersamaan ketika matanya mulai terbuka menampilkan permata ungu gelap nan cantik, ia mencoba untuk mendudukkan badannya dan rasa nyeri mulai terasa didadanya. Reflek tangannya beralih dari kepala mencoba untuk menyentuh dadanya yang terasa sakit tetapi sebuah tangan tiba - tiba saja memegang pergelangan miliknya.


Ia yang terkejut sekaligus penasaran menoleh menatap seseorang yang nampak sudah dimakan usia, sesosok wanita paruh baya yang masih memegang pergelangan tangannya. Melihat ada seorang nenek didekatnya ia pun mengingat perkataan yang telah disampaikan seseorang.


'Jadi nenek inikah yang dikatakan pria itu?'


"Nenek siapa?" Tanya gadis itu yang terlihat tenang tanpa ada rasa waspada sedikit pun yang memancar. Mendapati hal itu tentu membuat nenek yang ditanya tersenyum kembali merasa jika cucunya ini masih sangat baik hati.


Tangannya melepas pergelangan tangan gadis yang tengah duduk itu. Dan mengarahkannya untuk turun.


"Kamu bisa memanggilku nenek Wen gadis manis." Balasnya yang menatap tangan mungil milik si gadis dengan lekatnya, walau ditatap sampai segitunya. Gadis itu nampak tak menghiraukan hal itu.


"Jangan coba - coba untuk menyentuh luka didadamu, tunggulah sampai sembuh terlebih dahulu." Gadis yang sebelumnya terdiam itu kini tersenyum lebar dan mengangguk tanda ia akan mengikuti apa yang dikatakan sang nenek.


"Nenek bisa memanggilku Levia." Gadis yang ternyata Levia itu nampak tersenyum tanpa ada rasa masalah. Nenek Wen yang melihatnya hanya bisa membalas senyumnya sembari mengiyakan.


"Jadi, apakah nenek yang menolongku sebelumnya?" Levia bertanya hanya dengan ekspresi penasarn diwajahnya. Sebelumnya ia sempat melihat nenek Wen yang ada didekatnya ketika kesadarannya semakin menurun.


"Benar, neneklah yang menolongmu."


"Nenek, ada suatu hal yang mengganjal hatiku ketika mengingat kembali disaat aku sudah diambang kematian." Levia yang sebelumnya masih normal - nkrmal saja kini mengubah ekspresinya menjadi serius akan apa yang ia katakan.


"Bagaimana bisa aku selamat dengan luka parah didadaku yang membuat organ dalamku rusak? Bukankah seharusnya saat itu jantungku juga telah tertusuk?" Nenek Wen nampak begitu tenang mendengar apa yang membuat Levia penasaran.


"Saat nenek mengobatimu, jantung milikmu masih baik - baik saja karena tidak tertusuk bebatuan sedikit pun. Walau kerusakan organ dalam lainnya membuatmu hampir bertemu dewa kematian." Mendengar kata dewa kematian membuat Levia mengingat kembali jika yang ia temui bukanlah dewa kematian melainkan dewa kehidupan.


'Bukannya dewa kematian malah dewa kehidupan yang aku temui sebelumnya.'


"Sudahlah, berhenti memikirkan hal itu. Lebih baik kamu istirahat dulu, biar nenek yang menyiapkan makan malam nanti." Nenek Wen bangkit dari tempat duduknya dan perlahan pergi membuat Levia tak melihat punggungnya lagi. Perhatian Levia kini tertuju pada luka yang ada didadanya, jelas sekali jika saat itu jantungnya telah tertusuk tapi sekarang jantungnya terlihat baik - baik saja.


"Semua organ dalamku rusak tapi tubuhku tidak merasakan hal itu. Atau ini ulahnya dewa kehidupan yang memberikanku organ dalam baru."


"Jika dia sampai melakukan hal ini. Ini akan semakin membuatku tak ingin memgecewakanmu. Bahkan tadinya kukira aku akan kehilangan ingatanku."


"Tapi setidaknya ada yang masih peduli padaku dikehidupanku kali ini." Nampak buliran bening mulai memgalir dari kedua sudut mata Levia tanpa sepengetahuan sang empu.


"Aku, sungguh sangat berterima kasih karena telah. Hiks, mengijinkanku merasakan perasaan ini." Dibalik pintu yang ada diruangan nampak nenek Wen sedang bersandar pada pintu dengan arah pandangannya yang keatas. Sesaat setelah itu senyum mulai terlihat dan nenek Wen pun melangkahkan kakinya untuk mencari bahan makanan yang akan ia masak.


°°•••°°


Sedangkan didunia tengah, seorang bocah lelaki nampak berteriak pada seseorang yang sedang duduk didepannya dengan baju kebesaran yang dipakainya. Pria berstatus kaisar itu nampak memegang kepalanya yang terasa sakit.


Lelaki itu terlihat terbanjiri air mata akibat rasa sedihnya yang mendalam dikarenakan satu - satunya orang yang ia punya dihati telah terjun kejurang akibat serangan yang dilakukan para pembunuh bayaran.


"Mohon paman kaisar menangkap dan menghukum dalang dari semua ini!!!" Melihat keponakkannya sampai sesedih itu membuat hati seorang paman tidak bisa mengabaikan hal ini begitu saja.


"Baiklah, Kano kau istirahatlah terlebih dahulu. Biar paman yang menyelesaikan kasus mengenai pembunuh bayaran ini." Mendengar itu ada keraguan dihatinya untuk kembali sebelum ia tau kebenarannya. Tetapi ia tau pamannya sudah sangat lelah akibat pekerjaannya ditambah lagi mengenai permohonannya.


"Baik paman kaisar." Dengan langkah berat ia mulai berjalan menuju pintu dan segera pergi. Ia yang menyesali kejadian itu mulai menyalahkan dirinya sendiri akibat belum menjadi lebih kuat. Dengan terjadinya kejadian itu Kano pun berlatih lebih keras dari anak lainnya disertai dengan sifat tegasnya yang mulai terlihat.


_________________chp 26 end_______________


Runea : gimana menurut kalian? kami hanya punya 1 harapan disetiap chapter yang kami buat. kami selalu menunggu setidaknya 1 komentar untuk menambah daya semangat kami.


setidaknya beri jejak jika kalian membaca cerita dinovel ini.