
Princess Levia chp 29 KL
"Apa nenek tinggal disini sendirian?" Seorang gadis berambut hitam yang sedang memperhatikan nampak begitu berbinar saat melihat seorang wanita paruh baya yang sedang memasak. Wangi masakan yang harum membuat gadis bernama Levia itu tak sabar untuk makan.
"Ya, nenek hanya sendirian disini. Sepertinya sudah matang." Nenek itu memperhatikan masakannya melihat jika masakannya sudah matang. Nenek Wen pun berdiri dan pergi meninggalkan Levia yang duduk memperhatikan diatas tempat tidurnya.
Sekembalinya nenek Wen terlihat membawa 2 buah mangkuk yang terbuat dari kayu. Dengan perlahan nenek Wen mengisi mangkuknya dengan masakan yang telah ia buat.
"Ini. Makanlah, hati - hati itu masih panas." Nenek Wen menyerahkan salah satu mangkuknya pada Levia. Dan meletakkan mangkuk yang satunya diatas meja.
"Baik nek." Balas Levia yang tersenyum cerah, tanpa memperhatikan tangannya Levia pun menerima mangkuk berisi makanan. Tetapi hanya satu gerakkan, Levia merasakan sakit yang membuat tangannya terhenti. Nenek Wen yang menyadari itu pun segera mengambil kembali mangkuk yang belum sempat diterima Levia.
"Biar nenek yang menyuapimu." Ucap Nenek Wen dengan senyum hangatnya, tanpa ada niatan menolak Levia pun mengangguk.
°°•••°°
"Em nek?"
"Ada apa?" Levia kembali memperhatikan setiap hal yang dilakukan Nenek Wen setelah ia selesai makan. Kini Levia melihat Nenek Wen yang sedang membersihkan pisau.
"Sebenarnya ini dimana nek?"
Tangan Nenek Wen yang sebelumnya masih bergerak kini terhenti karena pertanyaan yang diucapkan Levia. Nenek Wen mengalihkan tatapan matanya dari pisau yang ia genggam dan beralih menatap Levia yang tengah kebingungan.
"Nanti setelah lukamu sembuh, nenek akan perlihatkan apa yang ada diluar padamu."
Setiap harinya Levia hanya diam duduk diatas tempat tidur sembari memperhatikan semua yang dilakukan Nenek Wen. Suatu hari ketika sudah 1 bulan berlalu, Levia sudah bisa merasakan jika tubuhnya hampir sembuh sepenuhnya. Dipagi harinya ketika Nenek Wen keluar untuk mencari bahan makanan, Levia masih diam tanpa beranjak karena telah diperingati
"Jangan beranjak sekalipun dari sana, Nenek akan mencari bahan makanan untuk dimakan pagi nanti." Tanpa menunggu jawaban Levia Nenek Wen langsung pergi keluar dari rumah kecil yang ditempatinya bersama Levia selama sebulan ini.
"Hm, sepertinya tubuhku sudah hampir sembuh sepenuhnya." Levia memperhatikan tangannya yang bergerak - gerak. Merasa semakin membaik Levia pun menghirup udara disekitarnya dengan rasa bahagia.
Belum sempat ia menghembuskan nafasnya, Levia tiba - tiba saja merasakan ada sebuah energi aneh yang mana telah ia hirup. Ia yang sebelumnya menutup matanya bisa melihat sesuatu yang mengambang seperti gelombang. Ketika ia menghirupnya. Seketika itu ia merasakan gejolak aneh ditubuhnya, rasa sakit tiba - tiba muncul didadanya.
Ia yang kesakitan pun menjerit dengan hebatnya hingga Nenek Wen yang tengah membawa 2 ekor kelinci pun mendengarnya, membuat Nenek Wen dengan khawatir berlari untuk kembali. Sedangkan Levia yang tengah kesakitan pada akhirnya tak bisa menahannya membuatnya pingsan dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Nenek Wen yang telah sampai dikejutkan dengan keadaan Levia yang tergeletak diatas tempat tidurnya dengan darah yang keluar dari mulutnya.
°°•••°°
Mata yang semulanya tertutup kini terbuka menampilkan sebuah permata ungu yang cantik. Sepasang mata itu mulai melihat kesekeliling untuk melihat dimana keberadaannya sekarang.
Yang ia lihat hanyalah sebuah genangan air. Selama mata itu memandang, air didalam genangan lama - lama semakin bertambah karena hasil tetesan dari sebuah tebing diatasnya.
"Apa itu?" Mulut mungilnya mulai mengeluarkan suara. Ia yang penasaran pun akhirnya berjalan mendekat, begitu pandangannya yang masih menatap tebing yang ada diatas membuat dirinya tanpa sadar menginjak genangan kecil yang sebelumnya ia lihat.
Suara ketika kakinya menyentuh air terdengar begitu keras akibat heningnya tempat yang ia masuki. Begitu kakinya menyentuh air, tiba - tiba saja kakinya merasa seperti jatuh kedalam hingga membuatnya ikut menenggelamkan seluruh tubuhnya. Ia yang tak menyangka jika genangan itu sangat dalam pun hanya bisa segera menahan nafasnya.
Dengan tubuhnya yang terluka akibat suatu insiden, ia pun tak memiliki tenaga untuk berenang. Yang mana membuatnya harus bisa menahan nafasnya selama mungkin hingga tubuhnya kembali bertenaga. Tetapi tentu sang empu dari mata permata itu tau jika kemungkinan tenaganya akan terkuras hanya dengan menahan nafasnya saja.
"Hm?" Begitu ia sudah lama menahan nafasnya, pada akhirnya disaat ia tak bisa menahannya lagi gadis bermata ungu itu pun menyerah dan bernafas didalam air tapi anehnya saat itu juga ia sadar jika ia bisa bernafas diair.
Ia yang tak mendapat masalah pada pernafasannya pun melihat sekeliling tetapi hanya ada satu jalur yang dapat ia lihat dan itu pun ada dibawahnya. Bisa dikatakan jika genangan yang dilihat memiliki kedalaman yang sangat dalam tetapi luasnya tak begitu besar hingga dapat dimuat oleh 2 orang.
Setelah dilihat lebih jelas, dibawah ada sebuah sinar terang yang membuat gadis itu penasaran. Ia yang penasaran akan apa yang ada dibawahnya pun segera berenang dengan tenaganya yang sudah pulih.
Sinar biru yang sangat cerah itu semakin lama semakin menarik rasa penasaran gadis itu. Begitu ia sampai didasar, yang ia lihat hanyalah sebuah pedang yang tertancap dengan sinar biru yang keluar dari pedang itu. Menurutnya, sinar yang sebelumnya ia lihat pasti berasal dari pedang yang masih tertancap itu.
*Ilustrasi pedang
Gadis itu mendekati pedang yang masih tertancap dengan hatinya yang penasaran. Begitu ia hanya berjarak 1 inci dari pedang, rasa nyaman yang tak ia ketahui mulai terasa yang membuatnya merasa begitu ingin memilikinya.
Rasa ingin mencabut pedang itu semakin menguat tat kala gadis itu merasakan rasa nyaman yang aneh. Ia yang tak sabar pun dengan segera memegang gagang pedang itu dan dengan sekuat tenaga. Gadis itu berusaha mencabutnya tetapi tiba - tiba saja sebuah suara asing mengusir keberadaan gadis bermata ungu permata itu.
"Pergilah, kau masih belum cukup kuat untuk membawaku."
Begitu suara itu keluar tubuh sang gadis yang sebelumnya masih seimbang kini mulai kembali kepermukaan dengan cepat, setelah keluar dari dalam air ia masih saja terlempar keatas hingga tubuhnya membentur sesuatu dengan keras yang membuat tubuhnya kesakitan hingga darah keluar dari mulutnya.
"Argh!!" Setelah ia terhantam dengan begitu kerasnya ia kembali terjatuh kebawah, tepat pada saat itu air yang ada ditebing mulai membanyak hingga membanjiri genangan air yang sebelumnya kecil kini membesar hingga memiliki luas seperti kolam.
Gadis itu begitu terpana melihat apa yang ada dibawahnya, tetapi setelah itu responnya begitu terkejut saat mendengar suara yang tak asing baginya. Suara lembut yang khawatir akan kondisinya, suara dari seseorang yang telah merawatnya. Sesosok seperti keluarga kandungnya sendiri. Begitu ia memikirkan suara itu, seseorang yang hanya ia ingat sangat cocok dengan suara itu adalah. Nenek Wen.
"Levia."
Setelah mendengar suara Nenek Wen gadis yang dipanggil Levia itu merasakan tubuhnya kembali pulih, tapi tentu lukanya masih ada dengan kesakitan yang masih tertinggal.
Byuur!!!
Begitu ia menghantam air, ia bisa merasakan jika tubuhnya kembali tenggelam sepenuhnya. Tak seperti sebelumnya, genangan air yang sebelumnya sangat sempit kini telah meluas seperti sebuah kolam. Ketika itu juga tubuhnya seperti mendapat tamparan yang membuatnya terbangun diraga yang sebelumnya ia rasuki.
Rasa kaget dan tertekan membuatnya berkeringat dengan derasnya, ia yang masih menatap kedepan pun baru menyadari keberadaan seseorang saat orang itu berbicara.
"Levia, kamu sudah bangun?"
Sesosok wanita dewasa yang sudah termakan usia, Nenek Wen. Nenek Wen menatap Levia dengan rasa khawatir yang sepenuhnya berhinggap dihati sang nenek. Nenek Wen sebelumnya tengah memasak, ia memperkirakan jika Levia akan bangun sebentar lagi hingga ia pun memasak untuk kebuatkan makanan bagi sang gadis yang kini kembali terluka.
"Nenek." Gumam Levia yang tak tau harus merespon seperti apa. Ia baru saja mengalami mimpi yang aneh dan terasa begitu nyata. Tapi Levia merasa jika apa yang dialaminya bukanlah mimpi.
Melihat isinya membuat Levia ragu untuk memakannya, mata ungunya pun mulai menatap Nenek Wen yang tengah tersenyum padanya.
"Nek, ini tumbuhan apa?" Levia dengan tegas memberanikan dirinya untuk bertanya, melihat makanan tadi membuat hatinya merasa buruk jadi ia pun harus memastikan apakah tumbuhan itu sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
"Hm? Itu hanya tumbuhan herbal saja, jadi cepat dimakan atau nanti makanannya jadi dingin." Jawab Nenek Wen yang masih tersenyum, tapi bagi Levia senyum itu layaknya seorang ibu yang sedang mengancam anaknya untuk memakan obatnya apa pun yang terjadi.
"Oh dan juga itu agak pahit jadi Nenek menyiapkan apel besi untuk meredamkan rasa pahitnya." Sambung Nenek Wen yang sempat membuat Levia terheran - heran akan apa yang diucapkan Nenek Wen.
'Apel besi?!'
"Nah ayo cepat dimakan. Levia kan tidak suka makanan yang sudah dingin jadi cepat habiskan!" Dengan desakan sang Nenek akhirnya Levia pun memakan dengan mangkuk yang sudah ia pegang.
Dengan kecepatan yang sangat dashyat, Levia mulai menghabiskan makanannya dengan mata terpejam yang berusha untuk menahan rasa pahit. Ia yang sudah menghabiskan obatnya pun beralih menatap Nenek.
"Nek, mana apelnya!?" Dengan air mata yang bercucuran Levia meminta apel pada Nenek Wen yang sebelumnya berkata jika ia menyiapkan apel untuk meredakan rasa pahit.
"Ah ini. Kamu baru saja bangun jadi mungkin nanti kau tak akan menghabiskan apelnya, jadi tak perlu khawatir jika ingin membuangnya." Jawab Nenek Wen sembari menyerahkan apel berwarna perak mengkilat.
Levia yang tak mendengarkan Nenek Wen langsung saja memakan apel pemberian sang Nenek sambil berharap jika rasa pahitnya cepat menghilang. Tetapi sesuatu tak terduga terjadi.
Begitu Levia menggigit apelnya sebuah suara seperti pembenturan sesuatu yang keras mulai terdengar nyaring begitu pun dengan rasa sakit yang Levia dapat pada giginya.
"ARGH!!!!!" Levia menjerit dan dengan segera melempar apel yang ia pegang. Dengan mata berkaca - kaca menahan tangis Levia menatap Nenek Wen yang tengah menikmati apel dengan jenis yang sama seperti apa yang Levia makan.
"N - Nenek?!" Rasa ngilu pada giginya mulai terasa saat Levia mendengar suara yang sama ketika ia menggigit apel besi, suara itu muncul tiap kali Nenek Wen mengigit dan mengunyah apel yang memiliki keras sepeti besi tapi memiliki berat yang sangat ringan.
Nenek Wen yang menikmati apelnya pun sadar jika Levia tengah menatap dirinya, ia dengan herannya bertanya.
"Levia, mana apelmu?"
"Ah, itu ... " Karena ragu pada akhirnya Levia pun tak menjawab apa yang ditanyakan oleh Nenek Wen. Tetapi sikap Nenek Wen terlihat aneh bagi Levia sebab.
"Ah!? Apakah kau menghabiskannya?! Wah Levia sangat luar biasa! Mulai besok Nenek akan menyiapkan apel besi untukmu setiap hari. Jangan khawatir akan sisa apelnya karena setiap hari apel besi akan berbuah, lagian kita juga memiliki pohonnya didepan." Dengan semangat Nenek Wen mulai mengucapkan sesuatu yang membuat tubuh Levia melemas.
"Ne - Nenek?" Dengan terbata - bata Levia memanggil Nenek Wen, ia harus memperbaiki kesalahpahaman yang Nenek Wen dapat. Tetapi sesuatu yang Nenek Wen katakan selanjutnya semakin membuat tubuh Levia menjadi loyo.
"Hm, apakah kau merasa itu tidak cukup jika hanya memakan 1 setiap hari? Maka Nenek akan menyiapkan 3 buah setiap harinya!"
'Nenek kau salah paham nek!' Levia hanya bisa menangis dalam hati sembari mengatakan jika Nenek Wen tengah salah paham padanya.
°°•••°°
Begitulah Levia dikeharuskan memakan 3 buah setiap harinya. Selama berhari - hari itu Levia hanya melalukan sesuatu didalam rumah tanpa pernah pergi melihat apa yang ada diluar. Setelah 1 minggu berlalu tubuh Levia mulai membaik.
"Levia." Levia yang tengah memperhatikan nenek Wen pun menatap wajah neneknya setelah mendengar namanya dipanggil.
"Iya nek?"
"Apa kamu ingat, apa yang terjadi padamu saat nenek berburu satu minggu sebelumnya?" Levia terdiam mencoba untuk mengingat apa penyebab ia menjadi pingsan. Setelah 5 menit ia pun mengingat keseluruhan cerita.
"Itu, saat aku menghirup udara tiba - tiba saja ada sesuatu yang aneh. Rasanya itu seperti mana tapi berbeda dengan mana, itu terasa seperti gelombang." Mendengar setengah penjelasan Levia, Nenek Wen mulai memikirkan sesuatu dipikirannya.
'Apakah yang dirasakan Levia adalah itu?'
Tak ingin melewatkan penjelasan Levia, Nenek Wen pun kembali mendengarkan.
°°•••°°
"Setelah tubuhmu sepenuhnya sembuh, Nenek akan mengajarimu sesuatu agar kejadian itu tak terulang lagi."
"Hm, mengajariku apa nek?"
"Kamu akan tau setelah 1 bulan nanti."
SATU BULAN KEMUDIAN~
"Bagaimana nek?" Tanya seorang gadis yang tengah menatap penuh harap pada orang yang ada dihadapannya itu. Mereka adalah Levia dan Nenek Wen, saat ini Nenek Wen tengah mencicipi masakan dari Levia. Sebenarnya selama ini Levia tak pernah bisa memasak, sedari dulu ketika ada didunia aslinya ia hanya pernah memasak menggunakan bumbu kemasan yang membuatnya tak tau akan cara memasak.
Dulu ketika ia pertama kali ada didunia ini, ia dengan semangat dan percaya diri bisa memasak. Saat itu ketika ia telah membunuh seekor kelinci yang merupakan hewan monster. Levia yang saat itu dengan percaya dirinya mencari bumbu untuk memasak daging kelincinya tetapi karena tak mengenali tumbuhan yang menjadi bumbu masakan Levia pun memilih untuk membakar daging kelinci tanpa ada bahan penyedap.
Karena keinginannya untuk bisa memasak, Levia meminta Nenek Wen untuk membantunya.
"Jadi menurutmu bagaimana nek?" Tanya Levia dengan antusiasnya, yang sempat membuat sang Nenek meliriknya sesaat dan kembali memandang makanan yang sudah tersaji didepannya.
"..." Nenek Wen memandang makanan yang ada didepannya cukup lama karena khawatir akan tampilannya yang terbilang cukup mengerikan.
"Apakah ini benar - benar daging bakar?" Tanya Nenek yang terlihat tak yakin akan hasil dari masakan Levia.
"Tentu saja!" Sayangnya respon yang diharapkan sang nenek tak sesuai dengan apa yang dilihatnya.
"Huft! Sudahlah, Nenek akan pergi berburu lagi. Untuk daging yang kamu siksa itu terserah dirimu mau kau apakan." Begitu selesai mengatakan itu Nenek Wen pergi tanpa menyempatkan Levia untuk berbicara.
"Hm? Apakah seburuk itu? Memang aku tidak pernah memasak langsung dengan sendirinya. Aku hanya pernah memasak daging menggunakan oven."
_________________chp 29 end_____________