
Malam haripun tiba, terlihat disebuah ruangan atau bisa disebut juga sebuah kamar, seorang gadis kecil sedang bersiap - siap dengan gaun yang berwarna putih yang dibantu pelayannya untuk menghadiri pertemuan antar kerajaan. Gadis kecil itu tidak lainnya adalah Levia dengan pelayannya Nay.
"Putri anda ingin rambutnya- " perkataan Nay yang belum selesai terpotong dengan jawaban Levia yang begitu cepatnya.
"Rambutnya digerai aja kak." Ucap Levia yang memandangi pelayannya melalui cermin yang ada didepannya.
"Baik putri." Balas Nay.
"Ah, kak Nay aku tidak perlu menggunakan riasan kan?" Tanya Levia yang masih memandangi Nay dari cermin.
"Jika tuan putri tidak ingin memakai riasan juga tidak apa - apa karena tuan putri sudah cantik hanya dengan pelampilan tuan putri saat ini." Ucapnya tersenyum membalas pandangan Levia melalui cermin.
"Hem!!" Kepala Levia mengangguk dengan antusiasnya yang membuat Nay kesulitan menyisir rambut hitamnya Levia.
___________
"Kak Nay seperti apa orang dari kerajaan lain itu?" Tanya Levia antusias sambil memandangi Nay dengan senyum cerahnya.
"Ah, kalau itu saya juga kurang tahu putri." Ucapnya. Sebelum Levia menyahuti ucapan Nay tiba - tiba sebuah suara yang sangat dikenalnya itu membuat mereka melihat keasal suara tersebut. Terlihat seorang gadis bersama pelayannya memandang Levia dengan tatapan sinis sekaligus merendahkan. Levia hanya memandang mereka dengan tatapan takut.
"Heh! Ada apa? Gadis murahan seperti dirimu yang melihat kearahku membuatku merasa jijik!" Hinanya kepada Levia, Levia hanya diam menundukkan kepalanya begitu juga dengan Nay.
"Maafkan Via jika Via membuat kakak marah." Ucap Levia sedikit takut mengutarakan perkataannya.
"Hmp! Berani sekali gadis murahan sepertimu menyahuti perkataanku!!" Ujarnya yang terlihat sangat marah.
"Pelayan hukum cambuk dia sebanyak 10 kali!!" Teriaknya dengan lantang sehingga banyak mengundang mata untuk melihat kejadian itu. Seketika Levia mendongakkan kepalanya dengan wajah terkejut sekaligus ketakutan begitu juga dengan Nay, Nay yang melihat kalau majikannya akan dihukum cambuk pun meminta ampunan.
"Putri Nrowna, saya mohon ampuni tuan putri Levia, putri masih belum berpengalaman." Ucap Nay dengan tangisnya berlutut dihadapan gadis kecil itu yang tidak lainnya adalah putri Nrowna Crew putri pertama sekaligus putri dari selir pertama Pimxi.
"Heh! Dasar pelayan hina! Hukum cambuk dia sama seperti gadis murahan itu!" Teriak Nrowna memberi perintah.
"TUAN PUTRI!!!" Teriak Nay disaat ia diseret oleh 2 orang penjaga yang ada disekitar.
"KAKAK, SAYA MOHON, MAAFKAN SAYA?!" Teriak Levia yang sama diseret oleh 2 orang pelayan wanita.
"Heh!! Rasakan itu!!" Sinis Nrowna memandang orang - orang yang sudah siap akan mencambuk Levia dan Nay. Tangisan Levia mulai terdengar juga permohonan maaf disela - sela tangisan dan erangan kesakitannya.
__________
Selesainya hukuman yang diberikan Nrowna selesai, mereka tang melihat mulai bubar dari tempat kejadian begitu pula dengan Nrowna. Keadaan Nay dan Levia sangat terlihat tidak baik - baik saja, darah mulai keluar hingga gaun yang dipakai oleh Levia menjadi merah karena darah yang terus saja keluar begitu juga dengan Nay.
"Kak....Nay..." lirih Levia memandangi Nay yang melangkah mendekat kearah Levia yang terbaring lemah, walau Ketahanan tubuh Levia sangat kuat tapi ia membuatnya menjadi melemah layaknya anak berusia 5 tahun dengan bantuan sistem. Levia juga memerintahkan sistem untuk menonaktifkan penyembuhan otomatisnya dari sistem. Levia juga sudah terbiasa akan luka pada tubuhnya karena ia sering terkena luka saat dihutan terlarang dulu. Nay berjalan terpincang - pincang dengan punggungnya yang sudah berubah menjadi merah karena darahnya.
"Tuan....putri...." ucapnya lirih saat sampai didepan Levia yang terbaring lemah ditanah.
"Kak Nay...kita...harus pergi keaula tengah...pertemuannya." ucap Levia lirih. Nay terkejut saat mulut Levia terbuka mengeluarkan perkataannya itu.
"Tapi putri... tubuh anda..." ucapnya yang terlihat cemas akan keadaan Levia.
"Tidak... apa - apa kak...kalau kakak tidak kuat...kakak bisa istirahat dulu, aku harus...mengganti gaunku." Ucap Levia yang mulai bangkit dari tanah, Nay yang melihat Levia bersusah payahpun membantunya.
"Saya akan ikut dengan putri." Ucapnya tegas membantu Levia berdiri dan memapahnya pergi kekediamannya untuk mengganti pakaiannya. Levia pun memilih gaun yang sama - sama berwarna putih.
_______________
dengan beberapa orang yang ikut yaitu raja, ratu, para selir, pangeran, putri, pelayan, dan para pengawalnya.
Terlihat Clyfro sedang berbicara dengan akrabnya bersama raja dari kerajaan Ourta, tiba - tiba dari arah pintu masuk terdapat seorang gadis kecil bersama dengan pelayannya, gadis itu membungkukkan badannya kearah Clyfro dan raja Ourta beserta yang lainnya.
"Nrowna memberi salam kepada yang mulia dan beserta yang lainnya." Ucapnya sambil membungkukkan badannya.
"Bangunlah!" Ucap Clyfro mewakili semua orang yang ada. Nrowna segera menegakkan tubuhnya dan terlihat sebuah senyum yang menawan dan berjalan kearah tempat duduknya dengan anggun untuk para lelaki terutama para pangeran ada juga beberapa orang yang tidak terpesona akan senyuman Nrowna termasuk kaum hawa.
"Clyfro, kudengar kamu memiliki satu putri lagi yang baru saja kau angkat untuk menjadi putrimu." Ucap raja kerajaan Ourta keheranan sambil melihat sekeliling untuk mencari seseorang yang berwajah asing tetai tidak ada satupun yang asing baginya kecuali para pelayanbyang mungkin baru bekerja.
"Oh itu, mungkin saja dia masih bersiap - siap." Ucap Clyfro juga kebingungan akan ketidak hadirannya Levia. Tiba - tiba sebuah suara menyahuti perkataan antara Clyfro dengan raja Ourta.
"Ah, maaf menyela perkataan yang mulia, tadi saya sempat bertemu dengan putri ketiga tapi ia terlihat sangat pucat jadi saya menyarankannya untuk kembali istirahat." Ucapnya merubah ekspresi wajahnya menjadi terlihat khawatir. Hingga sebuah suara membalas perkataan Nrowna.
"Saya berterima kasih akan kebaikan kakak, akan tetapi tidak enak kalau saya tidak hadir dipertemuan kali ini." Ucap seseorang yang baru saja masuk kedalam aula tengah, Salah satu pangeran dari kerajaan Ourta yang sebelumnya acuh setelah mendengar suara yang familiar ia pun melihat kearah asal suara tersebut, gadis dengan rambut hitamnya yang tergerai, bibirnya yang terlihat pucat dan gaunnya yang berwarna putih.
"Levia memberi salam kepada semuanya yang ada disini." Ucap gadis itu yang tidak lainnya adalah Levia bersama dengan Nay yang membungkukkan badannya, pangeran dari kerajaan Ourta jelas terlihat terkejut saat melihat Levia yang terlihat sangat mirip hingga ia meriakkan sebuah nama yang membuat semua pasang mata melihat kearahnya. Pengawal yang mengawal pangeran tersebut hanya bisa menepuk judatnya saat melihat reaksi dari majikannya.
"LEVIA?!" teriaknya terkejut sehingga berdiri dari tempat duduknya. Levia yang melihat pangeran Ourta pun sebenarnya terkejut tapi ia menutupinya dengan sempurna. 'KEY?!' Pikirnya terkejut, ya pangeran dari kerajaan Ourta yang meneriakkan nama Levia adalah Key.
"Pangeran Key apakah anda mengenal putri Levia?" Tanya Clyfro memandang kearah Key dengan tatapan bingung.
"Ah, itu yang mulia, saya dan Levia sebenarnya adalah seorang teman." Ucap Key disaat kesadarannya sudah mulai kembali.
"Oh, begitukah putri Levia?" Tanya raja Ourta memandang kearah Levia.
"Ah itu benar yang mulia." Jawabnya membungkuk. T
Terlihat tubuh Levia bergetar hebatnya menahan rasa sakit yang ada dipunggungnya, Nay yang berada dibelakangnya adalah orang pertama yang menyadari akan hal itu, Nay pun memberanikan dirinya untuk berbisik didekat telinga Levia. Jelas Levia terlihat terkejut saat Nay membisikkan sesuatu kepadanya, semua orang yang ada disana merasa penasaran akan apa yang membuat gadi mungil itu terkaget segitunya.
"Putri, tubuh anda bergetar dan darah dipunggung anda juga mulai terlihat." Itulah yang dibisikkan Nay ditelinga Levia.
"Ada apa putri?" Tanya Clyfro yang sudah sangat penasaran akan hal yang membuatnya terkejut.
"Ah, itu yang mulia..." ucapnya tergantung yang mulai terlihat panik. Dari semua orang yang ada disana yang paling penasaran adalah Key yang selalu melihat ketenangan dalam diri Levia hingga ia melihat Levia yang terkejut berkemungkinan pasti adalah hal yang cukup besar.
"Levia ada apa?" Tanya ratu Adelyna berjalan mendekat kearah Levia dengan khawatir, Levia hanya diam mematung ditempatnya membuat semua orang penasaran. Sedangkan Nrowna yang sedari tadi melihat hanya diam. Nay juga terlihat sama khawatirnya dengan ratu. Disaat ratu Adelyna sudah dekat dengan Levia, tiba - tiba tubuh Levia mulai terlihat jelas bergetar dengan hebatnya, semua orang yang ada disana mulai khawatir terutama Key, sedangkan Nrowna hanya penasaran.
Levia memandang kearah ratu yang sudah berada didepannya, ia langsung saja berniat mundur beberapa langkah akan tetapi hal itu sudah dicegah oleh ratu Adelyna.
"Ada apa Via? Kenapa kamu mundur?" Tanya ratu Adelyna disaat ia sudah mencegah Levia mundur dengan tangannya yang memegang tangan Levia. Levia kemudian terlihat sangat panik dari sebelumnya hingga
"Apakah Via takut pada bunda karena kejadian hari itu? Bunda tidak mempermasalahkan hal itu Via." Ucapnya dengan lembut. Levia terkejut mendengar perkataan yang dilontarkan ratu Adelyna.
"Tidak bunda, aku bukannya takut pada bunda, aku....hanya...." ucap Levia menyangkal perkataan ratu Adelyna dan berakhir dengan kata - kata yang terlihat sangat ragu sekaligus ketakutan.
________________chp 6 end______________