Princess Levia

Princess Levia
Princess Levia :Chapter 2 : Ke kota Kuire



'Aku... baru saja membunuh orang...' pikir vee setelah sadar akan apa yang dia lakukan. Genggaman vee melemah membuat pisau itu terjatuh hingga ketanah beserta tubuh vee yang mulai berlutut dengan kepala menunduk


'Bzzzt...' terdengar sebuah suara membuat vee memandang kedepan yang terlihat sebuah layar transparan berwarna biru seperti yang ada digame.Dilayar tersebut terlihat sebuah tulisan.


"Nama : Levia ( perempuan)


Ras : Manusia


Status : ??


Level :??


Elemen :??


Seorang gadis berumur 5 tahun yang hidup sederhana dengan keluarganya sampai pada akhirnya terdapat beberapa orang menyerang yang dihadapi oleh orang tuanya sendiri hingga tersisa 1 orang pria yang berhasil membunuh keluarganya, pria tersebut juga terbunuh oleh gadis kecil itu yang tidak memiliki tingkat kekuatan apapun."


Kira - kira seperti itulah tulisan tersebut tertulis.


"Selamat, tuan berhasil membunuh pendekar level 5, anda mendapatkan 100 poin." Sebuah suara memenuhi kepala vee atau Levia.


" ah... suara itu seperti sistem." Ucap Levia yang kaget akan suara sistem yang muncul dikepala Levia.


"Ah... jadi ini kehidupanku yang baru, ah bukan melainkan hukuman dan sistem ini..." ucap Levia linglung akan kenyataan yang dihadapinya walau ia sudah bersiap diawal bertemu dewa kehidupan.


"Jadi... sekarang apa? Em... sebaiknya aku pergi mencari sungai dulu untuk membersihkan diri." Ucap Levia memandangi tubuhnya yang kotor.


' ah... aku lupa untuk memakamkan mereka dulu, mereka itu orang tuaku dikehidupan baru ini kan.' Pikir Levia. Levia pun memakamkan mereka dengan layaknya pemakaman umum, ia melanjutkan perjalanannya ke sungai ditemani sebuah pisau, dan pedang ( yang digunakan musuhnya). Levia hanya membawa pisau disaat ia mengetahui kalau sistem menyediakan ruang penyimpanan untuk menyimpan pedangnya.


Setelah beberapa saat berjalan Levia menemukan sungai yang jernih didalam hutan, ia mulai membersihkan seluruh tubuhnya beserta bajunya yang kotor. Levia pun melanjutkan perjalanannya setelah ia mandi untuk mencari makan atau daging hewan untuk disantapnya. Ditengah perjalanan Levia melihat seekor kelinci besar dengan bulu yang berwarna abu - abu. Ia mulai mengarahkan pisaunya kearah kelinci tersebut


Jleeb


[Clingg, selamat anda telah membunuh monster kelinci level 2, poin anda bertambah 10]


Kelinci tersebut langsung tumbang setelah pisau itu tertancap tepat di bagian vitalnya. Levia berlarian kecil kearah kelinci besar yang sudah tertancap pisau itu, Levia mulai membersihkan kelinci itu di sungai dimana ia mandi sebelumnya dan langsung membakarnya dengan api unggun disaat sore hari.


"Ah... belum ada bumbu, nanti dagingnya gak enak dong." Gumam Levia cemberut, hingga muncullah ide untuk menanyakannya ke sistem.


"Sistem, apakah kamu menyediakan bumbu - bumbu untuk memasak?" Tanya Levia bersemangat yang menanti jawaban dari sistem.


[Diperlukan beberapa poin untuk membeli bumbu memasak.]


" poin ya... dari mana aku mendapatkan poin - poin itu?" Tanya Levia lagi yang masih semangat.


[Tuan sekarang memiliki 110 poin hasil membunuh pendekar level 5 dan memburu monster kelinci level 2, tuan hanya perlu menyelesaikan misi - misi yang ada disistem untuk mendapatkan poin tambahan.]


"Em... baiklah kalau begitu, lebih baik mencari beberapa tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bumbu memasak walau poinku sudah lumayan banyak tapi lebih seru kalau mencari sendiri." Ucap Levia dengan senyum melebar yang mulai melangkahkan kakinya untuk mencari beberapa tumbuhan yang merupakan bumbu memasak.


__________________


1 bulan telah berlalu, Levia yang tinggal dihutan sesekali juga memulai pelatihan untuk bertambah kuat, dihutan Levia sering kali menemukan harta, ia juga sering berlatih dengan hewan yang ada dihutan itu, sekarang Levia berada dilevel 10 puncak yang mana dapat diraih oleh seseorang berusia 25 tahun, usia asli dari Vee dikehidupan yang sebelumnya. Levia yang sekarang masih berada diusia 5 tahun. Levia berniat untuk keluar dari hutan tersebut setelah 1 bulan tinggal disana, ia juga hendak pergi ke ibukota dimana banyak penduduk yang tinggal.


Didunia yang sekarang ditempati Levia terdapat banyak ras selain manusia, didaratan ini ada 5 benua yang mana juga terdapat 1 kekaisaran disetiap benua dan juga beberapa kerajaan kecil hingga besar. Sekarang Levia berada dihutan terlarang kerajaan Nuis yang dimana kekaisaran Cylo berada tepatnya dibenua timur.


Levia mulai bersiap akan kepergiannya ke ibukota Kuire, dihutan Levia juga menemukan beberapa senjata yang berkualitas tinggi.


"Ah... Whiti aku akan merindukanmu." Ucap Levia berpelukan sengan singa putih kesayangannya itu.


Grrroaa


"Huh apa...? kamu tidak akan merindukanku? Mengapa huhuhu..." ucap Levia yang sedikit berteriak pada singa berbulu putihnya dan semakin mengeratkan pelukannya.


Grrrooaaaa


"Ah... Whiti bagaimana kalau kamu tinggal saja didimensi kehidupanku saja?" Tanya Levia dengan bahagianya setelah menemukan solusi akan teman baiknya.


Grroa


Auman Whiti yang terlihat sangat gembira akan saran yang diajukan oleh Levia, karena selain ruang penyimpanan Levia juga memiliki dimensi kehidupan disistemnya untuk menempatkan beberapa makhluk hidup, dan disana sudah terdapat beberapa tumbuhan langka yang berkhasiat.


Setelah Whiti masuk kedalam dimensi kehidupan, Levia segera berlari menjauh dari hutan terlarang menuju ibukota kuire, sesampainya digerbang terlihatlah banyak orang yang mengantri untuk masuk kedalam, Levia juga mulai ikut mengantri hingga tiba gilirannya para penjaga menanyakan identitas Levia, sebenarnya Levia sudah memberitahukan asalnya dari hutan terlarang tetapi para penjaga memilih untuk tidak percaya.


"Ah... paman aku benar - benar dari hutan itu, aku tidak berbohong!" Ucap Levia sedikit cemberut kepada para penjaga itu, hingga tiba - tiba


"Sudahlah teman - teman, biarkan gadis kecil itu masuk biar aku yang urus sisanya dan ini uang untuk kalian, kalian mengerti kan?" Ucap salah seorang penjaga memberi sebuah kantong yang berisi beberapa koin.


"Ayo gadis kecil biar paman antar kedalam." Ucap pria tersebut ramah kepada Levia sambil mengarahkan Levia kedalam gerbang.


"Em...paman terima kasih, tapi apa yang paman berikan kepada mereka?" Ucap Levia berakting supaya terlihat seperti anak seusianya, sebenarnya Levia juga sudah tau kalau didalam kantong itu pasti ada uangnya.


"Ah... itu bukan masalah besar, gadis kecil apakah kamu hanya sendiri disini? Kenapa tidak bersama orang tuanmu?" Ucap pria tersebut yang terlihat sangat bingung akan keadaan Levia. Walau Levia memakai baju yang sama saat dihutan, tetapi bajunya masih terlihat sedikit bersih walau ada beberapa robekan.


"Ah... itu paman orang tuaku sudah terbunuh saat dirumah oleh sekelompok orang berbaju hitam. Ah iya paman, nama paman siapa?" Ucap Lecia yang terlihat mengalihkan pembicaraan.


"Ah... namaku Cide, maaf atas pertanyaanku tadi, dan juga gadis kecil, namamu siapa?" Ucap pria tersebut yang bernama Cide.


"Ah iya tidak apa - apa paman, namaku Levia paman bisa memanggilku Via." Ucap Levia tersenyum pada Cide.


"Ah iya, kita sudah sampai, apakah Via sudah tahu akan pergi kemana?" Ucap Cide diakhiri pertanyaan yang membuatnya cemas.


"Sebenarnya Via tidak tahu mau kemana paman tapi tak apalah." Ucap Levia bertingkah layaknya anak kecil tapi kan memang usia tubuhnya baru 5 tahun.


"Kalau begitu bagaimana kalau Via perginya bersama paman Cide saja?" Tanya Cide sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Tapi paman kan lagi bekerja, Via bisa pergi sendiri kok paman." Ucap Levia menyakinkan Cide.


"Ah iya juga ya, kalau begitu ini ambillah, didalamnya ada beberapa koin perak walau tidak banyak." Ucap Cide sambil memberikan kantong yang berisi koin perak.


"Paman ini tidak perlu..." ucap Levia yang menolak pemberian Cide, tapi ia baru menyadari bahwa Cide sudah berlari cukup jauh sambil meneriakkan "HATI HATI YA."


"Uh... ya sudahlah." Gumam Levia pelan menghembuskan nafasnya kasar.


"Hei gadis kecil, serahkan kantong yang kau genggam itu!" Terdengar suara berat dari belakang Levia, lantas Levia menolehkan badannya kearah belakang hingga ia bisa melihat 3 orang pria mengelilinginya sengan wajah garangnya. Terlihat sekeliling tak ada yang berani ikut campur untuk menolong Levia.


'Cih, apa harus sekarang aku mengeluarkan kekuatanku?' Pikir Levia sedikit kesal


'Mau bagaimana lagi, aku harus berakting lagi.' Levia pun mulai terlihat ketakutan.


"Paman... kantong ini pemberian paman Cide, Via tidak bisa memberikannya pada paman." Ucap Levia yang terlihat bergetar hebat.


"Hah... gadis kecil bagaimana jika kamu ikut paman saja, nanti paman pasti akan belikan beberapa makanan." Terlihat kalau para preman itu berniat menjual Levia menjadi budak.


"Tapi paman..." belum selesai perkataan Levia, para preman langsung menggendongnya layaknya menggendong sekantung beras, terlihat juga sesekali Levia memberontak tapi tak dihiraukan oleh mereka, pada akhirnya Levia berniat mengambil pisau yang ada di ruang penyimpanannya tapi diurungkannya saat melihat ada seseorang yang mendekat.


BRUUK


Semua terjatuh kecuali Levia yang sudah ada digendongan pria penyelamatnya.


"Heh...para bajingan ini ingin dikuliti rupanya." Ucapnya memandang para preman dengan dingin. Para preman tersebut kabur, takut akan perkataan pria tersebut menjadi nyata.


"Kau tidak apa - apa gadis kecil?" Tanyanya yang memandang kearahku dengan ramah dan senyum hangatnya. Bisa kulihat wajah tampannya walau sudah berumur, rambut pirang yang serasi dengan mata hijaunya yang menenangkan.


"Ah...paman Via baik - baik saja." Ucap Levia mengalihkan pandangannya dari wajah pria tersebut.


"Kamu kelihatannya sendirian, dimana orang tuamu?" Tanyanya mulai menurunkanku dari gendongannya.


"Ayah dan ibu sudah meninggal diserang sekelompok berbaju hitam." Ucap Levia menunduk bertanda ia tidak mau membicarakan hal itu.


"Bagaimana kalau kamu ikut paman kerumah menjadi putri paman?" Tanyanya dengam senyum yang menawan, Levia tersentak kaget saat mendengar hal itu, ia hanya diam tak menangggapi hal itu.


"paman anggap itu sebagai 'iya'." Ucapnya tersenyum.


_______________chp 2 end______________


Mohon maaf jika ada kesalahan karena saya masih sangat pemula. Memungkinkan segala cerita dinovel ini untuk tidak menirukannya karena semuanya hanya fiksi dari kepala 'saya'.