Princess Levia

Princess Levia
Princess Levia :Chapter 20 : Menyembuhkan & Tubuh Pendekar



"Ya, mungkin untuk selamanya."


"Apa maksudmu selamanya?! Apa dia sudah mati?!" Tanya Levia yang terdengar sangat terkejut.


"Serangan sekecil itu?!" Levia menunjuk kearah lelaki yang bersenderan dengan pohon, begitu banyak darah yang menempel ditubuhnya tak tau darah siapa itu.


"Serangan?" Fui menoleh kearah dimana Levia menunjuk hingga ia bisa melihat seorang lelaki dengan luka ditubuhnya sedang bersandar pada pohon yang tak lain adalah Muye.


"Apakah kau bertanya tentangnya?" Fui menatap Levia sembari menunjuk kearah Muye.


"Memang kau pikir siapa?" Levia menatap Fui dengan malasnya, ia berbalik menoleh kearah beruang kecil yang tertidur dengan lelapnya. Levia memasang kalung yang ada ditangannya pada beruang itu.


"Sekarang, ibumu akan selalu bersamamu dikedepannya." Levia tersenyum tipis dan segera menggedong bayi beruang itu kedalam pelukannya.


"Kau bisa menyembuhkannya?" Tanya Levia yang berjalan menuju kearah Muye yang tertidur akibat kelelahan.


"Dengan energiku yang tersisa, sepertinya tidak bisa." Balas Fui yang ikut menatap Muye.


"Sepertinya aku harus turun tangan sendiri." Levia menghela nafas dengan pasrah.


'Sistem, apakah ada semacam sihir yang bisa langsung menyembuhkannya?.` Tanya Levia dalam batin yang dapat didengar oleh sistem.


[Ada tuan. Sihir ini juga dapat menyembuhkan seseorang dengan cara yang ditentukan oleh pembeli.]


[Tuan hanya perlu membayangkan, apa yang akan tuan lakukan untuk menyalurkan energi penyembuh tersebut kepada penerima.]


`Hm? Bisa seperti itukah?'


[Bisa tuan. Tapi luka yang dipenerima akan berpindah pada tubuh tuan yang menyalurkan energi penyembuh.]


`Repot juga ternyata!' Levia mendesah ketika mendengar sistem yang menjelaskan perihal sihir yang akan ia beli.


`berapa poin yang diperlukan untuk membeli sihir itu?'


[500 poin ditingkat level 1 awal. Setiap kenaikan Level akan memakan biaya 500 poin. Disetiap Level terdapat 3 tingkatan dasar, yaitu awal, tengah, dan akhir.]


"Ugh!!" Muye mengerang kesakitan saat tubuhnya tergerakkan, Levia meliriknya sebentar saat menatap wajah Muye yang bisa dibilang tampan dalam anak seusianya.


`Ah, bagaimana jika sebuah kecupan saja sebagai penyalur energiku?' Levia membayangkan apa yang akan terjadi jika itu benar - benar terjadi. Mungkin orang lain akan mengeklaim bahwa dia adalah seorang gadis mesum. Levia yang sadar pikirannya melayang entah kemana pun menggelengkan kepalanya dengan cepat berusaha menyingkirkan pikiran kotornya itu, kemudian ia fokus kembali pada sistem miliknya.


`Baiklah, aku akan membelinya dengan 1500 poin untuk level 1 akhir!'


[Sihir sedang diproses.]


[Sihir: penyembuh


- ...


-... ]


[Sihir: penyembuh


- Level : 1


- Tingkat : Akhir


- perantara energi : Kecupan


- peringkat : 1


- Tersembuhkan : 25 %


- Luka diterima : 25 % dari luka penerima


... ]


`Eh?! Tunggu dulu!!! aku belum memikirkan apa yang akan kulakukan untuk menyalurkan energi milikku!!!'


[Sistem telah mencatat apa yang sebelumnya tuan pikirkan]


`Tapi aku kan belum menyetujuinya!!!. Cepat ganti!!'


[Perantara Energi dapat diganti saat sistem telah diupgrade ke level 100]


"APA?!" Kaget Levia saat mendengar balasan dari sistem.


"Ada apa?!" Fui menatap Levia dengan wajahnya yang masih segar dari keterkejutannya.


"Ehem! Tidak ada apa - apa." Balas Levia yang berusaha menetralkan ekspresinya. Segera Levia menurunkan bayi beruang yang ada dipelukannya kebawah pohon yang ada didekatnya.


`Huh!! Jadi sihirnya bisa digunakan sekarang?!'


[Bisa tuan]


*GLEK


Dengan susah payah Levia menelan ludahnya karena merasa gugup saat ia tengah berjalan mendekati Muye.


'Tenanglah Levia! Tenang! Hanya sebuah kecupan, tidak lebih!'


Tepat didepan Muye, Levia berdiri dengan tegaknya hingga sebuah helaan nafas mulai kabur dari mulut mungil nan tipisnya itu. Dengan 3 kata yang ia ucapkan dibenaknya berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


'Hanya sebuah kecupan!'


Dengan mengulangi kalimatnya itu, justru bukannya membuat Levia tenang malah semakin membuatnya gugup dengan tubuhnya yang gemetaran. Fui yang memperhatikan sedari tadi pun menyadari ada sesuatu yang terjadi pada Levia.


"Apa kau baik - baik saja?" Dengan cemas Fui bertanya saat melihat raut muka Levia yang sangat kegugupan. Levia yang masih gugup pun tersentak kaget saat Fui menanyakan keadaannya.


"Ah, tidak. A - aku baik - baik saja. A - aku akan mencoba menyembuhkannya." Balas Levia yang berusaha untuk mengendalikan ekspresinya.


"Baiklah." Fui merasa tak yakin dengan ucapannya


Kedua tangan Levia mulai terangkat menuju kewajah halus milik Muye, tepat dikedua sisi pipi Muye. Tangan Levia mengelus dengan lembutnya. Levia mulai memejamkan matanya hingga sebuah helaan nafas mulai keluar dari mulut mungil miliknya.


Kelopak matanya mulai terangkat menampilkan dua permata berwarna ungu yang sangat indah. Tepat setelah itu hal yang dilakukan Levia selanjutnya benar - benar membuat Fui yang melihatnya terkejut sekaligus tersentak.


Plak!


Plak


Plak


Suara memekakkan telinga itu kini mulai terdengar secara berturut - turut yang tak lainnya adalah sebuah tamparan. Tangan Levia berkali - kali nya menampar kedua pipi Muye dengan kerasnya berusaha untuk memastikan jika Muye benar - benar tertidur ataupun pingsan.


"Tidak bangun? Baiklah!" Levia mulai mendekatkan kepalanya. Levia mulai menutup matanya dan


Cup~


Merasakan sesuatu yang hangat mulai mengalir diseluruh tubuhnya, Muye terbangun saat energi milik Levia sudah sampai disemua titik energi ditubuhnya. Levia yang melihat Muye terbangun pun cukup terkejut dalam ekspresinya.


"Kau sudah bangun?" Kali ini bukan Levia yang bertanya melainkan Fui yang bereaksi sangat terkejut saat melihat Muye terbangun.


'Ditampar berkali - kalinya masih tidak bangun, tapi hanya dengan sekali kecupan dia langsung terbangun?! Apakah dia org mesum?!' Fui mulai curiga jika Muye yang terbangun karena kecupan adalah seseorang yang mesum.


"Uh? Lukaku sedikit membaik, apakah kau yang menyembuhkanku?" Muye bertanya pada Fui.


"Bukan." Fui menjawab dengan cepat.


"Lalu siapa?" Tanyanya lagi.


"Kau lihat sendiri lah siapa yang dekat denganmu saat kau terbangun." Sesaat setelah mendengar itu, Muye mulai memandangi sekitarnya hingga matanya melihat gadis kecil yang sedang menggendong bayi beruang.


"Apakah yang kau maksud adalah ... gadis itu?"


"Hah? Apa kau segitu bodohnya sampai tak mengerti jika yang ada disini hanyalah kita bertiga!" Fui melipat kedua tangannya didada merasa kesal. Muye yang mendengar itu pun benar - benar tak percaya tetapi ia harus menerima kenyataan yang ada didepannya dengan paksa. Muye yang ingin berterima kasih berusaha untuk berdiri.


"Lukamu masih belum sembuh sepenuhnya, istirahatlah." Levia berbicara dengan tenang seperti tak pernah ada kejadian dimana ia merasa gugup atau pun terkejut. Muye yang merasa diperingati hanya bisa menurut karena ia memang belum sepenuhnya pulih dari lukanya.


"Dan kau, apakah lukamu parah?" Levia bertanya kepada Fui yang masih bersikukuh berdiri.


"Oh? Aku tidak apa - apa. Ini bukan luka yang berat hanya luka kecil saja." Balas Fui yang menggelengkan kedua tangannya, tapi sesaat Fui mulai memperhatikan Levia dengan teliti hingga ia baru menyadari jika, gadis yang ada didekatnya itu sangat imut sehingga ia mulai mengubah perkataannya.


"Ah, lukaku cukup berat. Bagaimana kalau kau menyembuhkanku juga?" Fui bertanya dengan wajah ceria seolah - olah tak memiliki luka apapun yang mengganggu ditubuhnya.


'Dia begitu imut! Tak apa kan kalau dia menciumku sekali?'


Levia melangkah mendekat kearah Fui dengan tangannya yang masih memeluk beruang kecil serta sedikit elusan untuk si beruang kecil. Tepat saat didepannya Levia mengangkat beruang kecil dan menaruhnya diatas kepala Levia, yang membuatnya nampak semakin imut dan lucu.


Levia memegang tangan Fui dan menatapnya sesaat. Melihat tangan yang ia pegang kotor Levia pun membersihkannya dengan sihir. Sekilas Fui merasa takjub dan kagum terhadap Levia yang sudah mahir menggunakan sihir.


Setelah bersih Levia langsung saja mencium punggung tangan milik Fui, rasa hangat yang mengalir sempat membuatnya terkejut tapi tak lama setelah itu Fui merasa nyaman akan energi milik Levia. Merasa jumlah energi yang ia berikan sudah cukup, Levia pun melepas tangan Fui.


"Ah, apa kau berniat melamarku gadis kecil?" Fui tampak terkejut dengan apa yang sebelumnya Levia lakukan, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan berusaha untuk menunjukkan keterkejutannya, tapi Levia hanya membalasnya dengan tatapan datar seolah hal itu tak lucu sama sekali.


"Namaku Levia! Jangan menyebutku gadis kecil lagi!"


"Lagian, siapa yang mau melamar. Kalau tak ingin disembuhkan bilang saja, tak perlu seperti itu!" Levia mendengus merasa sedikit jengkel akan perkataan Fui.


"Levia, karena kau sudah menyembuhkanku. Bagaimana kalau kau menjadi adikku?" Fui bertanya dengan sebuah penawaran yang mungkin jika dilihat orang, Levia termasuk anak kecil yang berutung karena ada seorang penyihir yang bisa dibilang berbakat mengangkatnya menjadi adik. Tapi berbeda dengan Levia.


'Bukankah aku orang yang berutung jika memiliki adik yang luar biasa imut ini?!'


'Ah! Bukan, seharusnya dia yang beruntung karena memiliki kakak yang cantik dan berbakat sepertiku.'


"Untuk apa aku menjadi adikmu? Buang - buang waktu saja. Lagi pula siapa yang menyelamatkan siapa?" Balas Levia dengan datar dan sedikit penekanan pada kata 'siapa menyelamatkan siapa?'.


"Yah itu sih..." Fui tak melanjutkan kalimatnya dengan tangan yang menggaruk leher belakangnya yang mana tak merasa gatal.


"Bagaimana jika kau ikut denganku dan belajar diakademi?" Sekarang yang bertanya bukanlah Fui melainkan Muye yang masih duduk bersandar dengan pohon. Mata Levia yang semula menatap Fui kini beralih menatap Muye.


"Untuk apa? Aku sudah cukup kuat, dan lagi pula aku bukanlah anak gelandangan yang tak memiliki rumah. Sebenarnya aku tak memerlukan ini sih. Bagaimana jika kalian menjadi muridku saja. Mungkin aku bisa mengajari kalian beberapa hal."


'Dengan bantuan sistem, mungkin aku bisa merekrut beberapa orang yang mungkin suatu saat bisa membantuku setelah mempelajari beberapa hal.'


"Apa?!" Fui terbengong mendengar apa yang barusan Levia katakan, sebenarnya ia tak percaya kalau Levia adalah anak kecil yang kuat dan pandai dalam hal sihir.


"Ah! Tid__" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Fui menatap orang yang menyelanya dengan tajam.


"Baiklah kami akan menerimanya." Ucap Muye yang berhasil membuat mata Fui melotot kearahnya, tapi tampak begitu jelas jika Muye tak mengacuhkannya.


"Oh? Tak kusangka?!" Levia terkejut mendengar jawaban dari Muye. Walau begitu Levia tetap menerimanya dengan anggukkan kepala.


"Apa yang kau katakan!!" Geram Fui yang berbisik kepada Muye, Muye mengambil jawaban tanpa bertanya padanya, padahal dia juga terlibat, bukankah itu berarti dia juga akan menjadi murid dari gadis yang bernama Levia itu.


Jujur saja, sebenarnya Fui tak menyetujui pemikiran Levia. Fui tidak suka jika dia menjadi murid dari orang yang berusia lebih muda darinya, walau ia sebelumnya terkagum - kagum. Tetapi setelah mendengar alasan yang disampaikan Muye, wajah Fui perlahan mulai membaik saat ia tahu kenapa Muye menyetujui permintaan Levia.


"Dia hanyalah anak - anak. Mungkin kekuatannya memang hebat, tapi mau bagaimanapun Levia tetap anak kecil yang masih lugu." Fui yang mendengar itu pun sedikit bingung akan alasan utama yang belum Muye katakan.


"Apa maksudmu?" Fui bertanya dengan nada yang sedikit menebak.


"Ya, mungkin saja dia ingin mempunyai seorang murid suatu saat. Kita menerimanya hanya sekedar menghibur saja." Fui mengangguk - angguk pertanda ia mulai mengerti.


"Baiklah, kali ini aku setuju denganmu." Fui menoleh kearah Levia yang masih dengan setiap mengelus bulu halus milik beruang kecil yang ada digendongannya.


"Kami bersedia menjadi murid anda, master!" Fui dan Muye secara serempak memberikan jawaban yang pasti. Levia yang mendapati hal itu menatap kedua murid barunya dengan seksama yang mana terdapat keyakinan penuh tetapi itu bukanlah keyakinan yang ingin menjadi murid tapi keyakinan yang yakin jika mereka bisa menghibur gadis ini.


"Kalian kuterima sebagai murid." Balas Levia yang memberikan tatapan serius akan pengangkatan muridnya. Angin mulai berhembus menerpa ketiga orang yang kini saling menatap dengan penuh keseriusan, cahaya bulan yang nampak terang membuat mereka seperti beberapa bocah yang akan memulai pertarungan.


Wush~


Angin dengan lembut menerpa wajah Levia membuatnya merasa nyaman akan suasana malam hari itu. Dengan kepalanya yang beralih menatap bulan dilangit, ia baru saja sadar jika ia sudah terlalu lama pergi. Hanya dengan satu kalimat yang ia ucapkan kepada kedua murid barunya, Levia melesat pergi meninggalkan mereka yang masih menatap kepergiannya.


Levia yang sadar jika ia membawa bayi beruang pun menghentikan langkahnya, dengan satu kali panggilan untuk Whity. Makhluk besar dengan bulu lebat berwarna putih yang menampilkan sesosok harimau yang berlutut dihadapan majikannya.


"Bawa dan perintahkan kepada hewan yang kau percaya untuk merawat bayi beruang ini seperti anaknya sendiri. Suatu saat aku akan menjemputnya." Titah Levia kepada Whity sang harimau yang telah memasuki tahap makhluk suci. Sebuah cahaya putih mulai bersinar ditubuh Whity, yang mana ia telah mencoba untuk berubah kewujud manusianya.


Tangan Levia kini berada didepan matanya berusaha untuk menghalangi cahaya putih menyilaukan itu. Seketika cahaya mulai menghilang Levia dapat melihat seorang pria memiliki rambut berwarna putih yang panjang, dan mata hitam yang berkilau sebagai penyamaran warna mata asli miliknya.


"Whity, apakah itu kau?" Levia ragu jika pria yang ada dihadapannya itu adalah sang singa putih kesayangannya. Mendengar pertanyaan dari sang majikan, Whity tentu saja menjawab dengan senyum yang mengembang dengan menawannya.


"Benar nona." Levia menatap Whity dengan mata tajamnya beberapa saat hingga ia menyuruh Whity untuk segera mengerjakkan apa yang ia perintahkan. Levia menyerahkan bayi beruang itu dengan hati - hati kepada Whity yang hendak menggendongnya.


"Suatu saat aku akan menjemputmu, ... Itana." Whity dengan cepat melesat pergi setelah mendapat kode dari Levia. Whity segera menuju kearah hutan terlarang yang berada di ibukota Kuire, ia menemui teman lamanya yang adalah seekor beruang betina dengan bulu coklat.


"Rawatlah beruang ini, suatu saat nona akan membawanya kembali. Beruang putih ini bernama Itana." Setelah menyampaikan apa yang perlu ia katakan, Whity langsung pergi meninggalkan temannya bersama Itana dan kembali menyusul Levia.


//FLASH BACK OFF///


"Aku tidak tau jika Level yang telah kucapai sebelumnya berada di tingkat 10 puncak." Kata - kata itu lolos keluar dari mulut mungil milik gadis kecil nan cantik dan imut yang kini membaringkan tubuhnya ditempat tidur.


"Aku tak mengerti!"


[Tuan, level pendekar anda berada di 10 puncak. Tubuh pendekar anda saat ini belum menepati tubuh anda yang mana masih sama dengan daya tahan anak berusia 5 tahun.]


"Huh?" Levia terlihat kebingungan saat mendengar suara sistem yang tiba - tiba menyahutinya.


[Tubuh pendekar adalah tubuh yang memiliki daya tahan kuat layaknya pendekar. Tuan mencapai level 10 puncak dikarenakan tuan telah mengasah tubuh pendekar saat dihutan terlarang.]


[Tuan belum menyatukan tubuh pendekar dengan tubuh anda, sehingga ketahanan tubuh pendekar yang anda punya tidak akan berfungsi.]


"Bagaimana cara penyatuannya?" Levia yang sudah paham dari penjelasan sistem, ingin mencoba untuk segera memulai penyatuan dengan tubuh pendekar.


[Cara utama penyatuan tubuh pendekar yang disarankan master adalah memaksa tubuh pendekar menyatu dengan sendiri memalui beberapa luka fisik. Cara lain yang sering dilakukan adalah mendorong tubuh pendekar untuk menyatu menggunakan Qi dari seorang kultivator tingkat tinggi, resiko yang didapat jika menggunakan Qi kultivator adalah, cacat dan kematian.]


"Tunggu, kenapa cara yang beresiko tinggi lebih sering dilakukan jika ada yang bisa dengan cara yang alami?" Levia berfikir ada 2 hal kenapa orang lebih memilih menggunakan Qi sebagai pendorong, 1 karena tidak ingin berlama - lama, cara yang pertama disebutkan sistem harus berjalan dengan perlahan yang mana akan memakan waktu yang lama. Yang kedua kenapa orang lebih memilih cara menggunakan Qi adalah karena ketidaktahuan serta kultivator yang sedikit didunia tengah, apalagi dengan tingkatan tinggi.


[Kebanyakan orang tidak menyadari jika cara alami sering terjadi tanpa diketahui. Menggunakan Qi sebagai pendorong juga harus bertahan dengan sakit yang lebih besar dari cara alami.]


"Baiklah, aku paham. Huh! Besok harus belajar lagi dengan si pengganggu. Mengingatnya membuatku kesal!!!!" Levia yang sudah lelah memilih untuk segera memejamkan matanya agar segera tertidur.


________________chp 20 end__________________


Hai - hai!! Haduh, Ruka dah gk nabung chp lagi nih, jdi ntar klo up nya lama, mohon maaf yak


mungkin ada beberapa alur yg gk nyambung.


sedikit penerangan:


Tubuh pendekar Levia telah mencapai level 10 puncak, sebagaimana yang Levia lalui dihutan terlarang selama 1 bulan. (terdapat di chp 2)


Yosh! Ruka yok semangat!!! GAMBARE!!!


>♡<