Princess Levia

Princess Levia
Princess Levia :Chapter 8 : Countess Syna



"Aku hanya berpura - pura. Kamu tahu kan dikerajaan yang mempunyai selir itu banyak perselisihan yang pasti jika melawan dengan kekerasan dapat dipastikan akan berakibat pada dirinya sendiri jadi melawan dengan kepolosanlah yang sering juga digunakan mereka. Walau luka dipunggungku memang terasa sakit." Ucap Levia tenang membuang pandangannya kearah lain.


"Oh, tapi Via, kamu harus melawan jika ada yang berniat menyakitimu, jangan hanya diam." Ucap Key menasehati.


"Aku tahu Key, cuman tidak sekarang, tunggu suatu saat nanti." Ucap Levia memandang mata Key dalam.


"Hem... baguslah." Ujar Key tersenyum dengan tangan yang mengelus kepala Levia lembut. Levia yang dielus kepalanya hanya terdiam dengan wajah tenangnya.


"Jika kamu butuh bantuan, kamu bisa katakan apa saja padaku." Ucap Key lagi menggerakkan kedua tangannya kearah pipi Levia dan menepuk - nepuknya dengan lembut tanpa ada memar sedikit pun.


"Kalau begitu istirahatlah." Key menurunkan tubuh Levia ketempat tidur, lalu mencium didahi Levia singkat dan langsung berlenggang pergi tanpa melihat kearah Levia. Levia yang masih dengan muka tenangnya pun mengarahkan tangannya keatas lalu mengusap dahinya, tempat dimana ciuman Key berada.


"Hem..." dehemnya yang masih dengan wajah datar tanpa terlihat ekspresi apapun selain ekspresi bak tembok.


____________


Paginya hukuman yang Levia jalani yaitu dikurung selama 3 bulan pun dicabut kembali oleh Clyfro atas permintaan Adelyna.


"Kak Nay, kakak bisa istirahat bila luka kakak masih terasa sakit." Ucap Levia yang terlihat khawatir didepan cermin. Nay yang sedang menyisir rambut Levia pun menjawab.


"Tidak perlu putri, saya baik - baik saja." Jawabnya.


Mata ungunya yang kehitaman akan terlihat seperti hitam cerah bila tidak dilihat dengan baik - baik, rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai dan gaunnya yang berwarna biru laut berdominasi putih. Levia berjalan keaula makan tempat dimana semuanya makan, Levia yang berdiri dengan tegak terlihat seperti seorang putri tanpa riasan ataupun hiasan yang menempel.


Sesampainya dipintu aula makan, para penjaga terlihat menghormati Levia entah karena alasan apa, Levia masuk dengan pintu yang dibukakan oleh salah satu penjaga pintu. Ia melangkah dengan tegak dan berjalan maju, terlihat semua orang sudah berada disana kecuali putri Nrowna yang dikenakan hukuman. Levia yang akan memberi salam dihentikan oleh raja Ourta, Levia yang diijinkan untuk dudukpun segera mendudukki salah satu kursi yang kosong. Levia memandangi semua orang yang duduk telah memakan makanan yang ada didepan mereka, sesaat Levia memejamkan matanya lalu memakan makanannya dengan anggun, memotong daging dengan hati - hati dan dengan ketelitian, mengunyah makanannya dengan mata terpejam menambahkan aura kedewasaan terhadap Levia hingga semua orang terdiam sambil memandang kearah Levia yang masih mengunyah makanannya dengan tenang. Levia membuka matanya terlihat semua orang memandangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"Hei Clyfro, ternyata putrimu yang satu ini sudah dewasa ya, cara makannya yang sangat anggun itu membuatnya terlihat sangat dewasa sekali. Siapa guru etika yang mengajari putri Levia, Clyfro?" Ucapnya memuji lalu diakhiri dengan pertanyaan yang wajar diucapkan semua orang.


"Aku meminta countess Syna untuk mengajari beberapa tata krama dan etika pada Levia, tapi setelah Levia mendapatkan hukuman countess Syna mengatakan dirinya tidak bisa lagi mengajari Levia karena Levia yang buruk untuk memahami apa yang ia katakan, setahuku countess Syna adalah guru etika yang terbaik dikerajaan Nuis." Ucap Clyfro terheran - heran.


"Hem... begitu ya, oleh karena itu putri Levia sangat pandai akan etika dan terlihat dewasa secara bersamaan." Ucap raja Ourta lagi yang memuji kembali akan etika yang dipelajari Levia.


"Ah, yang mulia -" ucapan Levia terpotong dengan perkataan raja Ourta yang pandangannya terarahka oleh Levia.


"Panggil saja paman Gurt, Via." Ucapnya denagn ramah dan tersenyum kearah Levia dengan lembut. Levia terlihat sangat terkejut akan hal itu tapi ia kemudian tersenyum dengan cerahnya.


"Baiklah paman Gurt." Ucap Levia dengan senyum termanisnya membuat yang ada disana merasa terpesona kecuali para kaun hawa.


"Sebenarnya paman Gurt terlalu memuji. Dulu sering kali countess memukulku karena kesalahan yang ku- " ucapan Levia terhenti saat melihat semua orang yang ada disana terkejut akan perkataannya hingga ia menutup mulutnya dengan tangan. Suasana yang ada disana terlihat sangat mencekam setelah perkataan Levia terhenti.


"Via, apakah countess Syna sering kali memukulmu saat pelajaran etika sedang berlangsung?" Tanya Gurt dengan wajahnya yang datar memandang kearah Levia terduduk.


"Ah, paman Gurt sebenarnya bukan begi-" ucapan Levia terpotong dengan perkataan yang keluar dari mulut Clyfro.


"Via, katakan dengan jujur pada kami!" Ucap Clyfro menyela ucapan Levia yang belum selesai. Semua yang ada terlihat menunggu balasan dari Levia kecuali para selir dan beberapa putri yang acuh akan hal itu.


"A- ayah tolong jangan marah, countess Syna hanya memukulku saat aku melakukan kesalahan." Ucap Levia pelan tapi dapat didengar semua orang, mimik wajah Clyfro mulai berubah beserta dengan Gurt dan Key yang terlihat sangat marah.


"Ayah bukankah ini sudah sewajarnya, setiap kesalahan yang kuperbuat, countess akan memukulku dengan kayu tipis yang panjang dan menasehatiku." Ucap Levia terlihat keheranan sekaligus takut akan kemarahan orang - orang yang ada disana seperti saat di kejadian Nrowna.


FLASHBACK....


"Tabib!! Tolong periksa dan obati luka yang ada dipunggungnya!!" Ucap Key sedikit berteriak saat melihat tabib masuk kedalam ruangan yang ditempati Levia. Tabib itu pun segera berlari mendekat kearah Levia.


"Permisi." Ucapnya kemudian membuka gaun Levia yang hanya bagian punggung yang terlihat, darah membekas dipunggung Levia, tabib itu langsung saja memeriksa luka yang ada dipunggung Levia.


"Pangeran, putri mendapatkan luka yang cukup dalam karena terdapat beberapa luka yang terlihat tidak baru, mungkin lukanya baru beberapa hari yang lalu pangeran. Luka lama ditambah luka baru akibat cambukan membuat luka lamanya melebar, mungkin luka lamanya tidak menimbulkan luka yang berdarah tapi tetap saja..." ucap tabib, setelah memeriksa punggung Levia, ia kemudian meminta pelayan untuk membawakan kain untuk membalut luka punggung Levia dan air untuk membersihkan darah Levia.


"Luka lama..." ucao Key yang memandang kewajah Levia yang masih tidak sadarkan diri.


FLASHBACK OF...


"Levia, apakah luka yang ada dipunggungmu selain luka cambukan adalah luka pukulan dengan kayu yang diperbuat oleh countess Syna?" Ucap Key memandang kearah Levia dengan mata yang menyelidik, Levia terkejut akan perkataan Key, ia tidak mengira Key akan mengetahuinya.


"Dengan raut wajahmu itu sudah pasti adalah perbuatan countess Syna!" Ucapnya tegas saat melihat ekspresi wajah Levia yang terkejut.


Semua orang hanya diam melihat Key yang sudah menemukan luka pukul yang didapat Levia.


"Selain punggung, apakah countess Syna pernah memukulmu dibagian tubuh yang lain?" Ucapnya menatap tajam Levia, Levia hanya mematung. Para pelayan yang sedari tadi melihat hanya terdiam, Nay terlihat cemas akan keadaan Levia.


"Pelayan, periksa tubuh putri Levia bila ada luka lain selain punggungnya!" Perintah Clyfro kepada para pelayan. Para pelayan segera menghampiri Levia yang mematung kemudian membawa Levia keruangan yang lain agar tidak ada yang melihat tubuh mungilnya yang tanpa busana. Beberapa saat berlalu para pelayan kembali.


"Bagaimana?" Tanya Clyfro memandang kearah pelayan yang memeriksa tubuh Levia.


"Terdapat beberapa luka lain ditubuh putri, luka pukul dibagian paha, lengan atas, leher, kaki dan..." ucap salah satu pelayan.


"Dan apa?" Tanya Clyfro lagi, pelayan itu yang mendapat ijin untuk memdekat pun segera melangkah, ia berbisik ditelinga Clyfro hingga raut wajah Clyfro terlihat sangat marah akan perlakuan countess Syna terhadap seorang putri.


"Panggilkan countess Syna beserta suaminya!!" Teriak Clyfro dengan marah. Semua orang yangvada disana terlihat sangat penasaran tapi tidak ada yang menanyakan akan hal tersebut hingga Clyfro memerintahkan semua orang untuk kembali kekediamannya masing - masing. Kini hanya tersisa Clyfro dan beberapa para pelayan dan pengawal. Clyfro meninggalkan aula makan dan pergi ke aula tengah, setibanya disana Clyfro langsung duduk disinggahsananya hingga penjaga didepan pintu memberitahukan kehadiran Countess Syna dan suaminya yang bernama Trile. Clyfro memerintahkan mereka untuk masuk, Trile dan Syna yang masuk hanya bisa keheranan dengan panggilan dari Clyfro yang terbilang mendadak.


"Salam yang mulia." Ucap mereka berdua memeberi salam dan membungkuk.


"Aku tanya padamu countess Syna, apakah kamu tahu kesalahan apa yang telah kau perbuat?" Tanya Clyfro dengan wajah dingin memandang kearah Syna. Trile yang tidak mengetahui apa - apa hanya memandangi Syna dengan ekspresi bingung.


"Kesalahan apa yang telah saya perbuat yang mulia, mohon yang mulia memberi nasehat." Ucap Syna yang sama sekali tidak mengetahui niat Clyfro memanggilnya.


"Count Trile apakah gelarmu sebagai count ingin kucabut?" Tanya Clyfro yang masih dengan nada dinginnya. Trile dan Syna yang mendengar akan hal itu terkejut, 'sebenarnya kesalahan apa yang telah Syna perbuat?' Pikir Trile.


"Yang mulia, sebenarnya kesalahan apa yang telah Syna perbuat hingga membuat yang mulia menjadi sangat marah?" Tanya Trile dengan hati - hati.


"Tanyakan sendiri pada istrimu atas perlakuannya terhadap putri Levia!" Balas Clyfro. Syna yang mendengar kata 'putri Levia ' pun merasakan keringat dinginnya yang keluar.


____________________


Keesokan harinya mulai terdengar akan hukuman yang count Trile berikan untuk countess Syna, karena takut akan gelarnya yang dicabut, Trile menyarankan pada Clyfro untuk memberikan keputusan akan hukumannya terhadap Trile, Clyfro menyetujui saran yang diberikan Trile tapi hukuman yang diberikan haruslah berat.


_______________chp 8 end____________________