
"Kau akan membawaku kemana?"
"Duduk dan diamlah! jangan mengganggu konsentrasi ku disaat menyetir."
"dasar kutub es seenak jidatmu saja memerintahku. ingin rasanya ku remas kau seperti kerupuk" Key memanyunkan bibirnya beberapa centi
"Sudah mulai berani kau mengataiku?"
"ti tidak, siapa yang mengataimu. astaga sejak kapan dia menjadi seorang peramal seperti itu."
Key mengarahkan pandangannya keluar jendela.
Pemandangan malam yang begitu indah. Lampu taman menyorot jalanan kota.
"Kenapa anda melewati arah menuju rumahku?"
"Apa kau lupa dengan undangan yang kuberikan padamu?"
"Iya aku ingat, tapi kan itu esok hari"
"Kita harus berangkat pagi, apa kau tak membaca dimana lokasinya"
"Hm, jangankan membaca. Akupun belum menyentuh undangan itu sama sekali. Emang acaranya dimana?"
"Kau baca saja sendiri." Zein melempar amplop undangan ke pangkuan Key.
Key membuka amplop berisikan undangan tersebut lalu membacanya dengan seksama
"Untuk Tn. Zein Alvaro terhormat Acara wedding Mr. Kafka dan Nn. Bilsha"
"Kenapa kau membacanya begitu keras?"
"Bukankah Anda menyuruh saya membacanya?"
"Dasar gadis bodoh! Suaramu itu membuat gendang telinga ku rusak. Sebaiknya kau baca dalam hati"
"selain bos kutub es, ternyata dia bos plin plan juga. Tadi menyuruh ku membaca, sekarang malah mengataiku" gerutu Key pelan
"Kau berani mengejek ku lagi?" ancam Zein
Key hanya menunduk mengalihkan pembicaraan
"Astaga pengusaha kaya Kafka menikah dengan artis cantik Sasya. Mereka serasi banget sih! yang satu tampan yang satunya cantik banget. malah dua duanya kaya lagi, Mereka berasal dari keluarga terpandang." Key tak berhenti berbicara dengan dirinya sendiri
Zein yang mendengar ocehan Key sedari tadi hanya menggelengkan kepala. Key mulai berimajinasi dengan menatap layar ponselnya
"Astaga Kafka, kamu ganteng banget sih! Aku gak nyangka ternyata kamu besok bakal menikah. Kamu tau gak, aku fans beratmu" Key mengelus elus layar ponsel nya
"Apa Sekarang kau berniat beralih profesi menjadi seorang Pelakor? Setelah milik teman mu kau rampas, sekarang suami orang lain pun akan kau rebut?" Zein mengangkat sebelah alis matanya
"Kasar sekali kata katamu Tuan Zein yang terhormat, semudah itu kah kau merendahkan harga diri orang lain?"
"Bukankah itu benar benar profesi mu yang sekarang? lalu dimana letak aku merendahkan mu?"
"Cukup, turunkan aku disini tuan!"
"Silahkan saja jika kau bisa"
Key membuka buka kunci pintu tersebut. Namun hasilnya nihil. Key tetap tak bisa membuka pintu tersebut. Sekarang dirinya hanya pasrah dengan keadaan kalau dirinya harus bersama orang yang menyebalkan menurut nya.
Tak lama setelahnya Mereka sampai ke sebuah hotel megah Witama Resort
"Astaga! baru saja aku melihat nya mengoceh. Selain bodoh ternyata dia juga putri tidur"
Zein memandangi wajah wanita yang berada disampingnya itu
"Saat tidur seperti ini kau terlihat begitu cantik berbeda dari biasanya saat ketika mulut mu tak berhenti mengomel kau lebih mirip dengan Mak lampir." kalimat itu tanpa sengaja keluar dari mulut Zein
Zein mengangkat Key keluar dari mobilnya menuju kamar yang sudah dipesan Zein sebelumnya.
Kamar itu khusus di buat hanya untuk Zein. yang sewaktu waktu apabila Zein bosan berada di rumahnya. ia pergi menginap kehotel untuk menghilangkan rasa bosannya.
Semua mata tertuju pada Zein.
"*romantis sekali pasangan itu"
"andai saja aku yang berada di pelukan nya"
"Hssttt,,, tinggi sekali khayalan mu*"
Mereka mengomentari Zein dan Key yang melintas dihadapannya
dikamar, Zein meletakkan Key diatas kasur. Zein duduk tepat diujung kasur. Tubuh Key memindah kearah Zein. Tanpa sadar tangan Key bergerak kearea sensitif milik Zein
"Astaga gadis bodoh. kenapa kau membangunkan kingkobraku" dengan perlahan Zein mengangkat tangan Key kekasih. dan beranjak menuju kamar mandi untuk menjalankan ritualnya.
Cahaya matahari menyilaukan seluruh ruangan kamar. sayup sayup Key membuka matanya. Karena silaunya matahari yang menembus tirai kamarnya.
dipandang nya seluruh dekorasi kamar. yang begitu simpel dengan dinding cat bewarna cream
"Ini bukan kamarku, ini seperti dihotel." Key memandangi saty persatu bagian seluruh tubuhnya
"aman, ternyata pakaian ku utuh"
"Apa kau berpikiran negatif? Bahkan, sedikit pun aku tidak tertarik dengan tubuhmu" Pungkas Zein
"Baguslah jika kau tidak tertarik. Atau jangan jangan kau Gay?" Key menerka nerka tanpa berpikir bahwa dia akan membangun kan singa yang sedang tidur.
Mata Zein melotot menatap ke arah Key seakan tak suka dengan ucapannya
"aku harus mandi" Key berlari menuju kamar mandi
Selesai mandi ia lupa membawa handuk dan ia tidak memiliki pakaian ganti
"ya ampun aku lupa, aku kan tidak memiliki pakaian ganti bahkan aku tidak membawa handuk"
"Tuan Zein, apakah kau ingin membantuku untuk mengambil kan handuk?"
Zein tertawa mendengar ucapan Key.
"Ternyata selain bodoh kau juga ceroboh"
"tolonglah tuan Zein, aku juga tidak memiliki pakaian ganti"
Zein memberikan handuk ketangan Key yang keluar dari pintu tersebut.
"Tuan Zein bisakah anda keluar dari kamar aku akan mengeringkan bajuku yang basah"
"Apa kau sedang memerintah ku?"
"Bisakah anda tidak berdebat denganku disaat seperti ini tuan?"
"Ok baiklah aku akan keluar"
Saat Key keluar dari kamar mandi ia mendapati sebuah gaun diatas almari dan ada note diatasnya.
"Pakailah gaun ini"
"Kapan dia membeli kan ku gaun ini? Sultan mah bebas"
Key memakai gaun yang diberikan oleh Zein dan memakai polesan makeup diwajahnya.
Zein memasuki kamar hendak menyuruh Key untuk bergegas ke bandara saat masuk ke kamar. Zein tercengang melihat penampilan Key yang begitu cantik natural dengan desain baju yang mewah dan polesan diwajahnya menambahkan nilai elegan yang sangat anggun saat melihat nya.
"cantik" kata kata itu terucap dengan sendirinya
"terimakasih tuan Zein"
"a apa maksudmu"
"Terimakasih tuan telah mengatakan bahwa diriku cantik"
"Bajunya maksud ku"
"oh baju, tapi aku juga kan tuan" mendekat kan wajahnya kearah Zein untuk meyakinkan Zein
"tidak sama sekali. bahkan kamu terlihat seperti dakocan"
"astaga sia sia aku bermakeup. bisa tidak sekali saja dia tidak menghinaku" gerutu Key yang sudah capek berdandan namun hasilnya tetap dikatakan jelek.
Zein menuju kearah bandara. tepat sebuah Zet pribadi berada di hadapan Key.
"Wah, apa aku bakalan naik Jet pribadi? sekaya kayanya ayahku dulu, aku tidak pernah naik Jet pribadi. bagaimana ya rasanya duduk di Jet pribadi? aku sudah tidak sabar"
"Kenapa kau masih berdiri disitu? apa kau tidak ingin naik? atau kau mau kutinggal disini?"
"ah maaf tuan"
Key naik memasuki jet pribadi tersebut.
"rasanya seperti mimpi. ini pertama kalinya aku naik Jet pribadi. aku seperti orang kampungan saja" Key terkekeh sendiri
"Kenapa kau tersenyum senyum sendiri?"
"Hm aku hanya senang tuan"
Zein tersenyum tipis melihat tingkah laku wanita dihadapannya.