Perfect Love My Boss

Perfect Love My Boss
BAB 1



Key keluar dari rumah sakit tanpa alas kaki, dengan cepat iya memberhentikan taksi yang tepat berhenti di hadapannya.


"Taxi"


Key menaiki taxi menuju kediamannya atau lebih tepat kos mungilnya yang terletak di lantai 2. Sesampainya dikos, Key membuka pintu kosnya dan langsung merebahkan diri dikasurnya. Ia melihat sekeliling kosnya yang berantakan. Majalah beraserakan sana sini, Pakain yang tidak terlipat, piring kotor menumpuk, dan Baju kotor menumpuk.


"Akhirnya aku bisa lari dari Pria angkuh itu" ngedumel mulai berbicara sendiri.


"Tapi dia siapa ya, wajahnya tidak asing bagiku seperti familiar saja"


Tentu saja wajahnya tidak asing, setiap Megatron(TV besar di tengah kota) terpampang wajahnya. Sehingga wajahnya sangat familir. di gedung gedung tinggi yang memiliki Bilboard juga ada wajah Zein.


"Bodoamat deh, aku gak peduli dia siapa dia hanya Pria angkuh yang pernah aku temui." sambil menggrutu manyun.


"Sepertinya tubuhku tidak apa apa, hanya luka kecil pada siku. Aku masih bisa melakukan aktivitasku. Oke deh, saatnya bertempur di istana kecilku. Sudah lama aku tidak membereskannya" Sambil menggeretakkan seluruh tubuhnya, memajukan tangannya seperti akan melakukan sebuah pemanasan.


Satu persatu Key mulai membersihkan, mulai dari kamarnya, mebuka seluruh sarung bantal melemparnya ke mesin cuci, dan mengganti dengan sarung bantal yang baru. begitu juga dengan selimut.


yang kedua mulai dengan ruang tamu, menyusun majalah yang berserakan ke rak buku. melipati pakaian yang ada di sofa lalu memasukkannya ke box.


Lanjut ke rak piring, dan yang terakhir ke pakaian kotor.


" Astagaaa hampir nyerah rasanya saat menyuci seprai dan selimut, belum lagi aku harus naik turun tangga untuk menjemurnya"


Key Mengendus kelelahan.


Setelah semuanya selesai Key merebahkan tubuhnya di kasur.


"Sudah lama sekali aku tidak rebahan seperti ini. Hari hari ku hanya bekerja. Bahkan, tamat sekolahpun aku harus langsung bekerja." Karna sangat lelahnya dia tertidur pulas menerawang ke alam mimpi


Setelah ayahnya meninggal, Key harus menghidupi ibunya. Key tak mau melihat ibunya bekerja lagi. Sehingga Key membuat pilihan, setelah tamat sekolah ia harus bekerja. Karna masuk perguruan tinggi hanya mustahil baginya tanpa tabungan yang banyak.


Zein kembali ke kantor, seperti biasa para pegawai kantor menyapanya.


"siang pak" Security pintu masuk menyapa


"siang pak" disambut beberapa karyawan lainnya


"Tumben the boss datangnya siang" si karyawan tukang gosip berbisik lirih


"Abis pulang dugem mungkin" desis tertawa kecil karyawan kantor yang hobbynya ngegibah. apalagi kalau ada yang aneh dikantor langsung tu info sampai ke publik.


Zein yang sedari tadi tidak menggubris sapaan para karyawaannya. hatinya sangat kesal dibuat Key. Hatinya berbisik lirik masih ada wanita yang berani mengibulinya. sambil mengepal kedua tangannya seperti dendam kepada seseorang.


"awas kau" Zein berteriak kuat


Seisi kantor kaget, kedua karyawan wanita yang menggibahin Zein langsung datang menghadap Zein. Mereka seperti tersadar bahwa Pak Bos Zein meneriakin mereka padahal bukan mereka.


"Maafin saya Pak, Maafin saya pak! saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Jangan pecat saya pak." sambil berlutut di kaki Zein.


"Hey ada apa kau menyentuh kakiku? minggir kau dari hadapanku" Zein pergi meninggalkan kedua karyawan wanita yang berlutut dihadapannya.


"Mungkin pak Zein sedang ada masalah"


Security menenangkan kedua karyawan wanita itu.


"Huuuhhh,,, makanya kurang kurangin gibah! banyakin minum biar Fokus. Jelas pak bos lagi sensi, dari raut wajahnya masuk kantor sudah keliatan. Malah di gibahin, kena batunya lu kan ?" Sorak kepala staff dari pojok ruangan.


Karyawan lain tertawa melihat sorakan dari kepala staff. Kedua karyawan wanita tersebut hanya saling pandang bertatapan dengan menjulingkan mata sambil memanyunkan bibir. Seolah tidak terima atas perkataan kepala staff. Namun mereka tidak berani melakukan apa apa hanya kembali ke cubicle masing masing.


Sesampainya keruangan dengan diikuti sekretaris Rihana.


"Kenapa kamu tidak bisa menghandle meeting? Apakah pesan saya kurang jelas?"


dengan Lantangnya Zein bertanya kepada sekretaris Rihana.


"Maaf Pak, saya sudah menjelaskan dengan seluruh kemampuan saya. Tapi CEO DG tetap ingin bertemu dengan anda" Tegas Sekretaris Rihanna menjawab


"Ok, kali ini saya terima alasan kamu. Kirim surel kepada Diamond Group beri janji bertemu di Loyalty Resto Jam 12. Kita adakan Lunch sebagai tanda permintaan maaf saya. Kamu boleh keluar dari ruangan saya, siapkan berkas Colliery grup, gerakkan seluruh Staff untuk meeting siang ini. Buatkan saya kopi"


Dengan sigap sekretaris Hana menjawab


"Baik pak! Segera saya kirim Email kepada Diamond Group, bahwasanya Saya akan memberikan Jamuan Makan siang esok hari tepat pukul 12.00. Untuk berkas Colliery group telah saya siapkan, dan saya langsung memberi info kepada Kepala staff. Pak, bolehkah saya bertanya?" Dengan bimbang sekre Hana mengatakannya.


"Iya silahkan! Apa yang ingin kamu tanyakan ?" Zein beralih yang tadinya duduk di bangku berpindah duduk diatas meja sambil menumpu kakinya ke paha.


"Apa bapak sedang ada masalah? tidak biasanya bapak datang sesiang ini? dan selama saya bekerja dengan bapak, belum pernah saya melihat bapak tidak menghadiri rapat sepenting. Apa ada yang bisa saya bantu pak ?" Dengan gugup dan canggung sekre Han menanyakan hal ini. Pasalnya, ini bukanlah pertanyaan dari sebuah pekerjaan. Melainkan menjuru ke hal yang lebih pribadi.


Dahulu sebelum Sekre Hana menjabat, ia mendapati info bahwa Pak Zein memecat Sekretarisnya hanya karna menanyakan tentang Asmaranya yang sedang ia jalin. Hanya karna itu, Pak Zein langsung memecat sekretarisnya. Sehingga inilah yang membuat sekre Han menjadi gugup ketakutan hingga gemetar.


"Any little something problem. and make me Very angry" mata Zein tebelalak dan tangannya mengepal erat.


"Apakah tentang pekerjaan, atau proyek kita yang belum kelar pak?" dengan terbata bata dan rasa takut


"Tidak ada hubungannya dengan apapun. Ini menyangkut harga diri seorang ANDREAS ZEIN ALVARO. Tidak ada satupun yang boleh menginjak harga diriku" Zein menjawab lantang seakan Harimau yang ingin menerkam mangsanya.


Sekretaris Hana kaget dan takut lututnya gemetar seperti orang yang akan diterkam oleh Buaya.


"Tidak ada satu manusiapun yang berani menginjak harga diri bapak. Semua kagum terhadap Bapak yang begitu sempurna" Sekre Han menjawab dengan nada lirih. dan dengan penuh hati hati.


"Kamu berbohong sekretaris Rihana, baru saja aku dibantah oleh seorang wanita, dia menghinaku, lalu meninggalkanku"


Entah itu sebuah nada dendam, marah, atau sedang memelas.


sontak sekretaris Rihana kaget.


"Apa perlu saya melacak wanita itu pak dan membawanya kehadapan Bapak?" dengan terbata bata sekre Hana mengutarakan sarannya. Seketika hatinya tertegun.


"Apakah seorang Direktur Zein Alvaro sedang membincangkan seorang wanita padanya. Sejak kapan bosnya itu kenal seorang wanita? Hari harinya hanya ada kerja kerja dan kerja. setelah lama ia patah hati akan masa lalunya, ia tak pernah membuka hatinya untuk seorang wanita."