
"Tunggu disini jangan kemana-mana" ucap Zein
Key hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun.
Zein masuk ke kamarnya, namun saat keluar dari kamarnya Zein sudah menggunakan pakaian rapi dengan sebuah Jas yang dipakainya. Lalu memberikan sebuah undangan kepada key.
"Besok kamu harus jadi couple date aku dalam acara wedding teman aku. ini undangan untuk kamu. " ujar Zein
"Kenapa mesti aku emang kamu nggak punya pacar? atau kamu nggak laku? "key bertanya dengan cueknya tanpa memikirkan dampak dari perkataan nya
Zein mengambil ponsel dari saku celananya dan menekan nama CEO diamond group.
"Selamat Malam Mr. Kane!" Zein menyapa Kane berniat untuk menggertak Key
"Selamat malam kembali Mr. Zein. Ada apa ya semalam ini anda menghubungi saya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Kane
"Bagaimana dengan proyek kita? Apa kau dan teammu sudah bersiap-siap?" ucap Zein
"Oh tentu Mr. kami sudah lama bersiap akan itu" ujar Kane
"Atau kalian tidak menginginkan proyek kerjasama ini lagi?" ucap Zein
"Tentu saya sangat menginginkan proyek ini Pak Zein." ujar Kane.
"Oke baiklah! Persiapkan team mu dengan baik. Aku tidak ingin ada kegagalan di proyek ini." Tanpa basa basi Zein langsung menutup ponselnya
"Astaga anak ini kenapa terus-terusan mengancamku" gumam Key
"Oke, aku bersedia menjadi couple date mu" Ucap Key dengan terpaksa
"Jangan pernah menolak ku. Jika kau berani menolak ku, aku akan menghancurkan hidup mu"
"Keterlaluan sekali makhluk dingin ini, selalu saja mengekang hidupku" gumam Key lirih
Key berjalan menuju pintu depan hendak pulang dari rumah yang sangat mengerikan itu.
"Aku akan mengantarmu pulang" sahut Zein
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri"
"Apakah itu suatu penolakan lagi?"
Key berjalan cepat menuju arah dimana mobil Zein terparkir.
Zein tersenyum licik seakan memenangkan sebuah lotre.
didalam mobil Key tidak berkata sepatah katapun.
"Biarkan saja tersasar emang dia tau dimana rumahku" batin Key
Zein mengemudi dengan cepat. ia melaju dengan sangat balap. Key terbayang bayang akan sesuatu. Key menangis sesenggukan, Zein melihat kondisi Key saat itu. Perlahan Zein mengurangi kecepatan mobilnya. Tanpa sadar Key langsung jatuh pingsan, Zein yang melihat itu langsung memberhentikan mobilnya.
"Astaga kenapa dia? Apa yang terjadi dengannya?" ucap Zein yang mulai khawatir dengan kondisi Key.
Zein mencoba menelpon Arka
"Ka, sekarang juga datang ke jl Gelugur ujung. Aku dipinggir jalan Ka. Aku tunggu sekarang" ucap Zein kepada Arka
"Ok Zein, aku segera kesana." sahut Arka
"Apa ada kecelakaan? Ada apa dengan Zein?" Pertanyaann itu selalu berputar di benak Arka
Zein sangat panik ia mondar-mandir menunggu kedatangan Arka. Rasa khawatir yang dirasakan nya sangat berbeda dari di awal ia menabrak Key.
"Astaga Key bangun" ucap Zein sambil memegang pipi Key yang begitu cemas dengan kondisi Key
Arka melesat dengan cepat menuju alamat sesuai pernyataan Zein.
"Itu mobil Zein" ujar Arka
"Ada apa Zein? Kamu baik baik saja kan? kamu kecelakaan?" ucap Arka
"Bukan Ka, tiba tiba aja wanita ini pingsan saat ia selesai menangis. Aku takut dia ada sakit jantung atau lainnya." Ujar Zein menjelaskan keadaan Key
"tunggu-tunggu bukannya ini wanita yang pernah kamu tabrak Zein?" tanya Arka
"iya Ka! sekarang dia udah kerja bareng gua" ucap Zein
Arka langsung memeriksa Key
"gue cuma nyetir mobil tapi balap sih di atas rata-rata 100 km per jam. tiba-tiba aja wanita ini menangis sesegukan. setelah itu dia pingsan "ucap Zein menjelaskan
"sepertinya wanita ini mempunyai trauma di masa lalunya sehingga membuatnya terngiang-ngiang menangis lalu jatuh pingsan"
"lalu apa yang harus gue lakuin" tanya Zein
"Kamu antar dia pulang karena dia tidak membutuhkan perawatan yang intensif. cukup dengan istirahat saja dia akan segera pulih"jelas Arka
"thanks ya lu udah mau gue susahin. gue balik dulu antar nih cewek "pamit Zein
"iya Zein sama-sama. ini udah jadi tugas gue." ucap Arka
Zein mengendarai mobilnya menuju ke arah rumah Key. Saat sampai di rumah key Zein naik ke lantai atas tepat dimana pintu kos Key berada. Pintu rumah Key menggunakan password. Zein bingung berapa password pintu rumah Key. Tiba tiba saja Zein teringat akan tanggal lahir yang dilihat nya dalam biodata Key. Zein menekan tanggal lahir Key. dan alhasil pintu rumah Key terbuka. Lalu Zein turun dan mengangkat key ke rumah sewanya.
Zein meletakkan Key diatas kasur tidur milik Key.
"Astaga kecil sekali tempat tinggalnya. Apa dia nyaman tinggal ditempat seperti ini." ucap Zein
Zein mengusap kepala Key.
"Key bangun, aku ingin lihat juteknya kamu lagi. Ceroboh nya kamu." Ujar Zein yang masih menatap Key dengan lekat
Zein melihat sekeliling kamar Key yang begitu berantakan.
"Astaga, bahkan ia tak sempat membersihkan kamar nya. Sepulang kerja harus melakukan semua omong kosong yang kukatakan" gumam Zein yang terpikirkan akan kelakuan nya selama ini.
Zein membersihkan seluruh isi ruangan kamar Key. Banyak pakaian yang tertumpuk di sofa. Zein memasukkan nya ke keranjang baju kotor. ia memegang sebuah benda rahasia yang dimiliki Key.
"Besar juga ukurannya" Zein tersenyum kecil mengangkat alisnya
Zein selesai membersihkan seluruh ruangan, ia mulai memasak sup ayam untuk Key.
"Akhirnya semuanya selesai. Ternyata ruangan mungil ini terasa nyaman"
Zein memandang Mading yang ada di samping kasur Key. Tertera sebuah foto Key dengan seorang pria menggunakan seragam sekolah.
"Hah, inikan Steven. Ada hubungan apa dia dengan Steven? pacarnya? atau mantannya? Lumayan juga selera ni bocah" ucap Zein
Zein kembali duduk di kursi tepatnya di samping kasur Key. Zein duduk memegangi tangan Key. Zein terlihat sangat khawatir dengan keadaan Key. Seiring berjalannya waktu Zein tertidur di samping Key dengan posisi duduk, kepala menyandar di kasur Key, dan tangannya tetap memegangi tangan Key.
Key mulai sadar dari pingsan. Matanya terbelalak menelusuri isi ruangan.
"Syukurlah, ternyata ini kamar ku." ucap Key
Namun, saat Key mengangkat tangan kanannya terasa agak berat. Ternyata Zein yang tengah menggenggam tangannya.
"Ya ampun kenapa dia disini? apa yang terjadi padaku?" tanya Key pada dirinya sendiri
"Aduh kepalaku pusing sekali" imbuh Key memegangi kepalanya
Zein terbangun dari tidurnya.
"Astaga aku ketiduran. Eh Key, kamu udah sadar" ucap Zein sambil menyodorkan mineral kepada Key.
Key pun meneguk air yang diberikan oleh Zein. Lagi pula seharian Key tidak ada minum, tenggorokannya terasa kering.
"Tunggu disini ya" Zein berjalan menuju dapur minimalis dan memanaskan sup yang iya masak tadi malam.
"Kamu makan ya, sini biar aku siapin" ucap Zein menyodorkan sendok ke mulut Key.
"A aku bisa makan sendir!" sahut Key
"Akkk" imbuh Zein memaksa untuk menyuapi gadis itu. Zein spontan mangap memperagakan suapan nya.
"Kamu yang masak?" tanya Key
"iya, Kenapa? gak enak ya? buang aja deh kalau ga enak. Aku gak bermaksud ngeracuni kok" ujar Zein yang mulai kelabakan
"Eh, enak kok! siapa bilang gak enak" ucap Key
"Makasih. selama ini aku gak pernah percaya diri untuk masak. Karena aku udah yakin duluan kalau hasilnya bakalan gak enak. Tapi baru kamu orang pertama yang nyicipin makanan aku dan kamu juga orang pertama yang bilang makanan aku enak. Makan yang banyak. Setelah itu minum obat" ucap Zein
"Makasih ya udah mau masakin" ujar Key
"Aku yang harusnya minta maaf udah buat kamu begini. Aku gak tau kalau kamu punya trauma. Makanannya harus dihabiskan jangan lupa minum obat. Aku harus kekantor pagi ini. Nanti selesai meeting aku kesini lagi. O ia, sore ini gak usah kerumahku dulu" ucap Zein sambil berpamitan
Zein keluar dan menutup pintu.