Perfect Love My Boss

Perfect Love My Boss
BAB 19



"Astaga, sejak kapan aku suka barang-barang branded. bisa beli baju aja syukur!" Batin Key


"Hari ini aku bakalan masak untuk kamu. Kamu mau aku masakin apa?" tanya Zil


"Ya ampun Zil, kamu gak perlu repot-repot begini. aku masih bisa masak sendiri kok. " sahut key


"Key kamu duduk di sini aku bakalan jadi koki profesional buat kamu" ujar Zil


"Tapi Zil,,,,,"


belum sempat Key menjelaskan perkataan, Zil sudah menutup mulut Key dengan lembut.


Zil menuju dapur ia membuka mesin pendingin, di dalam mesin pendingin banyak tersedia sayur-mayur daging ikan maupun telur. kali ini Zil memasak capcay bakso untuk Key. Zil begitu bingung iya sangat merasa kesulitan. karena baru kali ini dirinya meluncur ke dapur demi mencari muka agar key bisa menimbulkan kan rasa cinta untuk dirinya.


Key duduk di sofa mungil milik nya. Sesekali ia melirik kearah dapur minimalis itu.


"Apakah seorang aktor tampan itu bisa memasak." Pikiran Key


"Tenang saja Key, kamu tidak perlu meragukan keahlianku. Aku akan memasak masakan paling enak yang pernah kamu makan oke. Jadi percayakan semua kepada Zilky" Ucap Zil dengan gaya maskulin nya


"Bagaimana mungkin dia bisa membaca pikiranku. " Key mulai bingung sendiri


"Baiklah Zil terserah apa katamu saja kali ini aku hanya mengikut" ucap Key


"Apakah masakan Zil seenak masakan yang dibuat oleh Zein? mereka seperti berlomba memasak saja." Gumam Key


Zil selesai memasak. ia menghidangkan masakannya di depan Key.


"Silahkan di makan nona cantik" rayu Zil


"Baiklah, aku makan y." sahut Key


Key mencicipi masakan yang dihidangkan oleh Zil.


"Astaga Zil kamu ini masak apa sih ? coba deh kamu rasain sendiri rasanya seperti nano nano. Ada rasa pahit juga rasa asam." Keluh Key


Zil mencoba mencicipi makanan yang ia masak sendiri.


"wueeekkk,,, kok pahit banget sih! asam lagi." Zil memuntahkan masakan yang dicicipi oleh nya.


"maaf Key!" ucap Zil


"Zil aku sudah melihat gelagat mu di dapur tadi, sepertinya kamu tidak ahli dalam memasak. Saat aku melihatmu di dapur kamu tampak seperti orang kebingungan akan melakukan apa. tapi ya sudah tidak apa-apa semua orang yang berhak untuk mencoba dan berusaha. "ujar Key


"Sekali lagi aku minta maaf ya Key. aku akan terus berusaha untuk membahagiakanmu apapun caranya. Eh iya aku lupa kalau kau belum makan. kau juga harus minum obat kan? " sahut Zil


tanpa aba-aba Zil langsung memesan makanan online untuk mereka berdua. hanya menunggu waktu 15 menit orderan mereka sudah sampai.


di kantor


Zein mondar-mandir kesana kesini sekretaris Hana hanya melihat kelakuan direkturnya yang sedari tadi tidak karuan.


" Maaf Pak Ada yang bisa saya bantu?" tanya Hana


"Kalau orang sakit biasanya dibawain apa? "tanya Zein


"Sakitnya apa ya Pak dan yang sakit laki-laki apa perempuan? "tanya Hana lagi


"Sakitnya seperti trauma gitu. perempuan " jawab Zein


"Bawain coklat Pak, ih iya satu lagi sama perhatian. perhatiannya harus dengan cara yang lembut Pak. Sehingga trauma yang dimilikinya tidak kambuh lagi. "ucap Hana


"Emang hari Valentine? pakai dikasih coklat segala." sahut Zein


"Silahkan dicoba Pak! memberi coklat bukan di waktu Valentin saja. Penyembuh moodbooster seorang wanita salah satunya ialah coklat." jelas Hana


"Tumben sekali pria ini membeli coklat, biasanya hanya dua buah yogurt" batin penjaga kasir


Selesai membayar, Zein melaju ke arah rumah Key. Ia melihat seorang lelaki yang sangat familiar untuk nya. Lelaki tersebut sedang membayar orderan.


"Astaga kenapa harus dia lagi? Awas kau!" Zein menunggu di sebrang jalan tepat di depan rumah Key.


Zil membawa sebuah kantong plastik besar bertuliskan McD.


"Bie, ayo kita makan! Setelah itu kamu harus minum obat y?" bujuk Zil


"Iya Zil. Terimakasih atas jamuannya. Seharusnya aku yang menjamu kamu." ucap Key


" Nggak apa-apa Key. Udah bisa ketemu kamu aku juga seneng banget. Jadi apapun itu yang membuat kamu bahagia, semua bakalan aku lakuin" ujar Zil


"Dasar gombal. Udah biasa ya acting ngegombal?" tanya Key bercanda.


"Ya ampun Key itu bukan gombal. itu beneran Bie." ucap Zil


"iya deh aku percaya" Sahut Key


"Kamu udah selesai makan Bie? obat kamu mana?" tanya Zil


"Udah Zil. diatas meja samping kasur."


Zil berjalan menuju arah kasur. ia melihat sebuah Mading yang berisikan banyak foto. Mata Zil tertuju pada satu sisi. Key berfoto pada seorang pria menggunakan seragam menengah atas.


"Siapa pria itu? seperti tak asing kulihat" batin Zil


Zil membuka obat satu persatu dan memberikan air hangat untuk Key.


Tegukan demi tegukan Key meminumnya.


"Kenapa obat nya banyak sekali?" Keluh Key


"Agar kamu segera sembuh Bie" ucap Zil sambil mengusap kepala Key


"Iya udah aku mau istirahat ya Zil. Terima kasih kamu udah ngerawat aku untuk hari ini? maaf aku ngerepotin kamu." sahut Key


"Enggak Bie, gak ada yang merasa direpotkan. Apapun itu yang berurusan tentang kamu gak ada yang namanya direpotkan. malahan aku bahagia banget ada disisi kamu." ujar Zil


"Makasih Zil, aku gak tau harus balas apa atas perlakuan kamu yang begitu baik ke akunya."


"Kamu gak perlu balas apapun, cukup kasih perasaan tulus kamu untuk aku " ucap Zil


Key mengendus nafas panjang.


"Ternyata Zil, begitu berharap padaku. Aku tak pernah bermimpi untuk memiliki kekasih seorang artis. Aku tau bakalan gimana akhirnya." batin Key


"Zil, aku minta maaf aku gak bisa balas perasaan kamu. Banyak wanita di luar sana yang lebih segala nya dari aku. Aku mau kita cukup jadi best friend. Jadi gak ada yang namanya putus di hubungan kita." ucap Key


"Key, aku gak akan nyerah sampai sini. Mungkin perasaan kamu belum tumbuh untuk aku. Tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu pasti kamu akan mencintai ku." ujar Zil


"Ya udah, aku balik ya Key. kamu jangan lupa istirahat. Aku ada shooting hari ini. Lain waktu aku bakalan kesini lagi." Zil pamit


Key mengantarkan Zil hingga keluar dari pintu rumahnya. saat didepan pintu rumahnya Zil mencium kening Key.


Key begitu kaget dengan apa yang terjadi baru saja.


"Bie kamu cepat sembuh ya. Aku pergi dulu bye"


"Brengsek, berani sekali dia mencium wanita ku. Tidak ada yang boleh memegang wanitaku walau sehelai rambut." Zein mengepal jarinya erat lalu memukul stir yang ada dihadapannya.