
Di rumah Sewa
"Key baju kamu" Ucap Mia terkejut melihat baju yang dikenakan Key
"Kenapa dengan baju aku Mi? jelek ya?" sahut Key
"Jelek apanya? ini baju Limited edition, Brand ternama lagi." Mia yang masih tercengang melihat pakaian Key
"Masa iya sih Mi? Aku gak tau tuh."
"Kamu beli dimana ni baju?" tanya Mia yang masih penasaran
"Dikasih" Sahut Key singkat
"Hah? siapa yang ngasih kamu baju semahal ini?"
"Ada deh!"
"Apa yang ngasih baju ini oppa?"
"Bukan Mia"
"So, kenapa kamu gak mau jawab? Ada yang kamu rahasiain ya dari aku?" Ucap Mia menebak nebak Key yang mulai pucat.
"Hmmm, ceritanya panjang Mi." Seru Key
"Gak mau tau, pokoknya ceritain. Sebenarnya kamu anggap aku apa sih? Kenapa mesti ada yang di rahasiakan? Ujar Mia menoleh kebelakang, seolah olah sedang merajuk.
"Gak ada yang aku sembunyiin Mi, Aku belum sempat cerita ke kamunya. maaf ya Mi! Jangan marah dong! Key menarik tangan dan memeluk sahabatnya itu
"Ya udah sekarang ceritain ke akunya" ucap Mia
Key menceritakan detail kronologis dari awal ia berjumpa dengan Zein saat menggantikan posisi Desi. Ternyata lelaki yang menabraknya itu ialah GM (Jendral Manager) di perusahaan Witama group. Dan semenjak itulah Key mulai bekerja sebagai ART di rumah Zein.
"Kenapa kamu gak lapor ke Pak Kane? Itu namanya di semena semena dengan karyawan perusahaan kita. Aku gak mau lihat kamu diperlakukan seperti itu" Ucap Mia yang mulai kesal dengan Zein.
"Aku cuma pengen buat Pak Kane bangga atas kerja keras aku Mi. Pak Kane udah terlalu baik banget sama aku." sahut Key
"Key, aku tau kamu pasti bakal ngelakuin apapun untuk perusahaan. Tapi Key, aku gak tega liat kamu terancam seperti ini."
"Mi, ini hanya 2 minggu. Setelah itu kontrak yang udah kami setujui selesai" jelas Key
"Baiklah Key, aku tau kamu seperti apa orangnya. Kalau udah A, gak akan mungkin kamu berpaling ke B. Aku bakalan selalu support kamu. Tapi kalau dia udah kelewat batas. Kamu harus kasih tau ke aku Key. Kamu paham kan?" ujar Mia
"Iya Mi, makasih ya kamu selalu support aku. Kamu emang sahabat aku yang paling super baik" puji Key
"Tapi katanya CEO Witama group itu ganteng banget ya Key?" tanya Mia yang mulai kepo
"Ganteng sih! tapi dingin kayak batu Es udah gitu galak lagi kayak harimau" ucap Key ketus
Mia mulai menstalking sosial media Zein.
"Ya ampun Key, ini 1qmah Perfecto. Bak Prince dari istana. Oppa Zil gua hampir kalah. Eh bentar bentar, tapi mereka berdua kok mirip ya?" Mia mulai menerka nerka dan membandingkan kedua foto mereka.
"Mirip dari mananya? lubang hidung? gak ada mirip miripnya Mi. y ang satu galak macam srigala yang satu lagi ramah kayak kucing minta sereal. udah jelas beda Mi. Key memperjelas
"Tapi bagi aku ini mirip banget sih Key."
"Terserah kamunya aja deh Mi"
"Kalau majikannya begini sih! aku bakalan betah jadi babu. Ucap Mia yang mulai lebay
"Aku sih ogah Mi, dingin gitu juga. Arogan lagi"
Mereka terus beebincang bincang tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 6 sore.
"Mi, aku balik ya. Takutnya entar kemalaman kena macet."
"Bye Key, besok jumpa dikantor ya"
ucap Mia
Jam menunjukkan pukul 17.30 perlahan Zein mulai membuka matanya. Kepalanya terasa sangat pusing. ia memandang dinding dan sekeliling ruangan. Zein sudah tak asing lagi dengan suasana ruangan itu. Lebih tepatnya ini adalah kamar Zein di kediaman rumah Witama.
"kenapa aku berada disini" gumam Zein
"Astaga aku baru ingat!"
"Kenapa hanya anak itu yang ada dipikiranku. Ah dasar sialan" gerutu Zein
Selesai ia membersihkan diri, Zein berganti pakaian. dan turun ke lantai bawah menuju ruang makan. Witama, Liska dan Zilky sudah berada disana untuk menyantap makan malam.
"Nak, kamu sudah sadar. Syukurlah, mommy khawatir sekali dengan keadaan kamu." Ucap Liska yang masih khawatir dengan keadaan Zein.
"Zein baik baik aja mom. gak ada yang perlu dikhawatirkan" sahut Zein
"Kenapa tidak makan di kamarmu saja. Kamu tidak perlu kesini. Biar mommy antar ke kamar ya? seru Liska
"My, Zein its fine. I'm okay!" Zein menolak karena dirinya terasa sudah enakan.
"Baiklah nak, tapi kamu harus makan sup ini ya? Sup ini bagus untuk antibody kamu." Liska menyendok sup ke dalam piring Zein
"Thanks mom" Zein tersenyum kecil.
"Ya ampun Mom, dia udah gede mom. Ambil sendiri juga bisa kali. Lagian dia baik baik aja kok. Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang nyakitin siapa, yang sakit siapa." Zilky menyindir halus
"Apa maksud ucapanmu" Ucap Zein tampak emosi
"Santai dong, gak usah pake ngegas" sahut Zilky
"Apa apaan kalian ini? Bisa bisanya bertengkar di meja makan?" ucap Witama
Seisi ruangan diam saat Witama melerai kedua anaknya. Zil membanting sendok di meja. lalu ia keluar dari meja makan. Wajahnya terlihat emosi saat melihat Zein. Selesai mereka makan, Zein berpamitan untuk balik ke rumahnya.
"Mom, Zein balik kerumah ya? Zein harus berangkat kerja besok" ucap Zein
"Zein, keadaanmu masih kurang baik. Lebih baik kamu istirahat disini. dan besok berangkat kerja dari sini" Ujar Witama
"Tapi pap, besok ada rapat penting" sahut Zein yang tetap ingin balik kerumahnya
"Ya papi tau, biar supir yang akan mengantarmu besok" Ucap Witama
"Baiklah pap, Zein akan menginap" Akhirnya Zein mengalah, ia tak mungkin bisa melawan ayahnya itu.
Zein berjalan menuju kamarnya melewati room keluarga.
"Untuk kali ini tak kan ku biarkan kau merebut wanitaku lagi" ucap Zil dari balik sofa.
"Wanita mana yang kau maksud?"
sahut Zein dengan santainya
"Huhhh" Zil menarik nafas panjang "Wanita yang kau buat menangis, Wanita yang selalu kau rendahkan. Jangan pernah mendekatinya lagi" ucap Zil yang mulai berdiri dari duduknya
"Oh dia, wanita murahan itu. Ambil saja sampah itu" Ujar Zein
mendengar jawaban Zein, Zil melontarkan bogem ke wajah Zin.
"Dasar pengecut, berani beraninya kau menyebutnya murahan" Ucap Zil
"Lalu apalagi yang pantas ku ucapkan untuk wanita itu? ******?" sahut Zein lagi.
Kali ini Zil sangat marah besar. Zil mulai terbawa emosi. begitu juga dengan Zein. Mereka bertengkar hebat saling melayangkan pukulannya. Mereka terjatuh dan masih memukul
"Stoopp, Zil, Zein!" Liska datang melerai kedua anaknya.
Namun mereka tak menghiraukan teriakan Liska. Wajah keduanya berdarah dan babak belur.
"Papi tolong, papi" teriak Liska.
Witama berjalan cepat menuju kearah suara. Witama kaget melihat apa yang terjadi. Kedua putranya sudah bertengkar hebat.
Witama menarik Zein dan Zil lalu menampar kedua lelaki itu.
"Astaga, apa apaan kalian ini. seperti anak kecil ! dari kecil papi pisahkan kalian berdua. Karna kalian selalu bertengkar. Papi yakin besar kalian tak akan mungkin bertengkar lagi. Ternyata dugaan papi salah selama ini. Kalian masih seperti anak kecil"
Suasana begitu tegang dirumah itu para bodyguard dan Art melihat kejadian itu. Mereka belum pernah melihat Witama semarah itu kepada anak anaknya.
"Zil, kamu sebagai kakak seharusnya tidak membuat pertengkaran. Kamu tau kan Zein sedang sakit." sahut Liska
"Dalam keadaan seperti ini mommy masih tetap bela dia ya. Sebenarnya aku ini siapa? Anak mommy atau bukan?" Ucap Zilky yang begitu tampak emosi.