Perfect Love My Boss

Perfect Love My Boss
BAB 9



Zein membuka bajunya dan memasuki kamar hendak mengganti bajunya.


"Aaaaaaaa!" teriak Key melihat Zein tanpa baju. yang menampakkan otot perutnya bak roti sobek.


Key sudah selesai mandi hendak mengganti baju. Key hanya memakai handuk putih yang membalur badannya. dan memakai handuk yang mengikat pada rambutnya.


"Aaaaaaa" teriak Zein sontak terkaget mendengar teriakan Key


"Kenapa kamu masuk kesini. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Key kesal sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangan


"Inikan kamarku, ada yang salah?


Aku ingin mengganti baju. Bajuku terkena saus. jawab Zein dengan raut wajah datar, seolah tidak ada yang terjadi.


"Dasar sialan!" Key kembali masuk ke kamar mandi sembari menunggu Zein selesai berganti baju.


setelah mereka selesai berganti pakaian, Zein mengajak Key sarapan bersama.


"Ayo sarapan denganku, Aku tau dari semalam kamu belum ada makan" ajak Zein dengan ekspresinya yang datar.


Key hendak menolak ajakan makan bersama itu. Namun perutnya sudah berbunyi tanpa aba aba. Zein tersenyum menang. mendengar suara yang berasal dari perut Key.


"astaga perut ini sangat memalukan. Kenapa berbunyi diwaktu yang tidak pas" batin Key


"Apalagi yang akan kau tunggu? Apa kau tidak kasihan sama cacing yang sudah berdemo diperutmu." sindir Zein


"ngeselin banget sih dia. berani beraninya menertawakanku" gerutu Key pelan


selesai dari sarapan Zein mengajak Key pergi ke suatu tempat. dimana tempat itu adalah lokasi proyek kerjasama mereka.


Seketika terlintas sesuatu dari ingatan Key.


"Apa kau tau lokasi ini? tanya Zein


Namun tak ada jawaban dari mulut Key.


"Waktu kecil, Andre bilang padaku, ia akan membangun theme park di lokasi ini. Ternyata sampai sekarang aku tak menemukannya. Malah orang lain yang akan membangun apartemen disini" gumam Key teringat masalalunya.


"Hey,,, kenapa tidak menjawab pertanyaanku? Apa yang sedang kau lamunkan?" ucap Zein yang daritadi bertanya kepada Key, namun tidak ada sahutan.


"A a apa yang kau tanyakan. Aku tak mendengarnya. jawab Key


"Apa yang akan kau bangun jika tanah ini milikmu?" tanya Zein


"Theme park" sahut Key spontan.


Mendengar jawaban Key Zein membisu. ia teringat dengan sahabatnya saat ia kecil. membayangkan sahabat kecilnya yang pernah mengucapkan kata kata itu.


flashback


"Aku ingin sekali bermain wahana" ucap Kifa


"Kita ini masih sangat kecil untuk pergi bermain wahana" sahut Andre


"Nanti saat kita besar, aku ingin bermain wahana bersamamu" ujar Kifa


"Suatu saat aku akan membangun theme park disini untukmu. Agar kau bisa bermain sepuasnya" ucap Andre


"Kamu beneran? asyik! Kalau theme park nya punya kamu, aku nggak perlu beli tiket dong. Kifa kegirangan meloncat loncat


Zein teringat akan masa kecil seorang sahabat kecilnya yang sangat menyukai wahana. Namun saat mereka kecil, mereka tidak diizinkan untuk menaiki wahana. Karena sangat berbahaya untuk anak kecil.


"dasar anak kecil! di usiamu yang sudah tua seperti ini kamu masih memikirkan theme park" sahut Zein


"itu kan pendapat aku. bebas dong! Terserah, kamunya mau komentar apa ke aku. ujar Key sambil memanyun. Karena tak terima kalau di katain kekanak kanakan.


"Kenapa tingkah lakumu mirip sekali dengan Kifa. Fa, kamu dimana sekarang? aku sudah mencari ke rumah lamamu. Namun rumah itu kosong, sudah lama tak bertuan. Semua tetanggamu juga tidak ada yang mengetahui letak keberadaan kalian" gumam Zein terngiang akan keberadaan sahabatnya itu.


Key berjalan ke sebuah taman. ia hendak mencari bangku karena dari tadi ia hanya berjalan mengelilingi komplek. Kakinya merasa pegal, karena terus berjalan. Ponsel Key berdering, tertera nama Zil dilayar ponsel


"Astaga, Zil kan akan menjemputku. Bagaimana ini jika dia sudah sampai di rumah sewa ku" gumam Key


"Halo Key! sapa Zil


"ia Zil, sahut Key


"Aku sudah didepan rumahmu. Apa kamu sudah selesai bersiap? ucap Zil


"Maaf Zil, aku tak sempat mengabarimu. Aku ada survey proyek mendadak hari ini. Aku terburu buru, sehingga tidak sempat mengabarimu. Maafin aku ya" ujar Key sambil memberikan alasan agar Zil tidak mengetahui bahwa ia telah bersama Zein


"Oh ya udah Key, tidak apa apa. Nanti kalau sudah balik. Kabari aku ya? kamu hati hati disana. Zil sedikit kecewa dengan penjelasan Key. Namun Zil tak marah karena Key sedang bekerja dan menjadi pekerja yang profesional.


"Iya Zil. Terimakasih ucap Key.


"Astaga, sudah berkali kali aku menolaknya. ucap Key lirih


Zein datang menghampiri Key dengan membawa minuman untuk Key.


"Siapa yang berkali kali sudah kau tolak" Tanya Zein yang baru datang sembari memberikan minuman.


"Mau tau saja kamu! di kontrak kita tidak tertera kalau kamu boleh mencampuri pribadiku! Ucap Key kesal.


"Laku keras ternyata!" sindir Zein


"Apa maksudmu mengatakanku seperti itu" bentak Key


"Sudah berani kau membentakku?"


Key pergi meninggalkan Zein. dengan raut wajahnya yang datar. seolah tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kenapa dia selalu menuduhku seperti wanita murahan. Dasar pria idiot! Kalau saja aku tidak menggantikan sekretaris Desi. Aku tidak akan hadir dalam kerjasama ini. Kenapa takdirku seperti ini? Bertemu dengan lelaki menyebalkan" Key berbicara dengan dirinya sendiri. Air matanya mulai menetes membasahi pipi cabinya.


"Ayah, aku sangat merindukan sosok lelaki sepertimu yang tidak pernah menyakitiku" gumam Key yang masih menangis


Entah sudah berapa jauh ia berjalan. Tanpa sadar Zein telah mengikutinya dari tadi. Namun Zein tetap memilih untuk mengawasi Key di belakangnya.


Sebuah lambo melesat dari arah berlawanan dan berhenti di samping Key. Pria itu turun dari mobilnya. Zein terkejut melihat kehadiran Zil yang tiba tiba sudah memeluk Key.


"Key, kamu kenapa menangis? Bukannya kamu habis dari proyek.


Key hanya mengangguk dan menggeleng.


Melihat Key yang nangis sesegukan, Zil tak tega melihatnya. Namun, matanya tersorot dengan mobil yang dari tadi mengikuti Key dibelakangnya. Ferari dengan mode terbaru. Mobil yang sudah tak asing lagi dilihatnya.


"Ternyata pria pengecut itu lagi yang menyakitinya!" ucap Zil pelan


"Key, aku akan mengantarmu kemanapun. Masuklah ke mobilku" ucap Zil sambil membukan pintu mobil untuk Key.


Zein hanya memandangi Zil yang berusaha terus mendekap Key.


"Kenapa dia selalu datang disaat seperti ini. Aaaakkkhhh ! Kenapa aku selalu gegabah." Zein melajukan mobilnya ke arah sebuah cafe dimana biasanya ia nongkrong dengan temannya. Zein mengambil ponsel dari balik saku celananya. Zein berusaha menelpon temannya.


"Halo Roy! ke cafe Zone sekarang. Aku tunggu disana, Sekalian ajak William" Ujar Zein kepada Roy sahabatnya itu. sambil mematikan telpon tanpa menunggu jawaban dari temannya itu.


Key tidak berbicara sepatah katapun. ia hanya menuruti semua kata kata Zil.


Di dalam mobil air mata Key terus berlinang. ia menangis tanpa sedikit suara.


"Key bisakah kau mengatakan sesuatu kepadaku? tanya Zil