
di kediaman Witama
Mereka sampai dihalaman rumah Witama. Para penjaga dengan sigap membuka pintu pagar. Tampak 2 bodyguard berjaga dihalaman rumah Witama.
"Woy lu sini" Ucap Roy memanggil kedua bodyguard
Kedua bodyguard berlari menuju ke arah panggilan itu. Tertera nama Darkom dan Boni di name tag seragam mereka.
"Ada apa dengan tuan?" tanya Boni bodyguard 1
"Lu gak usah pada kepo. Angkat Zein dan bawa ke kamarnya" Ketus Roy yang sudah hampir panik
Saat mereka membopong Zein menuju kamarnya. Liska berjalan dari dapur menuju ke ruang keluarga. Ia berlari melihat para bodyguard membopong anak bungsunya itu.
"Zein, apa yang terjadi dengan anakku" Tanya Liska yang sudah panik tak tentu arah.
"Papi, papi, papi" Teriak Liska menggetarkan seluruh isi rumah
Mendengar teriakan istrinya, Witama keluar dari ruangan kerjanya menuju ke lantai bawah.
dari atas Witama melihat para bodyguard sedang membopong Zein.
"Bawa dia ke kamarnya" Seru Witama dengan wibawanya membuat para pekerja sangat patuh dengan atasannya itu.
"Baik tuan" ucap serentak para bodyguard
William dan Roy hanya terdiam kaku melihat wibawa seorang Witama. yang begitu tegas, melihat keadaan anaknya terbaring tanpa sadar. ia tak menyalahkan siapapun diantara temannya.
"Sungguh bijaksana sekali dirinya. Pantas saja kedua anaknya tidak ada yang lari dari jalurnya. Semua sukses dibidangnya masing masing tanpa pemaksaan dari orangtua." Gumam William dalam hati. yang masih tercengang melihat sikap CEO Witama yang sangat tenang.
"Minah, hubungi Dokter Arka sekarang" ujar Witama menyerukan seorang ART.
Minah ialah seorang ART yang sudah 23 tahun bekerja untuk keluarga Witama.
Witama sudah banyak membantu keluarga Minah. Sehingga minah berantusias untuk mengabdi pada keluarga Witama. Kelima saudara Minah sudah menikah, mereka bekerja di salah satu perusahaan Witama. Semua itu ialah kerja keras Minah, sebagai tanda pengabdiannya. Keluarga Minah diberikan fasilitas yang bagus.
"Baik tuan" ucap Minah
Minah menelpon dokter Arka agar segera datang ke kediaman Witama. Disatu sisi, Liska masih panik dengan keadaan Zein yang masih belum bangun dari pingsan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? tanya Liska kepada dua sahabat Zein Roy dan Willam
"Zein meneguk banyak Wine tante, Kami sudah memperingati. Namun ia tak menghiraukan. Tiba tiba saja ia pingsan tak sadarkan diri" Ujar Willam menjelaskan kejadian yang terjadi
"Astaga Zein, kamu kenapa nak? Mommy nggak pernah liat kamu seperti ini. Bangun sayang!" Seru Liska yang terus meratapi Zein tak kunjung sadar
Arka sudah tiba di kediaman Witama ia langsung menuju kamar Zein
"Arka, segera periksa Zein sekarang" Ucap Liska hingga mendesak Arka
"Baik Tante. Saya akan memeriksa Zein" ucap Arka
"Bagaimana keadaannya Ka?" tanya Witama
"Zein baik baik saja om. Hanya saja dia sedang hangover. Itulah yang membuatnya tak sadarkan diri. Sebentar lagi dia akan sadar" jelas Arka
"Tapi, dia beneran tidak apa apa kan Arka?" tanya Liska penuh kecemasan
"Tidak perlu khawatir tante. Sebentar lagi ia akan sadar." imbuh Arka
"Sudahla mi, anak kesayanganmu baik baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan." ujar Witama dengan sepintas candanya. Agar istrinya tidak perlu begitu cemas.
"Papi, kenapa malah meledek. Maklumlah Mami khawatir. Zein itu gak pernah mabuk. Bahkan mencium bau alkohol saja ia akan muntah" seru Liska
"Sudahlah Mi, jangan berlebihan seperti itu. Sebentar lagi Zein akan bangun." Ucap Witama
"O ia om, tante, ini ada obat untuk penenang Zein agar hangovernya segera hilang. Setelah itu berikan ia sup hangat. Saya kembali ke rumah sakit dulu om tante. Ada pasien yang sedang menunggu." Ujar Arka
"Sama sama tan, sudah tugas saya membantu tante dan om" jelas Arka
"Kamu hati hati dijalan ya. Darkom, Boni, antar Arka sampai ke mobilnya" Ujar Witama
"Baik tuan" seru kedua bodyguard
Setelah Arka berpamit, ia kembali ke Rumah sakit. Saat Arka menuruni anak tangga ia berpapasan dengan Zilky.
"Lu ngapain disini Ka? Mommy sakit? atau Papi?" Tanya Zil yang mulai hampir parno
"Bukan Zil. Zein yang sakit" jawab, Arka
"Hah? sakit? Sakit apa dia?"
"Dia hanya hangover Zil, terlalu banyak minum Alkohol."
"Gaya banget tu anak, gak bisa minum sok soan minum. Oia thanks ya Ka udah mau meriksa adek gue. Lu takecare ya" Ujar Zilky yang masih ada sedikit perasaan peduli
"Ok Zil. Gua balik dulu ya" ucap Arka
Zilky melihat keadaan Zein ke kamarnya.
"Pantesan dari tadi kok keliatannya rame banget. Dengar mommy teriak teriak gak jelas." gumam Zilky
Zilky masuk ke kamar Zein. dikamar sudah ada kedua teman Zein, Bi Minah, Mommy dan Papi.
"Kamu udah balik Zil?" tanya Liska
"Udah Mi, Zil udah balik dari tadi. Mommy kenapa? kok nangis?" tanya Zil sambil mengusap bahu maminya.
"Adik kamu Zein, dia pingsan dari tadi. Tapi belum bangun juga. Mommy khawatir" ucap Liska sambil memegangi tangan Zein
"Mi, Zein gak apa apa. Arka juga udah jelasin. Dia cuma hangover Mi." Ucap Zil
"Papi juga udah jelasin tuh ke Mami kamu. Tapi tetap aja tu Mami kamu ngeraung raung" Ujar Witama
"O iya Roy, Wil thanks kalian udah bantuin bawa Zein kesini. Kalian boleh pulang kok. Maaf ya kalau udah ngerepotin kalian. Ucap Zil dengan ramahnya
"Ok Zil sama sama. Kami juga senang bisa saling membantu" jawab Roy
Roy dan William menuju gerbang keluar sambil memesan taksi online.
"Wil, Zein beda banget ya sama Zil?" ucap Roy
"Ia sih, diliat liat kayaknya Zil gak mungkin deh ngerebut ceweknya yang disebutin Zein tadi" seru William
"Lu ingat kan masalah Kareen?" tanya Roy
"ingat"
"Zil yang udah lama suka dan dekat banget sama Kareen ditikung ama Zein. Tapi Zil ngalah bro, demi adiknya" jelas Roy
"Salut banget gua sama tuh anak. Ramah, jauh banget karakternya sama Zein." ucap William
"Tapi ngomong ngomong, siapa sih tu cewek?"
"Mana gua tau. Yang mesti dipertanyakan itu Kenapa mereka bisa menyukai perempuan yang sama? Apa nggak ada ya perempuan lain?"
"Iya juga ya" Roy menggaruk garuk kepalanya kebingungan
Taksi yang mereka pesan sudah datang. Mereka kembali ke cafe tadi untuk mengambil mobilnya.
"Mommy, jangan nangis lagi ya? Ayo kita keluar! biarin Zein istirahat dulu. Nanti kalau dia udah bangun. Kita samperin kesini lagi." Ujar Zil merayu sambil menggandeng tangan maminya
"Baiklah Zil, mommy akan keluar. Zein, kamu istirahat ya nak" Ucap Liska Menyelimuti Zein sambil mencium kening anak bungsunya itu.