
Saat Key dapat meraih penggoreng tersebut, kakinya tergelincir. Key memejamkan matanya, karena ia yakin ini pasti akan terasa sakit. namun dia terkejut ada seorang yang telah menahan tubuhnya.
namun tanpa sengaja penggoreng yang telah dipegang oleh Key terhempas mengenai wajah pria itu. Pria itu tidak lain ialah Zein. Saat Zein selesai meeting ia melihat Key sedang menaiki bus. saat itulah Zein berpikir untuk pulang ke rumahnya karena ia yakin bahwasanya Key akan menuju ke rumahnya.
"astaga apa kau gila ya? kau dendam denganku?" tanya Zein yang mulai meringis kesakitan
"Maaf aku tak sengaja penggoreng itu terlalu berat sehingga aku tak mampu menahan nya" jawab key yang sudah merasa bersalah
"ada apa dengan wajahmu kenapa wajahmu babak belur? apakah penggoreng ini yang membuat wajah mu seperti itu? maafkan aku, aku tidak sengaja" Key terus meminta maaf dan dia sangat merasa bersalah.
"Dasar wanita bodoh! apa kau ini pura-pura polos?" Sahut Zein yang masih meringis kesakitan memegangi pipinya.
"a apa maksudmu? aku tak mengerti dengan ucapanmu" tanya key yang masih berwajah polos
"ah sudahlah! aku sedang tak ingin berdebat denganmu. kau hanya membuang waktuku saja." ucap Zein.
Key berlari kecil menuju dapur, iya membuka semua almari yang berisikan kotak P3K. Key membawa kotak tersebut ke sofa di mana tempat keberadaan Zein duduk.
"Biar aku kompres memar yang ada di wajah kamu" seru Key.
"Tak perlu, aku tidak apa apa" sahut Zein
"Tapi wajahmu penuh dengan memar. Pasti sakit kan?" tanya Key yang benar-benar peduli akan kesehatan Zein saat ini.
"Kalau kata ku enggak ya enggak" Zein memberontak Key yang sedari tadi terus memaksa dirinya.
Key menarik nafas dalam-dalam, ia sangat kaget di bentak sekeras itu. Selama hidupnya ia tak pernah dikasari oleh siapapun. Mata nya berkaca kaca, namun ia terus membendung air matanya agar tidak menetes. Key kembali menuju dapur, saat hendak melewati Zein Key tersandung kaki meja. Tubuhnya jatuh di dada atletis itu. Bibir mungil Key tepat bersentuhan pada bibir Zein. wadah yang berisikan es yang dibawanya terlempar entah kemana.
Jantung Key berdetak tak menentu. Tanpa aba aba Zein langsung ******* bibir mungil yang berwarna pink itu. Lidahnya menelusuri setiap sudut. Key ingin melepas tubuhnya dari dekapan Zein. Namun, Zein semakin erat memeluk tubuhnya. Key tak bisa berbuat apa-apa. ia kalah tenaga dari lelaki tampan nan dingin itu.
Zein menikmati suasana itu. Tangannya semakin berjalan menuju area kembar, ukurannya lumayan besar yang selama ini ditutup tutupi sehingga seperti tak menonjol. Senjatanya mulai menegang dan sangat ingin disentuh. Namun Key tampak sangat risih dengan perlakuan Zein terhadap nya. Key merasakan sesuatu yang bergerak gerak diareal bawah pusat.
"Adegan apa ini? my first kiss!" benak Key yang terus mencari cara agar keluar dari suasana itu.
Tanpa segan-segan Key menampar Zein dengan keras
"plakkkkk!" Tamparan Key mendarat ke wahjah Zein
"Dasar wanita tak waras. Apa maksudmu menamparku?" ujar Zein wajahnya memerah. ia tampak emosi
"Kau yang tak waras. Perbuatanmu sangat tidak terpuji terhadap ku" Sahut Key yang sudah mulai meninggikan suaranya.
"Bukankah ini yang kau mau nona?" Zein meremas kedua pipi Key dengan satu tangan.
"Kau kira aku wanita murahan? Aku masih punya harga diri" ucap Key dengan mata berkaca-kaca
"Kalau bukan wanita murahan lalu apa? ******?" Zein berdecak seakan meremehkan Key
"Jaga ucapan mu. Kau sangat keterlaluan" Air mata Key mulai menetes ia tak sanggup membendung nya lagi. dari tadi ia sudah menahan namun tidak untuk kali ini
"Lalu apa tujuanmu menerima tawaranku? bahkan menandatangani kontrak dengan ku. Aku sangat yakin kau ingin mendekati ku kan? kau ingin uangku bukan?" sahut Zein dengan lantangnya
"Sudah berapa kali ku bilang padamu, Apa kau tuli? Aku tidak membutuhkan uangmu. Disini aku bekerja tulus untuk Pak Kane. bukan untuk merampas hartamu. Paham kau? jangan pernah ganggu aku lagi. Biarkan aku menjalankan tugasku. Jangan pernah urusin pribadiku" ucap Key terisak
Key pergi menuju dapur meninggalkan Zein. Air matanya terus mengalir. Key mengambil ponsel dari sakunya mencari nama Almira sahabatnya itu dan menelponnya.
"Mia" ucap Key yang masih terisak
"Kenapa Key? kamu kok nangis? Apa yang terjadi?" tanya Mia yang mulai khawatir dengan sahabatnya itu
"aku udah nggak kuat mi."
"tunggu-tunggu pasti ini ini tentang kontrak kamu dengan bos angkuh super dingin itu kan?"
tanpa sengaja saat Zein hendak menuju taman belakang Zein mendengar ucapan kedua sahabat itu.
"key, kan aku udah bilang dari awal. kamu nggak perlu lanjutin kontrak kerja itu. pak Kane juga bakal lebih memilih karyawannya kok."
"mi aku aku menerima kontra ini karena aku nggak mau mau ngecewain pak Kane. dia dia udah terlalu baik sama aku dan ibu. dari dulu dia udah ngebantu keluarga kami. makanya aku terima kontrak ini" jelas Key
"memang sih kamu gak mau ngecewain pakane. tapi kamu nggak perlu ngorbanin diri kamu sampai segini nya. pak Kane juga bakal ngertiin kamu kok. apa perlu aku yang ngomong ke pak Kane langsung? ".
"nggak perlu mi aku bakalan hadapin sendiri. makasih ya mi buat saran kamu yang nggak pernah bosan-bosannya nyemangatin aku." key berhenti dari tangisannya ia mengelap kedua matanya iya tersadar seperti ada yang menguping pembicaraan nya
"udah dulu ya mi ntar kita sambung lagi bye" ucapkan mematikan sambungan telepon
Zain duduk di taman yang dipenuhi oleh tanaman. ada sebuah kolam ikan yang lumayan besar yang dihiasi dengan teratai. di atas kolam tersebut ada jembatan yang sengaja dibuat untuk memperindah taman. Zain berdiri tepat di atas jembatan tersebut
"astaga selama ini aku selalu mencap dirinya sebagai wanita yang tidak Baik. ucap Zain sembari mengacak-acak rambutnya.
"ya ampun sekasar itu kah aku kepada wanita selama ini? kenapa aku jadi mikirin wanita itu? sudahlah lelah sekali pikiranku ini"
key selesai mengerjakan semua tugasnya lalu key pulang tanpa berpamitan kepada Zein. Key mengambil ponsel dari tasnya dan menelpon taksi online.
Sesampainya di rumah Key meletakkan tasnya di meja setelahnya ia menghempaskan tubuhnya ke kasur.
"Hari yang sangat melelahkan bagiku. Hari yang kulalui harus berpapasan dengan manusia dingin itu. Andaikan saja aku tidak menjadi pengganti Bu Desi, takkan mungkin ini semua bisa terjadi." gumam Key yang mulai meratapi nasibnya.
Perut Key berbunyi ternyata ia lupa bahwa dirinya belum memakan sesuatu apapun.
"Astaga, bahkan aku hampir lupa kalau aku belum makan. Ini semua gara gara makhluk kutub Utara itu." celetuk Key
Key keluar dari rumah menuju swalayan terdekat. Ketika diswalayan, ia mencari rak mie instan, ciki, dan sosis. saat ingin membayar, Key mencari cari dompet yang dibawanya ternyata tertinggal di rak sepatu rumahnya.
"Astaga maaf ya mbak, saya lupa membawa cash. Nanti saya akan kesini lagi." ucap Key kepada seorang penjaga kasir.
"Iya nona, silahkan" ujar penjaga kasir itu dengan senyum ramahnya.
"Astaga kenapa aku sangat ceroboh seperti ini." Key mengetuk kecil kepalanya.
"Kalau begini aku jadi kerja dua kali. Kakiku sudah sangat pegal. Seharian berkerja mondar-mandir" Key mengomel dengan dirinya sendiri.
Key sudah berjalan lebih dari 10 meter dari mini market. Tiba tiba seorang penjaga kasir minimarket berlari menghampiri dirinya.
"Nona ini belanjaan anda tertinggal" ucap penjaga kasir