Paradox: Dark and Light Warrior

Paradox: Dark and Light Warrior
V4 Another VII



Orang-orang masih binggug dan tidak ingin bicara sama sekali, kebanyakan orang berbicara dalam hatinya yang melihat kejadian luar biasa sekaligus memilukan di depannya.


Asuna mengerutkan keningnya sambil mengigit bibirnya, "Arga bantu!" pinta Asuna.


Sontak saja Arga yang mendengarnya tiba-tiba bergerak seperti orang kaget, "Arga kau dengar bantu!" pinta Asuna sekali lagi.


Arga terbangun dari lamunannya dengan perasaan berbahaya, "Apa boleh buat, jika menolak aku akan jadi sasaran memanahnya." batin Arga berbicara sambil berjalan membantu Wuu yang pingsan. "Ya, baiklah." balad Arga menerima permintaan Asuna.


"Bawa dia ya, aku mau masuk ke dalam ... terimakasih." ucap Asuna meninggalkan Wuu sambil melepaskan pegangan kepalanya Wuu.


Tentu saja kepalanya terbentur meskipun tidak keras, tetap saja itu sakit. Apalagi pukulan yang dilayangkan Asuna berakibat fatal. "Jika ada kesempatan aku akan pajang tubuhmu di perapian." gumam Arga dengan nada rendah supaya tidak diketahui Asuna yang berjalan ke dalam rumah.


Sementara itu orang-orang pun kembali menjalani kegiatannya seperti biasa.


"Kebanyakan makan, tubuhnya juga kebanyakan lemak. Udah lagi ngangkatnya sendirian orang-orang malah pergi ...." gumam Arga kembali.


Raut Arga dan gumamannya menjelaskan betapa dia malas sekali, untungnya dua orang pria datang membantu menghampiri Arga dan Wuu.


"Kak, aku bantu ya." ucap Han ingin membantu membawa Wuu.


Arga senang tapi, sedikit merasa aneh. dalam pikirannya Han mungkin tidak menyukai Arga, karena perbuatannya di awal pertemuan dan sikap Arga kepada Han.


Paman Han juga ikut membantu. Menggendong tubuh Wuu yang gempal, kekuatan fisik paman Han tidak perlu diragukan lagi, dilihat dari caranya mengendong Wuu seperti orang yang selalu berolahraga mungkin juga setara dengan orang yang selalu menebang pohon dengan Kapak.


Sementara Wuu dibawa oleh Pamannya Han, Arga dan Han berjalan di belakang mengikuti ke dalam rumah seperti anak ayam yang mengikuti induknya.


Paman Han membanya sampai ke lantai dua seorang diri saja, bahkan hingga menaiki anak tangga.


Tok-tok-tok...!


Paman Han mengetuk pintu, Yuri yang mendengar suara ketukan pintu langsung menyuruh Asuna untuk membukakannya.


"Ya, oh, Paman Han ... silahkan masuk." ucap Asuna mempersilahkan masuk.


"Kalian rawat anak ini, bukannya kalian ingin membasmi iblis yang ada di kota ini kan?" tanya Paman Han sambil menyuruh merawat Wuu dengan baik.


"Baik Paman, maaf merepotkan." balas Asuna dengan senyum diwajahnya.


Paman Han langsung membaringkan di salah satu ranjang. Kemudian kembali menjalankan kegiatannya seperti biasa, tepat saat paman Han keluar Arga dan Han datang. Arga dan Han sepertinya membicarakan sesuatu, karena jika tidak mereka akan masuk secara bersamaan dan waktunya tidak akan lama.


"Hahaha ... terima kasih ya." ucap Arga menepuk bahu Han.


"Ya kak, sama-sama, aku ke dapur sebentar ya bawa air untuk kak Wuu." Han langsung berjalan menuju dapur.


"Bagaimana ini, Wuu sedang tidak sehat ...." ucap Yuri kebinggungan.


"Apa boleh buat, kita harus merawatnya, jika tidak, kita akan sulit untuk melawan para iblis yang ada di kota ini." ucap Arga sambil memegang jidatnya seperti orang yang berpikir keras.


"Kita akan bergilir merawatnya, Asuna kau lebih lama merawat dan menjaganya." ucap Arga.


"Ya, apa boleh buat." balas Asuna.


"Tidak perlu, Asuna ingat tidak, saat kita berada di pulau jiwa?" tanya Yuri menanyakan tentang pulau jiwa.


"Ya, memangnya kenapa?" tanya Asuna kembali.


"Kita diberikan peninggalan dari naga-naga, barang, obat, senjata, dan kekuatan yang diberikan kepadaku." ucap Yuri menjelaskan maksud pembicaraannya menanyakan pulau jiwa.


"Benar, seharusnya ada obat pemulihan." ucap Asuna tampak bahagia karena tidak akan merawat Wuu.


"Ya, semua itu kalau tidak salah ada di kapal." ucap Yuri.


Raut wajah Asuna berubah cemberut mendengar jawaban Yuri, "Tenang saja, kita akan mengambilnya. Asuna kamu lupa kapalku bukan kapal biasa, dia bisa dibuat sekecil buah apel." ucap Yuri yang melihat Asuna cemberut.


Sedangkan Arga yang melihat pembicaraan mereka hanya memainkan gelas yang tak jauh dari tempatnya berdiri kemudian duduk, melempar dan memutar-mutarnya layaknya sebuah kincir angin.


***


💫💫💫


Hai, para pembaca novel Paradox: Dark And Light Warrior, semoga kalian terus mendukung novel ini dengan cara LIKE, Favorit, dan Rate Bintang 5. Supaya authornya semangat lagi menulisnya.


Terima kasih sudah membaca novel ini dari awal sampai sekarang, dukungan kalian sangat berarti sekali.


Saya harap kalian dapat terus membaca novel ini sampai tamat, tunggu kelanjutannya ya.


Di EPS lainnya mungkin akan dijelaskan bagaimana ilustrasi Yuri, Wuu, Asuna dan Arga beserta penjelasannya.


Terima kasih sekali lagi untuk para pembaca yang membaca novel ini.


Ada pertanyaan kenapa, judul dan covernya diganti.


Memang sebelumnya namanya adalah


SI HITAM DAN SI PUTIH, tapi nama yang sekarang lebih bagus. semoga kalian terus melihat perkembangan novel ini ya,


Salam hangat dari saya selaku penulis novel.


Tunggu kelanjutan kisah Paradox: Dark And Light Warrior. Terima kasih atas dukungannya yang telah membaca novel ini sampai sekarang.🥰😉