
Langit merah, kebakaran di mana-mana, teriakan seperti melodi kehancuran.
Jalan yang penuh dengan bangunan kuno, hal yang tidak mungkin bisa dibangun pada masa ini. Struktur bangunan, banyak bangunan yang menggambarkan bagaimana iblis ada.
Aura mistis menyelimuti patung-patung yang sudah dibangun hingga berabad-abad, di sampingnya terdapat makam-makam kuno, yang terbuat dari struktur bangunan kuno.
Perbudakan, penindasan, pembunuhan, dimana-mana. Hanya terlihat teriakan dan cambukan berwarna merah di saat mereka berhenti membangun tempat ini.
Yuri dan tim-nya melihat kehancuran di negara ini, tetapi majunya dan indahnya negara ini sulit dipercaya.
Asuna hanya melihat penduduk yang dirantai dan terus di cambuk, hingga terus menerus.
Terlihat wajahnya seperti ingin menyerang perbuatan mereka, bahkan Asuna mengigit bibirnya seperti orang yang ingin berbuat sesuatu.
Wuu hanya terus mencari apa ada makanan di sekitar sini, tanpa mementingkan penduduk yang diperbudak oleh iblis.
Arga yang melihat penduduknya diperbudak disiksa bahkan banyak yang hampir mati karena kelaparan.
Arga terus melirik ke depan, entah siapa yang dia lihat. Yuri mencoba melihat pandangan Arga mengarah ke mana.
Tatapan yang kosong, melihat seorang anak kecil. Terlihat lemah, kelaparan, hampir mati, tetapi terus berusaha untuk hidup. Ketika seorang anak kecil itu terjatuh, tanpa sadar Arga langsung membantunya. Gerakan yang cepat, repleks seperti ingin melindungi dan tidak ingin kehilangan.
Anak kecil yang hampir jatuh, terlihat ditangkap oleh Arga. Pandangan anak kecil yang hampir menghilang.
Arga melihatnya dan ada raut wajah ketakutan, dia menampar wajah anak itu dengan tangannya dan mengatakan.
"Bangunlah! Kau harus tetap hidup, kau sudah berusaha." ucap Arga kemudian berhenti sebentar.
"Kenapa kau ingin mati, berjuanglah untuk hidup!" Arga menaikkan nadanya, terlihat tetesan air bening menetes di kedua matanya.
Arga yang melihat anak itu hampir mati, dia memeluknya seperti, teringat sesuatu dengan kejadian yang sama ...
Mungkin dia akan ketakutan akan kematian, dan tidak bisa menolongnya.
Yuri yang melihat Arga memeluk anak kecil itu, mengatakan, "Ar-Arga, lihat anak itu membuka matanya." ucap Yuri yang terbata-bata.
Arga terlihat senang melihatnya, "Aku akan membantumu." Arga mengusap kepala anak itu.
"Ka-ka-kamu siapa?" tanyanya yang terlihat menangis juga, seperti merasakan perasaan Arga tersalurkan kepadanya.
Arga hanya melihatnya dan tersenyum, "Benar juga, namaku Arga, siapa namamu."
"Wuu, Asuna kita tinggalkan mereka dulu." ucap Yuri, yang berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Wah, padahal bikin sedih." ucap Wuu sambil mengusap air mata yang jatuh kemudian ikut berjalan meninggalkan mereka.
"Jaga dia Arga." Asuna langsung pergi meninggalkan mereka untuk memberikan waktu bersama.
Arga melepaskan pelukannya, kemudian anak itu ingin pergi.
Anak kecil itu berjalan menjauh tetapi langsung di hentikan oleh Arga, Arga memegang tangannya kemudian anak itu berbalik, "Ada apa?" tanyanya.
Arga hanya terdiam dan tersenyum, " Tidak, siapa namamu?" tanya Arga kembali.
"Namaku, Han." Han membalasnya dengan senyuman kembali.
"Sudah, aku harus ikut membantu mereka." ucap Han yang ingin membantu mereka.
"Tunggu sebentar." teriak Arga.
Han membalikkan badannya, di saat Han membalik tiba-tiba. Garis merah seperti menyerang Han.
"Menghindar!" teriak Arga kemudian berlari melindunginya
Terlihat sesosok bayangan hitam menghampiri Arga dan Han.
Dentuman seperti meteor jatuh, terlihat retakan tanah berada di dekat kakinya dengan lebar kira-kira sampai 20 meter dan kedalaman sampai 10 meter membuat lubang yang besar.
Bayangan hitam itu lama-lama terlihat seperti ...