Paradox: Dark and Light Warrior

Paradox: Dark and Light Warrior
V4 Siapa Bayangan Hitam Itu?



Arga menghela napas, seperti akan menjelaskan apa yang dia lihat tadi.


Mata Arga melihat ke sekeliling. Setelah merasa tidak ada siapa-siapa, "Ta-tad ...." ucap Arga yang tertekan kemudian disela oleh Han seorang anak kecil.


"Maaf, lebih baik kalian ke tempatku." ucap Han yang meminta semuanya untuk ikut.


"Tempat tinggalmu dimana? Bukankah semua orang diperbudak?" Asuna menanyakan sesuatu yang dianggapnya janggal, karena saat menuju kota ini. Tidak ada yang pernah menyerang mereka lagi setelah monster ular itu.


"Oh, itu ... memang semua orang diperbudak, tetapi ada juga yang tidak. Untuk membedakannya mereka memberikan tanda, Mahluk merah itu hanya mementingkan pembangunan ini saja. Tidak pernah mencurigai pengunjung yang datang. Tapi ... sayangnya selalu ada pengawasan, jika ketahuan maka akan langsung dibunuh." Han mengucapkannya dengan nada rendah, pandangan kebawah sambil mengerutkan dahinya seperti memikirkan kejadian masa lalu yang dihadapinya.


"Benar, sepertinya para iblis ini. Hanya peduli tentang perbudakan, pantas saja setelah kami masuk ke kota ini, kami tidak merasa akan ada datangnya serangan dari iblis. Han, tempat tinggalmu dimana?" ucap Yuri sambil memikirkan hal, kenapa mereka tidak diserang oleh para iblis.


"Ayo, kakak ikuti aku." Han berjalan sambil menarik tangan Yuri.


"Ya, benar lebih baik kita beristirahat." ucap Wuu terlihat letih dan kelaparan.


Bunyi perut kelaparan Wuu terdengar sangat keras.


Krucuk-krucuk!


"Lihat, anak beruang kita kelaparan." Asuna mengejek Wuu yang sering kelaparan.


Asuna terlihat berlari, seperti orang yang dikejar-kejar beruang kelaparan.


Arga yang melihat mereka hanya tersenyum sambil mengucapkan, "Hehe," Arga langsung berjalan mengikuti mereka, "Benar, mereka sangat ceria ... meskipun banyak kekacauan." batin Arga berbicara sambil menyusul mereka ke tempat tinggal Arga.


"Kakak, bentar lagi sampai." Han berjalan sambil melihat Yuri.


"Apa masih jauh?" sahur Yuri membalas pembicaraan Han.


"Di mana rumahmu?" tanya Arga yang ikut berkomunikasi dengan yang lain.


"Tunggu aja." Han menggerutukan ucapannya.


"Kenapa, nih anak satu?" ucap Arga dalam hatinya.


Perjalanan cukup lama untuk berkunjung ke tempat tinggal Han, jalanan penuh dengan bangunan yang unik, pepohonan sangat tertata disepanjang jalan.


Namun, teriakan orang kesakitan dan kelaparan dimana-mana.


Akhirnya mereka sampai ke rumah Han, "Kakak, itu rumah kami." Han menunjukkan tempatnya di mana.


"Kamu tinggal bersama siapa?" tanya Asuna yang mendengar kata kami dalam ucapan Han.


"Itu, sebenarnya ini rumah bersama, kami yang membantu para budak lainnya berada di sini. Karena kami tidak menjadi budak, kami harus membantu mereka untuk tetap hidup."


"Kamu mulia sekali, tapi apa ada makanan?" Wuu memujinya tetapi ada maksud dibalik pujiannya, perutnya terus berbunyi.


Krucuk-krucuk!



Mereka memasuki rumah, "Maaf, kami masuk." ucap Yuri melangkahkan kakinya ke dalam rumah.


Terlihat banyak orang di dalamnya sedang berkumpul, orang-orang yang sedang kerja keras, dan menyiapkan keperluan untuk para budak dan kebutuhan hidup mereka. Ketika mendengar seseorang yang tidak dikenal mereka semua langsung melihat Yuri, Asuna, Arga, dan Wuu.


Tatapan mereka sedikit mencurigai Yuri dan lainnya, tetapi anggota pemburu iblis memberikan senyuman kepada mereka.


"Han kemari," ucap pria menarik tangan Han.


"Siapa mereka?" tanya pria itu kepada Han dengan berbisik-bisik.


"Paman, mereka orang yang menolongku." jawab Han kepada pria itu dengan sebutan paman.


"Jadi mereka menolongmu, cepat bawa mereka, siapkan makanan untuk mereka. Pasti mereka capek." ucapnya menyuruh Han untuk membawanya masuk.


Akhirnya anggota pemburu iblis diizinkan untuk masuk, "Akhirnya, aku kira akan tetap di dekat pintu ini." gumam Wuu dengan suara kelaparannya.


Krucuk-krucuk!


"Kakak-kakak mari, ikutiku." ucap Han.


Han membawa Yuri dan lainnya ke salah satu ruangan yang berada di lantai dua rumah ini, "Kak, silahkan istirahat di sini. Nanti kalau kakak lapar, kakak tinggal turun saja." Han meminta Yuri dan lainnya untuk beristirahat.


"Sudah, aku mau makan, di mana makanannya?" tanya Wuu yang tidak tahan dengan kelaparan.


"Ayok ikut aku." jawab Han membawa Wuu untuk makan.


"Sudah biarkan saja, beruang itu makan." Asuna membiarkan Wuu untuk makan, karena mungkin jika ada Wuu suasana akan berubah jika Wuu terus mengeluh dan mencari makanan.


Arga duduk di salah satu bangku dekat jendela, Yuri yang melihat Arga sedang memikirkan hal yang terjadi tadi, menghampirinya.


"Arga, kau baik-baik saja? Kita lanjutkan pembicaraan tentang apa yang kau lihat tadi." Yuri menepuk bahu Arga, Arga pun langsung menoleh dan menjawabnya dengan anggukan kepala.


Arga menghela napasnya, keningnya agak menkerut, pandangnya sedikit ke bawah, " Sesosok bayangan hitam itu terlihat seperti manusia. Tetapi kekuatan yang dimilikinya sangat besar, saat dia muncul dia hanya terlihat seperti bayangan." Arga menghela napasnya kembali.


"Tak, lama bayangan hitam itu seperti seorang pria berkulit putih, rambut hitam, memakai pakaian perang hitam, ... terlihat juga aura hitam yang menyelimutinya, dia hanya menyuruhku untuk BERHATI-HATI."



Yuri berpikir sejenak, memikirkan siapa bayangan hitam itu, tiba-tiba Yuri mengingat seseorang yang pernah dikatakan Rin tentang anak manusia setengah dewa lainnya yang mati di waktu yang sama, "Apa jangan-jangan dia, tapi tidak mungkin ... bagaimana dia bisa mengetahui kami, sedangkan pasti dia juga ...." batin Yuri berbicara memikirkan siapa bayangan hitam itu.


Tiba-tiba terdengar suara ....