
Yuri, Asuna dan Wuu mendengar suara dentuman yang sangat keras. Asuna mencari suara itu berada, Asuna langsung menunjukan tangannya ke tempat yang tidak jauh dari tempat Arga berada.
Wuu mengerutkan keningnya, seperti ada hal yang tidak di inginkan, Yuri, bukankah suara itu berada di dekat Arga berada.
Yuri langsung berlari kembali melihat apa yang sedang terjadi.
"Wuu, keluarkan kekuatan kecepatanmu." Yuri berlari melihat apa yang sedang terjadi di tempat Arga berada.
Asuna dan Wuu yang melihat Yuri berlari. Serta menyuruh Wuu untuk mengeluarkan kekuatan kecepatannya, langsung ikut berlari menuju tempat Arga berada.
"Seni makanan kedua" Wuu tampak melemparkan sebuah makanan yang kemudian ditangkap oleh Asuna dan Yuri. Mereka langsung memakannya, terlihat aura berubah dari kekuatan Wuu. Terdapat aura api di dalam kekuatannya, yang didapatkannya saat menyerap tulang roh naga api yang legendaris.
Sementara itu ditempat Arga berada, terdapat sebuah tanah yang berbentuk bulat melindungi Arga dan Han. Dentuman yang keras, membuat lumbang yang sangat besar tetapi tidak terlihat kehancuran yang disebabkan gesekan seperti meteor jatuh. Hanya ada angin yang sangat besar di sekitar dentuman itu berada dan bebatuan retakan yang terikut oleh angin.
Pelindung tanah itu langsung melenyap, setelah angin besar itu hilang. Terlihat bayangan hitam yang lama kelamaan terlihat jelas.
Seorang pria berambut hitam berkulit putih memberikan senyuman menyeringai.
kehadapan Arga dan Han, Arga langsung bersiap-siap jika ada serangan yang akan datang oleh pria misterius tersebut.
Kedua kakinya menyiapkan kuda-kuda dengan sangat baik, berjaga-jaga jika akan di serang. Sambil menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan alam, "Seni Pengendali pertama Pilar Tanah"
Terdapat pilar-pilar menyerang pria tersebut, seperti sebuah paku yang terbuat dari tanah menyerang pria tersebut.
Pria itu hanya menghindarinya, gerakannya seperti orang yang sangat terlatih. Arga terlihat mengerutkan keningnya sambil memikirkan sesuatu, "Benar, pria itu sangat kuat. Aku tidak mampu menyerangnya...." Arga menghentikan perkataan hatinya seketika pria itu mengangkat salah satu tangannya dan mengarahkan tangannya kepada Arga.
Pria itu langsung tersenyum saat menjulurkan tangannya kehadapan Arga, "Berhati-hatilah." Pria misterius itu langsung menghilang seperti bayangan hitam.
Tak lama setelah pria itu menghilang Yuri dan lainnya datang menghampiri Arga yang sedang duduk di bawah, dengan Han di belakangnya.
Arga dan Han terlihat seperti memikirkan orang yang tadi datang siapa. Yuri yang melihat pandangan Arga dan Han yang tidak menyadari kedatangan mereka, memikirkan sesuatu di dalam batinnya, "Jangan-jangan ada seseorang yang datang tadi atau mungkin mereka terkena ilusi." Yuri sambil berjalan menuju mereka.
Ketika Yuri baru melangkah tiga kali Asuna langsung menghentikannya, "Berhenti, bisa saja itu jebakan." Asuna mengerutkan keningnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Wuu langsung menghampiri Arga, dan menghiraukan perkataan Asuna. Wuu baru melangkahkan kakinya sambil mengatakan, "Jebakan apa, Asuna itu memang Arga."
Asuna masih mengendalikan anak panah yang berada didekat Wuu, untuk mencegahnya mendekati Arga, sesuatu terjadi panah yang dikendalikan Asuna tiba-tiba patah ketika Wuu menghiraukan panah yang berada di depannya.
Wuu masih berjalan menghampiri Arga, menghiraukan perkataan Asuna, Asuna mengigit bibirnya dan berjaga-jaga jika akan adanya serangan yang datang.
Wuu, memegang pundak Arga sambil mengatakan, "Arga!" Wuu meningkatkan nada berbicaranya seperti memanggil Arga untuk sadar kembali.
Arga mengedipkan matanya dan menggelengkan kepalanya serta melihat Wuu yang memanggil namanya, "Eh-eh, iya...." Arga seperti orang yang memikirkan sesuatu yang sangat mengerikan.
"Arga, apa kau baik-baik saja?" ucap Wuu sekali lagi untuk memastikan dia baik-baik saja, "Aku baik-baik saja," Arga kemudian berdiri setelah mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Asuna, Yuri. Sedang apa kalian?" tanya Arga.
Asuna dan Yuri yang mendengarkan ucapan Arga langsung menghampirinya, "Tidak apa-apa." Asuna terlihat mengusap-usap kepalanya.
"Bagaimana dengan anak yang berada di belakangmu?" tanya Yuri.
Arga mengangkat tangan kanannya sambil menamparkan tangannya ke Han yang masih memikirkan sesuatu. Terdengar suara tamparan yang sangat keras, "Plaaakkkk."
"Aduh, sakit ... kamu ngapain nampar aku?" Han mengusap-usap pipinya yang ditampar oleh Arga, menunjukkan betapa sakitnya tamparan yang dilayangkannya.
"Kamu namanya siapa?" tanya Asuna sambil mengeluarkan plester obat.
Asuna menempelkan plester obat ke pipinya Han.
"Eh ... terima kasih." Han terlihat malu saat Asuna mengobatinya, "Namaku Han, nama kakak siapa?" tanya Han kembali.
Asuna tersenyum kehadapan Han, "Namaku Asuna, salam kenal Han." Han yang melihat senyuman Asuna, membuatnya makin malu.
"Arga ada sesuatu yang terjadi di sini?" Yuri menghampiri Arga.
"Oh benar tadi ada ..." Arga menghentikan pembicaraannya sebentar, sambil menarik napasnya.